
Kemesraan di antara Olivia dan Alexander semakin tumbuh, dan cinta mereka semakin tak terbendung. Setiap hari mereka mengisi waktu dengan perhatian, keceriaan, dan kisah lucu mereka. Meskipun tugas kerajaan kadang-kadang memisahkan mereka, cinta yang mereka miliki membuat mereka selalu merasa dekat dalam hati.
Suatu pagi, Olivia dan Alexander berjalan-jalan di taman kerajaan, menghirup udara segar dan menikmati keindahan alam. Mereka berdua mengobrol tentang masa depan dan mimpi-mimpi mereka, tentang bagaimana mereka ingin membangun kerajaan yang lebih baik dan adil bagi rakyat mereka.
Tiba-tiba, hujan mulai turun. Mereka berdua tertawa dan berlari menuju tempat berlindung yang terdekat. Namun, hujan deras tidak menyurutkan semangat mereka. Malah, mereka memutuskan untuk menikmati momen ini dan berdansa di tengah hujan.
Dengan senyum lebar di wajah mereka, Olivia dan Alexander berdansa di tengah hujan, tanpa memedulikan pakaian mereka yang basah kuyup. Mereka menari dengan riang, tertawa kecil ketika tetes-tetes hujan mengenai wajah mereka.
"Ayo kita nikmati hujan ini!" seru Olivia, sambil menggenggam tangan Alexander dengan erat.
"Dengan senang hati, Sayang!" jawab Alexander dengan semangat.
Mereka menari di tengah hujan, seperti dua kekasih yang tidak kenal lelah. Mereka melupakan segala masalah dan tanggung jawab sementara, dan hanya menikmati momen kebersamaan ini.
Setelah menari di tengah hujan, mereka kembali ke istana dengan pakaian basah, tetapi hati yang penuh kehangatan. Di kamar mereka, mereka mengganti pakaian dan mengeringkan diri, tetapi percikan cinta yang diciptakan oleh momen itu masih ada dalam hati mereka.
__ADS_1
Di malam hari, mereka menghadiri pesta kerajaan yang meriah. Di tengah riuhnya pesta, mereka berdua mencuri momen berdua di balkon istana. Di bawah cahaya bulan yang gemerlap, Alexander menatap Olivia dengan tatapan penuh cinta.
"Kau tahu, Olivia, kau telah mengubah hidupku menjadi sebuah petualangan yang tak terduga," ucap Alexander dengan suara penuh emosi.
Olivia tersenyum lembut. "Dan kau, Alexander, kau adalah teman sejati dan sahabat terpercayaku. Bersamamu, aku merasa bahwa tak ada hal yang tak mungkin kita lakukan."
Alexander mengambil tangan Olivia dengan lembut. "Aku bersyukur setiap hari memiliki dirimu di hidupku. Kau adalah cahaya dalam kegelapanku, dan aku tidak pernah merasa sendiri sejak kau ada di sampingku."
Mereka saling berpelukan, merasakan hangatnya cinta di antara mereka. Di balik keramaian pesta, momen berdua ini menjadi kenangan yang paling berharga bagi mereka.
"Tidakkah kau merasa bahwa segala sesuatu terasa lebih indah ketika kita bersama?" tanya Olivia dengan lembut.
Alexander tersenyum, "Tentu saja. Kehadiranmu mengisi hidupku dengan keceriaan dan arti sejati."
Ketika perahu mereka berayun di tengah danau, mereka melepaskan tangan dan berdiri di bagian depan perahu. Dengan senyuman lebar, mereka merasakan angin menyentuh wajah mereka dan matahari menyinari mereka.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Alexander de Greyson," ucap Olivia dengan penuh perasaan.
Alexander menatapnya dengan penuh cinta. "Dan aku mencintaimu, Olivia. Kau adalah segalanya bagiku."
Tiba-tiba, mereka mendengar suara gemuruh di kejauhan. Mendekati mereka adalah awan mendung yang bergerak dengan cepat. Hujan akan segera turun lagi.
"Kita harus segera kembali," ujar Alexander dengan perhatian.
Namun, sebelum mereka bisa mengarahkan perahu ke arah tepi danau, hujan mulai turun dengan derasnya. Mereka berdua tertawa dan berlindung di bawah mantel.
"Ayo kita kembali ke
istana dengan gaya!" seru Olivia dengan ceria.
Mereka mengarahkan perahu dengan cekatan, menyusuri danau yang mulai bergelombang karena hujan. Dengan hati yang berbunga-bunga, mereka kembali ke istana dengan penuh semangat dan kebahagiaan.
__ADS_1