IMAM UNTUK TSABINNA

IMAM UNTUK TSABINNA
part 19


__ADS_3

Tsabinna sedang memainkan ponsel nya yang berlogo apel di gigit, tiba tiba ia mendengar suara tangisan bayi. Tsabinna merinding sendiri jadinya, ia menatap Abizar yang sedang bermain game online di ponsel milik nya sendiri.


"Abi, denger gak sih?" tanya Tsabinna.


"Denger apa, Tsa." balas Abizar yang masih fokus kepada ponsel nya.


Tsabinna menggeser badannya sehingga jarak ia dengan Abizar begitu deket. "Suara tangisan bayi" bisik Tsabinna.


Sontak Abizar langsung melepaskan ponselnya itu, Abizar beralih menatap istri kecilnya. "Iya aku denger" sahut Abizar.


Oek oek oek


"Kayaknya suara itu makin deket deh, Bi." ucap Tsabinna.


Abizar langsung mendekap tubuh mungil Tsabinna. "Aku takut, Tsa." lirih Abizar.


Tsabinna menatap Abizar malas. "Udah gapapa kok, kita liat yuk ke depan rumah." ajak Tsabinna.


Abizar menggeleng keras. "Gak mau, takut." tolak nya.


Tsabinna melepaskan pelukan itu secara paksa, ia mulai berjalan keluar dari kamar tersebut. Sesampainya ia di depan pintu utama rumah nya, ia membuka pintu tersebut.


Mata Tsabinna membulat kaget. "Lho ada bayi?" ucap Tsabinna heran.


Tsabinna langsung menggendong bayi mungil itu dan membawa nya masuk ke rumah mereka berdua.


Dibalik pohon dekat gerbang rumah tersebut, ada seseorang yang tak lain adalah ibu kandung sang bayi.


"Maafin ibu nak, kamu harus jadi gini. Ibu gak bakal minta balik hak asuh anak kepada ibu angkat kamu yang baru, ibu harus pergi dari Semarang sekarang juga",


                               💠💠💠💠


Cklek


Abizar terkejut dengan kedatangan Tsabinna yang sedang menggendong seorang bayi.


"Bayi siapa itu, Yang?" tanya Abizar.


"Gatau, kenapa bisa ada di depan pintu tadi." balas Tsabinna mendaratkan tubuh mungil bayi tersebut ke kasur empuknya.


Abizar mendekat kearah bayi tersebut. Ia menatap bayi laki laki yang cukup tampan seperti dirinya, eh kok pede?


"Ganteng banget dia, Yang." ucap Abizar antusias.


"Iya ya, coba tadi kalau aku gak bukain pintu rumah kita, gimana nasib nya nih bocah lucu". balas Tsabinna sambil mengelus pipi gembul bayi tersebut.


"Kita angkat jadi anak aja yuk, Yang." ajak Abizar.


Tsabinna berpikir lalu ia berkata. "Ayo aja, kita bikin akte kelahiran dia tanggal sekarang terus tahun nya juga harus tahun sekarang, gimana setuju?" tanya Tsabinna panjang lebar.


"Aku setuju, Yang." balas Abizar.


"Kasih nama apa ya, yang bagus." pikir Tsabinna.


"Aku punya nih, nama nya Aldeon Ghifari Mahardika." sahut Abizar.


Tsabinna mengangguk antusias. "Iya bagus, nama marga keluarga kita itu." jawab Tsabinna.


"Yaudah sekarang kita bobo." ajak Abizar.


"Bentar aku bikinin susu formula dulu buat, Al." jawab Tsabinna.

__ADS_1


Abizar hanya mengangguk, Abizar mengelus pipi gembul bayi itu. Sontak kedua mata bayi itu terbuka, ia tersenyum menatap Abizar.


"Hai jagoannya, Ayah." sapa Abizar riang.


Tsabinna mengerutkan kening nya bingung. "Kamu lagi ajak ngobrol, Al?" tanya Tsabinna.


"Iya, tadi dia senyum ke aku." balas Abizar.


"Yaudah yuk bobo." titah Tsabinna.


"Deon, bobo dimana?" tanya Abizar bingung.


Tsabinna turun dari kasur tersebut, lalu mulai mendorong tempat tidur bayi ke sisi kasur mereka berdua. Tsabinna menggendong sambil menepuk pantat bayi tersebut agar tidak bangun dari tidurnya. Abizar hanya tersenyum penuh haru, ia benar benar bersyukur di pertemukan dengan bayi yang sangat menggemaskan.


Tsabinna menepuk tempat tidur nya. "Sini bobo, mau pok pok gak?" tanya Tsabinna.


Abizar mengangguk antusias. "Mauuuuu." balas Abizar dengan nada manja.


Tsabinna terkekeh geli, ia mulai menepuk pantat bayi besarnya. Karna ia tau jika tidak dengan cara itu maka Abizar tidak akan tidur.


                                      ****


Tsabinna bangun lebih dulu dari pada Abizar, ia menatap putra nya yang masih tertidur pulas. Tsabinna beruntung bisa memiliki malaikat baik seperti bayi itu, kebanyakan bayi suka menangis tengah malam ntah karna apa. Tapi untungnya bayi yang Abizar bernama Aldeon Ghifari Mahardika, itu bayi yang tidak rewel.


Tsabinna menatap jam dinding yang berada di kamar, masih pukul empat lewat lima menit. Tsabinna tidak mungkin tidur lagi bukan, ia juga harus melaksanakan sholat subuh.


Oek oek oek


Tiba tiba Aldeon menangis kencang, sontak Tsabinna langsung berlari ke arah tempat tidur bayi, ia segera memberikan susu formula itu untuk Al, untungnya Al langsung menutup matanya kembali.


Tsabinna tersenyum, ia dulu sangat tidak suka dengan bayi, menurutnya bayi itu menyusahkan. Tapi sekarang ia malah menyukai bayi, ia benar benar menyukai bayi Aldeon. Bayi yang ia temukan di depan pintu rumah mereka.


Setelah menunggu beberapa menit akhirnya adzan subuh terdengar, Tsabinna buru buru membangunkan suaminya itu.


Abizar membuka mata nya. "Masih ngantuk eum." ucap Abizar yang masih sedikit menutup matanya.


"Sholat dulu, abis itu baru boleh tidur lagi." suruh Tsabinna.


Abizar mengangguk, ia berjalan gontai menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar mereka.


Abizar sedang memakai sarung dan juga memakai baju koko jangan lupakan peci hitam yang melingkar di kepalanya, menambah pesona seorang Abizar Al Ghifari.


"Yuk sholat." ajak Abizar


Tsabinna mengangguk, setelah sholat mereka terduduk di lesehan karpet berbulu yang berwarna abu abu.


"Kenapa ya ada ibu yang tega buang anak selucu dia?" tanya Abizar.


Tsabinna mengedikkan bahu nya acuh. "Mana aku tau." sahut Tsabinna.


"Aldeon, ganteng ya." kagum Tsabinna


Abizar mendengus sebal. "Tuh kan baru beberapa jam ketemu sama bocah itu, kamu udah gak bisa manjain aku lagi." ucap Abizar sambil cemberut.


Tsabinna terkekeh geli. "Kata siapa, gak bakal di manja lagi?" tanya Tsabinna.


"Aku bakal manjain kalian berdua." sambung Tsabinna.


"Makasih sayang!" balas Abizar antusias.


Sesudah melaksanakan sholat berjamaah, Tsabinna langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.

__ADS_1


Abizar menghampiri Tsabinna dengan nafas yang tidak beraturan. "Yang, debay ngompol." ucap Abizar


Tsabinna terkekeh. "Yaudah yuk ke kamar dulu". balas Tsabinna.


Sesampainya di kamar, Tsabinna menatap Aldeon bingung, biasanya bayi yang ngompol akan nangis tapi tidak berlaku dengan bayi mungil yang bernama Aldeon. Al tidak menangis, ia malah menatap langit langit kamar mereka.


"Udah ganteng, gak rewel, duh pinter banget anak Bunda." ucap Tsabinna sambil mengelus pipi gembul bayi tersebut.


Abizar mengerucutkan bibirnya lucu. "Aku juga gak rewel, tapi gak pernah kamu banggain." gerutu Abizar


"Sirik aja kamu ih." timpal Tsabinna.


Abizar hanya memutar mata nya malas, ia jadi malas mempunyai anak, jika istri nya saja lebih memprioritaskan bayi kecilnya itu.


Tsabinna sedang menggantikan popok Aldeon, ia benar benar pinter urusan menggantikan popok bayi, padahal ia tidak mempunyai adik. Mungkin karna ia tinggal terlalu lama di rumah om nya yaitu om Varren


Masih inget sama om Varren? Itu lho papa nya si baby Arkan.


"Kamu pinter banget gantiin popok nya." sahut Abizar.


Tsabinna hanya tersenyum. "Dulu udah biasa gantiin popok baby Arkan, jadi ya gini deh." balas Tsabinna.


"Aku salut deh sama kamu!" jawab Abizar antusias.


Tsabinna hanya menggeleng lalu berkata. "Kamu bisa bikinin susu buat si Al?" tanya Tsabinna.


Abizar menggeleng kuat. "Nggak bisa, Yang." balas Abizar.


Tsabinna menatap Abizar dengan tajam. "Pilih bikinin susu buat Al atau masak aja?" pekik Tsabinna.


Abizar mendengus kesal. "Iya iya aku bikinin susu aja buat, Deon." final Abizar


Tsabinna tersenyum puas, setelah berhasil mengerjai suaminya itu yang terkesan bodoh.


                            🐝🐝🐝🐝


Pagi ini Abizar dan juga Tsabinna sedang sarapan, jangan lupakan Tsabinna yang menggendong Aldeon karna dari tadi bayi mungil itu hanya ingin di gendong oleh bunda nya.


Abizar melirik Tsabinna yang sedang melahap makanannya. "Tsa, kamu kuliah jam berapa?" tanya Abizar.


Tsabinna menatap Abizar lalu menjawab. "Jam setengah dua belas, terus pulangnya jam lima sore." balas Tsabinna.


"Terus nanti yang jagain Deon, siapa?" celetuk Abizar.


"Aku suruh aja mama Arafah kesini buat jagain Deon". jawab Tsabinna.


Abizar hanya mengangguk menanggapi. Ia telah selesai dengan sarapannya, Tsabinna mengambil tas kantor milik Abizar.


"Nih tas nya." ucap Tsabinna sambil menyodorkan tas kerja milik Abizar.


Abizar tersenyum manis lalu berkata. "Makasih cantik, kamu di rumah hati hati ya." peringat Abizar.


Tsabinna membalas senyuman Abizar. "Iya sama sama, jangan pulang terlalu malem ya." pinta Tsabinna.


"Iya nggak, nanti malem kita ke mall, belanja baju buat Deon." sahut Abizar


"Hm boleh juga tuh." balas Tsabinna menyetujui.


"Yaudah aku berangkat ya, uang kamu udah aku taro di dalem nakas, Deon ayah berangkat kerja dulu ya, jagain bunda nya." pamit Abizar sambil mencium kedua pipi gembul anaknya itu.


Tsabinna tersenyum penuh haru melihat Abizar yang begitu manis memperlakukan Aldeon layaknya anak kandungnya. "Jangan lupa bikin akte ya." peringat Tsabinna

__ADS_1


Abizar hanya mengangguk, ia mulai menaiki mobil suport miliknya. Dan langsung menancapkan gas mobil tersebut, Tsabinna masih berada di teras depan rumah nya itu. Ia memilih menutup pintu gerbang dan mulai memasuki rumah nya kembali.


__ADS_2