
Waktu berlalu, dan Olivia terus merenungkan perasaannya untuk Alexander. Dia merasa semakin dekat dengan pria itu dan semakin yakin bahwa dia mencintainya dengan sepenuh hati. Namun, ketakutannya belum sepenuhnya hilang, dan dia masih merasa ragu untuk memberikan jawaban yang pasti.
Di sisi lain, Alexander tidak berhenti berusaha mendapatkan hati Olivia. Dia berusaha membuatnya tersenyum, memberikan dukungan, dan menunjukkan kasih sayangnya setiap hari. Alexander tahu bahwa cinta seperti ini memerlukan waktu dan kesabaran, dan dia siap untuk menunggu sebanyak yang diperlukan.
Salah satu hari, Alexander mengajak Olivia untuk berjalan-jalan di taman istana. Mereka berbicara tentang segala hal, tertawa bersama, dan merasa nyaman dalam kebersamaan mereka.
"Tolong percayalah padaku, Olivia," ucap Alexander dengan lembut. "Aku mengerti bahwa kamu masih ragu, dan aku tidak ingin memaksamu untuk menjawab sekarang. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku akan tetap ada untukmu, selalu."
Olivia merasa terharu dengan kata-kata Alexander. Dia melihat betapa baiknya hati pria itu dan betapa tulus perasaannya. Namun, dia merasa dirinya masih terjebak dalam ketakutannya.
"Mengapa aku masih takut?" gumam Olivia dalam hati. "Apa yang membuatku masih ragu?"
Malam itu, Olivia memutuskan untuk mencari keberanian dalam hatinya. Dia mengambil sebuah diari dan mulai menulis semua perasaannya, mencurahkan setiap pikiran dan keraguan yang ada di dalam hatinya.
Beberapa hari kemudian, Olivia memberanikan diri untuk membuka hatinya pada Alexander. Mereka duduk bersama di perpustakaan istana, dan hati Olivia berdebar kencang.
"Alexander, aku ingin berbicara denganmu tentang perasaanku," ucap Olivia dengan lirih. "Aku merasa semakin dekat denganmu, dan aku tahu bahwa aku mencintaimu. Tapi, aku masih merasa takut dan ragu untuk memberikan jawaban yang pasti."
Alexander menatap matanya dengan lembut. "Olivia, aku tahu bahwa perasaan ini bisa rumit dan menakutkan. Aku tidak ingin memaksamu untuk mengambil keputusan yang cepat. Aku siap untuk menunggu sebanyak yang kamu butuhkan."
"Dari hari ke hari, aku semakin yakin bahwa kamu adalah pria yang tepat untukku," lanjut Olivia. "Aku ingin mencoba, tapi aku masih takut jika hubungan kita akan menghadapi tantangan besar."
__ADS_1
Alexander menggenggam tangan Olivia dengan penuh kasih. "Kita akan menghadapi tantangan bersama, Olivia. Tidak ada hubungan yang bebas dari masalah, tetapi jika kita berdua bersatu, kita akan lebih kuat untuk menghadapinya."
Setelah berbicara dengan Alexander, Olivia merasa lebih lega. Dia merasa bahwa dia telah membuka hatinya, dan dia merasa lebih dekat dengan pria itu daripada sebelumnya.
Beberapa hari berlalu, dan Alexander terus berusaha membuat Olivia bahagia. Dia mengajaknya untuk perjalanan ke puncak gunung yang indah, memberinya buku-buku yang dia sukai, dan menyediakan waktu untuk mereka berdua menikmati kebersamaan.
Suatu malam, Alexander mengundang Olivia untuk makan malam romantis di balkon istana. Di bawah cahaya bulan dan bintang, mereka menikmati hidangan lezat dan berbicara tentang masa depan mereka.
"Olivia, aku ingin kamu tahu bahwa aku telah memikirkan masa depan kita," ucap Alexander dengan serius. "Aku ingin membangun kehidupan yang indah bersama-sama, dan aku berjanji akan selalu mencintaimu dengan segenap hatiku."
Olivia tersenyum dan merasa hangat di hatinya. Dia merasa begitu bahagia dengan perhatian dan perasaan tulus yang diberikan oleh Alexander. Namun, dia merasa bahwa dia masih belum siap untuk memberikan jawaban yang dia harapkan.
"Aku merasa begitu dicintai olehnya, tapi mengapa aku masih merasa ragu?" gumam Olivia dalam hati.
"Tolong beri aku waktu," ucap Olivia dengan lembut. "Aku tahu bahwa cintamu tulus, dan aku tidak ingin menyakiti hatimu dengan ragu-ragu. Aku butuh waktu untuk merenungkan perasaanku."
Alexander menggenggam tangan Olivia dengan lembut. "Tentu, Olivia. Aku akan memberimu waktu sebanyak yang kamu butuhkan. Aku ingin kamu merasa nyaman dan bahagia dengan keputusanmu."
Mendengar kata-kata itu, Olivia merasa bersyukur memiliki seorang pria yang begitu pengertian dan sabar. Dia tahu bahwa Alexander adalah pria yang tepat baginya, dan dia harus melepaskan ketakutannya untuk menemukan kebahagiaan yang sejati.
Malam itu, saat ia berjalan pulang ke kamarnya, Olivia merasa ada kehangatan dalam hatinya. Dia merasa bahwa dia telah mengambil langkah maju dengan berbicara terbuka pada Alexander. Meski masih ada keragu-raguan, dia tahu bahwa dia sedang berusaha mencari keberanian untuk menghadapinya.
__ADS_1
Hari-hari berlalu, dan Olivia terus merenungkan perasaannya. Dia merasa lebih dekat dengan Alexander, dan dia tahu bahwa perasaannya semakin dalam setiap harinya. Namun, dia masih belum siap untuk memberikan jawaban pasti.
Di suatu malam yang indah, Alexander mengajak Olivia untuk berjalan-jalan di taman istana. Mereka berjalan berdua, dan suasana malam membuat hati mereka semakin dekat.
"Olivia, aku ingin tahu apa yang bisa membantumu merasa lebih nyaman," ucap Alexander dengan penuh perhatian. "Aku siap mendengarkan dan memahami perasaanmu."
Olivia merasa terharu dengan perhatian Alexander. Dia tahu bahwa dia adalah pria
yang tepat baginya, dan dia merasa semakin dekat dengannya. Namun, ada ketakutan yang masih terus menghantuinya.
"Aku tahu bahwa aku harus melepaskan ketakutanku," ucap Olivia dengan lirih. "Aku mencintaimu, Alexander, dengan segenap hatiku. Tapi, aku masih takut jika hubungan kita akan diuji oleh segala tantangan yang akan datang."
Alexander tersenyum lembut dan menggenggam tangan Olivia erat-erat. "Kita akan menghadapi tantangan bersama-sama, Olivia. Aku percaya pada cinta kita, dan aku siap untuk mengatasi segala masalah yang datang. Kita bisa melalui semuanya jika kita bersatu."
Olivia merasa hangat dalam pelukan Alexander. Dia tahu bahwa dia telah menemukan cinta sejatinya, dan dia harus membuang keraguan dan ketakutannya untuk menemukan kebahagiaan yang sejati.
Beberapa hari berlalu, dan Olivia merasa semakin dekat dengan Alexander. Dia merasa bahwa dia telah menemukan seorang teman sejati dan pasangan hidup yang hebat.
Pada suatu malam, Olivia mengundang Alexander untuk makan malam romantis di balkon istana. Di bawah cahaya bulan dan bintang, mereka menikmati hidangan lezat dan berbicara tentang masa depan mereka.
"Alexander, aku ingin kamu tahu bahwa aku merasa semakin dekat denganmu setiap harinya," ucap Olivia dengan tulus. "Aku mencintaimu, dan aku ingin mencoba untuk membangun masa depan bersama-sama."
__ADS_1
Alexander tersenyum bahagia dan merangkul Olivia erat-erat. "Aku sangat bahagia mendengarnya, Olivia. Aku tahu bahwa kita akan melewati segala hal bersama-sama. Kita akan memiliki masa depan yang indah bersama."
Dengan perasaan bahagia dan lega, Olivia dan Alexander merangkul masa depan mereka dengan penuh keberanian dan cinta. Mereka tahu bahwa mereka harus bersatu dan melepaskan ketakutannya untuk menemukan kebahagiaan yang sejati dalam cinta mereka.