
Isabel kembali ke kampusnya dan kali ini dia bersungguh-sungguh mengikuti pelajaran yang di berikan oleh dosennya. Setelah selesai belajar ia bertemu dengan Ferry di halaman kampus.
“Fer, aku mau lihat si Luisa! Temani dong.” Kata Isabel.
“Ya sudah, ayo kita ke tempat dia kerja!” Ajak Ferry.
Mereka pun pergi ke kafe tempat Luisa bekerja. Disana Isabel melihat Luisa yang menggunakan pakaian kerjanya sebagai pelayan. Isabel menghampiri Luisa yang tampak kurus dan memiliki cekungan hitam di area matanya akibat terlalu lelah bekerja.
“Luisa.” Sapa Isabel.
Luisa menoleh dan langsung pergi saat melihat Isabel tersenyum padanya. Isabel sempat mengejarnya, namun Luisa tetap saja pergi tak mau menghiraukan Isabel yang datang untuk menemuinya.
“Bel, sudahlah! Biarkan saja dia.” Kata Ferry.
Isabel pun mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Luisa yang tak mau di hampiri olehnya. Isabel dan Ferry pergi meninggalkan café tersebut. Pada saat malam harinya, Ferry datang lagi ke café itu tapi tanpa adanya Isabel.
disana ia bertemu dengan Luisa yang sedang lembur bekerja hingga malam hari. Ferry menghampiri Luisa yang tampak lelah saat itu.
“Luisa.” Panggil Ferry.
“Mau apa lagi kau kesini?” Tanya Luisa dengan wajah cemberut.
“Aku hanya penasaran kenapa kau menghindari Isabel?” Tanya Ferry.
“Bukan urusanmu!” Sahut Luisa sambil melangkah pergi menghindari Ferry juga.
Ferry yang sangat penasaran, menunggu Luisa pulang kerja. Saat Luisa berjalan kaki menyusuri jalanan sempit menuju kosannya, Ferry kembali mengahadang Luisa.
“Kau lagi..” Ujar Luisa melihat Ferry menghalanginya jalan.
“Menyingkirlah, aku mau pulang!” Sambung Luisa.
“Aku akan menyingkir tapi jawab dulu pertanyaanku.” Kata Ferry.
“Kenapa kau menghindar saat Isabel datang menemuimu? Isabel itu tulus untuk bertemu denganmu, Luisa.” Tanya Ferry lagi.
“Jadi aku harus apa, hah? Aku harus menebalkan wajahku saat bertemu dengan orang yang selama ini tersiksa karena ulahku?” Teriak Luisa yang sudah di banjiri oleh air matanya.
“Aku memang salah selama ini pada Isabel! Karena ulahku dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ayah dan ibu.” Kata Luisa menangis.
“Apa kau menyesali perbuatanmu?” Tanya Ferry.
“Kalau pun aku menyesalinya, aku harus apa? Untuk minta maaf pun tidak cukup menebus semua kesalahanku pada Isabel! Aku hanya bisa menjalani hidupku yang sengsara untuk menerima balasan apa yang sudah aku perbuat.” Jawab Luisa.
“Aku sangat merindukan ibu dan ayahku! Aku hanya bisa melihat mereka dari kejauhan, tanpa bisa memeluk mereka.” Sambung Luisa lagi.
“Lu..Luisa.” Ucap Ferry.
“Menyingkirlah!” Bentak Luisa mendorong tubuh Ferry dan berlari menjauhinya.
“Ternyata dia sudah menyesali perbuatannya.” Gumam Ferry menatap Luisa yang semakin jauh darinya.
Di kamar kos yang sempit dan juga kumuh itu, Luisa duduk di lantai sambil tak henti-hentinya menangis.
“Isabel, maafkan aku!” Ucap Luisa dalam tangisnya.
“Ibu, ayah, aku sangat merindukan pelukan kalian.” Ucapnya lagi.
Luisa yang selama ini terusir keluar dari rumah orang tuanya menyadari kesalahan yang telah ia perbuat. Ia melukai perasaan Isabel dan juga mencurangi kepercayaan orang tuanya kepadanya. Luisa yang sangat merindukan orang tuanya setiap pagi pergi ke kantor ayahnya dan melihat dari jauh jika Aftur masuk ke dalam kantornya. Sesekali Luisa melihat Dania yang juga datang ke kantor Aftur untuk membawakan bekal makanan untuknya. Hanya itu yang bisa membuat Luisa melepaskan rasa rindunya kepada kedua orang tuanya. Ia tak pernah berniat untuk menemui orang tuanya langsung, karena ia tidak mau orang tuanya akan sakit hati lagi jika melihat dirinya dan mengingat semua kesalahan yang ia lakukan dulu.
Di dalam kampus Ferry mengatakan semua yang terjadi dengan Luisa kepada Isabel. Isabel sangat sedih saat tau bahwa Luisa sebenarnya sudah berubah dan menyesali semua perbuatannya. Pulang dari kampus Ferry dan Isabel menemui Luisa di café kemarin. Tampak Luisa sedang melayani pelanggan di dalam café itu. Isabel menghampirinya dan saat Luisa ingin menghindar, Isabel menahan dirinya.
“Luisa, aku hanya ingin bertemu denganmu.” Kata Isabel.
“Pergilah!” Kata Luisa menundukkan wajahnya.
“Luisa, aku sudah memaafkanmu walaupun kau tidak memintanya.” Ucap Isabel.
Luisa terperanjat saat Isabel mengatakan hal itu. Luisa menjatuhkan air matanya yang tak dapat ia bendung lagi di hadapan Isabel.
“Maafkan aku Isabel” Ucap Luisa.
Isabel yang juga ikut menangis langsung memeluk kakak kandungnya itu dengan erat.
“Aku sudah katakan padamu, kalau aku sudah memaafkanmu, Luisa! Jangan menangis lagi.” Kata Isabel.
“Aku akan meyakinkan ayah untuk menerimamu lagi di rumah.” Kata Isabel lagi.
“Tidak, isabel! Aku tidak ingin menyakiti mereka lagi.” Sahut Luisa.
“Luisa, berjanjilah kau tidak akan pernah melakukan hal buruk lagi! Dengan itu ayah dan ibu pasti akan memaafkanmu” Kata Isabel.
“Tidak, Isabel! Aku sudah nyaman dengan kehidupanku sekarang! Aku juga bisa melihat ibu dan ayah dari kejauhan setiap harinya, itu jauh lebih baik untukku.” Sahut Luisa.
Isabel kembali memeluk Luisa yang masih menangis menyesali perbuatanya. Ferry terus menatap kepada Luisa yang terisak dalam tangisnya.
“Luisa, menikahlah denganku!” Ucap Ferry yang membuat Isabel dan Luisa kaget.
Entah setan apa yang merasuki Ferry sehingga dia mengatakan hal itu pada Luisa.
Pleetttaakkk…………
Kepalan tangan Isabel mendarat di kepala Ferry.
“Tidak lucu!” Ujar Isabel menatap tajam pada Ferry.
“Aku serius bel!” Sahut Ferry.
“Apa?” Teriak Isabel terkejut.
__ADS_1
“Aku serius markonah!” Kata Ferry lagi.
“Hei, kau belum lulus kuliah, bagaimana bisa kau menghidupi Luisa hah?” Tanya Isabel.
“Aku memiliki usaha di Indonesia, ya walaupun usaha kecil-kecilan menjual sayur dan buah-buahan segar!” Kata Ferry.
Luisa tersenyum tipis saat mendengar perkataan Ferry.
“Iya, tapi kau belum lulus kuliah, bambang! Kau mau di gorok kak Abrar? Kau disini di biayai oleh kak Abrar kan?” Kata Isabel.
“Bukan kak Abrar, tapi suamimu!” sahut Ferry.
“Apa?” Teriak Isabel lagi tak menyangka.
“Kau pintar dalam ulangan tapi sangat bodoh mengenai jati diri suamimu itu! Kak Abrar memang menganggap aku sebagai adiknya, tapi saat aku lulus SMA dia berniat untuk membiayai aku kuliah di sana, tapi suamimu memohon pada kak Abrar untuk mengirim aku kesini untuk menjagamu dari pria-pria tampan di kampus! Kau kan tau suamimu itu cemburuan akut!” Jelas Ferry membongkar apa yang dilakukan Zidan demi Isabel.
“Jadi begitulah, suamimu yang membiayai semua yang aku butuhkan selama disini.” Sambung Ferry.
“Jadi bagaimana lamaranku, apa kau mau menikah denganku, Luisa?” Tanya Ferry lagi pada Luisa.
Luisa hanya diam menatap Ferry yang memiliki wajah lumayan tampan, namun sedikit lebih muda setahun darinya.
“Luisa, aku pergi dulu! Jika kau butuh pertolongan kau bisa menghubungi aku.” Kata Isabel.
Luisa pun mengangguk.
“Ayo, Fer!” Ajak Isabel pada sahabatnya itu.
Si Ferry malah terus menatap Luisa. Dengan rasa yang tak sabaran, Isabel langsung menyeret Ferry untuk kembali pulang. Luisa kembali tersenyum melihat Ferry yang sangat akrab dengan Isabel.
Sepulangnya dari luar, Isabel melihat Zidan sedang berada di ruang kerjanya.
“Om!” Sapa Isabel berlari memeluk dan naik ke atas pangkuan Zidan.
“Kau sudah pulang.” Sahut Zidan mencium kening Isabel.
“Om, si Ferry mau kawin!” Bisik Isabel.
“Apa?” Teriak Zidan kaget.
Isabel mengangguk.
“Sama siapa?” Tanya Zidan.
“Sama Luisa!” Sahut Isabel.
“Apa?” Teriak Zidan lagi.
"Tolong, berikan nafas buatan! Aku mau pingsan!" Kata Zidan sesak nafas mendengar kabar mengenai Ferry.
“Bagaimana bisa? Dia belum lulus kuliah!” Sahut Zidan.
“Om, kau sangat peduli dengan pendidikan Ferry?” Tanya Isabel.
“Eemm, bukan begitu, maksudku!” Zidan gugup.
“Jujur saja, aku sudah tau semuanya!” Kata Isabel.
“Hah,baiklah!” Sahut Zidan.
Zidan pun mengatakan sejujurnya tentang kedatangan Ferry juga Caca ke itali. Memang Zidan yang menginginkan Ferry untuk menjaga Isabel selama mereka di kampus. Maksudnya untuk menjaga Isabel dari pria-pria tampan yang tertarik untuk mendekati Isabel.
“Setahun lagi Ferry lulus!” Kata Isabel.
“Jadi sejak kapan dia menyukai Luisa?” Tanya Zidan.
“Tidak tau! Tadi waktu bertemu tiba-tiba saja dia melamar Luisa! Si Luisa sampai bengong mendengar Ferry melamarnya, hahaha.” Kata Isabel tertawa geli.
Zidan ikut tertawa mendengar cerita Isabel. Tak lama Gaby yang sudah baru saja belajar berjalan, masuk di antarkan oleh pengasuhnya. Isabel langsung memeluk putrinya tersebut.
“Mam..mama…mama.” Ucap Gaby.
“Iya, anak mama pintar ngoceh sekarang!”Seru Isabel gemas pada Gaby.
“Tidak terasa Gaby sudah besar ya!” Kata Zidan modus.
“Masih kecil, om!” Sahut Isabel.
“Maksudku usianya sudah setahun, sudah bertumbuh besarK” kata Zidan.
“Gaby, apa kau ingin adik?” Tanya Zidan menyindir Isabel.
Gaby tertawa dengan gemasnya seolah menyahut apa yang dikatakan Zidan.
“Oke, papa akan berikan adik yang banyak untukmu!” Kata Zidan lagi.
“Itu hanya bisa-bisanya om saja kan? Dasar!” Ujar Isabel.
“Belbel, usiaku sudah hampir 38 tahun!” Kata Zidan.
“Jadi?” Tanya Isabel.
“Jadi sebelum aku terlalu tua, maka kau harus sering-sering melahirkan anakku, hehehehe.” Sahut Zidan terkekeh jahat.
“Sudah ku duga, kau pasti akan menuntutku lebih!” Gumam Isabel sewot.
“Bawa Gaby ke kamarnya!” Perintah Zidan pada si pengasuh.
__ADS_1
“Baik tuan!” sahutnya.
“Belbel, ayo kita ke kamar utama yang berwarna ungu itu! Kita akan buat adik untuk Gaby.” Ajak Zidan sedikit memaksa Isabel.
“Om, si Gaby masih kecil! Bagaimana mau punya adik?” Ucap Isabel nangis bombai.
Zidan tak peduli dengan ucapan Isabel, ia terus saja menyeret Isabel untuk masuk kedalam kamar mereka.
Setelah Isabel berbaikan dengan Luisa, Isabel menawarkan apartemennya untuk Luisa tinggali, namun ia menolak. Luisa yang sudah menjadi karyawan tetap di café tersebut mendapatkan gaji yang lumayan untuk bisa menyewa kontrakan kecil yang sederhana di pinggiran kota. Luisa mulai terbiasa hidup sederhana dengan uang hasil jerih payahnya bekerja di café.
Isabel berkali-kali mencoba untuk melunakkan hati tuan Aftur agar mau memaafkan Luisa, namun tuan Aftur tetap saja dengan pendiriannya. Ia tak mau menerima Luisa kembali kerumahnya. Dania yang juga merindukan Luisa hanya bisa pasrah dengan keputusan dari tuan Aftur.
Ferry yang selama ini diam-diam menyukai Luisa, terus saja mengejar-ngejar Luisa. Hampir setiap hari Ferry menemui Luisa di tempatnya bekerja. Bahkan Ferry rela menunggu Luisa pulang dari tempatnya bekerja hanya untuk mengajaknya ngobrol sambil mengantar Luisa pulang ke kontrakannya.
“Apa kau tidak capek mengejarku terus?” Tanya Luisa pada Ferry.
“Sebelum kau mengatakan iya untuk menjadi istriku, aku akan terus mengerjarmu!” Sahut Ferry.
“Kau itu teman adikku! Bagaimana mungkin aku menikah denganmu? Lagi pula kau masih mahasiswa.” Kata Luisa.
“Apa yang salah dengan umurku? Kita hanya beda setahun kan! Lagi pula aku sebentar lagi akan wisuda.” Sahut Ferry.
“Menyingkirlah! Aku mau masuk.” Kata Luisa yang sudah sampai di kontrakannya.
“Kau tidak mengundangku masuk?” Tanya Ferry.
“Tidak!” Sahut Luisa langsung menutup pintunya untuk Ferry.
“Besok aku akan datang lagi, Luisa!” Teriak Ferry.
Luisa tersenyum mengintip kepergian Ferry dari balik tirai jendelanya.
Isabel terus berkomunikasi dengan Abrar menceritakan tentang Ferry yang sedang tergila-gila mengejar Luisa. Awalnya Abrar kaget kenapa harus Luisa yang mereka tau dia wanita yang telah menyakiti Isabel, namun saat mengetahui Luisa sudah berubah menjadi wanita baik dan sederhana Abrar mendukung setiap apa yang di inginkan Ferry.
Malam hari Isabel tidur dengan nyenyak dalam dekapan Zidan yang mendengkur dengan keras.
Isabel sudah terbiasa dengan dengkuran keras yang menjadi kebiasaan Zidan.
Tiba-tiba ia terbangun mendengar deringan suara ponselnya.
Ia melihat ternyata telepon dari Ferry.
“halo.” Ucap Isabel masih mengantuk.
“Bel, Caca di rumah sakit! Dia mau lahiran.” Seru Ferry yang membuat mata Isabel langsung terbuka lebar.
“Oke, oke! Aku kesana.” Kata Isabel.
Isabel pun membangunkan Zidan untuk meminta izin pergi kerumah sakit menemani Caca melahirkan, namun saat di bangunkan si Zidan malah mendengkur semakin kencang. Isabel langsung pergi di antarkan oleh suir pribadinya kerumah sakit. Setibanya disana ia melihat Ferry yang sedang berdiri di depan pintu ruang bersalin. Saat Isabel berdiri tepat di hadapan pintu ruang bersalin itu, terdengar tangisan bayi yang sangat keras. Rudi sangat bahagia mendekap putra pertamanya yang diberi nama Adhitya. Isabel menemui Caca yang masih terbaring di ranjang rumah sakit.
“Mama muda!” Sapa Isabel tersenyum lebar kepada Caca.
Caca melebarkan senyumannya melihat Isabel dan Ferry setia menemaninya di rumah sakit. Isabel dan Caca mengobrol tentang pengalamannya menjadi seorang ibu, sementara Rudi dan Ferry terlihat dekat sambil mengelus pipi bayi mungil itu.
Pagi harinya Zidan terbangun dan melihat Isabel tidak ada di sampingnya.
“Kemana dia?” Tanya Zidan dalam hatinya.
Tak lama terbangun munculah Isabel membawa Gaby yang sudah wangi dengan sebotol susu di tangannya.
“Papa.” Ucap Gaby.
“Anak gadis papa, sini cium sudah wangi!” Kata Zidan memeluk putrinya.
“Tumben cepat bangun.” Kata Zidan pada Isabel.
“Om tidak tau aku semalam pergi kerumah saki?” Tanya Isabel.
“Kau sakit apa, sayang?” Tanya Zidan khawatir.
“Bukan aku yang sakit, tapi Caca melahirkan.” Sahut Isabel.
“Hah, lega!” Gumam Zidan menghela nafas lega karena Isabel baik-baik saja.
“Laki-laki atau perempuan?” Tanya Zidan.
“Laki-laki!” Jawab Isabel.
“Hehehe, pasti kalau sudah dewasa akan dingin seperti ayahnya si Rudi.” Kata Zidan.
Hening….
“Belbel!” Panggil Zidan.
“Heemmm?” Sahutnya.
“Aku ingin anak lagi!” Pinta Zidan.
“Iya nanti.” Sahut Isabel.
“Yang benar nih?” Tanya Zidan.
“Iya, om sayang!” Jawab Isabel.
Zidan tersenyum sumringah mendengar ucapan Isabel yang setuju untuk melahirkan lagi.
__ADS_1