
Dokter tersebut masuk ke ruang operasi. "Catat tanggal kematiannya." suruh Dokter menatap wajah pucat pasi milik Tsabinna.
Kedua suster itu mengangguk, mereka terharu dengan perjuangan Tsabinna yang rela mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan nyawa sang suami.
Kemudian mereka keluar dari ruang operasi tersebut, Aldeon menatap pintu ruang operasi yang sedikit terbuka. Ia membaca kertas di atas nakas.
Nama : Tsabinna Arabella Queenza Mahardika
Wafat : 21 September 2020
Keterangan : Mendonorkan hati nya untuk sang suami.
Deg
"Bunda." lirih Aldeon.
"Ga-mungkin ini bun-da, kan." ucap Aldeon gemeteran.
Karna penasaran Aldeon membuka kain putih yang menutupi jenazah yang masih di atas brankar.
Setelah membuka kain putih itu, Aldeon mematung memandang wajah pucat pasi milik bundanya.
Aldeon menggeleng. "Gak mungkin ini bunda." lirih Aldeon.
"Bunda bangun hiks," tangis Aldeon sambil menepuk kedua pipi Tsabinna.
"Bunda, kan tadi bunda anterin hiks Aldeon sekolah." ucap Aldeon sambil terus terisak.
"Bun, bangun ini cuma mimpi kan?" tanya Aldeon.
Aldeon mencium setiap inci wajah pucat pasi milik Tsabinna.
Cup
Cup
Cup
Cup
"Bun, kenapa gak nafas?" tanya Aldeon sambil terus terisak kecil.
Aldeon berlari keluar dari ruang operasi, ia segera memberitahu kedua nenek nya.
"Nek, bunda gak nafas." lirih Aldeon.
"Apa?!" kaget mereka berempat.
"Kamu jangan bercanda sayang," ucap Leonardo.
"Gak lucu tau bercanda nya." timpal Arafah.
__ADS_1
Aldeon menggeleng keras. "Al beneran hiks." tangis Aldeon kembali pecah.
"Dimana menantu nenek?" tanya Mawar panik.
"Di hiks ruang operasi," ucap Aldeon sambil terus menangis.
Mereka berlima segera berlari menuju ruang operasi. Dokter pun datang lalu mulai membawa jenazah Tsabinna keluar ruangan operasi.
"Dok, kenapa gak bilang hah!?" tanya Arafah sambil menangis.
"Maafkan saya, Bu." balas Dokter.
Arafah memukul lengan Dokter. "Kasih tau kenapa anak saya meninggal, Dok!" desis Arafah.
"Anak ibu mendonorkan hati nya untuk sang suami." sahut Dokter.
Mawar dan Rorenzo menggeleng tak percaya, betapa besarnya perjuangan menantunya itu.
"Hiks gak mungkin Dok!" teriak Mawar.
"Pa, kita udah kehilangan menantu baik seperti Tsabinna." tangis Mawar begitu pilu.
Rorenzo menahan tubuh Mawar yang gemeteran. "Ikhlasin, Mah. kita gak bisa berbuat apa apa." lirih Rorenzo.
"TSABINNA GAK MUNGKIN MENINGGAL!" teriak Arafah tidak percaya.
"Ma, sabar." ucap Leonardo sambil terisak.
Arafah mendongak menatap suaminya. "Anak kita gak meninggal, kan, Pa?" tanya Arafah sendu.
Arafah menggeleng kuat. "Tsabinna gak mungkin meninggal, Pa." lirih Arafah.
Leonardo langsung memeluk tubuh Arafah yang bergetar hebat. Ia tidak menyangka anak satu satu nya akan pergi dan takkan kembali.
"Nek, bunda masih ada, kan?" tanya Aldeon.
"Bunda, udah pulang ke sisi Allah." sahut Mawar dengan air mata yang mengalir.
Aldeon menggeleng keras. "Gak mungkin, bunda udah janji bakal temenin Al sampe besar, bunda juga udah janji bakal liat Aldeon sukses hiks." keluh Aldeon sambil terisak.
Mereka yang mendengar perkataan Aldeon, sontak hatinya benar benar teriris. Pasalnya dua hari lagi adalah hari ulang tahun Tsabinna.
"Bunda dua hari lagi ultah hiks." sambung Aldeon.
Mereka semua langsung memeluk tubuh mungil Aldeon, mereka merasakan apa yang Aldeon rasakan. Bayangkan saja di usia nya yang baru saja menginjak lima tahun, Aldeon harus bisa mengikhlaskan kepergian sang bunda.
Aldeon melepaskan pelukan itu, ia naik ke atas brankar lalu memeluk tubuh pucat milik bunda nya.
"Bun, denger Al, kan?" tanya Aldeon.
"Ayo bangun bun, Al udah gak jadi anak nakal lagi, bunda udah janji bakal temenin Aldeon apapun keadaannya, tapi ini apa bun? Kata nenek, bunda udah pergi ke sisi Allah, Al boleh gak minta sama Allah jangan ambil bunda dari Aldeon, bunda licik, aku selalu ada di saat bunda di marahin sama ayah, tapi sekarang aku lagi sedih bisa bisa nya bunda gak buka mata bunda, kalau bener bunda udah pulang ke sisi Allah, aku bakal minta sama Allah buat jagain bunda di sana," ucap Aldeon sambil menahan air matanya.
__ADS_1
Aldeon menarik nafas dalam. "Bunda cantik, bunda baik banget sama Al, bunda gak pernah marahin Al, bun kok pergi duluan sih? Padahal baru waktu pagi bunda anterin Al sekolah. Dua hari bunda anterin aku sekolah, terus besok yang anterin aku sekolah siapa bun? Yang bacain aku dongeng siapa? Yang selalu muji aku siapa? Yang bakal jadi temen Al siapa? Bunda ayo bangun, dua hari lagi bunda ulang tahun loh. Masa bunda gak mau rayain ulang tahun bunda bareng bareng, Al udah jadi anak pinter sesuai yang bunda ingin kan tapi bunda bales nya dengan cara ini? Bunda pulang ke sisi Allah, nanti bunda juga harus pulang ke mansion kita ya. Bunda makasih udah ajarin banyak hal buat Al, Al janji gak bakal nyakitin perempuan, Al janji bakal hargai perempuan. Aku sayang bunda, I love you my mother," sambung Aldeon sambil menangis tersedu sedu.
Mereka yang melihat Aldeon seperti itu pun ikut menangis tersedu sedu, betapa rapuhnya bocah lucu seperti ini, Aldeon harus berjuang menghadapi semua ini di usia yang benar benar muda.
Siang ini pukul satu, jenazah Tsabinna sudah siap untuk di kuburkan. Sekarang semua keluarga sedang menangis tersedu sedu, menatap tubuh mungil Tsabinna yang sudah di bungkus kain kafan, jenazah Tsabinna akan di kuburkan tapi di tolak mentah mentah oleh Aldeon.
"Jangan masukin bunda ke dalem tanah hiks," tolak Aldeon mentah mentah.
"Nak, bunda kamu udah tenang di alam sana," ucap ibu dari Kevin temannya Aldeon.
"Hiks, emang kalian gak kasian sama bunda Al, dia mau di masukin ke tanah nanti gimana bunda gak bisa makan dong." ucap Aldeon terus menangis.
Semua orang menatap Aldeon iba, mau bagaimana pun mayat Tsabinna harus segera di masukan kedalam liang lahat.
"Jangan masukin tubuh bunda ke dalem tanah, Al gak tega." lirih Aldeon sambil terus memeluk tubuh kaku Tsabinna.
"Sayang, ikhlasin bunda, ya." ucap Arafah sambil mengelus rambut Aldeon.
Aldeon menggeleng keras. "Kalau bunda di masukin ke dalem tanah, siapa yang bakal bacain dongeng buat Al?" tanya Aldeon sendu.
Arafah menangis mendengar perkataan Aldeon. "Sayang, kan masih ada nenek." balas Arafah.
"Aku gak mau di bacain dongeng sama nenek, maunya sama bunda hiks." jawab Aldeon sambil terisak.
Arafah memeluk tubuh Aldeon, lalu membawa tubuh mungil itu menjauh dari jenazah Tsabinna.
Kemudian para bapak bapak langsung menurunkan jenazah Tsabinna ke dalam liang lahat.
"GAK BOLEH MASUKIN BUNDA KE DALEM TANAH, PAK!" teriak Aldeon sambil memberontak dari pelukan sang nenek.
"BUNDA MASIH HIDUP, KALIAN TEGA BIKIN BUNDA DI DALEM TANAH SENDIRIAN, TERUS KALAU NANTI BUNDA MAU MAKAN GIMANA?" tanya Aldeon sambil terus menangis tersedu sedu.
Beberapa menit kemudian acara pemakaman Tsabinna sudah selesai, semua sudah pulang tinggal keluarga Tsabinna dan keluarga Abizar yang belum pulang.
Aldeon menatap batu nisan yang bertuliskan nama sang bunda.
Nama : Tsabinna Arabella Queenza Mahardika
Binti : Leonardo Smith Mahardika
Tanggal lahir : 23 September 2002
Wafat : 21 September 2020
Aldeon berjongkok sambil mengelus batu nisan tersebut, air matanya sedari tadi terus berjatuhan.
"Bun, kalau mau makan bilang aja ya sama Al." lirih Aldeon.
"Al selalu ada di samping, Bunda." ucap Aldeon sambil memeluk gundukan tanah.
__ADS_1
Cup
Aldeon mengecup lama batu nisan tersebut, ia belum bisa mengikhlaskan bunda nya pergi. Tapi ia akan berusaha mengikhlaskannya, karna kata Arafah jika tidak di ikhlaskan maka Tsabinna tidak akan tenang di sana.