
Setelah pesta pernikahan berakhir, Olivia dan Alexander kembali ke istana dengan perasaan bahagia dan penuh kegembiraan. Mereka menghadapi malam pertama mereka dengan antusias dan rasa canggung yang wajar bagi setiap pasangan yang baru menikah.
Di dalam kamar mereka yang indah, Olivia dan Alexander duduk berdua di tepi tempat tidur. Wajah mereka dipenuhi dengan senyum dan mata yang penuh cinta. Namun, ada juga perasaan canggung dan kekhawatiran yang melingkupi mereka.
Olivia menggenggam tangan Alexander dengan lembut dan berkata, "Aku merasa begitu bahagia hari ini. Tapi, aku juga merasa sedikit gugup dengan malam pertama kita."
Alexander tersenyum lembut dan mencium keningnya. "Aku juga merasa canggung, Olivia. Tapi, kita bisa melalui ini bersama-sama. Yang penting adalah saling mencintai dan saling menghormati."
Mendengar kata-kata itu, Olivia merasa lega. Dia tahu bahwa Alexander selalu mengutamakan perasaannya dan tidak akan pernah memaksanya untuk melakukan sesuatu yang tidak dia inginkan.
Malam itu, mereka berbicara dan tertawa bersama, menikmati kebersamaan mereka tanpa tekanan untuk melakukan apapun. Alexander memahami bahwa malam pertama adalah momen yang penting dalam pernikahan mereka, dan dia ingin mereka berdua merasa nyaman dan siap untuk langkah tersebut.
Tak lama kemudian, mereka berdua tiduran di atas tempat tidur, wajah mereka saling berhadapan. Dalam tatapan penuh kasih, Alexander berkata, "Aku mencintaimu, Olivia. Dan aku berjanji akan selalu menjagamu dan mencintaimu seumur hidupku."
__ADS_1
Olivia tersenyum dan menjawab, "Aku juga mencintaimu, Alexander. Kamu adalah segalanya bagiku, dan aku berjanji akan selalu mendukungmu dan mencintaimu dengan segenap hatiku."
Perasaan canggung perlahan menghilang, digantikan dengan perasaan keintiman dan cinta yang begitu dalam. Mereka merangkul erat satu sama lain, merasa saling dekat dan nyaman dalam pelukan mereka.
Saat malam semakin larut, mereka memutuskan untuk tidur bersama dalam kehangatan dan kasih sayang. Meski mereka belum siap untuk langkah selanjutnya, mereka tahu bahwa saatnya akan datang dengan sendirinya.
Hari-hari berlalu, dan Olivia dan Alexander semakin dekat dan intim dalam pernikahan mereka. Mereka menikmati kebersamaan dan kebahagiaan dalam setiap momen yang mereka bagi bersama.
"Olivia, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu," ucap Alexander dengan serius.
Olivia memandangnya dengan penasaran. "Apa itu, Alexander?"
Alexander menggenggam tangan Olivia dengan lembut. "Aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak ingin memaksamu untuk melakukan apapun yang kamu tidak ingin lakukan. Aku mencintaimu, dan aku ingin kita membangun kehidupan yang bahagia bersama-sama. Tapi, aku ingin kita merasa nyaman dan siap sebelum melangkah lebih jauh dalam hubungan kita."
__ADS_1
Olivia tersenyum bahagia dan mencium pipi Alexander. "Aku tahu, Alexander. Dan aku sangat menghargai perasaanmu itu. Aku juga ingin kita saling menghormati dan merasa nyaman dalam setiap momen kita bersama."
Mendengar kata-kata itu, Alexander merasa begitu beruntung memiliki seorang istri yang begitu pengertian dan penuh cinta seperti Olivia. Dia tahu bahwa dia telah menemukan pasangan yang tepat baginya.
Hari-hari berlalu, dan keintiman dan kebahagiaan dalam pernikahan Olivia dan Alexander semakin berkembang. Mereka saling mencintai dan menghormati satu sama lain, membangun masa depan yang indah bersama.
Saat malam semakin larut, mereka berdua dud
uk di tepi tempat tidur, saling berpegangan tangan dengan lembut. "Aku merasa sangat beruntung memiliki kamu, Olivia," ucap Alexander dengan tulus.
Olivia tersenyum dan menjawab, "Aku juga merasa beruntung memiliki kamu, Alexander. Kamu adalah cinta sejatiku."
Dalam kehangatan malam, mereka berdua membiarkan keintiman dan kasih sayang menghantarkan mereka dalam tidur yang nyenyak. Mereka tahu bahwa setiap langkah dalam pernikahan mereka adalah sebuah perjalanan bersama, dan mereka siap untuk menjalani setiap momen itu dengan cinta dan keyakinan dalam hati.
__ADS_1