ISABEL

ISABEL
TANGISAN BAYI


__ADS_3

Teriakan Isabel terdengar oleh semua orang yang berada di rumah. Zidan dan Ibu langsung berlari menemui Isabel yang masih berdiri memegangi perutnya.


“Sayang, kau kenapa?” Tanya Zidan panik.


“Sakit om!” Sahut Isabel memegang pertunya.


“Astaga, air ketubannya pecah! Zidan bawa Isabel kerumah sakit, cepat!” Teriak Liana.


Saat di perjalanan Isabel mulai melemah wajahnya sangat pucat dengan cucuran keringat di wajahnya. Ibu melihat Isabel yang semakin melemah dan juga tampak oleh Ibu menetes darah dari sela-sela kedua kaki Isabel.


“Ya Tuhan, selamatkan menantu dan cucuku.” Ucap Liana dalam kepanikannya.


Tiba dirumah sakit Isabel sudah tidak sadarkan diri. Terjadi pendarahan hebat pada kandungan Isabel yang masih 8 bulan.


“Dokter, bagaimana dengan istriku?” Tanya Zidan.


“Dia mengalami pendarahan, dan kini kondisinya kritis!” Jawab dokter.


“Kami akan berusaha untuk menyelamatkan keduanya dengan jalan operasi.” Sambung dokter lagi.


“Lakukan yang terbaik untuk istriku!” Kata Zidan.


“Baik tuan.” Sahut dokter itu lagi.


Isabel yang sedang tak sadarkan diri di bawa ke ruang operasi, sementara Zidan dan Ibu menunggu di luar dengan sangat khawatir. Tidak sampai satu jam terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruang operasi. Jantung Zidan berdebar saat mendengar tangisan bayi tersebut.


“Ibu, apa itu bayiku?” Tanya Zidan menggenggam erat tangan Liana.


Liana mengangguk menatap Zidan yang masih di rundungi perasaan yang sangat cemas. Tak lama berselang keluarlah dokter yang menangani Isabel di ruang operasi.


“Bagaimana dokter?” Tanya Zidan.


“Tuan selamat anak anda sudah lahir, bayinya perempuan.” Kata dokter.


“Bagaimana dengan menantuku?” Tanya Liana.


“Kondisi nona Isabel masih kritis dan belum sadarkan diri, terjadi komplikasi padanya.” Kata dokter.


“Selamatkan istriku, dokter!” Kata Zidan.


“Tuan, kami akan mengusahakan yang terbaik.” Sahut dokter itu.


Zidan melihat Isabel yang masih pucat dan tak sadarkan diri di bawa oleh perawat masuk keruang ICU. Sementara anaknya di bawa ke ruang bayi. Air mata Zidan mengalir saat melihat Isabel yang di penuhi selang di wajahnya. Ia sedih melihat Isabel yang terbaring koma di ruang pasca melahirkan. Zidan yang belum melihat bayinya masih tetap setia berada di samping Isabel.


Disisi lain Aftur yang sangat penasaran dengan perkataan Zidan saat di pesta baby shower itu, berangkat ke Indonesia bersama Dania istirnya untuk membuktikan apa yang di katakan Zidan padanya. Sampai disana tuan Aftur langsung masuk ke kamar Isabel dengan kunci yang di berikan oleh bibi Yona. Mata Aftur dan Dania terperanjat melihat betapa banyaknya buku tersusun rapi yang ada di kamar Isabel.


“Bi Yona, apa ada ruangan lain di kamar ini?” Tanya Dania.


Bibi Yona masih tak bergeming karena Isabel pernah melarangnya untuk memberitahukan ruangan itu kepada orang luar.


“Bi Yona, tolong beri tahu aku yang sebenarnya tentang Isabel.” Kata Dania sambil berlinang air mata.


Akhirnya bibi Yona pun menggeserkan pedang pada patung itu dan terbukalah ruang rahasia yang di miliki oleh Isabel untuk menyimpan semua prestasinya selama ini. Aftur dan Dania sangat kaget melihat betapa banyak piala, piagam, serta penghargaan lainnya yang Isabel dapatkan dari otaknya yang cerdas.


“Kenapa dia menyembunyikan ini dari kita?” Ucap Dania menangis kesal dengan dirinya sendiri yang tidak pernah memberikan perhatian kepada Isabel.


Rasa penyesalan menusuk di hati kedua orang tua Isabel. Mereka yang selama ini tak pernah perduli bahkan membenci Isabel terkulai lemas saat melihat segudang prestasi yang di dapatkan Isabel.


“Sudah kalian sadar apa yang selama ini kalian lakukan pada Isabel?” Ujar tuan Norman pada anak dan menantunya itu.


“Ayah, kenapa dia menyembunyikan ini semua pada kami?” Tanya tuan Aftur.


“Karena kau tak pernah percaya pada apa yang dia ucapkan! Kau hanya perduli dengan Vani dan kau, Dania, kau hanya peduli dengan anak kesayanganmu si Luisa yang telah banyak membohongi kalian berdua.” Jawab tuan Norman.


“Apa maksud ayah tentang Luisa?” Tanya Dania.


“Luisa sering menukar nilai ulangannya yang jelek dengan nilai Isabel! Kau pikir Luisa itu anak yang cerdas? Luisa hanya bisa menggunakan akalanya untuk mencurangi orang lain.” Kata tuan Norman.


Dania terus menangis menyesali perbuatannya yang selama ini telah berlaku tak adil kepada Isabel, anak bungsunya itu. Tak lama kemudia ponsel tuan Aftur berdering panggilan dari Ibu yang mengabari kalau Isabel telah melahirkan dan dalam kondisi koma di rumah sakit.


Aftur dan Dania segera kembali ke Itali untuk melihat kondisi Isabel yang masih belum sadarkan diri. Perjalanan yang sangat melelahkan membuat tuan Aftur dan Dania tak dapat mengurungkan niatnya untuk menemui Isabel segera di rumah sakit setibanya mereka di Itali.


Dania terus mengalirkan air matanya menatap Isabel yang terbaring pucat di ranjang rumah sakit.  Aftur yang tak tahan melihat kondisi anaknya tersebut keluar ruangan dengan air mata penyesalannya.


“Isabel, bangun nak, ini ibu.” Ucap Dania dalam isak tangisnya.


“Maafkan ibu, nak!” Ucap Dania lagi sambil mencium kening Isabel dengan lembut.


Tiba-tiba Dania melihat Isabel menggerakkan jarinya.


“Isabel, ini ibu, nak! Bukalah matamu, sayang.” Ucap Dania lagi.


Perlahan Isabel membuka matanya dan menatap Dania yang terus menangis di hadapannya. Isabel yang masih lemah hanya bisa menggerakkan bibirnya mengucapkan kata ibu pada Dania.


“Iya, nak! Ini Ibu.” Kata Dania menciumi wajah Isabel.


“Maafkan ibu! Ibu menyayangi mu Isabel.” Ucap Dania terus menciumi Isabel.


Dania yang terus mengalirkan air matanya membuat Isabel pun ikut mengalirkan air mata dari sudut matanya. Perasaan senang dalam hati Isabel melihat ibunya mengucapkan kata maaf dan sayang padanya membuat dirinya terharu. Selama ini ibunya yang tak pernah peduli dengan dirinya kini menggenggam erat tanganya serta memberikan ciuman lembut untuknya.


Zidan yang tau kalau Isabel sudah sadarkan diri langsung masuk bergantian dengan Dania ke dalam ruangan Isabel. namun Isabel yang belum bisa banyak bicara hanya menatap Zidan saat Zidan menangis sambil menciumi tanganya.


Aftur mencari tau apa yang dilakukan oleh Luisa selama ini dengan nilai-nilainya yang selalu ia banggakan. Segera ia menyelidiki ke sekolah bahkan ke kampus yang kini sedang di jalani oleh Luisa. Semuanya terkuak saat tuan Aftur mengetahui kalau Luisa membayar seorang guru untuk merubah semua nilai-nilainya saat masih duduk di SMP dan SMA. Luisa juga membayar dosennya untuk memberikan nilai terbaik padanya. Dengan amarah yang berkecamuk tuan Aftur menyeret Luisa yang sedang bersantai di kamarnya.


“Dasar anak kurang aja kau! Beraninya kau membohongi aku selama ini.” Teriak Aftur kesal pada Luisa.


“Ayah, apa salahku?” Tanya Luisa.


Lalu tuan Aftur melemparkan semua bukti kalau Luisa telah berlaku curang dengan nilai-nilainya selama ini. Luisa melihatnya dan langsung kaget saat semua kebohongannya terbongkar.


“Ayah, ampuni aku.” Ucap Luisa memohon pada ayahnya.


“Pergi kau diri sini!” Teriak tuan Aftur mengusir Luisa.


“Ibu tolong aku, ayah akan mengusirku!” Kata Luisa pada Dania.


“Aku tidak akan pernah menolongmu lagi, Luisa.” Ucap Dania kesal pada Luisa.


“Ibu.” Ucap Luisa terkejut pada Dania yang selama ini sangat memanjakanya.


“Gara-gara kau, aku tidak pernah memberikan kasih sayangku kepada Isabel! Kau menfitnah dirinya agar aku tidak menyayangi dia kan.” Teriak Dania marah pada Luisa.


“Ibu, maafkan aku! Aku melakukan itu agar kau juga menyayangi aku.” Kata Luisa.


“Aku tidak pernah pilih kasih kepada semua anak-anakku! Tapi karena hasutanmu aku menjadi ibu yang tidak baik selama ini.” Ujar Dania.


“Pergi kau!” Teriak tuan Aftur pada Luisa.


Dania yang tak sanggup menahan amarahnya langsung masuk kedalam kamar dan mengacuhkan Luisa begitu saja. Di dalam kamar Dania terus menangis kesal karena dirinya tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk ketiga putrinya tersebut.  Aftur yang begitu kesal menyeret Luisa keluar dari rumahnya dan mencampakkan beberapa pakaian milik Luisa. Luisa terus menangis dan memohon pada ayahnya.

__ADS_1


“Pergi kau, atau kubunuh kau sekarang juga!” Ancam tuan Aftur yang kalap karena ulang Luisa yang membohonginya selama ini.


Luisa yang ketakutan akhirnya pergi meninggalkan rumah orang tuanya. Entah kemana ia berjalan dengan kedua kakinya dan beberapa uang yang ia miliki hasil dari menjual perhiasan yang menempel ditubuhnya.


 


Isabel yang sudah sadarkan diri dan mulai membaik, di pindahkan keruang rawat setelah dari ruang ICU. Zidan terus setia menemaninya. Perawat membawa bayi kecil itu bertemu dengan ibunya. Isabel sangat terharu melihat bayi mungilnya tampak menguap dan menggemaskan.


“Lihatlah bayi kita! Sepertinya dia tukang tidur sepertimu, om! Dari tadi dia terus menguap.” Ucap Isabel pada Zidan.


“Hehehe, itu karena dia masih bayi, belbel.” Sahut Zidan.


“Dia sangat menggemaskan ya.” Kata Zidan lagi.


“Iya.” Sahut Isabel.


“Siapa namanya?” Tanya Isabel.


“Aku akan memberinya nama ketoprak!” Kata Zidan.


“Diih, kenapa ketoprak sih om?” Ujar Isabel kesal.


“Waktu kau ngidam kan tak sempat makan ketoprak.” Sahut Zidan.


“Tidak lucu.” Kata Isabel sewot.


“Hehehehe, aku bercanda.” kata Zidan.


“Namanya Gabriella.” Sambung Zidan.


“Nama yang bagus.” Sahut Isabel.


“Kita akan memanggilnya Gaby?” Kata Isabel lagi.


“Ya, tentu saja!” Kata Zidan.


Kondisi Isabel yang semakin membaik membuatnya dapat mendekap bayi kecilnya yang sangat mirip dengannya. Bola matanya coklat dan rambutnya yang pirang membuat semua orang sangat ingin menggendongnya. Dania dan Aftur sering bolak balik rumah sakit untuk menjenguk Isabel dan cucu pertamanya itu. Hubungan Isabel dan kedua orang tuanya semakin harmonis setelah kehadiran Gabriella disisi mereka.


 


*****


Berbulan-bulan lamanya Luisa menetap di sebuah kamar kecil yang ada di pinggiran kota Itali. Dengan sisa uang yang ia miliki membuatnya terpaksa mencari pekerjaan apa saja yang dapat menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Lama ia berjalan menyusuri kota akhirnya ia mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan café yang tak jauh dari kampusnya dulu.


“Selamat datang!” Ucap Luisa pada seorang pelanggan yang baru saja masuk ke dalam café itu.


“Kau! Kau Luisa kan?” Tanya Ferry yang kaget melihat Luisa dengan pakaian pelayan.


“Ternyata kau temannya Isabel!” Sahut Luisa.


“Ayahmu kan kaya kenapa kau malah menjadi pelayan?” Tanya Ferry.


“Aku diusir oleh ayahku, sudah puas kau!” Ujar Luisa judes pada Ferry.


“Sudah di usir masih saja judes!” Sahut Ferry langsung duduk di salah satu meja dengan meletakkan laptopnya.


Luisa mengikuti Ferry.


“Untuk apa kau mengikuti aku?” Tanya Ferry pada Luisa yang cemberut.


“Dasar bodoh! Aku pelayan disini tentu saja ingin bertanya padamu kau mau pesan apa?” Kata Luisa masih dengan tampang judesnya.


Takut di pecat pada hari pertamanya bekerja, Luisa langsung merubah raut wajahnya dengan manis kepada Ferry.


“Baiklah, tuan! Anda mau pesan apa?” Tanya Luisa pada Ferry.


“Nah, gitu dong! Kalau senyum begitu kan cantik, hehehehe.” Sahut Ferry.


“Huh, dasar laki-laki penggoda!” Gumam Luisa.


“Apa kau bilang?” Teriak Ferry.


“Hahaha, bukan! Kau sangat tampan tuan Ferry.” Ucap Luisa senyum terpaksa.


“Hehehe, kau benar! Aku tampan dari lahir.” Sahut Ferry.


Walaupun kesal Dania tetap teringat akan Luisa yang sudah 4 bulan tidak pernah kembali kerumah setelah diusir oleh ayahnya. Dania yang sedang mengunjungi Isabel dan cucunya tampak murung memikirkan nasib Luisa di luaran sana.


“Ibu, kenapa murung? Ada apa?” Tanya Isabel pada Dania yang sedang menggendong Gabriella.


“Tidak nak, tidak ada apa-apa!” Sahut Dania yang merahasiakan kepergian Luisa dari Isabel.


Tring…..


Ponsel Isabel mendapat pesan dari Ferry.


“Bel, Luisa di usir ya dari rumah? Kurus sekali dia! Dia kerja di café dekat kampus.” Ferry.


“Yang benar nih?” Isabel.


“Iya! Tadi aku ketemu dengannya di café! Dia jadi pelayan disana.” Ferry.


Chat berakhir.


“Ibu.” Panggil Isabel.


“Heeemm?” Sahut Dania.


“Luisa diusir dari rumah?” Tanya Isabel.


Dania langsung diam dan kaku saat Isabel menanyakan hal itu.


“Ibu, jawab aku!” Kata Isabel lagi.


“Dia pantas mendapatkannya! Selama ini dia membohongi aku dan ayahmu.” Kata Dania.


“Dengan kelakuannya itu dia membuatku menjadi ibu yang buruk untukmu, Isabe..” Sambung Dania kembali menangis.


“Ibu sudahlah! Jangan menangis lagi! Aku sudah melupakan semuanya yang terjadi pada keluarga kita.” Kata Isabel.


“Kau anak yang baik, dulu aku buta karena tidak pernah melihat kebaikanmu.” Ucap Dania.


“Ibu, ayo kita cari Luisa! Bawa dia kembali kerumah.” Kata Isabel.


“Tidak! Ayahmu pasti tidak akan setuju.” Sahut Dania.


“Jangan pikirkan tentang Luisa, kau harus memikirkan keluargamu, suami dan juga anakmu.” Sambung Dania lagi.


“Iya ibu.” Sahut Isabel.

__ADS_1


Saat pulang dari kantor sebelum makan malam, Zidan bermain dengan Gabriella yang kian hari kian menggemaskan. Dengan menggunakan bandana di rambutnya membuat Gabriella semakin menggemaskan.


“Anak papa, sangat cantik! Kalau sudah besar jangan genit-genit ya sama cowok.” Kata Zidan asal bicara pada anaknya.


“Apaan sih!” Sahut Isabel tersenyum.


“Iya dong! Kalau sudah dewasa dia pasti genit sepertimu yang terus saja menggodaku.” Kata Zidan meledek Isabel.


“Hei, bukannya om yang mengejar-ngejar aku? Waktu pertama di jodohkan kan om sendiri yang milih aku, sampai kak Vani kesal padaku.” Kata Isabel.


“Apa kau lupa dari awal kan memang kau yang akan di jodohkan denganku, belbel.” Ujar Zidan tak mau kalah.


“Hei, kenapa kalian bertengkar? Kalian memang sudah berjodoh, sudah punya bayi yang cantik, apalagi yang mau di ributkan?” Kata Ibu.


“Hehehe, tidak bertengkar kok! Kami kan saling menyayangi, iya kan belbel?” Ucap Zidan merangkul istrinya.


“Iya om.” Sahut Isabel.


“Hah, sebentar saja nih ributnya? Dasar.” Ujar Ibu bingung melihat kedua pasangan itu.


“Ayo Gaby, sama nenek saja ya! Kedua orang tuamu itu rada-rada gila.” Kata Ibu mengambil Gabriella dari gendongan Zidan.


Zidan dan Isabel hanya tertawa mendengar ibu mengatakan mereka pasangan gila. Setelah selesai makan malam Zidan masih sibuk dengan urusannya di ruang kerjanya, sementara Isabel menidurkan Gabriella yang tempat tidurnya berada tepat di samping ranjang Isabel dan Zidan. Setelah Gabriella tertidur lelap, Isabel berbaring memainkan ponselnya untuk berkirim pesan dengan Caca dan Ferry.


“Woi, bambang! Lagi ngapain?” Isabel.


“Buat tugas!” Ferry.


“Ca, Caca!” Isabel.


“Caca mana ya Fer?” Isabel.


“Mati.” Ferry.


“Apaan lu bambang.” Caca.


“Gimana kandunganmu, Ca?” Isabel.


“Sehat.” Caca.


“Makin di sayang dong, sama om-om, hehehe.” Ferry.


“Apaan lu jomblo!” Caca.


“Hahahaha……” Isabel.


“Kapan kalian balik ke kampus, woi!” Ferry.


“Nanti tunggu Gaby sudah gadis! Wkwkwkwkw.” Isabel.


“Kalau Gaby sudah gadis, nikah sama aku aja ya, hehehehe.” Ferry.


“Pedofil.” Caca.


“Apaan lu, Ca! Nyahut saja.” Ferry.


“Hahahaha, jadi kangen ngumpul?” Isabel.


“Besok.” Caca.


“Oke…” Ferry.


Setelah selesai Chat dengan kedua sahabatnya, Isabel kaget melihat Zidan yang sudah dari tadi menatapnya di samping.


“Eh, kapan masuknya, om?” Tanya Isabel yang tak menyadari Zidan masuk kedalam kamar.


“Seru sekali lihat ponsel, sampai tidak sadar ada suaminya di samping.” Sahut Zidan sewot.


“Hehehe, maaf.” Kata Isabel.


“Gaby udah tidur?” Tanya Zidan.


“Sudah.” Jawab Isabel.


“Hehehe, belbel! Kau sedang menggodaku ya dengan pakaian tidurmu itu?” Kata Zidan melihat Isabel dengan lingeri.


“Peka sekali jadi suami, hehehe.” Sahut Isabel cengengesan.


“Mari kita lakukan.” Ucap Zidan langsung menerkam Isabel yang tampak menggoda dirinya.


Setelahnya Isabel minta izin pada Zidan untuk keluar rumah besok bertemu dengan Caca dan Ferry.


“Om, besok aku keluar ya, ketemu sama Caca dan Ferry! Kangen.” Pinta Isabel pada Zidan.


“Iya, tapi jangan lama-lama! Kasihan si Gaby, kita belum ketemu pengasuh yang bisa di percaya untuknya.” Kata Zidan.


“Ada ibu! Aku minta tolong pada ibu, sebentar saja.” Kata Isabel.


“Iya, belbel.” Sahut Zidan.


Keesokannya setelah minta tolong pada Ibu, Isabel pergi menemui Caca dan Ferry yang sudah menunggunya di sebuah café tempat biasa mereka bertemu.


“Ca, gendut sekali perutmu!” Kata Isabel.


“Hahaha, hasil perbuatan kak Rudi nih!” Sahut Caca.


“Woi, bambang! Aku dengar dari Caca katanya pacarmu selingkuh ya disana?” Kata Isabel pada Ferry.


“Iya! Padahal aku berusaha untuk meneguhkan imanku tidak melihat cewek-cewek bule disini, eh, malah dia yang selingkuh disana!” Sahut Ferry.


“Sudah, dunia belum berakhir. Lupakan!” Sambung Caca.


“Oh iya, Fer, kau ketemu sama Luisa di café mana?” Tanya Isabel.


“Di café dekat kampus!” Jawab Ferry.


“Aku cari tau tentang dia, kata teman sekelasnya dia tidak pernah masuk kampus lagi.” Sambung Ferry.


"So sweet sekali, sampai cari tau tentang Luisa di kampus! Jangan-jangan kau naksir si Luisa!" Kata Caca.


"Hehehe, Ferry suka gadis bule setelah cintanya di khianati." Sambung Isabel.


"Apaan sih." Sahut Ferry sewot.


“Sudahlah, dia menuai apa yang dia tabur selama ini.” Kata Caca mengenai Luisa.


 


Isabel dan kedua sahabatnya pun berbincang-bincang sambil temu kangen. Isabel yang mendengar langsung dari Ferry tentang keadaan Luisa sedikit menaruh rasa simpati kepada kakak kandung yang berjarak hanya setahun lebih tua darinya. Isabel berniat untuk meyakinkan ayahnya untuk menerima Luisa kembali pulang kerumahnya.

__ADS_1


__ADS_2