
Berbeda dengan Dika yang kala itu sangat senang mengetahui tingkah laku Dea yang salah tingkah setiap kali dekat dengannya, Dea justru sangat malu di hadapan teman-temannya jika mereka benar-benar mengetahui isi hatinya, karena Dea pun tak bisa menepis bahwa Ia pun seperti nya telah jatuh hati namun Ia berusaha untuk tidak seorang pun mengetahui nya, terlebih Dika telah memiliki kekasih yakni Tita..
begitu pun dengan teman-teman Dea semakin terheran-heran akan tingkah laku Dika yang sepertinya Ia pun menaruh hati pada Dea meskipun Dika telah memiliki kekasih Ia tak menghiraukannya..
malam itu Dika pun kembali ingin mengantarkan Dea pulang.
"Biar aku yang mengantarmu pulang" Ujar Dika menarik tangan Dea yang kala itu sudah membuka pintu mobil Hana, Hana pun tak bergeming melihat pemandangan seperti itu.
"hmm..tidak perlu Kak, karena Hana yang akan mengantarku pulang, lagi pula, habis ini ada beberapa keperluan sekolah yang harus aku beli bersama Hana" Jawab Dea, yang seolah berusaha agar tetap tenang dihadapan Dika.
"okee kalau begitu lain kali kamu tidak boleh menolak tawaranku" Imbuh Dika, melepaskan genggaman tangannya terhadap Dea, Dea pun mengiyakan dan segera masuk kedalam mobil, setelah berpamitan, Hana pun melajukan mobilnya.
di perjalanan pulang Hana menanyakan apa yang menjadi pertanyaan dikepalanya, mengenai isi hati Dea terhadap Dika.
"De...boleh aku tanya sama kamu" Ucap Hana memulai pembicaraannya.
"tentu...katakanlah..." Ujar Dea terlihat santai.
"tapi kamu jangan tersinggung ya oleh pertanyaan ku, aku kan hanya bertanya..." Imbuh Hana, dan Dea hanya menganggukan kepalanya, Hana pun langsung melanjutkan pertanyaan nya "apa benar kau jatuh hati terhadap Kak Dika" Lanjut Hana dengan suara terendahnya, Dea pun kaget mendengar pertanyaan sahabatnya itu membuat Dea bingung harus menjawab apa.
"haaa... yang benar saja kamu, mana mungkin aku menyukainya, kamu tau sendiri, dia begitu jahil padaku" Tukas Dea mencoba untuk tetap tenang.
"Hana apa-apaan sih melontarkan pertanyaan macam itu" Gumam Dea dalam hati, padahal dia sendiri pun memang tidak tahu apa yang Ia rasakan, benarkah Ia telah jatuh hati terhadap Dika.
"memang nya ada apa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu padaku, apa aku terlihat seperti orang yang sedang kasmaran??, hmmm jangan mentang-mentang aku jomblo ya, terus aku dengan mudah menyukainya, kamu fikir aku bodoh menyukai laki-laki yang telah memiliki kekasih, aku tidak mau merusak hubungan Kak Dika dengan Kak Tita, Kak Tita sangat baik padaku, jadi mana mungkin aku melakukan itu pada nya." Jelas Dea kepada Hana, membuat Hana cukup bergeming, lalu Hana melanjutkan pertanyaannya kepada Dea.
"Dea...sebagai sahabat kamu, aku hanya ingin memperingatkan mu bahwa Dika bukanlah pria single, jadi jangan sakiti dirimu untuk mencintainya, paham" Tukas Hana yang sangat khawatir bila sahabatnya benar-benar jatuh hati terhadap Dika.
"uchh ... sahabat ku yang baik hati dan tidak sombong, perhatian sekali syamaa akyu.." Ucap Dea memeluk Hana.
"Dengar ya kawan aku tidak akan melakukan hal itu, oke.." Ujar Dea, melepaskan pelukannya terhadap Hana yang kala itu sedang menyetir.
* * *
mereka sampai pada sebuah toko buku untuk membeli beberapa peralatan sekolahnya, setelah dirasa cukup untuk membeli semua kebutuhan nya, mereka segera pulang, dan Hana terlebih dulu mengantar Dea pulang..
.
__ADS_1
sesampainya di rumah Dea, Hana langsung berpamitan untuk pulang, karena hari pun sudah larut.
setelah dirasa Hana sudah pergi Dea pun masuk ke dalam rumah, namun langkahnya terhenti saat Ia merasa ada yang memanggilnya, Dea pun menoleh ke arah suara yang memanggil namanya, Ia pun dikejutkan oleh kehadiran Dika yang berada disudut seberang rumahnya.
"Kak Dika..." Imbuh Dea terheran sambil melihat di kejauhan memastikan laki-laki yang menunggunya di seberang memang Dika, lalu Dea pun bergegas menghampirinya.
"ada apa kamu kemari, ini sudah larut?" Ujar Dea, Dika pun hanya memandanginya.
"Kak Dika kau ini kenapa, kok malah melamun, apa yang kamu lihat?" celoteh Dea yang semakin di buat penasaran akan kehadiran Dika malam-malam dirumahnya.
"aku tidak melamun, aku sedang memandangi peri" Imbuh Dika yang tetap memandangi Dea tak berkedip. Dea melihat ke arah sekeliling nya tapi Ia tidak mendapati apa yang dikatakan Dika.
"hey... sedang mencari apa kamu" Tanya Dika.
"mencari peri yang kamu katakan itu, benarkah ada, cepat beritahu aku dimana keberadaannya" Ucap Dea penasaran dan terus melihat ke sekelilingnya.
Dika menghentikan aktifitasnya, sambil memegangi kepala Dea, dan menatapnya tajam, Dea pun tak bergeming.
"kamu mau tau dimana peri itu" tanya Dika, Dea pun hanya menganggukan kepalanya.
"peri itu kamu..." Imbuh Dika dengan menatap Dea semakin dalam, Dea yang merasakan jantung nya semakin berdegup kencang melepaskan tangan Dika dari wajah nya.
"bisa ga sih kamu itu tidak perlu bawel, dan merusak suasana" Tukas Dika.
"lepasin...kenapa memangnya" Ujar Dea menjauhkan tangan Dika dari mulutnya.
"mau ga kamu pacaran sama aku?" pernyataan Dika membuat Dea benar-benar bergeming diam seribu bahasa dan membuat jantungnya berdetak tak karuan, pipinya pun langsung memerah, namun Dika membuyarkan lamunannya.
"hey....nona mau ga jadi pacar aku?" Dika mengulang pertanyaan yang sama, Dea masih terdiam.
"kalau kau diam artinya kamu setuju" Ucap Dika.
Dea langsung menatap tajam ke arah mata Dika, tangan Dea memegang kening Dika, dan memukul Dika seketika, Dika kaget dibuatnya.
"kenapa tiba-tiba kamu memukulku"...Ujar Dika sambil memegangi lengannya.
"kamu ini sudah tidak waras" Ucap Dea memarahi Dika.
__ADS_1
"apa salahku?" Tanya Dika cuek.
"kamu itu sudah memiliki kekasih, berani-beraninya kamu itu memberi ku harapan palsu, dan mempermainkan Kak Tita.." Ucap Dea marah-marah.
"yee aku kan hanya bertanya mau tidak kamu jadi pacarku?" Jawab Dika santai.
"dasar laki-laki tidak tahu diri, sudah mendapatkan wanita cantik seperti Kak Tita masih saja menggoda wanita lain" Dea terus memukuli Dika dengan buku yang ada di tangannya.
"aww... sakit de" Ujar Dika merintih kesakitan.
"kamu jauh-jauh kesini hanya untuk memainkan hati wanita, pulang sana cepat" Dea tak henti memukuli Dika dengan buku, Dika pun tak tinggal diam, Dika menangkap pukulan yang dilayangkan Dea terhadapnya.
"lepasin....Kak Dika" Teriak Dea meronta.
"tidak akan aku lepaskan sebelum kamu mau menerima ku sebagai pacar kamu dan mendengarkan penjelasan aku tentang hubungan aku dan Tita.." Ujar Dika memegang erat tangan Dea.
"aku tidak mau jadi pacar kamu dan aku tidak ingin mendengar penjelasan mu tentang hubungan kamu dan Kak Tita.." Dea melepas sekuat tenaga genggaman tangan Dika dan berlalu meninggalkan Dika, namun Dika segera menangkap tangan Dea kembali.
"dea..dea...tunggu, aku minta maaf, aku salah, tapi kenapa kamu tidak ingin menjadi kekasihku?" pertanyaan yang di lontarkan Dika membuat Dea diam menatap Dika tajam, dan tiba-tiba mata Dea berkaca-kaca, Dika yang melihat itu langsung memeluk Dea.
namun Dea langsung melepaskan pelukannya dari Dika dan pergi berlalu meninggalkan Dika sambil terus menyeka airmata nya yang jatuh, dan Dika masih terpaku melihat kepergian Dea dengan seribu pertanyaan, mengapa Dea bersikap seperti itu....
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.