
Dika pun langsung mengambil alih Dea untuk diobati kakinya oleh Dika.
"coba sini biar ku lihat kaki mu De".. Ujar Dika sambil memegangi kaki Dea, yang ternyata biru lebam dipersendian kakinya Dea.
"Aww ... sakit sekali kak" Dea merintih kesakitan.
"ah sudah tahan saja pertamanya memang sakit.." Celetuk Dika.
Elang pun yang sedang memegangi Dea yang kini berada dipangkuannya hanya tersenyum lirih mendengar celetukan Dika, namun Dea terheran kenapa mereka tertawa kode.
* * *
setelah merasa kakinya membaik, Dea berpamitan pulang, Dika pun spontan menawarkannya untuk mengantar Dea pulang.
lagi-lagi hal itu membuat teman-teman yang lain semakin keheranan dibuatnya.
"baiklah, kalau kamu mau pulang biar ku antar kamu pulang.." Ujar Dika.
"tidak perlu kak, karena Hana yang akan mengantarku pulang" Tolak Dea halus terhadap Dika.
namun penyataan Dea di sanggah oleh Hana, "tak apa De jika kamu ingin di antar oleh kak Dika, kebetulan sekali, ini sudah larut, aku pun ada keperluan lain yang harus ku kerjakan, jadi kamu pulang bersama kak Dika saja".. Jelas Hana.
"oke kalau begitu aku akan bersiap, kamu tunggulah aku" Imbuh Dika dan melepas senyuman terhadap Dea, Dea pun hanya menatap keheranan akan tingkah Dika.
setelah itu yang lain pun juga berpamitan untuk kembali kerumah masing-masing.
"ayo tuan putri, mari ku antar pulang, silahkan naik" Ujar Dika mempersilahkan Dea untuk menaiki motor yang Dika kendarai.
Dea pun tanpa berbicara langsung menaiki motor Dika.
"pegangan ya tuan putri" Imbuh Dika kepada Dea.
"jangan modus ya" Celoteh Dea dengan memukul Dika.
"aww.. tuan putri ini cantik tapi sayang galak banget" Gumam Dika, Dea kembali memukul Dika untuk tak banyak bicara dan segera mengantarnya pulang, karena padahal tanpa disadari Dea sangat gerogi bila berada sedekat itu dengan Dika.
"baiklah tuan putri, kita berangkat, dan aku akan diam" Ujar Dika, dan Dika pun segera melajukan motornya untuk mengantarkan Dea pulang.
* * *
sesampainya di rumah Dea, Dika pun menyuruhnya turun, namun Dea mungkin terlelap karena kelelahan.
__ADS_1
"hey...sepertinya kamu betah ya, berada dekat dengan ku" Imbuh Dika, sontak membangunkan Dea, yang tertidur memeluk Dika, dengan panik Dea melepaskan pelukannya terhadap Dika.
"hmmm... maaf.. maaf kak, aku ketiduran" Jawab Dea malu.
"sebenarnya aku sih masih ingin sekali kamu berada dipelukmu, tapi nanti kalau papa mu lihat bagaimana, bisa-bisa aku disuruh menikahi anak gadisnya lagi" Seru Dika meledek.
"ah kak Dika bisa saja" Jawab Dea memukul Dika dan semakin salah tingkah dibuatnya.
"oh iya apa kakak ingin mampir sebentar kerumah ku?" Tanya Dea.
"hmmmm....lain kali saja, sudah malam, sudah sana masuk, aku pulang dulu, terima kasih ya sudah mengantar ku pulang, mimpi indah ya" Ujar Dika tersenyum manja terhadap Dea.
"harusnya aku yang bilang seperti itu, terima kasih ya kak sudah mengantarku pulang" Imbuh Dea yang juga membalas senyum manja Dika.
setelah Dika sudah menjauh dari pandangan Dea, ia pun masuk ke dalam rumahnya.
* * *
2 hari kemudian Dea dan Dika dipertemukan kembali untuk berlatih ..
Hana yang kala itu menjemput Dea untuk berlatih.
Hana membunyikan klakson nya, Dea pun berteriak dari atas jendela kamarnya.
***
sesampainya di kampus mereka berpapasan dengan Dika yang kala itu juga baru datang, hana pun menyapa Dika dan membuka kaca mobil nya, itu membuat Dea merasa deg deg an...
"entah rasa apa inu ya tuhan, kenapa aku jadi salah tingkah seperti ini melihat kak Dika" gumam Dea dalam hati dengan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah yang semula memperhatikan Dika namun tertangkap basah oleh Dika bahwa dirinya sedang memandangi Dika sejak kaca mobil Hana terbuka, dan tak segan Dika pun meledeknya.
"hati-hati semakin kau sangkal, bisa-bisa nanti jatuh hati loh" Imbuh Dika dengan senyum kode, namun Hana langsung dibuat bingung seketika dengan maksud yang di ucapkan Dika kepada Dea.
"apa Kak Dika telah menyatakan perasaannya, apa mereka telah menjalin hubungan??" gumam Hana dalam hati, begitu banyak pertanyaan yang ia lontarkan dalam fikirannya.
"bagaimana dia bisa tau apa yang ku fikirkan" gumam Dea dalam hati, saat itu Dea dan Hana sama-sama melamun memikirkan kata-kata Dika, tapi seketika Dika membuyarkan lamunan mereka berdua..
"woiiii......." suara Dika terasa menggelegar ditelinga keduanya, karna Dika pun juga memukul mobil Hana, karena Hana berhenti dan menghalangi pengguna jalan yang lain.
"bae-bae ayam tetangga kemarin banyak yang mati karena kebanyakan melamun, Na itu belakang ada yang mau lewat mau sampai kapan berhenti terus" Jelas Dika menyuruh Hana untuk memarkirkan mobilnya di tempat yang sudah disediakan, Hana dan Dea yang kaget mereka berdua saling beradu pandang dan tak lama kemudian Dika menggebrak mobil Hana kembali membuat keduanya panik dan Hana langsung melajukan mobilnya ke parkiran.
"Kau ini bagaimana sih Na, melamun segala, memalukan sekali." Gerutu Dea kesal sekaligus merasa malu karena semakin jadi salah tingkah dibuatnya, Dika hanya tersenyum lirih melihat tingkah keduanya.
__ADS_1
"lalu apa kabar dengan mu Dea, helloooo..." bantah Hana tak mau kalah.
"ayoolah...kita turun, kamu tuh sama-sama melamun, jangan cuma menyalahkan ku.." lanjut Hana berucap sambil bergegas untuk turun, namun tak dihiraukan Dea, karena Dea kala itu kembali melamun memikirkan kejadian yang baru saja dia alami.
ketika hendak menutup pintu, Hana mendapati sahabatnya itu masih melamun.
"hey nona manis....sampai kapan kau akan berdiam diri mematung seperti itu di dalam mobil.." Ujar Hana, Dea pun kaget mendengar ucapan sahabatnya itu.
"hmmm....ada apa sih Na, tidak perlu kan kamu teriak-teriak bicara kepadaku, aku tidak tuli.." Imbuh Dea mengelak penyataan sahabatnya itu.
"kalau begitu cepatlah turun, jangan kebanyakan melamun di dalam mobil, sawan kau nanti.." Ujar Hana menutup pintu mobilnya, setelah dirasa Dea telah sadar akan lamunannya, Dea pun langsung bergegas merapihkan barang-barang nya dan segera ia turun dari mobil dengan wajah yang ditekuk.
"ada apa dengan wajahmu?" pertanyaan dilontarkan Dika sengaja untuk meledek Dea.
"ada apa memang dengan wajahku?"...Tanya Dea dengan polosnya Ia mengambil sebuah cermin, untuk memastikan wajahnya tidak ada sesuatu yang janggal.
"ah tidak ada apa-apa, kenapa memangnya kak dengan wajahku" Tukas Dea keheranan, "atau jangan-jangan Kak Dika tau bahwa aku sedang------" gumam Dea dalam hati, masih memperhatikan wajahnya di cermin, tiba-tiba ia memejamkan matanya dan menggeleng.
"kamu ini kenapa Dea?, sedari tadi ku perhatikan tingkah mu sangat aneh, apa kamu salah minum obat ya semalam ?" Tanya Dika dibuatnya terheran pula akan sikap Dea, namun seketika Dika bisa menangkap sinyal-sinyal akan sikap Dea, lalu ia pun semakin meledek Dea.
"hmmmm.... aku tau kamu mulai menaruh hati padaku ya" Ujar Dika meledek Dea, Dea pun sontak membuka matanya.
"dari mana dia bisa tau apa yang sedang aku fikirkan" gerutu Dea dalam hati.
"ada apa kamu melihat ku seperti itu, jangan-jangan penyataan ku benar ya bahwa kamu jatuh hati padaku, yessss" Ujar Dika semakin meledek Dea, semua mata langsung tertuju pada mereka berdua mendengar ucapan Dika.
Dika tak menghiraukan teman-teman nya, namun tidak dengan Dea yang langsung dengan tegas menyanggah penyataan Dika.
"apa-apaan kamu ini seenaknya saja bicara, jadi orang jangan besar kepala, siapa juga yang jatuh hati padamu" Tukas Dea dengan mengerucutkan bibirnya.
Dika yang kala itu pun langsung menari-nari tanpa juga Ia hiraukan penyanggahan yg Dea lakukan dan terus meledek Dea, Dea pun kesal dibuatnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.