
Zidan yang gila bekerja tampak sibuk mengurusi pekerjaanya di ruang kantornya. Sesekali ia teringat akan Isabel yang perutnya sudah membesar. Saat ia teringat Isabel, ia langsung menghubungi istrinya yang juga sibuk berbelanja perlengkepan bayi bersama Caca.
“Sayang, jangan terlalu capek ya!” Kata Zidan pada Isabel.
“Iya..calon papa.” Sahut Isabel yang membuat Zidan senang.
“Kau masih berbelanja?” Tanya Zidan.
“Iya, aku tidak tahan lihat perlengkapan bayi yang imut-imut ini.” Kata Isabel.
“Belanjalah sepuasmu, asal jangan kelelahan.” Kata Zidan.
“Oke!” Sahut Isabel.
Setelah menutup teleponnya, Isabel menghampiri Caca yang sedang melihat-lihat pakaian bayi.
“Bel, imut banget kan?” Kata Caca gemas.
“Hei, kau dan kak Rudi apa tidak ingin punya bayi?” Tanya Isabel.
“Kami sih sangat ingin sebenarnya, tapi kak Rudi khawatir jika aku hamil sebelum lulus kuliah, nanti aku bakal kerepotan.” Kata Caca.
“Om Zidan menggaji suamimu itu dengan gaji yang sangat besar! Sewa pelayan lah, pelit sekali sih.” Kata Isabel.
“Nanti aku bicarakan lagi sama kak Rudi.” Sahut Caca.
Saat di kantor bersama Rudi, Zidan menerima telepon dari Clara.
“Kak, kandungan Isabel udah berapa bulan?” Tanya Clara dalam obrolannya.
“Hampir 8 bulan, kenapa?” Sahut Zidan.
“Berilah semangat padanya.” Kata Clara.
“Setiap hari aku memberinya semangat.” Ujar Zidan.
“Bukan itu maksudku!” Kata Clara.
“Jadi?” Tanya Zidan bingung.
“Pesta! Buatlah acara baby shower untuknya.” Kata Clara.
“Aku tidak mengerti acara seperti itu!” Kata Zidan.
“Biar aku dan Balqis yang urus, yang penting jangan beri tau padanya, karena ini kejutan untuknya, hehehe.” Ucap Clara.
“Hehehe.” Sahut Zidan ikut cengengesan.
Clara dan Balqis pun menyusun rencana untuk mengadakan pesta baby shower untuk Isabel dengan tujuan memberikan semangat dalm proses melahirkan bayinya. Semua sahabat serta kerabat telah di undang untuk datang ke pesta baby shower yang di laksanakan di Itali. Begitu pula dengan keluarga dari pihak Isabel, Ibu mengundang besannya untuk datang ikut memberikan semangat untu Isabel.
Hari yang di rencanakan pun tiba, semua kerabat yang di undang telah berada di Itali dan menghadiri pesta tersebut. Isabel yang masih duduk di ranjangnya sambil membaca buku tentang parenting mendengar ponselnya berdering dari nomor yang tak di kenalnya.
“Halo.” Isabel.
“Apakah ini istri Zidan?” OTK(orang tak kenal).
“Iya, siapa ini?” Isabel.
“Kau tak perlu tau ini siapa, kalau kau tidak ingin kehilangan suamimu karena di rebut wanita lain, datanglah kesini! Aku akan mengirimkan alamatnya padamu.” OTK.
OTK tersebut langsung menutup teleponnya. Jantung Isabel berdetak kencang mendengar kabar tentang suaminya. Apalagi menyangkut Wanita lain. Ia pun berusaha untuk menghubungi Zidan dan terkajutnya lagi yang mengangkat ponsel Zidan adalah seorang wanita. Dengan geram Isabel langsung bangkit dari ranjangnya dan pergi menuju alamat yang di berikan oleh OTK tersebut.
Dalam perjalanan Isabel tak dapat membendung air matanya. Ia terus menangis mendengar suara wanita yang telah menggoda suaminya itu. Tibalah Isabel di sebuah apartemen mewah. Dengan mengepalkan tangannya, ia pun memencet bel pintu apartemen itu. Pintu terbuka dan tampaklah seorang wanita cantik menghampirinya.
“Kau mencari suamimu?” Tanya wanita itu dengan senyuman liciknya.
“Minggir kau! Dimana Zidan?” Teriak Isabel sambil mendorong wanita itu hingga jatuh tersungkur.
Isabel langsung mencari kesana kemari hingga ke dalam ruang kamar utama yang luas, namun ia tak kunjung menemukan Zidan. Sampai akhirnya ia menemuka sebuah ruangan yang terdengar agak berisik di dari luar.
Cepat-cepat ia buka pintu ruangan itu dan terkejutnya ia hingga bagaikan tak bisa bernafas.
“Surprise!” Semuanya teriak untuk Isabel yang masih bengong melihat keramaian dan hiasan pesta yang meriah.
“Sayang, ayo sini! Ini kejutan untukmu.” Kata Zidan.
“Ke…ke..kejutan apa?” Tanya Isabel bertambah bingung.
Isabel merasa ulang tahunnya masih lama, tapi kenapa mereka memberikan pesta kejutan untuknya.
“Hei, bumil! Ini kejutan pesta baby shower untukmu.” Kata Clara.
“Baby shower?” Isabel makin bingung.
“Hehehe, ini kali pertama buatnya, dia belum mengerti.” Kata Balqis.
“Oh, iya, benar juga.” Sahut Clara.
“Ayo kemarilah, kita mulai pestanya!” Ajak Clara menarik tangan Isabel masuk kedalam ruangan itu.
“Tunggu, jadi wanita cantik yang tadi itu siapa?” Tanya Isabel.
“Aku karyawan di kantor tuan Zidan, nona.” Sahut wanita itu.
“Hehehe, ini ide dari suamimu yang ingin membuatmu jantungan mendengar dia selingkuh dengan wanita lain.” Kata Clara.
“Om, tidak lucu! Aku hampir mati saat dengar suara wanita yang mengangkat ponselmu.” Teriak Isabel kesal.
“Ampuni aku ya, calon mama!” Ucap Zidan berjongkok dan menarik telinganya sendiri di hadapan Isabel yang menangis.
“Dasar menyebalkan.” Kata Isabel kesal.
Semuanya tertawa melihat Isabel yang menangis karena habis di kerjai oleh Zidan. Mereka pun merayakan pesta baby shower dengan acara-acara unik yang di siapkan oleh Clara dan juga Balqis. Dengan penuh canda dan tawanya Isabel menikmati acara yang diselenggarakan untuknya. Banyak hadiah yang ia dapatkan dari para kerabat yang di undang dalam pesta itu. Dalam riuhnya pesta Isabel melihat Ibu menyambut tamu yang baru saja hadir dan mereka adalah orang tua Isabel serta kakak-kakanya.
“Om, undang keluargaku juga?” Tanya Isabel pada Zidan yang duduk di sampingnya.
“Ibu yang undang! Ibu kan gak tau kalau kau punya masalah dengan keluargamu.” Kata Zidan.
Isabel pun menghela nafas panjang sebelum menemui keluarganya itu.
“Ayah, ibu.” Sapa Isabel pada orang tuanya.
“Isabel, sudah berapa lama kau disini tapi mengapa kau tidak pernah mengunjungi kami?” Tanya tuan Aftur padanya.
“Eeemmm, aku sibuk di kampus, ayah.” Jawab Isabel asal bicara.
“Kandunganmu sudah besar, jaga kesehatanmu!” Kata Dania sambil memegang perut Isabel.
“Tumben perhatian, pasti karena ada ibu mertuaku makanya mereka sok perhatian padaku.” Kata Isabel dalam hatinya.
“Isabel, aku sangat rindu padamu!” Ucap Luisa memeluk Isabel.
“Lepas! kau pikir aku gak tau kalau kalian hanya berpura-pura di depan keluarga suamiku.” Kata Isabel berbisik di telinga Luisa.
“Baguslah kalau kau mengerti.” Sahut Luisa.
Vani masih diam tanpa mau menyapa kepada Isabel. ia masih kesal pada Isabel yang telah menghalanginya untuk menikah dengan Zidan. Isabel tak perduli dengan tatapan tajam dari Vani untuknya. Ia tau Vani masih sakit hati karena Zidan memilih dirinya bukan Vani. Saat melihat Zidan, Vani langsung menghampirinya dengan maksud untuk menggoda suami adiknya tersebut. Namun tindakan Vani tak lepas dari mata Clara dan juga Balqis yang tau kalau Vani mempunyai niat yang jahat.
“Kak Zidan, apa kabar?” Sapa Vani sok imut di hadapan Zidan.
“Kabarku baik, kakak ipar.” Sahut Zidan mempermainkan Vani.
“Kakak ipar?” Gumam Vani.
“Iya, aku kan suami dari adikmu! Apa kau lupa? Katanya kau pintar.” Ujar Zidan memandang rendah pada Vani.
Zidan langsung pergi dan tak menghiraukan Vani yang membeku karena perkataan Zidan padanya. Tak lama Vani di hampiri oleh Balqis dan Clara.
“Hei, kau masih ingat kami berdua, hah?” Kata Clara melotot pada Vani.
“Kak, apa kabar?” Sapa Vani kepada Balqis dan Clara.
“Tidak usah sok imut, kami tau kau berusaha menggoda kak Zidan kan? Dasar wanita tidak tau diri.” Umpat Balqis pada Vani.
“Jangan buat kekacauan di pesta ini, atau kami akan merusak wajahmu yang cantik itu.” Ancam Clara yang membuat tubuh Vani bergetar.
Dengan kesal Vani hanya bisa duduk diam di pesta itu. Saat Isabel sedang berbincang dengan Caca dan Ferry tiba-tiba Zidan memukul gelas dengan garpu untuk mengambil perhatian para tamu undangan.
__ADS_1
“Mohon perhatiannya sebentar, aku ingin memberikan satu kejutan lagi untuk istriku tercinta.” Kata Zidan.
“Kemarilah sayang!” Ajak Isabel.
Isabel pun datang mendekat pada Zidan.
“Ini untukmu!” Kata Zidan memberikan sebuah dokumen penting pada Isabel.
“Apa ini, om?” Tanya Isabel.
“Lihatlah!” Sahut Zidan.
Ternyata Zidan memberikan apartemen mewah dan 20% saham perusahaan yang dimiliki Zidan kepada Isabel sebagai hadiah baby shower.
“Ini untukku, om?” Tanya Isabel kaget.
“Iya sayang, ini hadiah karena kau telah mau mengandung anakku.” Sahut Zidan.
“Terima kasih ya om!” Seru Isabel memeluk Zidan senang.
Semuanya bertepuk tangan bahagia melihat pasangan suami istri yang akan menyambut kedatangan bayi kecilnya itu, kecuali Vani yang menatap penuh kebencian kepada Zidan dan Isabel.
Di sisi Caca dan Rudi.
“Kak, pengen hamil juga!” Rengek Caca.
“Tapi kalau kau hamil aku tidak bisa memberikanmu apartemen mewah seperti ini, sayang.” Kata Rudi.
“Aku tidak minta apartemen, aku cuma ingin bayi kecil yang mirip sepertimu.” Kata Caca manja.
“Kau tidak kerepotan nanti, kau kan sedang kuliah.” Tanya Rudi.
“Pakai jasa pelayan dong, gajimu kan besar!” Sahut Caca.
“Iya! Pulang dari sini kita bikin anak ya, hehehe.” Kata Rudi.
Caca dan Rudi cengengesan sementara Luisa yang menguping pembicaraan Rudi dan Caca berdecak kesal.
“Dasar pasutri lebay!” Umpat Luisa.
“Hei, kelamaan jomblo ya!” Ujar Ferry cengengesan pada Luisa.
“hhheemmmpppp! Idiot.” Umpat Luisa dengan sombongnya.
“Huh, dasar sok cantik!” Balas Ferry sewot.
“Apaan sih? Dasar cowok gila.” Sambung Luisa kesal.
“Diihhh, cewek judes!” Balas Ferry.
“hhheemmmpppp!” Ferry dan Luisa kompak memalingkan wajahnya.
Acara pesta selesai para kerabat sudah pulang setelah puas menikmati pesta yang meriah. Namun keluarga Isabel belum beranjak dari apartemen itu karena sedang mengobrol dengan ibu. Luisa mendekati Isabel untuk mengganggunya.
“Bahagia banget ya sudah berhasil merebut tuan Zidan dari kak Vani!” Kata Luisa menyindir Isabel.
“Apa maksudmu?” Tanya Isabel kesal.
“Seharusnya yang kau miliki sekarang adalah milik kak Vani! Dasar serakah.” Ujar Luisa.
Kesal di tuduh serakah, Isabel Isabel mendorong Luisa hinggat terduduk di lantai. Semua orang yang ada di pesta itu melihat ke arah mereka berdua. Dania pun menghampiri kedua anaknya itu.
“Ada apa ini?” Tanya Dania.
“Ibu, Isabel mendorongku.” Sahut Luisa meringis kesakitan.
“Apa yang kau lakukan pada kakakmu, Isabel?” Teriak Aftur.
“Dia bilang aku merebut om Zidan dari kak Vani, jadi aku dorong saja dia!" Jawab Isabel dengan santai.
Abrar terkekeh melihat Isabel yang menjawab dengan santainya.
“Isabel keren banget kan?” Bisik Abrar pada Balqis.
“Hehehe, iya.” Sahut Balqis.
“Ayah tidak dengar yang aku bilang tadi? Luisa duluan yang mencari masalah denganku.” Kata Isabel.
“Dia bohong ayah! Aku tadi ingin memberinya selamat karena kehamilannya, tapi dia malah mendorongku.” Kata Luisa berbohong.
“Dasar kau anak tidak tau diri!” Umpat Aftur kepada Isabel.
“Kenapa ayah selalu saja percaya pada Luisa, aku juga anakmu ayah!” Teriak Isabel berlinang air mata.
Isabel yang tak tahan terus di tindas dengan keluarganya pergi masuk ke dalam kamar utama apartemen itu.
Liana mengejar Isabel untuk menenangkannya.
“Tuan Aftur, jika kau ingin tau siapa dari putrimu yang berbohong selama ini, kunjungilah rumah ayah mertuamu di Indonesia dan lihatlah ruang rahasia yang ada di kamar Isabel!” Kata Zidan kesal pada tuan Aftur.
“Apa maksudmu?” Tanya Aftur bingung.
“Kalau kau mau tau, pergilah lihat sendiri agar matamu terbuka melihat salah satu putrimu yang telah membohongimu selama ini.” Kata Zidan.
Mendengar perkataan Zidan Luisa langsung bergetar ketakutan saat melihat tatapan mata yang tajam dari Zidan seolah menusuk dirinya.
Setelah semuanya usai, Zidan menemui Isabel di dalam kamar bersama Liana. Zidan masuk dengan perlahan karena di beri kode pada Liana agar tidak membangunkan Isabel yang sudah tertidur pulas.
“Temani dia! Ibu akan kembali kerumah dengan Balqis dan juga Abrar.” Kata Ibu pada Zidan.
“Iya, baiklah Ibu.” Sahut Zidan.
Kini di apartemen itu hanya Zidan dan Isabel saja yang tertinggal. Zidan menemani Isabel yang tertidur pulas setelah lelah menangis karena kecewa dengan orang tuanya yang tak pernah perhatian dan sayang kepadanya. Zidan menatap dan mengelus lembut wajah Isabel yang masih tersisa air mata di pipinya.
“Aku tidak akan pernah membuatmu bersedih lagi Isabel!” Ucap Zidan seraya mencium kening istrinya.
Keesokan harinya masih di apartemen, Isabel bangun dan melihat Zidan yang sudah menatapnya dari tadi.
“Pagi, om.” Sapa Isabel pada Zidan.
“Ini sudah siang, belbel! Kau tidur seperti kerbau.” Kata Zidan.
“Apa kau tidak lapar?” Tanya Zidan.
“Lapar!" Seru Isabel.
“Ayo kita kembali kerumah, ibu sudah masak makanan enak untukmu.” Kata Zidan.
“Om, enak banget ya punya ibu yang perhatian.” Kata Isabel sedih.
“Dia ibumu juga! Ibu kita.” Ucap Zidan.
Isabel malah nangis saat Zidan mengatakan itu.
“Kenapa malah nangis sih?” Tanya Zidan bingung.
“Bawaan orok, om!” Sahut Isabel menyeka iar matanya.
“Sudah diam! Nanti anak kita jadi cengeng kalau kau terus menangis saat mengandungnya.” Kata Zidan.
Dengan mengusap air matanya, Isabel dan Zidan pun kembali pulang kerumah. Disana sudah menunggu pasutri konyol, Clara dan Devan juga Ibu serta anak-anak mereka. Mereka pun makan siang satu meja bersama. Abrar yang memang punya sifat konyol sedang adu banyolannya dengan Devan juga Balqis. Yang lain hanya tertawa teribur dengan banyolan mereka. Setelah makan siang Isabel memilih untuk duduk melihat anak-anak bermain di teras depan. Tak lama Ia duduk si kembar Melia dan Melani menghampirinya.
“Tante pirang, rambutmu sangat indah sepeti emas! Kau pakai spidol apa mewarnai rambutmu?” Tanya Melani.
“Ini rambut asli ku.” Sahut Isabel.
“Kenapa rambut kami tidak seperti mu?” Tanya Melia.
Isabel bengong melihat Melia dan Melani yang bertanya padanya.
“Aku harus jawab apa?” Gumam Isabel dalam hatinya.
“Itu karena kalian tidak pirang.” Sahut Zidan tiba-tiba muncul.
“Huh, om Zidan bodoh! Jawaban apa itu tadi? Dasar.” Ujar Melia.
“Iya, ayo kita pergi! Lebih baik kita ganggu Kenzo saja.” Sambung Melani.
__ADS_1
Zidan masih terdiam membatu saat keponakannya itu mengatakan dirinya bodoh, sementara Isabel tertawa geli melihat Zidan yang melongo.
Melia dan Melani pun mendekati Kenzo yang asik bermain dengan Azlan. Kenzo dan Azlan main mobil-mobilan yang jaraknya tak jauh dari Isabel dan juga Zidan. Saat sedang main, tiba-tiba rambutnya di tarik oleh Melani.
“Ngeeengg…..ngeeeeng.” Kenzo asik dengan mobil mainannya.
Tiba-tiba di rambutnya di tarik.
“Aduh!” Teriak Kenzo.
“Hai kenzo.” Kata Melia yang siap dengan spidolnya.
Sementara Azlan langsung lari tunggang langgang menjauh meninggalkan Kenzo.
“Mau apa kalian?” Teriak kenzo.
“Ayo main rias-riasan! Aku akan membuatmu tambah tampan, hehehe.” Kata Melia.
Kenzo melihat Azlan yang sudah lari menjauh darinya.
“Tidak!” Teriak Kenzo yang sudah di tarik-tarik oleh Melia dan Melani.
Isabel dan Zidan melihat anak Clara yang di tindas oleh anak Balqis.
“Om, Apa kau tidak mau menolong si Kenzo?” Tanya Isabel.
Zidan pun mencoba untuk menolong Kenzo yang alisnya sudah di spidol oleh si kembar seperti tokoh kartun Shinchan.
“Hei, kenapa kalian menindas Kenzo?” Kata Zidan pada Melia dan Melani.
“Kami tidak menindasnya, kami hanya ingin membuatnya lebih tampan.” Kata Melani.
“Lepaskan Kenzo!” Perintah Zidan pada keponakannya itu.
“Apa jaminannya kalau om ingin kami melepaskan Kenzo?” Tanya Melia.
“Nanti om akan belikan es krim yang banyak untuk kalian.” Kata Zidan.
“Kami tidak suka es krim!” Sahut keduanya dengan wajah datar.
“Jadi kalian mau apa?’ Tanya Zidan.
“Kami mau peluk om Zidan saja!” Kata keduanya dengan ekspresi sangat imut.
“Baiklah, sini peluk om!” Kata Zidan dengan senang hati.
Kenzo pun terlepas dan langsung berlari kencang menjauh dari si kembar. Si kembar pun memeluk Zidan. Setelah puas memeluk Melia dan Melani melancarkan aksinya dengan menindih tubuh Zidan hingga Zidan telentang di buatnya.
“Hei, kalian mau apa?” Tanya Zidan bingung.
“Hehehe, sebagai ganti Kenzo, wajah om Zidan lah yang akan kami buat jadi tampan!” Sahut keduanya lagi dengan spidol di tangan mereka.
“Aaarrrgghhhh, belbel! Tolong suamimu yang tampan ini!” Teriak Zidan.
Isabel hanya tertawa geli saat melihat Melia dan Melani mencoret-coret wajah Zidan.
“Tolong, ada dua gadis yang ingin menodai ketampananku!” Teriak Zidan lagi.
One hour later…..
“Selesai, om Zidan tambah cakep!” Seru Melia.
Melia dan Melani pun pergi setelah puas mendandani Zidan dengan spidol permanent. Isabel masih terkekeh melihat wajah Zidan yang penuh dengan coretan. Zidan masuk ke dalam berniat untuk membersihkan wajahnya. Namun saat itu ia berpas-pasan dengan Abrar.
“Pppfftt, apa kau korban dari kedua putriku, Zidan?” Tanya Abrar menahan tawanya.
“Diamlah!” Sahut Zidan.
“Kedua putriku memang berbakat membuat wajahmu semakin tampan, hehehe.” Kata Abrar meledek Zidan.
Zidan hanya diam tak mau menanggapi Abrar yang mengejeknya.
“Astaga, kau kenapa?” Tanya Liana.
“Si kembar yang buat!” Sahut Zidan.
“Pppfffttt, hahahahahahahahaha.” Abrar dan Liana tertawa terbahak-bahak melihat Zidan.
“Hah, menantu dan mertua sama saja.” Gumam Zidan langsung masuk kedalam kamarnya.
Tak lama kemudian terdengar suara jeritan dari pelayan di karenakan Clara yang jatuh pingsan saat ingin mengambil air minum di dapur. Semuanya pun berlari kedapur melihat Clara yang sudah tergeletak di lantai. Dengan sigap Devan langsung membawanya ke kamar dan memeriksa kondisi istrinya tersebut.
“Denyut nadinya lemah sekali, kelopak matanya pucat!” Gumam Devan saat memeriksa Clara.
Tak lama Clara tersadar.
“Clara, kau masih minum pil kontrasepsinya kan?” Tanya Devan penuh curiga.
“Sudah 2 bulan ini aku lupa meminumnya!” Sahut Clara.
“Kau lupa atau memang sengaja kau lupakan?” Tanya Devan.
“Huh, aku kan ingin nambah anak lagi!” Gumam Clara.
“Apa dia sedang hamil?” Tanya Liana.
“Sepertinya begitu, hehehe.” Jawab Devan.
Lalu Devan bertanya pada Kenzo yang sedang asik bermain dengan Azlan.
“Kenzo, apa kau ingin seorang adik?” Tanya Devan.
Kenzo langsung mencerna ucapan Devan dan yang ada di pikirannya adalah seorang adik perempuan yang seperti Melia dan Melani. Kenzo pun melihat kearah Melia dan Melani yang sedang terkekeh jahat padanya.
“Aku tidak mau adik!” Teriak Kenzo langsung berlari meninggalkan Devan yang bengong melihat ekspresi anaknya.
“Kenapa dia?” Gumam Devan.
“Om, sepertinya Kenzo trauma!” Kata Azlan pada Devan.
“Kenapa?” Tanya Devan.
“Karena Melia dan Melani yang selalu saja menindasnya!” Kata Azlan.
“Aku yang jadi kakaknya saja trauma, apalagi Kenzo!” Sambung Azlan dengan wajah datarnya.
“Hah, jadi karena itu!” Gumam Devan.
Hari-hari berlalu dengan cepatnya. Rombongan Balqis dan Abrar kembali pulang ke Indonesia begitu pula dengan Devan dan Clara. Sementara Ibu tetap tinggal untuk menemani Isabel saat melahirkan nanti.
Malam hari saat Zidan mendengkur dengan kerasnya tiba-tiba terbangun saat mendengar tangisan Isabel. Entah sudah berapa lama ia menangis di samping Zidan.
“Sayang, kenapa nangis?” Tanya Zidan.
“Aku kangen.” Sahut Isabel.
“Kangen pada siapa?” Tanya Zidan.
“Sama om.” Sahut Isabel yang membuat Zidan tersenyum.
“Hehehe, sini peluk aku, belbel.” Kata Zidan membuka tanganya lebar-lebar.
Isabel pun langsung memeluk Zidan dan berhenti menangis.
“Sudah berapa lama kau menangis?” Tanya Zidan.
“Aku tak tau!” Sahut Isabel.
Hening………
“Om…..om!” Panggil Isabel.
Tidak ada jawaban dari Zidan. Saat Isabel melihatnya ternyata Zidan tidur lagi.
“Dasar tukang tidur!” Umpat Isabel.
Isabel yang hauspun keluar kamar untuk mengambil air minum di dapur. Saat akan menuruni anak tangga, langkahnya terhenti seperti ada air yang mengalir di antara kedua kakinya. Isabel pun memegang perutnya yang terasa sedikit nyeri.
__ADS_1
“Om, Zidan!” Teriakan Isabel memecahkan keheningan malam dirumah yang megah itu.