
Untuk mengikuti pertandingannya di jepang, Isabel selalu berlatih dengan keras bersama teman-temannya untuk mempersiapkan fisik mereka saat bertanding nantinya. Isabel selalu pulang dari tempat latihan dengan sangat lelah. Isabel tak pernah mau mengizinkan Zidan untuk mengantar jemputnya di tempat latihan walaupun Zidan menginginkannya.
Suatu hari Abrar mengajak Zidan untuk melihat para anggota taekwondo yang akan bertanding di jepang, karena Abrar lah salah satu sponsor untuk mereka yang berasal dari Indonesia. Tanpa menolak Zidan ikut Abrar pergi melihat tempat pelatihan tersebut, karena dia tau pasti ada Isabel disana.
Saat Abrar dan Zidan tiba di tempat itu, Zidan berusaha menoleh kesana kemari untuk mencari dimana keberadaan Isabel. Hingga matanya tertuju pada seorang gadis yang sedang bercengkrama riang dengan seorang laki-laki yang masih menggunakan seragam taekwondonya.
“Itu si belbel kan? Siapa laki-laki itu?” Gumam Zidan dalam hatinya menatap Isabel dengan kesal.
Zidan terus menatap kesal pada Isabel, sementara Isabel terus riang ceria bersama dengan teman laki-lakinya itu.
Saat sedang menatap kesal pada Isabel, tiba-tiba Abrar menghampirinya.
“Hei, kau lihat apa?” Tanya Abrar pada Zidan.
“Bukan, bukan apa-apa!” Sahut Zidan mengarahkan pandangannya ke tempat lain.
Ferry yang tau kalau ada Zidan sang suami dari Isabel, langsung bergegas untuk menyelamatkan si gadis bule itu. Ia lantas melangkah cepat menghampiri Isabel yang sedang ngobrol dengan kakak kelas mereka yaitu Nathan yang memang jatuh hati kepada Isabel sejak lama.
“Bel, ikut aku sebentar sini.” Bisik Ferry pada Isabel.
“Apaan?” Tanya Isabel.
Nathan memperhatikan Ferry dengan bingung.
“Ada apa Fer? Kelihatannya kau sedang panik!” Tanya Nathan pada Ferry.
“Eemm, bukan begitu kak! Aku sedang butuh pertolongan dari Isabel saja. Hehehe.” Sahut Ferry dusta.
“Aku pinjam Isabel dulu ya kak!” Sambung Ferry lagi sambil menyeret Isabel menjauh dari kakak kelas mereka itu.
Setelah menjauh dari Nathan, Isabel menarik tangannya dari genggaman Ferry.
“Ada apaan sih? Aku sedang ngobrol dengan siswa terganteng di sekolah ini!” Kata Isabel kesal pada Ferry.
“Woi, markonah! Coba kau lihat ke atas, siapa yang sedang menatapmu dengan kesal?” Kata Ferry pada Isabel.
Isabel pun melihat keatas dan kaget saat Zidan dan Abrar sedang memperhatikannya.
“Aduh mampus aku! Sejak kapan mereka disitu?” Tanya Isabel cepat-cepat menundukkan wajahnya sambil ketakutan pada Zidan.
“Hampir sejam! Kau begitu terlena dengan ketampanan kak Nathan sehingga kau lupa kalau kau sudah bersuami.” Ujar Ferry kesal pada Isabel.
“Iya deh, maaf! Aku lupa.” Sahut Isabel.
“Ayo cepat, kita latihan lagi!” Ajak Ferry sembari menarik Isabel.
Dengan rasa was-was dan cemas, Isabel pun mengikuti latihannya kembali.
“Itu istri kecilmu kan! Aku tak menyangka kau menikahi gadis tomboy. Hehehe.” Ledek Abrar pada Zidan yang sedang kesal.
“Diamlah!" Sahut Zidan kesal.
“Apa kau cemburu?” Tanya Abrar.
“Aku bukan tipe pria yang cemburuan!” Jawab Zidan dusta.
“Kalau kau cemburu juga tak masalah! Hati-hati si bule itu cantik loh, pasti banyak siswa di sekolah ini yang mengejarnya.” kata Abrar menakut-nakuti Zidan.
Zidan hanya berdengus kesal saat Abrar mengatakan hal itu padanya.
“Aku yakin suatu saat si Zidan pasti jatuh hati pada si Isabel, Hehehe.” Gumam Abrar dalam hatinya.
Setelah latihan selesai Isabel dan Ferry berjalan berdampingan saat keluar dari gadung itu. Zidan yang masih kesal, langsung menarik Isabel masuk kedalam mobilnya. Ferry hanya bisa bengong saat melihat tindakan Zidan yang mengejutkannya. Sampai Abrar menepuk pundak Ferry yang membuyarkan pikirannya.
“Hei, tenanglah! Sahabatmu tidak akan apa-apa! Itu hanya perlakuan seorang pria yang sedang cemburu pada istrinya.” Kata Abrar pada Ferry sambil merangkul pundaknya.
Ferry masih melihat mobil Zidan yang membawa Isabel melaju dengan kencang.
“Eemm, ngomong-ngomong, siapa laki-laki yang berbicara dengan Isabel tadi?” Tanya Abrar yang sebenarnya juga melihat Isabel berduaan dengan Nathan.
“Itu kakak kelas kami, tuan! Namanya Nathan. Dia juga senior yang akan ikut pertandingan di jepang nanti.” Jawab Ferry.
“Oh, baiklah! Terima kasih infonya anak muda!” Kata Abrar pada Ferry.
“Eem, menurutku gadis yang kau pandang tadi juga cantik! Cepatlah nyatakan perasaanmu padanya agar dia tidak direbut orang lain.” Kata Zidan lagi pada Ferry.
Abrar langsung melangkah masuk kedalam mobilnya.
“Tau darimana dia kalau aku memperhatikan Kaila tadi? Apa dia melihatnya? Ya ampun itu sangat memalukan!” Gumam Ferry yang berpindah haluan menyukai salah satu siswi setelah cintanya di hempas oleh Caca.
Zidan dan Isabel sampai dirumah. Dengan kesal Zidan langsung membawa Isabel masuk ke dalam kamar.
“Pantas saja kau tidak mau kalau aku mengatar dan menjemputmu saat latihan, ternyata kau punya kekasih disana.” Kata Zidan kesal pada Isabel.
“Dia itu kakak kelasku, om!” Sahut Isabel.
"Kau bahkan sangat gembira saat berbicara denganya.” Kata Zidan.
“Iyalah, dia kan cowok tertampan di sekolah.” Gumam Isabel dengan suara pelan.
“Apa?” Tanya Zidan yang tak mendengar dengan jelas ucapan Isabel.
“Bukan apa-apa om! Aku dan dia tidak punya hubungan apa-apa!” Kata Isabel sejujurnya.
“Tapi aku lihat tadi kau itu sangat senang menatap dan bicara padanya!” Teriak Zidan kesal.
“Kenapa om teriak-teriak sih? Om cemburu ya?” Tanya Isabel dengan senyuman meledek Zidan.
“Hheemmppp, dasar bocah! Mana mungkin aku cemburu pada bocah-bocah seperti kau dan kakak kelasmu itu.” Sahut Zidan menyembunyikan wajah merahnya dari Isabel.
“Masih bilang aku bocah setelah menciumku semalam? Dasar!” Ujar Isabel menatap kesal pada Zidan yang duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
Tak lama bibi Yona mengetuk pintu kamar Isabel.
“Nona, apa kau dan Tuan Zidan sudah makan malam?” Tanya bibi Yona.
“Belum! Aku sangat lapar, bi Yona tolong buatkan aku cumi bakar dong!” Pinta Isabel yang terbiasa manja padanya.
“Baiklah! Tuan, apa kau ada permintaan untuk makan malammu?” Tanya bibi Yona pada Zidan.
“Tidak bi, terima kasih! Aku tidak pilih-pilih makanan seperti dia.” sahut Zidan sambil menyindir Isabel.
“Huh, dasar! Tukang sindir.” Isabel berdecak kesal menatap Zidan.
Bibi Yona hanya tersenyum saat melihat pasangan itu yang baru saja selesai berdebat itu. Setelah mandi Isabel mengajak Zidan untuk makan bersamanya di ruang makan. Disana ia tak melihat sang kakek yaitu tuan Norman.
“Bi, kakek mana?” Tanya Isabel.
“Tuan Norman masih di pabrik, katanya ada masalah disana.” Jawab bibi Yona.
“Masalah apa?” Tanya Isabel lagi.
“Katanya sih ada mesin yang rusak, jadi harus di perbaiki.” Jawab bibi Yona lagi.
Isabel dan Zidan pun makan malam bersama diruang makan.
“Kau sangat menyukai seafood ya?” Tanya Zidan pada Isabel.
“Iya.” Sahut Isabel.
“Semua seafood aku suka!” Sambung Isabel lagi.
“Berarti kau suka makan ikan hiu dong!” Kata Zidan.
“Bukan aku yang makan ikan hiu tapi ikan hiu yang akan memakanku!” Sahut isabel yang membuat Zidan tertawa lepas.
“Hahaha, lugu sekali si bocah! Asal menyahut saja dia!” Kata Zidan sambil menertawakan Isabel.
“Dasar aneh, tadi marah-marah sekarang malah tertawa!” Gerutu Isabel menatap Zidan.
*****
Hari pertandingan pun tiba, semua anggota yang ikut pertandingan telah tiba di jepang. Abrar mengajak Zidan untuk pergi melihat pertandingan itu, namun tampa sepengetahuan Isabel. Isabel mengira Zidan sedang berkumpul dengan kedua adiknya Balqis dan Clara, karera dalam 2 hari sebelum dirinya berangkat ke jepang, Zidan menginap di rumah Balqis. Pertandingan yang mendebarkan dan butuh tekhnik yang mendalam membuat Isabel dan teman yang lainnya tak gentar. Mereka berusaha menampilkan yang terbaik selama mereka bertanding disana.
Zidan memperhatikan setiap gerakan Isabel yang kini bertanding dengan peserta dari Negara lain. Zidan sangat terpesona saat Isabel mampu mengalahkan peserta dari Negara lain. Akhir pertandingan perwakilan dari Indonesia berhasil mendapat juara kedua dari banyaknya Negara yang mengikuti pertandingan itu.
Setelah selesai bertanding Abrar menyediakan fasilitas untuk mereka bersenang-senang selama di jepang. Anggota taekwondo yang semuanya hanya para siswa dan siswi yang masih SMA, sangat senang dan antusias bermain salju di jepang yang dalam peralihan dari musim salju ke musim semi. Zidan masih enggan menampakkan batang hidungnya di hadapan Isabel yang sedang bermain salju dengan teman-temannya. Zidan hanya bersembunyi dan melihat Isabel dari kejauhan. Sesekali ia mengambil foto Isabel yang senang bermain salju itu.
“Hei, mau sampai kapan kau hanya duduk diam melihat Isabel disana?” Tanya Abrar pada Zidan.
“Apaan sih!” Sahut Zidan berusaha menyimpan perasaannya itu.
“Nanti disamber kakak kelasnya loh!” Sambung Abrar lagi.
“Tuh kan benar! Disamber kakak kelas deh.” Kata Abrar menyindir Zidan.
“Ayolah Zidan, sampai kapan kau akan menahan rasa cemburumu itu.” Gumam Abrar dalam hatinya sambil memperhatikan Zidan.
Kebetulan saat itu Ferry sedang melintas sambil membawa minuman. Ia melihat Zidan yang sedang duduk bersama Abrar dan memperhatikan Isabel yang bercanda ria dengan Nathan. Sangking kagetnya melihat Zidan, Ferry langsung mencampakkan minumannya dan berlari menghampiri Isabel. Abrar melihat Ferry yang berusaha menyelamatkan Isabel dari kecemburuan Zidan.
“Hehehe, bocah setia kawan!” Kata Abrar dalam hatinya ketika melihat Ferry berusaha untuk menyelematkan Isabel dari amukan Zidan yang sedari tadi melihatnya bersama Nathan.
Ferry langsung menarik tangan Isabel yang sedang bermain lempar-lemparan bola salju dengan Nathan.
Ferry menarik dan membawanya menjauh dari Nathan.
“Apaan sih bambang?” Tanya Isabel kesal pada Ferry.
“Eh, markonah! Ap kau tidak melihat suamimu sedang memperhatikanmu dari tadi?” Sahut Ferry.
“Apa? Suamiku? Woi, bambang! Suamiku itu lagi di Indonesia bersama kedua adikknya.” Kata Isabel tak percaya.
Kemudian dengan sedikit khawatir, Ferry memegang wajah Isabel dan mengarahkannya pada Zidan dan Abrar yang sedang duduk di kejauhan dan menatapnya. Abrar terkekeh geli sambil melambaikan tangannya pada Isabel.
“Apa kau sudah melihat suamimu, markonah?” Tanya Ferry pada Isabel.
“Mampus lah aku! Ferry, apa kau punya ide agar dia tidak kesal padaku?” Tanya Isabel ketakutan pada amukan Zidan.
“Sayangnya tidak!” Sahut Ferry langsung berlari meniggalkan Isabel sendirian.
“Sialan kau bambang!” Teriak Isabel pada Ferry yang sudah jauh darinya.
Isabel kembali menoleh kearah Zidan dan Abrar, namun saat itu Isabel kaget karena Zidan sudah tepat berdiri di hadapanya.
“Hahaha, om Zidan tampan! Sedang apa di jepang? Rindu padaku ya!” Kata Isabel cengengesan menutupi rasa takutnya.
“Aku di jepang untuk memergoki istriku yang sedang bercanda ria sambil bermain bola salju dengan kakak kelasnya.” Sahut Zidan menatap tajam pada Isabel.
“Is..istriku? hheeemmmpp, biasanya kau memanggilku bocah kenapa sekarang memanggilku dengan sebutan istriku? Menyebalkan!” Kata Isabel sewot.
“Jangan banyak bicara! Ikut aku sekarang!” Zidan langsung menyeret Isabel membawanya pergi.
Saat itu Abrar hanya melambaikan tangannya pada Isabel sambil terkekeh jahat.
“Tega sekali kau, om Abrar! Sesama ipar kau bahkan tidak mau membantuku.” Kata Isabel nangis lebay.
“Hihihihi, melihat mereka aku jadi rindu pada Balqis ku yang judes itu!” Gumam Abrar teringat akan istrinya.
Lalu Abrar mengirimkan pesan singkat kepada belahan jiwanya yang sedang kerepotan karena anak kembarnya bertengkar berebut mainan.
“Aku akan cepat pulang dan menindasmu, Balqis! Tunggulah aku.” Tulis Abrar pada pesan singkatnya melalui telepon selulernya.
__ADS_1
Balqis pun membaca pesan singkat dari suami yang hobi mengganggunya. Dengan kesal Balqis langsung membanting ponselnya yang membuat anak kembarnya berhenti bertengkar dan bengong melihat amukan Balqis.
Zidan membawa Isabel ke hotel tempatnya menginap selama di jepang.
“Om, jangan menyeretku seperti ini, tanganku sakit!” Pekik Isabel pada Zidan.
“Diam!” Bentak Zidan memerahi Isabel.
Isabel langsung diam saat Zidan membentaknya dan membawanya masuk ke dalam kamar hotel tempatnya menginap selama di jepang.
“Duduk disini!” Kata Zidan menyuruh Isabel duduk di sofa.
Isabel pun duduk dan menunduk tak berani menatapnya.
“Sekarang aku tanya padamu, ada hubungan apa kau dengan kakak kelasmu itu?” Tanya Zidan menahan amarahnya.
“Tidak ada, cuma teman satu tim di taekwondo!” Jawab Isabel.
“Apa kau yakin dengan jawabanmu itu hah?” Teriak Zidan.
“Iya om, apaan sih! Aku hanya berteman dengannya.” Sahut Isabel ikut kesal.
“Lagian kenapa sih om selalu kesal jika aku dekat dengan kakak kelasku?” Tanya Isabel.
“Hei, kau harus ingat kau itu sudah menjadi istriku! Jadi kau tidak boleh dekat-dekat dengan laki-laki manapun kecuali si Ferry.” Sahut Zidan.
“Kenapa? Ferry kan juga laki-laki!” Kata Isabel.
“Karena aku tau Ferry itu sahabatmu, jadi kau tidak mungkin akan menyukainya.” Sahut Zidan.
“Om, ingat kalau om juga punya wanita yang om cintai, si tante siapa tuh namanya? Aku lupa! Oh iya, tante Raisa yang pernah om ceritakan dulu padaku! Jadi kenapa om melarangku dekat dengan teman laki-laki lainnya?” Ujar Isabel membalas perkataan Zidan.
“Aku bilang tidak boleh ya tidak boleh!” Teriak Zidan kesal.
“Huh, menyebalkan!” Umpat Isabel kesal
“Minggir, aku mau kembali kekamarku!” Kata Isabel melangkah pergi dari kamar Zidan.
Isabel dan Zidan menginap di hotel yang sama hanya beda kamar. Zidan semakin kesal saat Isabel pergi begitu saja meninggalkannya di kamar itu dan ia juga kesal karena Isabel membuatnya teringat akan Raisa yang telah dilupakannya setelah adanya Isabel di sampingnya.
Malam harinya Abrar membuat jamuan untuk para peserta taekwondo yang berhasil membanggakan Negara mereka itu. Banyak tersedia makanan dan minuman yang ada di meja makan yang panjang. Semuanya duduk dan menikmati hidangan yang tersedia. Ada yang fokus dalam makannya dan ada juga yang makan sambil bercanda ria. Mata Abrar tertuju pada Isabel yang duduk di samping Nathan dan makan sambil berbincang-bincang.
Abrar yang mempunyai banyak akal, mulai melancarkan aksinya. Ia mengajak semuanya untuk berfoto selfie dengan dirinya sambil bersulang dengan minuman yang ada di tangan mereka masing-masing. Abrar juga sempat memotret Isabel dan Nathan yang sedang berbincang dan duduk berdekatan.
“Hehehe, aku yakin kau pasti akan seperti cacing kepanasan jika melihat foto ini, Zidan!” Ucap Abrar sambil mengirimkan foto Isabel dan Nathan kepada Zidan yang sedang gelisah di kamar hotelnya.
Tring…..
Notifikasi pesan dari Abrar untuk Zidan. Zidan pun membuka dan melihat foto itu yang seketika membuat Zidan meradang. Dengan kesal Zidan mengirimkan pesan singkat kepada Isabel.
“Datang ke kamarku segera! Jika tidak semua teman-teman sekolahmu akan tau kalau kau sudah menikah denganku.” Pesan Zidan mengancam Isabel.
Isabel membaca pesan itu dan menjadi gelisah. Isabel langsung pergi menemui Zidan di kamarnya.
Ting…tong….
Suara bel yang di pencet oleh Isabel di depan pintu kamar Zidan. Zidan membukanya dan langsung menarik Isabel masuk kedalam kamar. Saat Isabel sudah masuk, Zidan langsung memberikan ciuman panasnya kepada Isabel hingga membuat Isabel sulit bernafas.
“Eeemmm, om!” Pekik Isabel sambil mencoba mendorong Zidan sekuat tenaga.
Zidan lalu melepaskan ciumannya kepada Isabel. Nafas mereka terengah-engah.
“Aku sudah katakan padamu, jangan dekat dengan kakak kelasmu itu!” Teriak Zidan masih mendekap Isabel.
“Tapi om, dari mana kau tau aku dekat dengan kakak kelasku tadi?” Tanya Isabel bingung.
"Itu tidak penting!” Bentak Zidan.
“Yang penting saat ini adalah kau tidak boleh dekat dengan siapapun!” Sambung Zidan lagi.
“Om, lepas! Aku mau pergi ke kamarku.” Kata Isabel berusaha terlepas dari dekapan Zidan.
Namun bukannya melepas, Zidan malah mengangkat tubuh Isabel dan menghempaskannya ke atas ranjang.
“Om, kau mau apa?” Pekik Isabel bingung melihat Zidan yang telah gelap mata.
Zidan tak mau berpikir panjang, yang ada di otaknya saat itu hanya ingin memiliki Isabel seutuhnya tanpa menyadari kalau Isabel ketakutan melihat sikapnya. Zidan berniat untuk memaksa Isabel menuruti keinginannya malam itu.. Isabel yang berusaha memberontak membuat Zidan semakin kasar padanya. Tanpa sengaja Zidan telah merobek kemeja yang digunakan Isabel saat itu. Isabel menjerit dan tubuhnya bergetar saat Zidan dengan rakusnya melahap tubunya tersebut.
Kali ini Isabel benar-benar ketakutan, ia hanya menangis saat Zidan yang lepas kendali telah menguasai dirinya. Mendengar isak tangisan dari Isabel membuat Zidan tersadar dengan apa yang di perbuatnya. Zidan langsung melepaskan tubuh Isabel dengan segera dan menyesal.
“Maafkan aku, Isabel!” Ucap Zidan seraya menyelimuti Isabel menutupi tubuhnya yag polos karena bajunya telah robek dan di campak oleh Zidan ke lantai.
Isabel terus menangis di ranjang itu. Tubuhnya bergetar ketakutan saat di perlakukan kasar oleh Zidan yang terbakar api cemburu.
“Maafkan aku, Isabel!” Ucap Zidan sekali lagi.
“Om sudah gila ya? Aku ketakutan melihat om seperti itu tadi!” Kata Isabel kesal.
“Aku seperti itu juga karena kau! Kau tidak mau menuruti kata-kataku.” Sahut Zidan kembali kesal.
“Aku dan kak Nathan cuma makan bersama di perjamuan itu, kebetulan kursiku disamping kursinya!” Kata Isabel menjelaskan yang sebenarnya.
“Perjamuan? Maksudmu kalian sedang makan malam bersama teman-teman yang lain?” Tanya Zidan terkejut karena ia telah salah paham pada foto yang di kirim oleh Abrar padanya.
“Iya, om! Om pikir aku makan hanya berdua saja dengan kak Nathan?” Sahut Isabel.
Zidan langsung memberikan foto yang dikirim oleh Abrar padanya.
“Ini bisa-bisanya om Abrar saja! Dia Cuma mau buat om kesal padaku.” Kata Isabel.
“Kurang ajar, kau Abrar!” Teriak Zidan kesal pada Abrar.
__ADS_1
"Hah, dasar pria cemburuan!" Gerutu Isabel yang hanya bisa menghela nafas panjang karena menghadapi Zidan yang memilki sifat pencemburu.
Ternyata perjamuan itu telah dirancang oleh Abrar dan membuat kursi Isabel berdampingan dengan kursi Nathan. Lalu saat ada kesempatan Abrar memotret Isabel dan Nathan dan mengirimkannya pada Zidan untuk membuat Zidan cemburu. Dan pada akhirnya Abrar pun berhasil.