Intrik Cinta Di Takhta De Greyson

Intrik Cinta Di Takhta De Greyson
Bab 20: Tawaran Cinta


__ADS_3

Setelah berhasil mengatasi segala masalah dan konflik yang menegangkan, kerajaan de Greyson kembali tenang dan damai. Olivia dan Alexander merasa lega, namun hati mereka masih terasa bimbang. Di tengah kebahagiaan dan kemenangan, ada satu hal yang belum terselesaikan, yakni perasaan cinta di antara mereka.


Suatu hari, setelah kerajaan pulih dari segala krisis, Alexander mengundang Olivia untuk berjalan-jalan di taman istana. Sinar matahari senja menyelimuti langit, menciptakan suasana yang romantis dan tenang.


Mereka berjalan berdua, langkah mereka pelan dan hati-hati. Ada canggung di antara mereka, karena keduanya merasa ragu untuk mengungkapkan perasaan mereka satu sama lain.


Tiba-tiba, Alexander berhenti di bawah pohon rindang yang besar. Dia menatap mata Olivia dengan tulus dan serius. "Olivia, aku ingin berbicara denganmu tentang sesuatu yang penting."


Perasaan Olivia campur aduk, dia tahu apa yang akan diucapkan Alexander, tetapi hatinya masih bimbang. Dia mencoba menenangkan diri dan berkata, "Tentu, apa yang ingin kau katakan, Alexander?"


Alexander menggenggam tangan Olivia erat-erat. "Olivia, sejak pertama kali kita bertemu, hatiku sudah tertarik padamu. Kamu adalah wanita yang luar biasa, pemberani, bijaksana, dan cantik di mataku. Aku mencintaimu, Olivia, dengan segenap hatiku."


Olivia merasa detak jantungnya semakin cepat. Dia merasa senang mendengar pernyataan cinta dari Alexander, namun di sisi lain, dia merasa takut untuk membuka hatinya sepenuhnya.


"Alexander, aku..." Olivia terhenti, ragu-ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


Alexander mengerti perasaan Olivia. Dia tersenyum lembut dan berkata, "Aku tahu bahwa kamu masih merasa ragu dan takut. Aku tidak ingin memaksamu untuk menjawab sekarang. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa perasaanku ini tulus, dan aku siap menunggu sampai kamu siap menerimanya."


Olivia merasa haru mendengar kata-kata itu. Dia tahu bahwa Alexander adalah pria yang baik dan sabar, namun dia tidak ingin menyakiti hatinya dengan ragu-ragu.


"Mengapa aku merasa seperti ini?" gumam Olivia dalam hati. "Alexander begitu baik padaku, mengapa aku masih ragu?"


Malam itu, Olivia merenung sendiri di kamarnya. Dia merasa pusing dengan pertanyaan di kepala dan perasaan bimbang dalam hati. Dia tahu bahwa dia memiliki perasaan khusus untuk Alexander, namun ada ketakutan yang merayapi pikirannya.


Keesokan harinya, Olivia bertemu dengan ibunya, Ratu Victoria. Dia ingin mencurahkan perasaannya dan mencari nasihat dari wanita bijaksana itu.


"Ibu, aku merasa bimbang," ucap Olivia dengan jujur. "Alexander adalah pria yang hebat dan tulus mencintai aku, tetapi aku masih ragu untuk menerimanya. Aku takut untuk menyakiti hatinya jika aku tidak bisa memberikan jawaban yang dia harapkan."


Ratu Victoria tersenyum lembut. "Cinta adalah perasaan yang rumit, putriku. Tidak ada yang bisa memaksamu untuk merasakan hal tertentu. Yang penting adalah kamu jujur pada dirimu sendiri dan berbicara terbuka dengan Alexander."


"Tapi, ibu, aku takut jika jawabanku adalah menolak," ucap Olivia dengan suara gemetar.


Ratu Victoria meraih tangan Olivia dengan penuh kehangatan. "Putriku, tak ada yang salah dengan perasaanmu. Jangan biarkan ketakutanmu menghalangimu untuk mencari kebahagiaan. Terkadang, kita harus mengambil risiko untuk menemukan cinta sejati."


Olivia merasa terharu dengan dukungan dan nasihat dari ibunya. Dia merenungkan kata-kata bijaksana itu dan merasa semakin yakin bahwa dia harus berbicara terus terang dengan Alexander.

__ADS_1


Beberapa hari kemudian, Olivia memutuskan untuk bertemu dengan Alexander di taman istana. Suasana tenang dan indah menciptakan suasana yang tepat untuk berbicara tentang perasaan mereka.


"Alexander," ucap Olivia dengan tulus. "Aku sangat menghargai perasaanmu, dan aku ingin kau tahu bahwa aku juga merasa khusus padamu. Namun, aku masih merasa ragu dan takut untuk menerimanya."


Alexander menggenggam tangan Olivia dengan lembut. "Aku mengerti, Olivia. Aku tidak ingin memaksamu untuk mengambil keputusan yang sulit. Aku akan tetap menunggu, selama yang dibutuhkan."


Mendengar kata-kata itu, Olivia merasa lega. Dia merasa bahwa Alexander adalah pria yang tepat, yang menghargai perasaannya dan memberinya waktu untuk berpikir.


Sementara itu, di istana, sebuah acara besar digelar untuk merayakan kemenangan kerajaan de Greyson atas segala masalah yang telah dihadapinya. Semua orang bergembira dan bahagia, tapi di hati Olivia masih ada keraguan dan kebingungan.


Di tengah keramaian, Alexander mendekati Olivia dan menariknya ke tepi taman yang sunyi. Dia menatap Olivia dengan lembut dan berkata, "Aku ingin mengajukan satu pertanyaan lagi, Olivia. Apakah kamu mau menjadi pendampingku, bukan sebagai ratu, tapi sebagai wanita yang aku cintai?"


Olivia terkejut dan merasa hatinya berdegup kencang. Dia tahu bahwa saatnya untuk mengambil keputusan, tapi hatinya masih penuh dengan keraguan.


"Alexander, aku..." ucap Olivia ragu.


"Kamu tidak perlu menjawab sekarang," kata Alexander dengan lembut. "Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku mencintaimu dengan segenap hatiku, dan aku siap menunggu sebanyak yang kamu butuhkan."


Mendengar kata-kata itu, Olivia merasa hangat di hati. Dia merasa beruntung memiliki seorang pria seperti Alexander di sisinya, yang menghargai perasaannya dan memberinya waktu


"Aku tahu bahwa Alexander adalah pria yang baik dan mencintaiku dengan tulus," gumam Olivia dalam hati. "Tetapi apa aku sudah siap untuk memberikan hatiku sepenuhnya?"


Pikirannya melayang ke momen-momen indah yang mereka lewati bersama. Kebersamaan mereka di taman, percakapan kocak di perpustakaan, dan dukungan yang Alexander tunjukkan selama masa-masa sulit. Semua itu membuatnya semakin menyadari betapa pentingnya Alexander dalam hidupnya.


Namun, ada ketakutan yang menahan Olivia untuk melangkah maju. Dia takut jika hubungan mereka tidak berjalan dengan baik, jika perbedaan mereka menghalangi mereka untuk bersama. Ada banyak pertanyaan tanpa jawaban, dan itu membuatnya ragu.


Keesokan harinya, Olivia mencari kesejukan di taman istana. Dia ingin mencari ketenangan dan waktu untuk merenungkan perasaannya. Tiba-tiba, Alexander muncul di hadapannya, membawa seikat bunga mawar yang indah.


"Mungkin ini akan membuatmu sedikit merasa lebih baik," ucap Alexander dengan senyuman hangat.


Olivia merasa hatinya meleleh melihatnya. Dia merasa beruntung memiliki seorang pria seperti Alexander yang selalu tahu cara membuatnya tersenyum.


"Makasih, Alexander. Bunganya sangat indah," ucap Olivia dengan lembut.


Alexander duduk di samping Olivia dan berkata, "Aku ingin berbicara tentang kemarin malam. Aku tahu bahwa itu adalah momen yang penuh tekanan, dan aku tidak ingin membuatmu merasa terjepit. Aku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu dan siap untuk menunggu sebanyak yang kamu butuhkan."

__ADS_1


Olivia menghela nafas dan berkata, "Aku tahu bahwa kau adalah pria yang baik dan mencintaiku dengan segenap hatimu. Tapi, aku merasa masih ada banyak hal yang belum aku atasi, banyak ketakutan dan keraguan di dalam hatiku."


Alexander meraih tangan Olivia dengan penuh kehangatan. "Aku mengerti, Olivia. Kita tidak bisa terburu-buru dalam hal ini. Aku siap untuk menunggu, selama yang kamu butuhkan. Karena yang terpenting bagiku adalah kamu merasa bahagia dan nyaman dengan keputusan kita."


Olivia tersenyum lembut. Dia merasa beruntung memiliki seorang pria yang mengerti dan mendukungnya sepenuhnya. Tapi, hatinya masih terasa berat dengan beban keraguannya.


Beberapa hari berlalu, dan Olivia merasa semakin terombang-ambing dengan perasaannya. Di satu sisi, ada rasa cinta yang tumbuh semakin dalam untuk Alexander, namun di sisi lain, ada ketakutan yang menghalanginya untuk mengambil langkah maju.


Suatu malam, Olivia mendekamkan diri di perpustakaan istana. Dia mencari kedamaian dan ketenangan dalam dunia buku-buku. Namun, pikirannya kembali melayang ke momen-momen bersama Alexander.


Tiba-tiba, dia menemukan sebuah buku tua dengan sampul yang indah. Dia membukanya dan menemukan sebuah kutipan yang menarik hatinya, "Kadang-kadang, kita harus melawan ketakutan kita untuk menemukan cinta yang sejati."


Kutipan itu seperti pencerahan bagi Olivia. Dia menyadari bahwa hidup adalah tentang mengambil risiko dan melawan ketakutan. Dia harus mengatasi keraguannya jika ingin menemukan cinta sejati.


Keesokan harinya, Olivia mencari Alexander dan menemukannya di taman istana. Dia melangkah maju dengan hati yang penuh keberanian dan berkata, "Alexander, aku tahu bahwa aku merasa bimbang dan takut untuk mengambil langkah maju dalam hubungan kita. Tapi, aku juga menyadari bahwa hidup adalah tentang mengambil risiko dan melawan ketakutan. Aku ingin mencoba, bersama-sama denganmu."


Alexander tersenyum bahagia. Dia merasa lega mendengar jawaban dari Olivia. Dia merangkulnya dengan erat dan berkata, "Aku sangat senang mendengarnya, Olivia. Aku akan selalu ada di sampingmu, mendukungmu dalam setiap langkah yang kita ambil bersama."


Dengan perasaan lega dan bahagia, Olivia dan Alexander mengambil langkah maju dalam hubungan mereka. Mereka tahu bahwa akan ada banyak tantangan di depan, tetapi mereka siap untuk menghadapinya bersama-sama.


Pada suatu malam, di bawah langit bintang yang bersinar cerah, Alexander berlutut di depan Olivia dengan seikat mawar di tangannya. Dia menatap matanya dengan penuh cinta dan berkata, "Olivia, aku mencintaimu dengan segenap hatiku. Aku ingin kamu menjadi pendamping hidupku, dalam suka dan duka, dalam bahagia dan sedih. Akankah kamu menikahiku?"


Olivia merasa hatinya berdesir kencang. Dia melihat cinta tulus di mata Alexander, dan dia tahu bahwa dia juga mencintainya dengan sepenuh hati. Namun, dia merasa bahwa dia harus memberikan jawaban yang tepat.


"Dia sangat mencintaiku dan selalu ada untukku, tapi mengapa aku masih merasa ragu?" gumam Olivia dalam hati. "Apa yang membuatku masih takut?"


Hati Olivia berdebar kencang, dan dia akhirnya mengatakan, "Alexander, aku mencintaimu, tetapi aku masih merasa ragu untuk memberikan jawaban sekarang. Aku perlu waktu untuk merenungkan dan melepaskan ketakutan yang menghalangiku. Tolong beri aku waktu."


Alexander tersenyum dengan penuh pengertian. "Tentu, Olivia. Aku akan memberimu waktu sebanyak yang kamu butuhkan. Aku tidak ingin memaksamu untuk mengambil keputusan yang sulit. Aku akan selalu menunggu."


Dengan perasaan lega, Olivia tahu bahwa dia telah meng


ambil keputusan yang tepat. Dia tahu bahwa dia harus melepaskan ketakutannya dan memberikan hatinya sepenuhnya pada waktunya.


Malam itu, Olivia tidur dengan perasaan tenang dan bahagia. Dia tahu bahwa dia telah menemukan cinta sejatinya dalam sosok Alexander, dan dia siap untuk menjalani perjalanan cinta yang tak terlupakan bersama pria yang dicintainya.

__ADS_1


__ADS_2