
Pagi ini Abizar mendengar suara orang yang sedang menangis tersedu sedu, Abizar melihat sekeliling kamarnya, ternyata anaknya yang sedang menangis tersedu sedu.
"Al". panggil Abizar
Aldeon mendongak. "Yah, aku kangen bunda". lirih Aldeon sambil menghapus air matanya.
Abizar langsung mendekap tubuh mungil itu. "Ayah juga kangen sama bunda", jawab Abizar sendu.
Aldeon menangis dengan begitu pilu, Abizar mau pun Aldeon benar benar rapuh kehilangan wanita yang benar benar tulus seperti Tsabinna.
"Gue benci sama lo!",
"Lo cowok brengsek Abizar!"
"Allah aja maha pemaaf masa kita hambanya suka dendam sih"
"Kamu boleh kok tinggal di sini lagi, lagian kan kamu masih suami sah aku"
Seketika kenangan itu terus terbayang di pikiran Abizar, ia memejamkan mata nya menahan sesak di dada nya.
"Ada orang yang mau donorin hati nya buat kamu, dan kita bisa hidup bahagia selamanya"
"Kita bakal menua bersama"
"Kita juga bakal jagain Aldeon sampe dewasa"
"Aku janji"
"Aku gak bakal tinggalin kamu"
"Al, kita ke rumah bunda yuk". ajak Abizar sendu.
Aldeon mengangguk antusias. "Ayo, aku udah gak sabar pengen ketemu sama bunda," ucap Aldeon sambil tersenyum getir.
__ADS_1
Mereka sampai di pemakaman, suasana di pemakaman itu sangat sepi. Udara nya benar benar sejuk.
Aldeon maupun Abizar berjongkok di makam Tsabinna, mereka membawa bunga yang berwarna warni. Kemudian mereka membaca doa, setelah itu Aldeon mengelus batu nisan.
"Hai bun, aku kangen sama bunda." lirih Aldeon sambil terus mengelus batu nisan.
Abizar mengecup lama batu nisan itu. "Hai cantik, maafin aku ya, coba aja kalau aku gak di vonis kanker hati, mungkin kamu sekarang masih ada di samping aku maupun Aldeon," ucap Abizar sambil bercucuran air mata.
Abizar menarik nafasnya dalam dalam. "Aku bakal jaga hati kamu, aku juga bakal jaga in Aldeon sampe dia sukses. Kamu boong Tsa, kamu udah janji kita bakal hidup bahagia bersama, menua bersama, ngeliat Aldeon tumbuh menjadi dewasa, tapi ini apa? Kamu malah pergi, aku gak bisa urusin Aldeon sendirian, aku butuh kamu, Aldeon juga butuh bunda nya. Kamu tau Tsa, pas tadi pagi Aldeon nangis pas baca buku diary kamu, dia kangen sama kamu, padahal baru dua hari di tinggalin aja Aldeon udah gini. Aku gak tega liat dia terus nangis karna kangen sama kamu, tapi aku gak bisa berbuat apa apa lagi, oh iya besok kan ulang tahun kamu yang ke sembilan belas tahun yakan." lanjut Abizar sendu.
Aldeon menangis mendengar semua perkataan yang keluar dari mulut sang Ayah, tidak bisa ia pungkiri bahwa Ayah nya pun sama seperti diri nya yaitu terpuruk, kepergian Tsabinna memberikan luka yang cukup besar untuk mereka berdua.
"Bun, ayo pulang kasian ayah." lirih Aldeon sambil menatap batu nisan.
"Al kangen masakan bunda, kangen di baca in dongeng sebelum bobo, kangen di peyuk pas bobo, kangen di puji sama bunda, kangen dianterin sekolah sama bunda, tapi sekarang bunda udah pulang. Bunda gak bakal balik lagi ke mansion kita ya? Padahal aku bener bener pengen bunda balik lagi, aku kangen tau bun, apa bunda gak kangen sama aku." ucap Aldeon sendu.
Abizar langsung memeluk tubuh mungil sang anak. "Kita harus ikhlasin kepergian bunda ya sayang, kita sebagai manusia gak bisa berbuat apa apa, karna semua yang bernafas pasti akan kembali ke sisi Allah." cicit Abizar.
Tsabinna, gadis cantik yang terlalu bar bar, sekarang sudah pulang ke sisi Allah, tidak ada lagi Tsabinna yang suka marah marah, sekarang hanya tinggal kenangan. Semua berjalan sangat cepat, apapun kondisi nya kita sebagai manusia hanya bisa mengikhlaskan seseorang pulang ke sisi Allah.
"Abizar," panggil seseorang.
Abizar dan Aldeon mendongak. "Tante Aurel." panggil Aldeon.
Aurel tersenyum getir. "Tsabinna beneran udah pulang ke sisi Allah, ya?" tanya Aurel sendu.
Abizar hanya mengangguk lesu. "Maafin kesalahan beliau ya, kalau dulu punya salah yang di sengaja mau pun yang tidak di sengaja." lirih Abizar.
Aurel mengangguk. "Gue udah maafin Tsabinna kok, Aldeon sini sayang." titah Aurel.
Aldeon langsung menatap Aurel. "Ada apa, Tan." lirih Aldeon.
Aurel merentangkan tangannya. "Peluk sini," titah nya
__ADS_1
Aldeon langsung berhamburan memeluk tubuh Aurel, ia menumpahkan air mata nya. "Bunda udah pergi, bunda jahat kenapa bisa pergi, aku masih butuh bunda hiks." tangis Aldeon pecah.
Aurel mengelus punggung mungil Aldeon. "Sayang gak baik ngomong gitu, kalau kamu sayang sama bunda, seharusnya kamu ikhlasin bunda." lirih Aurel.
"Ikhlasin kata tante, aku sayang sama bunda." cicit Aldeon.
"Kalau kamu gak ikhlas, nanti bunda gak tenang di alam sana, kamu kan cowok kuat sama kayak bunda kamu kuat!" pekik Aurel.
Aldeon hanya mengangguk samar, ia masih menangis tersedu sedu.
Aurel menatap Abizar iba. "Gue turut berduka cita ya, maafin baru bisa ke sini soalnya gue lagi sibuk sibuknya, terus ngedenger kabar kalau Tsabinna udah gak ada, Balqis sama Stevia kesini nya besok sekalian bawa kue ulang tahun buat Tsabinna." ucap Aurel getir.
Abizar hanya mengangguk. "Makasih banyak ya, udah sempet ke sini meskipun lo lagi sibuk." balas Abizar.
"Sans aja kali," jawab Aurel.
Pagi ini Abizar, Aldeon, Balqis, Aurel, Stevia sudah berada di pemakaman. Mereka berjongkok sambil menaburkan bunga di makam Tsabinna.
Balqis membawa kue ulang tahun, lalu ia memberikan kue tersebut kepada Abizar, Abizar menerima dengan senang hati. Stevia langsung menyalakan lilin yang berangka 19 tahun.
"Selamat ulang tahun gadis baik, doa yang aku panjatkan semoga kamu tenang di alam sana, aku belum bisa ikhlasin kamu pergi Tsa, tapi mau gimana pun aku harus bisa mengikhlaskan kepergian kamu, semoga di umur kamu yang ke sembilan belas tahun, kamu bisa jadi pribadi yang lebih baik lagi, tenang selalu di sisi Allah, I Really Miss." lirih Abizar sambil meletakan kue tersebut di atas gundukan tanah.
"Selamat ulang tahun bunda, bunda sosok perempuan yang kuat buat Al, bunda itu panutan aku banget, selamat ulang tahun ya wanita kuat, doa aku semoga bunda bahagia selalu di sisi Allah, aku bener bener kangen sama bunda, I love you so much my mother," ucap Aldeon sambil tersenyum getir.
Aurel dan Balqis mengucapkan selamat ulang tahun kepada almarhumah Tsabinna, Stevia tidak sadar kan diri karna terlalu lama menangis, pasalnya di antar Aurel dan Balqis hanya lah Stevia yang benar benar dekat dengan Tsabinna.
"Semangat yuk, dunia tidak akan berhenti setelah dia pergi."—Abizar Al Ghifari.
"Sampai bertemu di surga nya Allah."— Abizar Al Ghifari
...~Selesai~...
__ADS_1