
Setelah hampir satu jam lamanya mengelilingi pusat perbelanjaan. Kami pun memutuskan untuk pulang dan tentu saja dengan banyak sekali kantung yg kami bawa.
" oohhhh astaga Alia, banyak sekali yg kau beli sampai tangan ku ini sakit sekali membawa kantong-kantong belanjaamu " eluhnya dengan wajah masam dibuat buat. Dan segera memasukkan belanjaan kami kedalam jok belakang mobilnya.
" oohh astaga Adi, kau benar-benar menyesal telah membawaku kemari, haahhh? " balasku dengan berkacak pinggang
" tidak tidak bukan seperti itu Alia sayang " sekarang dia mulai merangkulku dan membawaku utk memasuki mobilnya
" aku selalu senang jika melihat kau senang, sungguh aku tak penah berbohong soal ini " ucapnya kemudian tersenyum manis tepat didepan wajahku, ketika aku berhasil duduk disisi lain kemudi mobilnya.
" jangan marah ok, aku tak akan sanggup melihat wajah garangmu itu" sambungnya lagi dengan membelai pipi kananku
" kau ini " sekarang dia mengaduh setelah aku berhasil memukul pelan lengannya, namun kemudian tersenyum. Dan akhirnya dia pun ikut memasuki mobil, duduk disisi kemudi.
" kita pulang? " tanyanya setelah memasuki mobil dan aku hanya mengangguk.
" Kau tau Alia, seperti biasa aku melakukan ini tidak gratis yaahh " ucapnya memecahkan keheningan diantara kami
Yaaa, aku tau dia selalu begitu walaupun hanya sekedar meminta imbalan masakanku ataupun Kriti. Atau hanya sekedar menemaninya seharian tanpa gangguan siapapun.
" baiklah, itu memang kebiasaanmu " ku iyakan saja " kali ini apa imbalannya? " sambungku
" Aku ingin Spagetty dan saus buatanmu, pasti enak sekali kan " ucapnya dan mungkin tengah membayangkannya
" aku tak punya stock makanan Instan semacam itu " jawabku
Benar, aku memang tak pernah membeli stock makanan Instan semacam itu. Karna pasti akan dibuang saat itu jg oleh Kriti. Dia hanya akan memasak dan memberiku makanan yg benar-benar olahannya sendiri dari bahan-bahan alami seperti sayuran, buah dan sedikit rempah utk membuat masakannya lebih lezat tentu sjaa.
" tenang saja, aku sudah membelinya tadi bersamaan dengan belanjaanmu, ada dibelakang " ucapnya sambil menunjuk kearah jok belakang, aku langsung memutar tubuhku utk memeriksa keberadaan makanan instan yg Adi sebutkan. Dan benar saja ada disana bersama paper bag belanjaanku. Bukan hanya satu kemasan, namun ada sekitar 4 atau 5. Astagaaa, sebenarnya apa yg dia fikirkan kali ini. Tentu saja jika Kriti melihatnya aku akan dikuliahi olehnya hanya karna semua ini. Ooohhhhh Adityaaaa
" apa kau gilaa Adi... " dia langsung menyela ku dengan gerakan jarinya yg mengisyaratkan ku untuk diam mendengarkannya
" Kriti tidak akan tau Alia, Kau tenang saja " ucapnya dengan masih fokus mengendarai mobilnya. " Dia sedang ada kelas bersama Tuan Randhawa bukan? " aku mengangguk walaupun mungkin dia tak melihat, tapi aku yakin dia tau aku merespon kata-katanya.
" kelasnya akan selesai tepat jam 5 sore nanti, dan sekrang... " ucapnya dengan penuh keyakinan seraya mengangkat tangan kirinya utk melihat Jam tangannya " masih jam setengah 3 itu masih lama bukan? " sambungnya lagi
" tapi tetap saja kan itu sangat beresiko " rengekku kemudian " jika dia datang sebelum kau menyelesaikan makananmu bagaimana? " tanyaku
__ADS_1
" mudah saja, ajak dia bergabung bersama kita saja " jawabnya enteng.
Kami kemudian melanjutkan berbincangan ringan kami. Selalu diselingi dengan canda dan tawa. Entah kenapa bersamanya aku selalu merasa nyaman dan juga bahagia. Membahas apa saja denganya rasanya selalu saja menyenangkan. Tak pernah berhenti tertawa jika sudah bersamanya.
Beberapa menit setelahnya kami terdiam dan berada dalam fikiran masing-masing, hingga kemudian Adi memulai pembicaraan kembali.
" Alia " panggilnya pelan dan aku hanya bergumam menanggapinya
" berjanjilah padaku setelah ini kau akan membicarakan masalahmu dengan baik bersama Arjun " seketika wajahku berubah masam setelah mendengar perkataanya
apa maksudnya ini?
Dia menghiburku tapi masih saja membela temannya itu yg sudah jelas-jelas bersalah dan membuatku murung seperti beberapa jam yg lalu.
" aku tahu dia salah Alia, tapi setidaknya kau tak boleh mendiamkan dan menghindarinya seperti ini " sambungnya lagi
" kau tau dia salah, tapi kenapa kau selalu membelanya. Bahkan dia saja tak pernah menghiraukan kehadiranmu apa lagi sikap pedulimu terhadapnya " dia tersneyum masam saat ini, kata-kataku berhasil membuatnya tersadar
" kau mungkin benar alia, tapi setidaknya dia masih temanku. Kami berteman sejak kecil dan dibesarkan bersama-sama. Aku peduli padanya, walupun dia selalu menganggapku sebagai musuhnya " jawabnya " aku tak pernah peduli semua itu, yg aku pedulikan saat ini adalah kalian. Kalian saling mencintai, bahkan Arjun mencintamu lebih besar dari Cintaku utk mu. Aku tau itu " diam sebentar dan menghela nafas, kemudian melanjutkan kembali " kau tau Alia? Betapa besar pengaruhmu terhadapnya? " kali ini dia bertanya padaku.
" mungkin kau tak pernah menyadarinya, tapi yg pasti. Selama dia bersama mu dia menjadi Arjun yg lebih baik, lebih memperhatikan mata kuliahnya, nilainya jg selalu bagus. Dan satu hal lagi dia rela memutuskan hubungan dengan para Mahasiswi sexy di kampus ini hanya utk menjadikanmu kekasih satu satunya, ya walaupun aku tau sebagian dr mereka masih saja mengganggu nya. Tapi Kau lihat? Bagaimana dia susah payah menahan kebiasaan buruknya itu. Itu semua tidak mudah Alia, mengingat Arjun yg tak pernah bisa jauh dari wanita cantik dan sexy selama bertahun-tahun. Tapi dengan adanya dirimu disisinya, dia selalu saja bisa mengontrolnya " jelasnya panjang lebar yg membuat diriku sedikit berfikir " apa aku begitu bodohnya tak melihat perjuangannya? "
" Apa kau tak melihatnya jika bersama Shreya, Adi? " tanyaku
" jangan pernah berfikir kalau Shreya adalah saingan terberatmu, dia hanyalah seorang teman. Arjun dan dia sangat dekat sedari kecil, orang tuanya pun memang bersahabat. Kau tau itu kan Alia? " jelasnya lagi
Ya aku memang tau hubungan sahabat diantara keluarga mereka. Arjunpun telah memberi tahuku akan hal itu. Tapi mengingat dulu hubungannya bersama Shreya sebagai mantan kekasih, apa aku tak berhak jika harus marah pada sikap dan tingkah laku mereka yg sudah kelewat Batas itu. Tidak adil
Aku mendengus kesal, lebih tepatnya Muak.
****
Aku masih termenung ketika tiba-tiba Aditya menghentikan mobilnya.
" Alia " panggilnya yg membuatku menolehkan kepalaku kearahnya, dia tersenyum. Sementara aku masih saja memasang wajah masamku padanya. Masih kesal akan perintahnya itu.
" kita telah sampai, turunlah?! " perintahnya masih dengan senyum diwajah tampannya.
__ADS_1
Tunggu dulu, kenapa sekarang dia menyuruhku utk turun?
Bukankah biasanya dia akan turun terlebih dulu dan membukakan pintunya untuk ku?
Anehhh...
Kemudian aku memtuskan untuk mengedarkan pandanganku kearah luar jendela mobilnya. Dan disana aku melihat seseorang tengah berdiri menunggu kami keluar dari mobil ku rasa.
Ohhh jadi itu alasannya. Ada Arjun disana, diteras rumahku. Kelihatannya dia tengah menunggu kedatanganku. Dilihat dari raut wajahnya yg terlihat jengkel, Kurasa sudah cukup lama dia disana.
" kita pergi lagi saja, aku ingin jalan-jalan sore ditaman " ucapku dengan menyilangkan kedua tanganku didepan dada.
" Heii Alia, kau sudah janji padaku kan. Akan membicarakan nya bersama Arjun " ucapnya mengingatkan.
Apa apaan ini?
Aku sama sekali tak berjanji padanya, dia sendiri yg mengatakan hal itu. Aku sama sekali tak menyetujuinya.
" jangan katakan kau tak berjanji padaku tadi? " selidiknya
" ya, tentu saja. Aku memang tak berjanjikan padamu " jawabku
" Ohhh ayolahh Alia, kapan kau akan dewasa? "
Ohhh astaga kali ini dia benar-benar membuatku muak. Aku tetap dalam posisiku tanpa menoleh sedikitpun kearahnya. Dia terus saja mebujukku, tak pernah berniat sedikitpun membiarkanku pergi dari sana. Dia bertekad utk aku segera menyelesaikan masalahku dengan Arjun.
Ok baiklah kali ini aku mengalah saja. Karna aku tau, aku takan pernah bisa menang melawannya.
" ok baiklah baiklah kau menang " pasrahku dengan mengangkat kedua tanganku keatas tanda bahwa ku menyerah akan desakannya. Dia menyeringai lebar akhirnya.
" thats right, ini baru Alia ku " seraya mencubit pipiku gemas.
" tapi adi bagaimana dengan Spagetinya? Kau tak mau aku memasakannya sekarang? Tak apa jika harus bersama Arjun kan? " ucapku, kemudian mendapatkan gelengan pelan dari kepalanya.
" tenang saja, aku akan menagihnya lain waktu, ingat ini sebagai hutangmu padaku. Dan suatu hari aku akan menagihnya lagi, ok " aku hanya mengangguk kecil dan dia tersenyum kemudian beralih melepaskan Selbelt ku dan membukakan pintu mobil utkku dr dalam. " turunlah tuan putri, aku akan membawakan belanjaanmu sekarang " ucapnya lagi seraya meraih gagang pintu mobil bagiannya dan melesat keluar.
Ku berdiri diluar mobil, tanpa menunggu lama Aditya telah membawa semua belanjaanku dan memindahkan semuanya ditanganku sebelum akhirnya dia pergi melesat meninggalkan ku.
__ADS_1
Setelah kepergian Aditya, akupun melangkah memasuki pagar rumahku dan disambut oleh Arjun yg menghampiriku....
#Bersambung