
Malam ini pukul dua belas malam, tepat pada ulang tahun Tsabinna. Sekarang Abizar, orang tua nya dan mertua nya sedang sibuk mempersiapkan acara ulang tahun, bukan pesta melainkan hanya tiup lilin dan doa saja.
"Ma, yakin gak kalau kue ultah nya kayak gini?" tanya Abizar memperlihatkan kue ulang tahunnya kepada Mawar.
Mawar menatap kue ulang tahun itu dengan mantap lalu berkata. "Bagus banget, Mama aja sampe suka." jawab Mawar
Abizar hanya tersenyum manis menanggapi, ia berharap Tsabinna menyukai kue ulang tahun yang di belikan nya.
"Ma, aku pengen ngomong."ucap Abizar menarik baju bagian bawah milik Arafah
Arafah terkekeh geli lalu berkata. "Ngomong aja, Zar."suruh Arafah
Abizar menunduk lalu berkata. "Aku boleh gak panggil mama Arafah, jadi bunda aja?" tanya Abizar
Arafah tersenyum. "Iya gapapa kok." sahut Arafah
"Makasih bunda." pekik Abizar
"Aku juga bakal manggil ayah ke papa Leonardo." sambung Abizar
Leonardo hanya mengangguk saja sebagai jawaban. Ia gemas sendiri memiliki menantu seperti Abizar, yang benar benar memiliki sifat childish.
"Yuk masuk pasti Tsabinna udah bobo." ajak Abizar
Lalu mereka memasuki kamar inap Tsabinna, ia melihat gadisnya yang sedang tertidur pulas. Ia jadi tidak tega membangunkannya.
Abizar menghela nafas panjang lalu berkata. "Tsa, bangun dulu yuk!" ucap Abizar sambil menggoyangkan lengan Tsabinna.
Tsabinna terganggu tidur nya lalu mengerjapkan kedua mata nya untuk menyesuaikan cahaya kamar inap nya.
"Kenapa hm?" tanya Tsabinna masih dengan mata yang tertutup.
"Buka dulu mata nya ih." rengek Abizar
Lalu Tsabinna pun membuka kedua mata nya. Ia menatap Abizar dengan senyuman manis nya itu.
"Ada apa sayang?" tanya Tsabinna lembut sambil mengelus rambut Abizar.
Abizar tersenyum menikmati tangan lembut Tsabinna yang sedang mengelus rambut nya.
"Aku punya sesuatu buat kamu." sahut Abizar
"Apaan tuh?" tanya Tsabinna
"Kamu tutup mata dulu pake kain ini ya" peringat Abizar
Tsabinna hanya mengangguk lalu mulai menutup kedua mata nya menggunakan kain yang di berikan oleh Abizar.
"Siap sayang?" bisik Abizar
Tsabinna terkekeh lalu mengangguk mantap, Abizar pun mulai menghitung mundur.
"Tiga, dua, satu."
Lalu keluar lah orang tua nya dan juga mertua nya itu. Saat itu Abizar membukakan kain yang menutupi mata Tsabinna.
Tsabinna menatap nya penuh haru, ia menahan air mata nya yang ingin jatuh.
"Happy birthday to you, selamat bertambah usia perempuan kuat, kita mendoakan yang terbaik untuk mu Tsabinna, terus jadi perempuan terkuat ya, wish you all the best Tsabinna Arabella." ucap mereka berlima serempak.
Abizar berjalan sambil membawa kue ulang tahun untuk Tsabinna. Abizar tersenyum manis saat sudah sampai di samping brankar.
"Happy birthday sayang, selamat bertambah usia, semoga di tahun ini jauh lebih baik dari tahun lalu. Tetap jadi perempuan terkuat ya, aku bangga punya kamu. Wish you all the best my little wife." ucap Abizar panjang lebar.
Tsabinna menangis bahagia, ia benar benar bahagia saat ini juga.
__ADS_1
Cup
Abizar mencium kening Tsabinna cukup lama, Tsabinna memejamkan mata nya.
"Makasih banyak sayang." balas Tsabinna
"Sama sama cantik, nih tiup lilin nya ya." suruh Abizar
"Iya hehe." balas Tsabinna lalu meniup lilin yang berangka delapan belas tahun.
"Suka gak sama kue nya hm?" tanya Abizar sambil menyelipkan anak rambut Tsabinna.
Tsabinna mengangguk antusias lalu berkata. "Suka banget ini kue bolu yang paling aku sukai."jawab Tsabinna
Sedangkan kedua orang tua dari belah pihak hanya menatap nya penuh haru. Ia benar benar bersyukur karna Allah masih baik untuk memberikan Tsabinna untuk bangun dari tidur panjang nya.
"Ini buat kamu." ucap Tsabinna menyodorkan potongan kue kepada Abizar.
"Suapin dong." pinta Abizar manja.
Tsabinna hanya mengangguk lalu mulai menyodorkan sendok yang berisi kue tersebut. "Nih aaaaaa." ucap Tsabinna
Abizar membuka mulutnya lalu mulai mengunyah kue ulang tahun istrinya tersebut.
"Kue nya enak banget." sahut Abizar antusias.
"Kamu serius hm?" tanya Tsabinna
"Iya serius." jawab Abizar menatap Tsabinna.
Mereka asik bermesraan sampai lupa bahwa mereka tidak lagi berdua di kamar inap tersebut.
"Ehem." ucap Leonardo
"Enak ya mesra mesraan." timpal Rorenzo
"Kita mah ngontrak!" teriak Mawar
"DIH LO AJA KALI!" teriak mereka bertiga.
"Lah kok pada ngamuk sih?" tanya Mawar
"Pantesan anaknya oon, tau nya emak nya juga lebih oon!" pekik Arafah
Mawar menatap Arafah tajam, lalu mulai memalingkan wajah nya ke samping.
Tsabinna dan juga Abizar tertawa berbahak bahak melihat pertengkaran kecil di depannya.
"Kita bagi dong kue nya." pinta Rorenzo
"Beli sendiri." balas Abizar
"Durjana kamu ya!" timpal Mawar
"DURHAKA!" ucap mereka ngegas.
"Ngegas mulu perasaan!" gerutu Mawar
"Hahaha muka nya kayak abis di bully." ucap Leonardo
"Apaan sih gak jelas!" gertak Mawar
"BAPERAN NAJIS!" sahut mereka bertiga serempak.
Mawar hanya memutar mata nya malas, lalu menatap Tsabinna. "Tsa, tolongin mertua mu yang cantik ini." ucap Mawar
__ADS_1
"Percaya diri banget, Ma." ledek Abizar
"Dih awas kamu ya!" sinis Mawar
"Udah ah, gak baik berantem terus." lerai Tsabinna
Mawar langsung tersenyum senang karna merasa di bela oleh menantu nya itu.
"NANTI NANGIS." lanjut Tsabinna
Mereka semua terbahak bahak melihat wajah merah padam milik Mawar. Ia sudah di terbangkan setinggi tinggi nya lalu di jatuhkan sampai dasar samudra hindia!
"Ih kenapa sih kalian pada nyebelin banget". gerutu Mawar
"Aku hobi bikin mama, jadi gini." celetuk Abizar
"Haha, maafin aku ya Ma." ujar Tsabinna sambil menatap Mawar.
"Awas ya kalian." peringat Mawar lalu ia mulai mendaratkan bokongnya di sofa panjang.
"Udah udah, yuk ah tidur ngantuk." lerai Leonardo
Yang langsung di angguki oleh mereka. Tsabinna mulai membaringkan tubuhnya kembali, tak lupa dengan Abizar yang kekeuh pengen tidur di samping Tsabinna. Sedangkan Arafah dan juga Mawar tidur di lesehan karpet berbulu. Sama hal nya dengan Leonardo dan juga Rorenzo.
Mereka tertidur pulas, sampai mereka tidak menyadari bahwa pintu kamar inap itu di ketuk oleh dokter Ranti.
Pintu kamar inap Tsabinna, di kunci oleh Leonardo alasannya biar gak ada yang masuk. Kan aneh banget, ini kan rumah sakit!
~oOo~
Sekarang sudah jam setengah lima subuh, Abizar bangun terlebih dahulu, ia mulai melihat jam dinding yang berada di ruang inap. Ia mulai turun dari atas brankar, ia pun mulai membangun kan kedua orang tua nya dan juga mertua nya itu.
Mereka telah mengambil wudhu, lalu Abizar duduk di atas sofa ia menunggu waktu adzan subuh yang dua menit lagi akan adzan.
Tsabinna terbangun lalu mulai mengubah posisinya menjadi duduk. Abizar mulai berjalan ke arah brankar Tsabinna.
"Mau ikut sholat hm?" tanya Abizar lembut.
"Mau dong." pekik Tsabinna antusias
"Yuk turun." ajak Abizar
"Tsa, kamu sholat nya duduk ya." pinta Arafah
Tsabinna mengerutkan keningnya bingung. "Kenapa emang nya, Ma?" tanya Tsabinna
"Kamu lumpuh sementara, efek dari koma jadi ya gitu deh." jawab Arafah
Tsabinna mengangguk ia tidak menangis, ia hanya lumpuh sementara cuma karna efek tidur yang terlalu panjang.
Mereka pun mulai melaksanakan sholat subuh. Lalu mereka tadarus bersama, setelah itu kedua orang tua nya dan juga mertua nya itu pamit untuk pulang, karna sebentar lagi mereka akan pergi ke kantor masing masing.
Sekarang di ruang inap hanya ada Tsabinna dan juga Abizar. Abizar berjalan ke arah sofa yang terdapat kotak berwarna hitam dan juga putih.
Tsabinna hanya menatapnya dengan penuh tanya, lalu Abizar mulai membawa kotak berwarna hitam dan juga putih ke arah Tsabinna.
"Nih buat kamu." ucap Abizar
Tsabinna mengerutkan kening nya bingung. "Ini buat aku?" tanya Tsabinna menatap Abizar.
"Iya itu hadiah dari aku, kalau dari mama sama bunda Arafah, nanti pas kamu udah pulang dari rumah sakit." pekik Abizar
"Makasih banyak, Abi." ucap Tsabinna
Saat hendak membuka hadiah dari suaminya, malah Abizar menghempaskan tangan Tsabinna pelan.
__ADS_1
"Nanti aja buka nya pas kamu udah pulang okay." pinta Abizar
Tsabinna hanya mengangguk saja. Ia benar benar bahagia saat Abizar berubah 180°. Ia benar benar merasa menjadi wanita terbahagia di dunia.