
"Aku cintaaaa kamu..." Imbuh Dika terus meledek kekasihnya itu, namun Dea enggan untuk menimpalinya lagi dan semakin mengeratkan pelukannya kepada Dika, membuat Dika selalu merasa bahagia disamping Dea.
.
.
Tibalah mereka di sebuah toko bordir, ternyata seragam yang mereka dapat akan di bordir dengan ukiran nama mereka masing-masing.
Dea terlihat sangat senang sekali baju seragamnya terdapat namanya terukir oleh bordir yang sangat indah, Dika pun tak henti memandangi wajah kekasihnya itu yang terlihat berseri-seri.
"Kamu tuh aku hanya membuatkan nama dengan bordiran saja senang nya bukan main, bagaimana jika ku ajak kau nikah" Ujar Dika terhadap Dea, membuat Dea menghentikan aktifitasnya dan melihat ke arah Dika dengan tatapan tajam.
"Ada apa kamu melihat ku seperti itu, sudah tak perlu marah aku hanya becanda ingin menikahimu" Kata-kata Dika sempat mengecilkan hati Dea yang sempat tersanjung di buat oleh Dika.
"Kak Dika menyebalkan, siapa yang tidak bahagia jika kekasihnya meminta untuk menikah dengannya, hanya orang bodoh yang berkata seperti itu" Gumam Dea dalam hati sambil terus menatap ke arah Dika tanpa berkedip, Dika yang menyadari sikap Dea seperti itu Ia pun langsung memeluk wanita kesayangannya itu seolah tahu betul apa yang menyelimuti pikiran dari kekasihnya itu.
"Dea sayang jangan pernah berfikir buruk tentang ku, aku sangat menyayangimu, setiap kata yang aku lontarkan terhadapmu semata-mata hanya ingin membuat mu tertawa, nanti jika kamu siap untuk menikah, maka aku akan datang menemui ayah mu" Imbuh Dika lirih dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Kak Dika sudahlah, malu tau ini di depan umum, kita seperti ABG yang sedang di mabuk asmara saja" Tukas Dea mencoba menjauhkan tubuh Dika, melepaskan pelukannya.
"Dasar kamu ini...." Sambil mencubit hidung Dea, "Yasudah, apalagi keperluan mu yang mau kamu beli, jangan kelamaan berfikirnya nanti kita malah kemaleman pulangnya, karena kamu harus segera istirahat untuk besok" sambungnya.
"Baiklah....pak ketua" Dea langsung berlalu meninggalkan Dika, membuat Dika merasa jengkel di buat olehnya.
"Anak ini benar-benar membuat ku pusing" Gumam Dika.
"Haa...Apa... bicara apa kakak barusan?" Tiba-tiba menoleh ke arah Dika.
"Ah tidak....aku tidak bicara apapun, mungkin perasaanmu saja sedang berhalu..." Lagi-lagi Dika meledek kekasihnya itu, dan berjalan merangkul Dea.
Setelah Dea menyelesaikan belanjanya, segera Dika mengantarnya pulang.
sesampainya di rumah Dea Dika langsung berpamitan pulang.
"Ok tuan putri aku langsung pulang ya, sampaikan salam untuk mamamu, maaf aku tidak bisa mampir" Seru Dika dan segera ia melajukan motor nya berlalu meninggalkan Dea, setelah dirasa Dika sudah jauh dari pandangannya Dea pun masuk ke dalam rumah, namun tanpa di sadari Mama Tina sedang memperhatikannya dari dalam rumah.
"Mah.....Dea pulang" Teriak Dea.
"Tanpa kamu berteriak mama sudah tau"
Dea langsung terkejut mendapati mamanya sudah berada dibalik pintu.
"Mama.....mengagetkan saja, sedang apa di situ?" Tanya Dea heran.
"Kenapa kekasihmu itu tidak kamu suruh masuk, kebiasaan mengantarkan anak gadis orang tidak pamit dengan orang tuanya" Ujar Mama Tina.
"Mah...."
"Tidak sopan" Gumam Mama Tina dan berlalu meninggalkan Dea, Dea menghela nafas panjang bergegas mengikuti mamanya masuk ke dalam.
"Mah....Kak Dika tidak seperti itu, memang blm sempat aja mah untuk dia bisa mampir dan berpamitan sama mama" Bujuk Dea kepada Mamanya.
__ADS_1
"Dea jika dia pria baik suruh dia datang menemui Mama, datang dan antarkan anak Mama dengan sopan" Tegas Mama Tina.
"Tapi mah...."
"Tidak ada tapi-tapi, atau kamu tidak perlu berhubungan dengan laki-laki yang tidak memiliki sopan santun itu" Tukas Mama Tina dan berlalu meninggalkan Dea, Dea tidak mampu berkata apapun lagi untuk pembelaan dirinya terhadap Dika.
...
Keesokan hari nya Dea telah bersiap untuk pergi bertanding karena hari itu adalah hari pertama kejuaraan nasional akan di mulai, Dea pun di jemput oleh Dika.
Dika yang kala itu telah sampai di depan rumah Dea seperti biasa hanya menunggu Dea di depan, Mama Tina pun telah memperhatikannya dan bergumam dalam hati "anak itu benar-benar tidak tau sopan santun, dia fikir Dea tidak memiliki orangtua yang harus di hormati"
"Mah....Dea berangkat ya mah"
Tanpa menjawab Mama Tina berlalu meninggalkan Dea.
"Mah....."
Namun Dea tak dapat berbuat banyak karena dirinya sudah kesiangan, dan Dika pun sudah menunggu lama di luar sana.
"Mah....Dea berangkat, doakan Dea ya mah"
Tanpa jawaban juga, Dea pun segera bergegas keluar rumah menghampiri Dika yang telah lama menunggu.
"Kak Dika...."
"Lama sekali kamu, ngapain aja di dalam"
"Kak...."
"Kenapa Kakak tidak menungguku di dalam, bertemu Mama dan berpamitan dengannya"
"Dea.... apa karena itu yang membuatmu muram pagi ini?"
Tanpa menjawab Dea hanya menganggukan kepalanya, mengiyakan pertanyaan Dika.
"Oke aku mengerti, Mama mu tidak menyukai itu ya, baiklah lain kali aku akan berpamitan dengannya"
Lagi Dea tidak menjawab hanya tersenyum dan dika segera membuka kan pintu mobil untuknya, setelah itu mereka bergegas pergi.
"Oke kalau begitu tersenyumlah menghadapi pertandingan mu hari ini jangan cemberut lagi." Rayu Dika, Dea pun tersenyum kembali.
.
Sepanjang perjalanan terlihat hening, tak satu patah kata pun percakapan diantara keduanya, tak seperti biasanya kebersamaan mereka selalu memecah keheningan.
Dika yang menyadari muramnya kekasihnya pagi itu, ia memarkirkan mobilnya tepat di sebuah minimarket untuk membelikannya Ice Cream.
"Loh, kenapa kita berenti disinih kak, bukannya kita sudah terlambat untuk pertandingan?" Tanya Dea heran.
"Tunggulah disini, aku tak akan lama" Dika langsung bergegas keluar, dan tak membutuhkan waktu lama Dika telah kembali.
__ADS_1
"Ini makanlah untuk membuat moodmu bagus hari ini, aku tidak akan membiarkanmu bermuram terus seperti ini karena ini pertandingan pertama mu" Dengan menyodorkan sekantong plastik penuh Ice Cream dan Coklat.
"Kak Dika ini untuk ku semua" Dea membuka plastik yang Dika berikan.
"Yaaa... makanlah...." Tanpa berkata lagi Dika melajukan mobilnya untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Dea langsung melahap Ice Cream dan Coklat yang dibelikan oleh Dika, Dea terlihat seperti anak kecil memakan semua itu membuat Dika merasa senang melihat Dea dengan mengacak2 rambut Dea.
"Dasar anak kecil" Gumam Dika.
.
ISLAMIC CENTER.....
Sesampainya mereka di Islamic Center tempat Dea bertanding, mereka langsung bergegas masuk ke dalam, disana sudah ada Yasmin dan kekasihnya, Hana, Nat, Syahrul, Elang, dan tim lainnya.
Tak luput juga kehadiran Prima sahabat kecil Dika, membuat Dika dan Dea terkejut dengan kehadirannya, karena sebelumnya Prima bilang tidak bisa datang karena suatu pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan.
"Kak Prim......" Sapa Dea tersenyum, Prima hanya membalasnya dengan senyuman.
"Terima kasih sudah menyempatkan waktunya ya Kak Prim..."
"Sudahlah jangan kebanyakan berterima kasih, sebaiknya kamu cepat ganti baju dan cepat masuk barisan gabung dengan tim yg lain, upacaranya akan segera dimulai"
"oh..iya, baiklah aku ganti baju dulu ya" Dea segera meninggalkan Prima dan teman-teman nya.
"Hey....kau ini kenapa tidak beritahu aku sebelumnya jika kau akan datang" Dika menyapa sahabatnya berjabat tangan dan saling memeluk.
"Iya ternyata semua pekerjaanku masih bisa dihandle assistant ku, jadi ku putuskan untuk menyaksikan pertandingan pertamanya" Seru Prima.
"Thx bro" mereka saling melempar tawa, tak lama berselang Dea kembali dan sudah berganti pakaian, Dea pun langsung memasuki barisan untuk mengikuti upacara pembukaan, sementara Dika, Prima dan yang lainnya menunggu di podium.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.