
Dan ternyata sosok itu adalah Arjun. Dia berjalan menghampiri kami.
Kriti berusaha menjadi tameng antara aku dan Arjun. Namun aku berusaha menarik pergelangan tangannya.
Arjun berdiri didepan ku sekarang. Dia menghela nafasnya pelan berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk menyampaikan sesuatu padaku. Sebelum sempat dia berkata aku kemudian menyuruh kriti untuk pergi dari sini. Karna aku tahu ini adalah urusan pribadi kami. Tidak seharuanya Kriti ikut didalamnya.
" Baiklah aku akan pergi, Jaga dirimu " ucapnya seraya mengusap pucuk kepalaku dan mencium pipi kananku. Kemudian memandang tajam kearah Arjun sebelum ia melangkah dan pergi.
" Alia, maaf kan aku? " Arjun memulai bicara berusaha meraih tanganku namun aku tak membiarkannya. Ku lipat kedua tanganlu didepan dada.
" untuk apa kau disini? " tanyaku tanpa basa basi dan sama sekali tak berselera untuk memandang wajah nya saat ini.
" Alia dengar kau salah paham soal tadi. Kau tahu aku sekarang sudah berubah kan? Aku tak lagi bermain dengan wanita lain diluar sana... " jelasnya menggantung karna kupotong perkataanya
" lalu apa yg kulihat tadi? Kau sedang latihan untuk drama begitu? sudah jelas kau diam disana, pasrah akan perlakuan Shreya itu "
" Tidak seperti itu Alia, tolong dengarkan aku dulu.... " belum selesai dia menjelaskan kemudian muncul seseorang diantara kami.
" Arjun kau disini, kenapa kau meninggalkanku? Ayo antarkan aku pulang untuk mengganti gaunku " ucapnya dengan manja. Tentu saja dia adalah Shreya.
" sudahlah urus saja Perempuan jalangmu itu " cercaku yg mulai frustasi dan bergegas pergi meninggalkan mereka
" Alia tunggu... " cegahnya namun dengan sigap tangan Shreya menahannya.
Aku terus berjalan seorang diri berusaha menjauhkan fikiranku dari seorang Arjun meski aku tahu itu hal yg paling mustahil bagiku. Karna aku sendiri yakin tak bisa melepaskannya dari fikiranku walau hanya sesaat.
Sepanjang jalan aku ku terus saja merutuki kebodohanku yg telah mencintainya begitu dalam. Sampai akhirnya seseorang membuyarkan fikiranku.
" aku tahu dan aku melihatnya, kau yakin baik-baik saja? " ucapnya seraya menahan bahu kiri ku. Aku tersenyum ketika melihat sosoknya.
" Aditya " ucapku dengan seringai bahagia seketika
Aditya Dansraj adalah temanku, sahabatku, pelipur laraku. Dia teman pertamaku ketika aku memasuki kampus ini. Dia menyukai ku bahkan dia pernah menyatakan perasaannya terhadapku jauh sebelum aku menjadi kekasih Arjun.
Sebulan menjadi kekasihnya tanpa ada satu orang pun mengetahuinya, aku merasakan ketidaknyamanan atas perilakunya. Bukan tak menyukai hanya saja aku lebih nyaman menyandang status sebagai temannya bukan kekasihnya. Akhirnya aku memutuskan hubungan dengannya.
__ADS_1
Ku kira dia akan kecewa dan membenciku, tapi ternyata diluar dugaanku. Dia menerimanya, dia memaklumi keinginanku. Dia selalu ada saat aku benar-benar membutuhkan nya. Dia datang diwaktu yg tepat. Selalu dan selalu.
Bahkan saat dia tau Arjun sahabatnya menyukaiku dan berniat menjadikanku kekasihnya. Dia yg mendukung hubungan kami, dia yg membantu kami bersatu saat itu. Awalnya kami bertiga, berteman baik. Sampai akhirnya Arjun mengetahui bahwa Aditya pernah menyukaiku.
Arjun membenci Aditya. Mereka terlibat cekcok karnaku. Meski Aditya menjelaskan perasaannya terhadapku saat itu, Arjun sama sekali tak menghiraukan. Kebencian sudah tertanam dihatinya terhadap Aditya. Sampai sekarang mereka terlibat perang dingin, setiap kali mereka bertemu tak ada kata yg terlontar diantara satu sama lainnya. Hanya diam dan pandangan tajam penuh kebencian yg ada dimata Arjun. Meski sebenarnya Aditya sudah lelah dengan semua itu dan bermaksud mengakhiri perang dingin ini. Namun dia tau Sahabatnya itu sama sekali tak bisa diajak bicara dengan baik.
" lalu kau akan kemana sekarang " tanyanya yy berusaha menyamai langkahku
" pulang " jawabku singkat
" apa kau gila? " pekiknya seketika menghentikan langkahnya begitupun denganku. Aku tersenyum kecil saat ini namun seketika jg ku pasang wajah datarku
" aku tak akan membiarkannya, kau akan menangis seorang diri disana? Alia dengarkan aku " kali ini dia meraih kedua bahuku agar menghadap kearahnya
" aku telah berjanji padamu bukan? bahwa aku akan selalu membuatmu bahagia, aku takkan pernah membiarkanmu merasa seorang diri disini " ucapnya dan aku mengangguk
" luapkan saja Kekecewaanmu padamuku, bersamaku, jangan mengurung dirimu, kau mengerti? " kali ini dengan meraih kedua jemariku, aku mengangguk dan tersenyum
" kemarilah ikut denganku, aku akan mengantarmu kemanapun kau mau " dia menarik pergelangan tanganku menuju parkiran kampus.
" kau selalu saja bersikap begitu " aku menarik tanganku dari genggamannya dengan sedikit memanyunkan bibirku
" kau tahu kan aku tak suka melihatmu bersedih seperti sekarang ini " dia membelai lembut punggung tanganku. Sungguh manisπ
" Tak apa aku tak terluka, ayo kita pergi " ucapku dengan senyum kecil yg sudah menghiasi wajahku hinga menunjukan kedua lesung pipiku, ku telusupkan tangan kananku pada lengannya. Dia tersenyum kemudian mengacak rambutku lembut.
" selalu saja begitu " manyunku dan merapikan rambut dengan tangan kiriku.
" Kau tahu Alia, entah kenapa aku selalu suka saat kau bersikap manja seperti ini, kau terlihat sangat menggemaskan " ucapnya seraya mencubit pipiku dan menyeringai lebar. Seketika aku melepaskan tanganku darinya, memasang wajah kesal yg kubuat buat. Namun dibalik itu aku tersenyum. Entah kenapa aku selalu merasa nyaman ketika bersamanya. Seketika pikiranku yg tadi penuh dengam beban yg Arjun timbulkan menjdi hilang seketika karna kehadirannya.
" Heiii... Kenapa kau melepaskannya. Jangan seperti itu Alia " dia meraih kembali tanganku dan menelusupkannya diantara tangan dan tubuhnya
" kau tahu Adi, kau selalu saja membuatku kesal tapi entah kenapa aku menyukai caramu ini, dan aku bahkan tidak bisa membencimu untuk waktu yg cukup lama " ucapku yg masih bergelayut dilengan Aditya seperti yg dilakukan Shreya tadi terhadap Arjun.
" karna aku tak akan membiarkanmu membenciku walau seharipun " ucapnya dengan membelai punggung tanganku yg berada dilengannya menggunakan telapak tangan kanannya
__ADS_1
Aku berani melakukan ini semua hanya bersama Aditya. Itupun ketika aku dan Arjun tengah terlibat pertengkaran seperti sekarang ini. Karna aku yakin 100% jika Arjun melihat aku dan Aditya seperti ini amarahnya akan meluap. Biarkan saja, aku tak peduli. Jika dia saja dengan seenaknya bersikap begitu akupun bolehkan? π
Kami terus berjalan menuju parkiran kampus dimana mobil Aditya terparkir dengan terus bergelayut pada lengannya. Dan ketika bola mataku menangkap sosok Arjun yg tengah memperhatikan kami dari jauh, aku semakin mengeratkan genggamanku. Aku yakin 100% Arjun sudah berada dalam mode kecemburuannya.
Kami sampai. Aditya membukakan pintu mobil untukku, aku masuk diikuti oleh Aditya dibagian kemudi. Kami sudah berada didalam mobil.
" kau mau aku antar kemana Alia? " tanyanya. Seketika aku teringat bahwa persediaan makanan kami dirumah hampir habis dan itu artinya aku ataupun kriti harus cepat membelinya. Kriti mungkin masih menyelesaikan kelasnya bersama Tuan Randhawa. Kemudian aku memutuskan untuk pergi membeli keperluan itu bersama Aditya. Dia setuju, dengan perlahan melajukan mobilnya menuju sebuah pusat perbelanjaan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
#**BERSAMBUNG
Jangan lupa Like nya yaahh gaes, sarannya jg biar lebih bagus lagi selanjutnya π**
__ADS_1
Tiger Shroff As Aditya Dansraj