
Malam ini sesudah menunaikan sholat isya, Abizar bener bener kayak bayi rewel banget. Tsabinna memijit pangkal hidungnya pusing, Abizar sudah satu jam lebih nangis lah marah marah gak jelas.
"Gak suka..." tangis Abizar sambil menendang nendang bantal.
Tsabinna mendengus kesal. "Kenapa sih, Bi?" tanya Tsabinna jengah.
"Di tanya kenapa, malah diem aja!" gerutu Tsabinna.
"Kamu besok hari pertama kuliah kan?" tanya Abizar.
Tsabinna mengangguk. "Emang kenapa sih?"
"Aku gak mau, nanti kamu ngelirik yang lebih ganteng dari aku." cicit Abizar sambil terus terisak.
Tsabinna mengerutkan keningnya bingung. "Kenapa mikir nya sampe sejauh itu sih, Zar?" tanya Tsabinna.
"Hiks gak mau di panggil Zar, mau nya di panggil Bi." teriak Abizar sambil menangis.
Kasian nasib mu Tsabinna:)
"Berisik, ini udah malem." sahut Tsabinna.
Abizar memeluk tubuh mungil Tsabinna sambil terus terisak. Tsabinna hanya mengelus rambut suami nya, agar cepat tidur.
"Kenapa sih?" tanya Tsabinna.
"Janji ya besok jangan ngelirik cowok." jawab Abizar sambil mengacungkan jari kelingking nya.
Tsabinna yang paham dengan kode Abizar pun langsung menautkan jari kelingking nya dengan jari kelingking Abizar.
"Iya janji." balas Tsabinna sambil tersenyum tipis.
"Gak boleh ngelirik dosen cowok!" perintah Abizar.
Tsabinna membulatkan mata nya terkejut dengan ucapan suaminya. "Kamu terlalu posesif sayang." sahut Tsabinna.
Abizar melepaskan pelukannya, ia menatap Tsabinna dengan tajam. "Kenapa sih susah banget di atur nya!" ketus Abizar.
"Ngga gitu konsep nya, Zar." jawab Tsabinna sambil mengubah posisinya menjadi duduk.
"Terus apa hah?" tanya Abizar datar.
"Yakali aku gak boleh perhatiin dosen nya, ntar kalau dosen nya ngejelasin gimana?" tanya Tsabinna sambil menaikan sebelah alisnya.
"Kamu kan bisa dengerin dia tanpa ngelirik ke dosen itu!" sarkas Abizar.
"Terserah!" pasrah Tsabinna.
"Aku gak suka kamu yang suka ngebantah kata aku!" sinis Abizar.
"Terserah, aku capeeee." ucap Tsabinna lesu.
"Kenapa sih kamu susah banget di atur nya!" sarkas Abizar.
Tsabinna diam tidak minat untuk menjawab ocehan Abizar, yang menurutnya terlalu posesif.
Abizar berjalan ke arah Tsabinna. "Kamu denger aku gak sih?!" marah Abizar.
Tsabinna dapat melihat mata elang Abizar yang begitu tajam melihat dirinya. Tsabinna meneguk salivanya susah payah, ia benar benar takut jika Abizar sudah marah seperti ini.
Tsabinna hanya berdehem pelan. "Udah ah cape." final Tsabinna sambil menutup mata.
Perlu kalian ketahui, jika Abizar mudah marah. Ia benar benar tempramental.
Plak
Abizar menampar pipi mulus Tsabinna, sontak sang empu pun langsung membuka mata nya.
"BISA GAK SIH GAK USAH KASAR SAMA CEWEK?!" teriak Tsabinna.
"CUMA MASALAH KECIL AJA SAMPE DI BESAR BESARIN, KAMU PIKIR AKU GAK CAPE NGEHADAPI SIKAP KAMU, YANG GAMPANG MARAH HAH?" sambung Tsabinna.
"SELAMA DUA BULAN INI, AKU SELALU SABAR NGEHADAPI SIKAP KAMU YANG TEMPRAMENTAL!"
"CAPE AKU TUH CAPE, TAU CAPE GAK SIH!" murka Tsabinna lalu berlari keluar kamar.
Abizar mematung, sungguh perkataan Tsabinna menamparnya. Ia akui jika ia terlalu kasar kepada Tsabinna yang notabe nya adalah istrinya sendiri.
Abizar langsung mengejar Tsabinna, ia tidak ingin jika Tsabinna harus kabur lagi dari rumah nya itu.
Tok tok tok
"Tsa, maafin aku". ucap Abizar di depan pintu kamar tamu.
"Aku tau, aku salah."
"Makanya aku minta maaf sama kamu, Tsa."
"Kamu gak kabur lagi kan, Tsa?"
Abizar menghela nafas, ia duduk di lantai tersebut, ia duduk dengan memeluk kaki nya. Ia benar benar kedinginan saat ini.
__ADS_1
Tapi mau bagaimana pun juga, ini salahnya. Abizar tidak bisa menahan amarah nya, entahlah saat ini Abizar merasakan mudah marah. Ia akui jika ia memerintah Tsabinna agar tidak melirik laki laki lain, itu benar benar di luar batas!
Abizar hanya tidak ingin jika istri kecilnya menyukai laki laki lain, terlebih lagi Tsabinna cewek yang nyaris sempurna. Siapa yang tidak menyukai Tsabinna Arabella?
Hampir semua siswa pada suka sama Tsabinna yang bersekolah di sekolahan mertua nya itu. Saat masa putih abu pun banyak sekali yang ingin menjadi pacar nya gadis yang bermarga Mahardika.
Abizar harus nya bersyukur bisa memiliki gadis itu, gadis yang dulu sempat jadi bahan rebutan kaum adam. Meskipun Tsabinna gadis nakal tapi wajah cantik Tsabinna benar benar membuat kaum adam jatuh hati.
Ia menyesal telah menjadi laki laki yang buruk untuk Tsabinna. Abizar benar benar merasa bersalah, ia tidak tau harus bagaimana sekarang. Ia insecure kepada istrinya yang bisa sabar menghadapi sikap nya yang berubah ubah.
...***...
Pagi ini Tsabinna terbangun dari tidurnya, ia melirik jam dinding di kamar tersebut. Ia menguap lalu beberapa saat ia menepuk jidatnya.
"Ya allah, aku gak sholat subuh." sendu Tsabinna sambil turun dari kasur empuk.
Ia berjalan gontai ke kamar mandinya, hari ini adalah hari pertama nya kuliah. Ia benar benar semangat untuk pergi kuliah.
Tsabinna sudah selesai dengan acara mandinya, ia sekarang sedang duduk sambil merias wajahnya yang benar benar mirip dengan boneka Barbie.
Tsabinna menatap kagum wajah nya melalui cermin yang berada di kamar tersebut. Ia mulai membuka pintu kamar.
Cklek
Tsabinna terkejut melihat Abizar yang tertidur pulas di depan pintu kamar tamu, ia segera membangunkan Abizar.
"Abi, bangun hei." ucap Tsabinna sambil menggoyangkan lengan Abizar.
Abizar terganggu tidurnya. "Eungh, masih ngantuk." jawab Abizar dengan nada khas bangun tidur.
Tsabinna hanya menghela nafas panjang, Abizar melihat penampilan Tsabinna dari bawah sampai atas.
"Kamu mau kemana?" tanya Abizar.
"Aku kan mau kuliah." jawab Tsabinna.
"Ayo bangun, sekarang kamu ke kantor kan?" sambung Tsabinna.
Abizar mengangguk lalu mulai memasuki kamar mereka. Setelah menghabiskan waktu selama lima belas menit, sekarang Abizar sudah rapih dengan jas hitam yang melekat di tubuh tegap nya.
Abizar mulai berjalan menuju ruang makan, ia melihat Tsabinna yang begitu fokus membuatkan sarapan untuk mereka berdua. Abizar mendaratkan bokong nya di kursi yang berada di ruang makan.
Tsabinna sudah selesai memasak sarapan untuk mereka berdua. Ia duduk di samping suaminya, lalu mulai mengambil piring untuk suaminya, tak sampai di situ, Tsabinna pun mengambilkan nasi goreng dan juga telor mata sapi.
Ia memberikan kepada Abizar, Abizar menerima nya dengan senang hati.
"Ini enak banget." ucap Abizar antusias.
"Enak tau." kekeuh Abizar.
Tsabinna hanya mengangguk lalu ia mulai melanjutkan sarapannya.
"Kita berangkat bareng ya." sahut Abizar yang langsung di balas deheman singkat oleh Tsabinna.
Setelah sarapan, mereka sedang berada di mobil Abizar, mereka terkena macet yang cukup panjang pagi ini.
Tsabinna terlihat begitu gelisah. "Abi, aku takut telat nih." ucap Tsabinna.
Abizar mengambil tangan kanan Tsabinna lalu mengelus tangan mulus itu dengan lembut. "Gak bakal kok." jawab Abizar sambil tersenyum.
"Maafin aku ya soal semalem." sambung Abizar.
"Gapapa kok, maafin aku juga ya." balas Tsabinna.
Abizar hanya mengangguk sambil tersenyum manis. Setelah menghabiskan waktu selama sepuluh menit, mobil sport milik Abizar sudah sampai di gerbang kampus.
"Mau aku anterin sampe depan kampus?" tanya Abizar.
Tsabinna menggeleng. "Gak usah deh." balas Tsabinna lalu mulai mengambil tangan kanan Abizar udah di cium.
Abizar tersenyum lalu ia mulai mengelus rambut panjang milik Tsabinna.
"Hati hati ya, nanti aku jemput." ucap Abizar.
"Emang kamu pulang jam berapa?" tanya Tsabinna.
"Jam satu siang, kamu pulang jam berapa hm?" tanya Abizar.
"Mungkin jam dua belas." balas Tsabinna.
"Yaudah tunggu aku jemput ya, udah sana gih turun." titah Abizar.
Tsabinna mengangguk lalu mulai turun dari mobil milik Abizar. Ia berlari memasuki kampus tersebut, Abizar hanya terkekeh geli melihat istrinya yang berlari.
*****
Tok tok tok
Tsabinna langsung mengetuk pintu kelas Akuntasi. Tsabinna mengambil jurusan Akuntasi, ia menyukai nya makanya mengambil kelas Akuntasi.
Cklek
__ADS_1
"Masuk aja." suruh dosen tersebut.
"Maaf pak, saya telat." sahut Tsabinna sambil menunduk.
"Hari pertama kuliah, udah telat aja gimana ke depan nya hah?" tanya dosen bername tag Bara Wijaya.
Tsabinna mengerutkan keningnya bingung. "Lo kan Bara, yang kemaren kan?" jawab Tsabinna.
Bara memandang Tsabinna datar. "Gak sopan ya kamu sama dosen sendiri." balas Bara.
Tsabinna hanya menggaruk rahangnya yang tak gatal, ia mulai berjalan mencari tempat duduk yang kosong.
"Hei, sini aja." panggil seseorang.
Tsabinna langsung mendaratkan bokongnya. "Nama lo siapa?" tanya Tsabinna.
Cewek berambut sebahu pun tersenyum. "Gue Nadin Fernandez." balas Nadin.
Tsabinna mengangguk lalu ia berkata. "Kenalin nama gue Tsabinna Arabella Queenza Mahardika."
"Panjang banget nama lo." sahut Nadin sambil terkekeh.
Tsabinna hanya tersenyum canggung. Ia mulai memperhatikan dosen nya yang sedang menjelaskan itu.
Sekarang pukul sebelas lewat tiga puluh menit yang artinya jam setengah dua belas siang. Kelas Tsabinna sudah selesai beberapa menit yang lalu. Ia saat ini sedang berjalan menuju kantin bersama Nadin.
"Lo tadi kenal sama dosen ganteng itu?" tanya Nadin.
"Hm kenal hehe." balas Tsabinna.
"Pantesan aja." sahut Nadin.
"Btw, lo anak dari keluarga Mahardika ya?" sambung Nadin.
Tsabinna hanya mengangguk. "Iya gue anak dari keluarga Mahardika." jawab Tsabinna.
"Oh gitu ya, pantesan sih lo mirip orang Amerika, tau nya ayah lo kan berasal dari Amerika yakan?" tanya Nadin.
"Lo kok bisa tau sih?" pekik Tsabinna.
"Ya siapa sih di kota Semarang gak kenal sama keluarga Mahardika, keluarga terkaya ke tiga di Asia." balas Nadin.
"Ah bisa aja lo mah." jawab Tsabinna.
"Emang bener kan." ledek Nadin.
"Iya iya lo bener, btw ini kita cuma berdua doang temenannya?" tanya Tsabinna.
"Ya gapapa sih, mening cuma punya temen satu tapi gak munafik ya, 'kan". usul Nadin.
"Iya sih, cuma sepi aja kalau kita tiap hari berdua terus, gue gak bisa punya temen cuma satu. Dulu pas masih SMA gue punya temen banyak jadi ya gitu deh gue bikin geng". celetuk Tsabinna.
"Wah, anak geng motor ya lo?" tebak Nadin.
Tsabinna menggeleng. "Gue gak pernah bawa motor kecuali kalau ada yang ngajak balapan". jawab Tsabinna.
"Buset dah, berarti lo cewek tomboy dong?"
"Ya gitu lah." sahut Tsabinna.
"Iya deh, besok kita kelas siang yakan?" tanya Nadin.
"Iya kenapa emang?" pekik Tsabinna.
"Gapapa sih, mau berangkat bareng gak?" tawar Nadin.
"Gak usah deh." tolak Tsabinna.
"Yaudah ah gue duluan ya, Din." pamit Tsabinna.
"Iya hati hati lo." balas Nadin.
Tsabinna mulai berjalan keluar dari gerbang kampus. Menurutnya kampus nya itu mirip dengan mansion orang tua nya, karna dari gerbang aja jauh banget sama kampus nya.
Ia menunggu Abizar di halte bus, Tsabinna merasa bosan karna sudah dua puluh menit berlalu tapi Abizar belum juga sampai.
"Abi, di mana sih." gerutu Tsabinna lalu mulai menelpon Abizar.
"Sial gak di angkat lagi!" ketus Tsabinna.
Setelah lima menit berlalu, akhirnya Abizar telah sampai di depan halte bus tersebut.
"Maaf ya gara gara aku, kamu jadi nunggu lama." ucap Abizar.
"Iya gapapa" balas Tsabinna langsung masuk ke mobil Abizar.
"Tadi aku ketiduran, maaf ya." sahut Abizar.
"Udah lah, lupain aja." titah Tsabinna.
Abizar hanya mengangguk lalu mulai menjalankan mobilnya. Abizar hanya takut jika Tsabinna akan marah lagi pada nya seperti saat kejadian semalam.
__ADS_1