
Pagi hari Luisa yang baru saja keluar dari pintu kontrakannya, di kejutkan oleh Ferry yang membawa makanan untuknya. Ferry berniat untuk sarapan bersama Luisa.
“Hai, calon istriku!” Sapa Ferry pada Luisa.
“Apaan sih?” Gumam Luisa dengan wajah yang memerah.
“Apa kau sudah sarapan? Kau mau kemana? Bukankah hari ini kau kerja siang hari?” kata Ferry yang hafal jadwal kerja Luisa.
“Aku mau pergi belanja untuk keperluanku sehari-hari!” Jawab Luisa.
“Aku bawa makanan untukmu!” Kata Ferry.
“Aku sudah makan!” Sahut Luisa.
Kkrrriiiuuuukkkkkkkk………….
Cacing di dalam perut Luisa protes.
“Pppfttt, dia lapar!” Gumam Ferry menahan tawanya.
“Eeemmm, sebenarnya aku juga belum sarapan!” Kata Ferry.
“Bagaimana kalau kita sarapan dirumahmu saja?” Kata Ferry lagi.
Karena Ferry terlihat sangat giat untuk mengejarnya, akhirnya Luisa pun menyetujui keinginan Ferry untuk sarapan bersama di rumah kontrakannya tersebut. Mereka masuk dan Luisa pun mempersilahkan Ferry duduk di lantai yang telah di lapisi ambal dan meja bundar. Rumah kontrakan Luisa sangat sederhana.
Luisa membawa 2 piring dan juga sendok untuk sarapan bersama Ferry. Mereka pun makan bersama namun Ferry sesekali menatap Luisa yang sedang menyantap makanannya. Setelah sarapan Ferry memberanikan dirinya untuk mendekati Luisa yang duduk berhadapan dengannya. Luisa bingung untuk menyembunyikan wajah merahnya dari Ferry yang kini sudah sangat dekat dengan dirinya.
“Ini dekat sekali.” Ucap Luisa dalam hatinya.
Jantung Luisa berdebar sangat kencang, begitu juga sebaliknya pada Ferry.
Cuup….
Ferry mengecup bibir Luisa. Mata mereka saling menatap. Ferry kembali mengecup bibir Luisa. Tak ada penolakan dari Luisa ketika itu. Tiba-tiba tubuh Luisa bergetar dan kemudian ia mendorong tubuh Ferry yang mendekap dirinya.
“Kenapa, Luisa?” Tanya Ferry.
“Pergilah Ferry! Aku..aku…” Luisa tampak begitu gugup di hadapan Ferry.
“Kau juga mencintai aku kan?” Tanya Ferry mendesak Luisa.
“Aku akan pergi belanja.” Ucap Luisa langsung beranjak tanpa menanggapi perkataan Ferry.
Ferry ikut beranjak dan kembali mendekap tubuh Luisa yang kurus.
“Luisa, aku serius denganmu!” Ucap Ferry menarik lengan Luisa.
“Kumohon, jangan buang waktumu hanya untuk wanita sepertiku!” Kata Luisa menepis genggaman Ferry.
“Apa yang salah denganmu?” Tanya Ferry.
“Aku bukan orang baik! Aku bahkan tega melukai perasaan kedua orang tuaku dan juga adikku.” Sahut Luisa berlinang air mata.
“Itu masa lalu, Luisa!” Kata Ferry.
“Kumohon, pergilah!” Kata Luisa dengan nada agak tinggi.
Ferry keluar dari rumah kontrakan Luisa dengan perasaan sedikit kesal. Ia merasa Luisa membangun tembok yang sangat tebal untuk dirinya. Masih berlinang air mata, Luisa menatap kepergian Ferry pagi itu.
Setelah perasaannya tenang, Luisa pergi berjalan kaki menuju supermarket untuk membeli keperluannya sehari-hari. Saat akan masuk kedalam supermarket itu, tanpa sengaja ia melihat Vani yang baru turun dari mobil dan berjalan dengan tergesa-gesa. Luisa penasaran dengan Vani yang menginjakkan kaki di pinggiran kota tersebut. Luisa mengurungkan niatnya untuk berbelanja, tapi ia malah mengikuti langkah Vani yang ternyata masuk kedalam sebuah rumah kos khusus laki-laki.
“Apa yang kak Vani lakukan disini? Apa dia menemui pacarnya?” Gumam Luisa dalam hatinya.
“Aku tak yakin kalau kak Vani memiliki kekasih dari keluarga miskin, ini kos termurah di kota ini!” Gumamnya lagi.
Tentunya Luisa semakin penasaran dan ia pun melangkah mendekati pintu kamar kos yang Vani masuki. Disana ia mendengar semua percakapan Vani dengan seorang pria.
“Mana rekaman itu?” Tanya Vani pada pria mata-mata.
“Nona Vani! Kenapa kau terburu-buru? Ini masih sangat pagi.” Sahut pria itu dengan senyuman liciknya.
“Berhentilah membuang waktuku!” Ujar Vani kesal.
“Aku sudah bawa uang yang kau minta, sekarang berikan aku rekaman itu!” Sambung Vani.
“Tapi nona, bukan hanya uang yang aku inginkan sekarang.” Kata pria itu mendekati Vani.
Pria itu membelai rambut pirang Vani dan bahkan mencium rambutnya.
“Apa yang kau inginkan?” Tanya Vani.
“Tubuhmu!” Bisik pria itu.
“Brengsek!” Umpat Vani kesal.
"Jika kau mau rekaman ini jatuh ketangan tuan Zidan, maka penuhilah keinginanku, nona cantik! Tubuhmu sangat wangi, aku menyukainya, hehehe.” Kata pria itu terus mengendus kepada Vani.
Vani yang takut akan kekejaman Zidan, terpaksa menuruti keinginan si pria mata-mata untuk melayaninya di ranjang. Si Luisa yang menguping ngedumel tak jelas di luar menunggu mereka kelar di dalam.
“Huh, kak Vani, kau terlalu murahan!” Gumam Luisa.
Luisa tak sabar menanti Vani yang berada di dalam bersama pria itu. Tapi karena dia sangat penasaran dengan rekaman yang menyangkut Zidan, ia rela menunggu lama di luar. Terdengar suara obrolan lagi dari luar, Luisa cepat-cepat mengambil posisi untuk menguping.
“Dimana rekaman itu?” Tanya Vani setelah selesai berpakaian.
“Uanganya!” Kata pria itu yang masih telanjang dada.
Vani melemparkan uang itu kepada pria mata-mata itu.
“Apakah ini 500 juta?” Tanya pria itu lagi.
“Iya, cepat berikan aku rekaman itu!” Teriak Vani.
Pria tersebut pun memberikan rekaman kepada Vani. Vani yang hanya ingin memastikan itu rekaman asli atau tidak, menyalakan rekaman suaranya saat bersekongkol dengan mata-mata itu. Luisa kaget mendengar kalau Vani ingin menghancurkan hubungan rumah tangga Zidan dan Isabel.
Agar tidak ketahuan, Luisa cepat-cepat pergi dari tempat itu. Tak lama kemudian Vani pun keluar dan pergi dengan mobil mewahnya. Luisa menatap Vani dari dalam super market.
“Sial, kak Vani masih terus berupaya untuk mendapatkan tuan Zidan!” Gumam Luisa.
“Uang 500 juta? Dari mana ia punya uang sebanyak itu, sedangkan dia masih melanjutkan S-II nya?” Gumam Luisa lagi berpikir keras.
__ADS_1
Sambil belanja Luisa terus berpikir mengenai ulah Vani yang akan merugikan ayahnya dan juga Isabel. Setelah selesai belanja, ia pergi kerumah orang tuanya dan mengendap-endap mengintip Vani yang kebetulan baru saja keluar dari rumah untuk pergi ke kampus.
Luisa masuk kedalam rumah itu dengan gampangnya, karena para penjaga masih menganggapnya majikan.
Luisa masuk kedalam rumah dan bertemu dengan Dania yang sedang membolak balikkan majalahnya di ruang tengah. Dania kaget melihat putri keduanya kembali, sementara di rumah itu masih ada Aftur yang akan ngamuk bila melihat Luisa kembali kerumah itu.
“Luisa, ayahmu masih dirumah! Dia pasti akan marah jika kau disini.” Kata Dania.
“Ibu, aku ingin berbuat baik dalam hidupku.” Kata Luisa.
“Apa maksudmu?” Tanya Dania bingung.
Luisa tak mau berlama-lama menanggapi sang ibu yang terlihat sangat bingung. Luisa naik keatas dan menuju kamar Vani. Saat akan masuk kedalam kamar Vani, Aftur menghampirinya dengan tatapan mata yang tajam.
Luisa kaget melihat ayahnya yang akan ngamuk pada dirinya, cepat-cepat ia masuk dan mengunci kamar Vani.
Aftur berteriak dan menggedor kamar Vani yang di dalamnya terdapat Luisa yang sedang membongkar isi lemari untuk mencari rekaman itu. Luisa bergetar saat mendengar teriakan dari sang ayah yang ia pikir akan membunuhnya. Luisa terus berusaha mencari rekaman itu kesana kemari.
Lelah mencari, Luisa duduk di tepi ranjang sambil mendengarkan ayahnya yang akan mencari kunci cadangan kamar tersebut.
“Aduh, mampus! Ayah pasti akan membunuhku.” Ucap Luisa panik.
“Aaarrrggghh, dimana rekaman itu?” Teriak Luisa frustasi.
Terdengar dari luar Dania memanggil Luisa.
“Luisa, cepat pergi! Ayahmu sangat marah! Cepatlah keluar selagi dia sedang berada di ruang penyimpanan.” Kata Dania yang sangat khawatir pada Luisa.
Luisa tak memperdulikan ucapan ibunya, ia terus berusaha mencari rekaman itu. Saat akan melangkah kakinya tersangkut oleh keset kaki. Luisa pun terjatuh dan kepalanya terbentur sudut meja rias hingga berdarah.
“Oh iya, aku belum memeriksa meja rias ini!” Gumam Lisa sambil memegangi kepalanya yang berdarah.
Luisa membongkar satu persatu laci meja rias itu, dan terlihat ada kotak merah yang di dalamnya terdapat alat rekaman tersebut. Luisa cepat-cepat mengambil rekaman itu dan membuka pintunya sebelum ayahnya masuk kedalam. Saat Luisa membuka pintu, ia kaget melihat tuan Aftur sudah berdiri di hadapannya.
Aftur mengamuk ketika melihat Luisa kembali kerumahnya. Ia masih belum bisa memaafkan kesalahan yang Luisa perbuat untuk Isabel waktu itu. Kata caci dan makian pun dilontarkan untunya, namun Luisa tak mau ampbil pusing dengan hal itu. Karena tujuan utamanya adalah untuk membongkar kejahatan yang Vani lakukan di belakang semua orang. Luisa mengambil ponselnya dan menghubungi Isabel untuk datang menemuinya dirumah orang tua mereka. Aftur yang merasa di acuhkan oleh Luisa pun naik darah.
“Pergi kau dari sini!” Teriak Aftur pada Luisa.
“Aku tidak akan pergi sebelum Isabel datang kesini!” Sahut Luisa berani melawan ayahnya.
“Dasar anak kurang ajar kau!” Teriak Aftur hendak memukul Luisa.
“Ayah!” Teriak Isabel yang baru saja dirumah ornag tuanya bersama Zidan.
“Ayah, hentikan!” Kata Isabel lagi.
Luisa langsung berlari menghampiri Isabel dan memberikan rekaman itu padanya.
“Apa ini?” Tanya Isabel bingung kepada Luisa.
“Nyalakan saja.” Kata Luisa.
Isabel menyalakan isi rekaman itu dan terbongkarlah semua kebusukan Vani selama ini yang berniat untuk menghancurkan hubungan Zidan dan Isabel. Zidan mengepalkan tanganya dan hendak pergi mencari Vani.
“Tunggu, om!” Tahan Isabel menarik tangan Zidan.
“Ini urusanku dengan Vani!” Sambung Isabel.
“Baiklah, aku akan duduk dan menyaksikan semuanya! Jika masalah ini tidak beres, maka aku yang akan bertindak.” Sahut Zidan dengan wajah yang membuat Aftur ketakutan.
Dengan terpaksa Aftur menghubungi anak kesayanganya untuk segera pulang kerumah. Tak lama berselang, Vani pun tiba dan melihat semuanya telah menunggu diruang tengah. Vani berjalan seanggun mungkin untuk menarik perhatian Zidan yang menatapnya.
“Ayah, aku….
Ppllllaaakkkkkkkk……………..
Tamparan keras mendarat ke wajah mulusnya hingga bercap merah. Vani menoleh dan melihat Isabel yang baru saja menamparnya.
“apa yang kau lakukan, hah?” Teriak Vani marah pada Isabel.
“Beraninya kau berniat menghancurkan rumah tanggaku bersama Zidan!” Teriak Isabel.
“Isabel, jangan menfitnahku!” Ujar Vani berdalih.
“Ayah, dia memukul dan memfitnahku!” Rengek Vani mengadu pada Aftur.
Aftur tak bergeming, ia hanya diam saja tak mau membela anak kesayangannya itu. Lalu Isabel menyalakan isi rekaman yang membongkar kejahatan Vani selama ini. Vani kaget melihat rekaman yang ia simpan di kamarnya.
Setelah rekaman itu terdengar, Vani tak berani menatap Zidan. Isabel kembali mendekati Vani.
“Apa kau tau, seberapa kuatnya hatiku menghadapi masalah bersama Zidan karena ulahmu, hah? Kau hampir saja membuat aku dan Zidan bercerai!” Teriak Isabel dengan luapan emosinya.
“Darimana kau mendapatkan rekaman itu? Kau sudah lancang masuk ke dalam kamarku, Isabel!” Teriak Vani marah.
Saat vani akan menyerang Isabel, Luisa menghalanginya. Luisa mendorong Vani dengan kuat. Vani jatuh tersungkur ke lantai. Dania hanya menangis melihat ketiga putrinya saling berkelahi, sedangkan Aftur masih diam membiarkan Vani merasakan apa yang pantas ia dapatkan.
“Aku yang memberikan rekaman itu pada Isabel!” Teriak Luisa yang sebagian wajahnya sudah tertutupi darah dari keningnya yang terluka.
Luisa lalu menceritakan apa yang terjadi sebenarnya saat pagi itu. Aftur terkejut saat mendengar Vani memberikan jumlah uang yang sangat banyak dan tak mungkin dimiliki oleh Vani. Aftur mendekati Vani dengan tatapan mata yang tajam.
“Darimana kau dapatkan uang sebanyak itu, Vani?” Tanya tuan Aftur.
Tubuh Vani bergetar saat menatap ayahnya.
“Jawab!” Bentak Aftur.
“Aku……aku……
“Apa kau menjual perhiasanku?” Teriak Dania.
Vani tidak bisa berkata apa-apa.
“Astaga! Perbuatanmu sangat keterlaluan, Vani.” Sambung Dania terduduk lemas.
“Maafkan aku, ayah!” Ucap Vani menangis.
“Aku tidak akan pernah membiarkan orang yang tak bersalah mendekam di dalam penjara! Gara-gara kau, Inggrid merasakan dinginnya ruang tahanan.” Teriak Aftur sangat marah pada Vani.
Aftur langsung menyeret Vani keluar dan membawanya ke kantor polisi atas tuduhan pencurian dan juga pencemaran nama baik untuk Inggrid. Dania masih menangis sedih menghadapi kekacauan dikeluarganya. Berkali-kali ia meminta maaf pada Zidan dan juga Isabel atas prilaku Vani yang berniat untuk memisahkan mereka berdua.
Setelah kekacauan itu berakhir Zidan kembali ke kantornya, sementara Isabel membersihkan luka yang ada di kening Luisa. Sambil duduk di ruang tengah Isabel dan Luisa membicarakan perasaan Ferry yang selalu mengejar Luisa.
__ADS_1
“Hei, apa kau tidak punya perasaan sedikitpun pada sahabatku itu? Dia pria yang baik!” Kata Isabel.
“Karena dia pria yang baik makanya aku tidak akan berani untuk mencintainya.” Sahut Luisa.
“Kenapa?” Tanya Isabel.
“Apa aku pantas mendapatkan cinta dari orang lain setelah aku membuat kesalahan yang fatal?” Kata Luisa.
“Hentikan pikiranmu yang bodoh itu, Luisa! Semua orang berhak mendapatkan cinta dan kasih sayang, meski dia iblis sekalipun.” Ujar Isabel.
Hening……
“Isabel, apa menurutmu Ferry sangat mencintaiku?” Tanya Luisa.
“Tentu saja! Ferry itu kalau jatuh cinta, tulus! Hanya saja nasib membuatnya tak beruntung, dia selalu patah hati dengan wanita yang ia cintai.” Jawab Isabel.
“Tadi pagi aku menyakiti hatinya.” Kata Luisa sedih.
“Apa kau mencintai pria itu?” Tanya Dania tiba-tiba menghampiri mereka.
Wajah Luisa seketika memerah.
“Jika kau mencintainya pergi dan minta maaflah padanya.” Sambung Dania lagi.
“Ibu sudah merestuimu, pergilah temui Ferry di apartemennya.” Kata Isabel tersenyum pada Luisa.
Luisa bangkit dan bergegas pergi menemui Ferry di apartemennya. Sampai disana Luisa memencet bel pintu apartemen Ferry berkali-kali. Namun tak ada yang membuka pintu untuknya. Luisa pergi mencari Ferry di kampusnya, namun tetap tak menemukannya juga. Luisa menghubungi Isabel yang sedang menemani Zidan makan siang di kantor.
“Aku sudah mencari Ferry kemana-mana, tapi aku tidak menemukannya.” Kata Luisa pada Isabel.
“Apa kau sudah menghubungi ponselnya?” Tanya Isabel.
“Sudah, tapi dia tidak menjawabnya, mungkin dia marah padaku!” Sahut Luisa.
“Baiklah, aku akan coba menghubunginya.” Kata Isabel.
Setelah menutup teleponnya, Isabel menghubungi Ferry namun Ferry tak menjawab telepon dari Isabel. Zidan yang sedang menyantap makan siangnya bingung melihat Isabel sibuk dengan ponselnya.
“Kau menghubungi siapa?” Tanya Zidan.
“Ferry!” Sahut Isabel.
“Uhuk…..uhuk…….uhuk.” Zidan tersedak makanan.
“Om, pelan-pelan dong makannya.” Ucap Isabel memberikan minum kepada Zidan.
Setelah menenggak minumannya, Zidan panik menatap Isabel.
“Belbel, aku lupa bilang padamu.” Kata Zidan.
“Apa?” Tanya Isabel.
“Ferry akan kembali ke Indonesia sore ini!” Kata Zidan.
“Apa?” Tanya Isabel terkejut.
“Ferry kan sudah wisuda, jadi dia kembali kenegaranya.” Sahut Zidan.
“Dasar bodoh! Kenapa kau tidak bilang padaku, hah?” Teriak Isabel.
“Aku lupa….” Sahut Zidan.
Isabel langsung menyeret Zidan.
“Kita mau kemana?” Tanya Zidan.
“Kau masih bertanya, hah” Teriak Isabel.
“Hehehe, oke, oke! Gadis bule tidak boleh ngamuk.” Kata Zidan mencoba menenangkan Isabel.
Isabel dan Zidan tiba di bandara dan mencari Ferry kesana kemari. Lelah berkeliling bandara akhirnya mata Zidan melihat Ferry yang sedang tertidur pulas di kursi menunggu pernebangannya.
“Dasar bodoh, dia malah tidur!” Gumam Zidan.
Zidan dan Isabel menghampiri Ferry yang masih tertidur pulas.
“Hei, bangun!” Ucap Isabel.
Ferry pun membuka matanya dan melihat Isabel dengan Zidan.
“Isabel.” Gumam Ferry.
“Bambang, kenapa kau tega meninggalkan aku?” Teriak Isabel kesal pada Ferry.
“Hei, aku hanya kembali ke tempat asalku, bukannya mati.” Sahut Ferry.
“Apa Caca tau kau akan kembali?” Tanya Isabel.
“Tau, dia juga nangis bombai sepertimu semalam saat aku mengunjunginya.” Kata Ferry.
“Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?” Tanya Isabel.
“Aku sudah menghubungimu berkali-kali dan menemuimu, tapi aku malah bertemu dengan suamimu, aku titip pesan padanya saja.” Kata Ferry.
Isabel langsung menatap Zidan dengan kesal.
“Hehehe, aku sudah tua, jadi kalau aku pikun sedikit kan wajar saja.” Ucap Zidan cengengesan.
"Tuan, terima kasih sekali lagi! Kau membiayai semua keperluanku disini." Ucap Ferry pada Zidan.
"Jangan panggil aku tuan, jika kau menganggap Abrar kakakmu, maka aku juga kakakmu." Sahut Zidan yang sudah menganggap Ferry seperti saudaranya.
"Aku juga ingin berterima kasih selama ini menjaga Isabel dari lebah-lebah yang menyengat di kampus." Ucap Zidan.
"Isabel sudah seperti adikku, pasti aku akan menjaganya." Sahut Ferry.
“Bagaimana dengan Luisa?” Tanya Isabel.
“Dia bukan jodohku! Nasib sial selalu menghampiriku saat aku mencintai seseorang.” Sahut Ferry.
Ferry kembali ke Indonesia membawa perasaan cintanya terhadap Luisa yang sebenarnya juga mencintai dirinya. Dengan perpisahan yang sangat memilukan akhirnya Bambang dan Markonah terpisah oleh samudra yang luas. Namun mereka tetap saling memberi kabar walapun berbeda Negara.
__ADS_1