ISABEL

ISABEL
PERNIKAHAN LUISA DAN FERRY


__ADS_3

Luisa hampir setiap harinya membantu Ferry dan kedua orang tuanya melayani pelanggan di minimarket itu.


Rasa capek tak dirasakan oleh Luisa yang sudah terbiasa saat bekerja menjadi pelayan di café dulu.


Di tambah lagi Ferry yang sangat perhatian dan menyayanginya menjadi obat penghilang rasa capek bagi Luisa.


“Selamat datang!” Ucap Luisa pada Balqis dan Abrar yang masuk ke minimarket itu.


“Eh!" Gumam Luisa kaget melihat Balqis dan Abrar.


“Hai, Luisa!” Sapa Balqis.


“ha…Hai!" Sahut Luisa canggung.


Luisa mengira kalau mereka membencinya karena ulahnya dulu kepada Isabel.


“Abrar, ayo sini!" Kata ibu Ferry yang sudah akrab dengan keluarga Abrar.


Abrar dan Balqis pun menghampiri ibunya Ferry. Saat itu Ferry sedang keluar mengantar pesanan pelanggan. Luisa masih berdiri dan semakin canggung karena Abrar tak menyapanya.


“Luisa, sini! Ayo gabung!” Ajak ibunya Ferry.


“Ibu, ada pelanggan! Aku akan melayani mereka dulu.” Ucap Luisa menghindar.


Luisa sibuk melayani pelanggan dan Abrar menatapnya saja. Abrar ingin memastikan kalau Luisa memang benar-benar berubah. Tak lama kemudian Ferry kembali dan melihat Luisa kelelahan.


“Istirahatlah, kau sangat lelah." Ucap Ferry pada Luisa sambil mengelap keringat di dahinya.


“Aku tidak lelah jika melihatmu.” Sahut Luisa pada Ferry.


“Kau sangat manis!" Ucap Ferry menarik hidung mancung Luisa.


Abrar masih menatap Luisa dan Ferry yang sedang di mabuk cinta.


“Hah, aku jadi ingin mengulang masa-masa kita dulu, Balqis.” Ucap Abrar memeluk Balqis secara tiba-tiba.


Saat itu Balqis akan makan buah pisang, karena kaget buah pisanganya jadi lompat dan jatuh ke lantai.


“Buah pisangku yang manis!" Ujar Balqis menatap pisangnya yang jatuh ke lantai.


“Ini, masih banyak!” Sahut ibunya Ferry mendorong buah pisang ke mulut Balqis.


Ferry mengajak Luisa duduk bersama Abrar dan Balqis. Namun Luisa menolak. Ferry tau alasan mengapa Luisa merasa canggung kepada mereka. Ferry mencoba untuk membuat Luisa melupakan perbuatan masa lalunya.


“Luisa, kau tidak ingin bergabung dengan kami?” Tanya Abrar.


Luisa terperanjat saat Abrar menyapanya.


“Apa kalian tidak membenciku?” Tanya Luisa.


“Tentu saja, tidak!” Sahut Balqis.


“Semua orang pernah bersalah, tapi bukan berarti kita harus membenci mereka.” Sambung Abrar.


Luisa sangat senang mereka menerimanya dengan baik.


Pernikahan Luisa dan Ferry telah di tetapkan. Luisa yang ingin pernikahan sederhana tak di izinkan oleh Abrar. Abrar menyiapkan segalanya untuk pernikahan Luisa dan Ferry. Gedung pernikahan yang di dekorasi dengan indah dan juga kartu undangan yang mewah pun telah tersebar kepada kerabat dan sahabat.


Orang tua Luisa, Isabel dan juga Zidan turut hadir dalam pesta pernikahan Ferry dan Luisa. Kini Luisa yang masih berhias di depan cermin merasa deg-degan menyambut hari pernikahannya bersama Ferry. Dengan gaun pernikahan yang indah Luisa berjalan menuju Ferry yang sudah menantinya. Pesta pernikahan yang meriah di hadiri banyak tamu undangan. Zidan dan Isabel duduk di meja yang sama dengan Balqis dan juga Abrar.


“Belbel, apa kau ingat pesta pernikahan kita dulu?” Tanya Zidan.


“Aku malah teringat saat di pesta pernikaha Caca dan kak Rudi!" Sahut Isabel.


“Om Zidan jatuh karena di dorong oleh kak Luky dan kak Abrar, hehehehhe.” Sambung Isabel.


“Ppppffttt, buahahahahaha!” Abrar dan Balqis tertawa.


"Huh, kalian malah menertawakan aku!" Umpat Zidan kesal kepada Balqis dan Abrar.


“Aku tak nyangka kalian berdua benar-benar berjodoh!” Kata Abrar.


“Bahkan mereka sudah memiliki seorang anak.” Sahut Balqis.


“Sebentar lagi mau dua kak!” Sambung Isabel.


"Apa?” Zidan, Balqis dan Abrar kaget serentak.


Isabel mengangguk.


“Apa kau hamil, belbel?” Tanya Zidan antusias.


“Iya om! Hasil dari perbuatanmu saat di mobil.” Bisik Isabel.


Zidan sangat senang mengetahui Isabel sedang mengandung buah cinta mereka lagi. Abrar yang tau Isabel sedang hamil, mengelus perut Balqis yang sedang hamil tua.


“Balqis, apa jadinya jika anak kita 12? 1 laki-laki dan 11 perempuan!” Kata Abrar.


“Pasti si Azlan puyeng, hehehehe.” Sahut Balqis.


“Iya, kau benar! Hehehehehe.” Kata Abrar menimpali.


Azlan yang tak sengaja mendengar obrolan orang tuanya langsung menghela nafas.


“Ya Tuhan, takdir apa yang kau berikan padaku ini? Kedua orang tuaku sangat gila akan memberikan ku 11 adik perempuan! Jika hal itu terjadi rumahku akan menjadi kampung hawa.” Gumam Azlan frustasi.


Lalu Azlan melihat Kenzo yang di kejar-kejar oleh Melia dan Melani untuk menindasnya dengan spidol.


“Aaarrgghhh, tidak! Jika semua adikku memiliki sifat nakal seperti Melia dan Melani, aku pasti akan gila!" Ujar Azlan bertambah frustasi.


Saat sedang frustasi, Azlan di hampiri gadis kecil seusia Melia dan Melani.


“Hei, kau kenapa?” Tanya gadis kecil itu.

__ADS_1


“Tidak apa-apa!” Sahut Azlan.


“Ngomong-ngomong, kau sangat cantik! Siapa namamu?” Tanya Azlan yang seketika jiwa palyboynya mencuat.


“Namaku Yas….


“Azlan! Kemari kau! Beraninya kau selingkuh dariku." Teriak Desi langsung menyeret Azlan.


Si gadis kecil itu bengong melihat Azlan di seret oleh anak perempuan sebaya dengan Azlan.


Pesta pernikahan pun selesai, para tamu undangan telah pulang. Abrar menyediakan sebuah kamar penganti untuk Ferry dan Luisa di salah satu hotel berbintang. Setelah membersihkan diri, Ferry menghampiri wanita berambut pirang dan bermata biru itu sedang menatap keluar jendela.


“Kau sedang melamunkan apa?” Tanya Ferry seraya mengecup leher Luisa.


“Aku masih tak percaya menikah dan tinggal disini selamanya.” Sahut Luisa.


“Apa kau menyesal?” Tanya Ferry.


Luisa berbalik dan menghadap Ferry.


“Dasar bodoh! Untuk apa aku mengejarmu sejauh ini kalau aku akan menyesalinya?" Sahut Luisa.


“Aku mencintaimu, Luisa!” Ucap Ferry.


“Aku juga!" Balas Luisa.


 


*****


Di apartemen miliknya, Zidan terus mendekap Isabel. Ia tak perduli kalau ada ibu yang sedang bermain dengan Gaby.


“Peluk terus!” Ucap Liana menyindir Zidan.


“Apaan sih?” sahut Zidan.


“Om, minggir!” Kata Isabel.


“Kenapa sih?” Ujar Zidan.


“Hhhhuuuuwwweekkkkk!” Isabel muntah dan mengenai tubuh Zidan.


“Hahahahaha, mampus!” Kata Liana tertawa melihat Zidan meringis jijik.


“Kenapa kau muntah disini?” Teriak Zidan pada Isabel yang muntah di tubuhnya.


“Aku benci bau parfummu, om!” Sahut Isabel sambil berlari ke kamar mandi.


“Bersabarlah, dia sedang hamil.” Kata Liana pada Zidan.


Zidan hanya pasrah saat Isabel menolak untuk di dekati olehnya. Isabel mual-mual saat mencium bau tubuh Zidan.


Beberapa hari kemudian, mereka kembali ke Itali setelah menghadiri pesta pernikahan Ferry dan Luisa. Caca nangis bombai hanya bisa video call dengan Ferry saat pesta pernikahan. Tidak dapat hadir di karenakan Rudi yang terlalu sibuk dengan pekerjaan yang di limpahkan oleh Zidan padanya.


 


 


Saat di ruang kantornya, Zidan mendapatkan telepon dari Abrar.


“Zidan, kembalikan Rudi padaku!” Kata Abrar.


“Kenapa? Si Leo juga ahli sebagai asisten!” Sahut Zidan.


“Dia sedang tergila-gila dengan wanita resepsionis di kantorku! Karena itu kerjanya jadi lelet.” Kata Abrar.


“Pokoknya aku mau Rudi kembali padaku.” Sambung Abrar.


“Tidakk akan!” Sahut Zidan langsung mematikan teleponnya.


“Aaarrggghhhh, Zidan! Dasar kau!” Teriak Abrar mengumpat kakak iparnya tersebut.


Di ruang resepsionis.


“Halo, cantik!” Ucap Leo tergila-gila pada Ningsih.


“Dasar, bule idiot!” Umpat Ningsih tak suka pada Leo yang terkenal playboy.


Abrar datang dan langsung menyeret asistennya. Leo hanya melambaikan tangannya kepada Ningsih yang bekerja sebagai resepsionis di kantornya Abrar.


“Leo, sadar, woi!” Teriak Abrar kesal.


“Apaan sih, bos?” Sahut Leo.


“Kalau kau jadi idiot, maka aku akan menendangmu ke laut!” Teriak Abrar.


“Hehehe, jangan marah dong bos!” Ucap Leo cengengesan.


Kring…..


“Halo!” Ucap Abrar.


“Abrar,  kata dokter aku akan di operasi!” Sahut Balqis yang kini sudah berada di rumah sakit bersama Liana.


“oke, aku kesana sekarang!” Kata Abrar.


Setelah menutup teleponnya, Abrar memperingatkan Leo.


“Leo, aku akan cuti selama sebulan penuh! Kau harus menggantikan posisisku dan bekerja lembur.” Kata Abrar.


“Tidak!” Teriak Leo frustasi.


“Hahahaha.” Abrar tertawa jahat.

__ADS_1


Abrar menunggu dengan perasaan was-was saat menanti kelahiran anaknya. Tak sampai satu jam terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan. Bayi mereka telah lahir, bayi perempuan itu di berinama Delina oleh Abrar. Azlan menghubungi neneknya bertanya tentang adik barunya tersebut.


“Nek, adikku laki-laki atau perempuan?” Tanya Azlan.


“Perempuan! Dia sangat cantik.” Jawab Liana.


“Hah, dugaan ku benar! Pasti perempuan.” Gumam Azlan.


“Hei, kau kenapa, Azlan?” Tanya Liana.


“Tidak apa-apa!” Sahut Azlan.


“Ya sudah, aku tutup dulu ya nek.” Sambung Azlan.


Setelah menutup teleponnya, Azlan pergi mengambil cat berwarna hitam dan melangkah menuju depan pintu gerbang rumahnya.


“Tuan muda, kau sedang apa?” Tanya salah seorang penjaga rumahnya.


“Menghapus nama papi!” Sahut Azlan dengan nada datarnya.


“Ke…kenapa tuan muda?” Tanya penjaga itu sedikit takut.


“Aku akan mengganti KEDIAMAN ABRAR menjadi KAMPUNG HAWA!” Jawab Azlan.


“Ke…ke…kenapa?” Tanya penjaga itu lagi semakin ketakutan.


“Suatu saat aku akan memiliki 11 adik perempuan!” Jawab Azlan kemudian pergi setelah mencoreng nama Abrar.


Sekarang nama yang tertulis di depan pintu gerbang rumah mewah tersebut menjadi “KEDIAMAN KAMPUNG HAWA”. Itu semua ulahnya si Azlan yang seakan menerima nasibnya memiliki 11 orang adik perempuan.


Abrar dan Balqis membawa pulang adik baru untuk Azlan dan si kembar. Awalnya si kembar siap dengan spidolnya, namun saat melihat wajah imut dari adiknya yang baru lahir, mereka berdua langsung luluh dan menyayangi adik barunya itu.


“kak, adiknya mirip aku kan?” Tanya Melia pada Azlan.


“Hah, asalkan jangan sifat jahilmu saja yang mirip dengannya!” Ujar Azlan.


“Mami, ayo keluarkan lagi adik perempuan dari perutmu!” Kata Melani.


“Hanya cacing di dalam perutku sekarang.” Sahut Balqis santai duduk di ranjang.


“Melani tenang saja! Papi akan menabung kecebong lagi di dalam perut mami dan jreng…jreng, akan keluar adik baru lagi untukmu!” Sambung Abrar dengan konyolnya.


“Kecebong itu apa?” Tanya Melia.


“Eeemmm, hahaha! Ayo kita makan es krim! Papi tadi belie s krim untuk kalian.” Kata Abrar mengalihkan pembicaraan.


“Hah, dasar!” Umpat Balqis pada Abrar yang selalu asal bicara pada anak-anaknya yang masih kecil.


 


 


Di dalam kamar yang cukup luas, Ferry menghampiri Luisa yang baru saja mandi. Setelah menikah Luisa menjadi istri yang baik dengan membantu meringankan pekerjaan Ferry di minimarket.


“Luisa, aku ada sedikit tabungan untuk kita pergi berbulan madu!” Kata Ferry menyodorkan buku tabungannya.


“Sayang, tanpa bulan madu pernikahan kita akan bahagia.” Sahut Luisa.


“Tapi….


“Gunakan uang ini untuk memperluas lahan bisnis kita! Aku ingin melihatmu sukses.” Sambung Luisa.


“Tadi kak Abrar menawarkan aku bekerja di kantornya.” Kata Ferry.


“Lalu?” Tanya Luisa.


“Aku menolaknya!” Jawab ferry.


“Kenapa?” Tanya Luisa.


“Aku hanya ingin dekat denganmu dan membangun usaha kita bersama, Luisa.” Sahut Ferry.


Luisa mengangguk di sertai senyuman menatap Ferry.


“Kau yakin tidak mau berbulan madu?” Tanya Ferry lagi.


Luisa menggeleng.


“Kita gunakan uang ini untuk melebarkan usaha kita, oke!” Ucap Luisa.


Ferry memeluk Luisa dengan erat.


“Aku sangat beruntung memiliki wanita yang mau berjuang bersamaku.” Ucap Ferry dalam hatinya.


 


 


 


Zidan semakin sayang dengan Isabel yang kini mengandung buah cintanya. Gaby yang hampir berusia 3 tahun pun seolah mengerti keadaan Isabel yang perutnya mulai membesar. Gaby selalu menemani Isabel yang lelah dan duduk di sofa yang empuk.


“Mama, apa adikku sebentar lagi akan keluar?” Tanya Gaby dengan polosnya.


“Hehehe, tidak! Mama hanya lelah saja.” Sahut Isabel.


“Mama, aku ingin adik perempuan!” Kata Gaby.


“Hahahaha.” Isabel hanya tertawa.


“Bagaimana bisa aku mengatakan kalau keinginanmu sangat berbeda dengan papamu.” Gumam Isabel dalam hatinya.


“Bahkan saat di USG, kata dokter bayinya laki-laki! Maafkan jika kau kecewa, Gaby.” Gumam Isabel lagi dalam hatinya.

__ADS_1


Isabel hanya bisa menatap Gaby yang mengelus perutnya yang buncit itu. Gaby putrinya yang berambut pirang persis seperti dirinya. Gaby tumbuh menjadi anak yang lembut kepada siapa saja.


__ADS_2