
Isabel yang sedang bosan dirumah, pergi jalan-jalan di seputaran kota. Saat itu tanpa sengaja kakek yang ingin menjemput Azlan di sekolah melihat Isabel yang berjalan kaki di pinggir jalan. Kakek lantas menyapa Isabel.
“Nak, kau mau kemana?” Tanya kakek pada Isabel.
“Aku hanya ingin jalan-jalan saja, kek! Kakek mau kemana?” Isabel balik bertanya.
“Aku akan ke sekolah Azlan untuk menjemputnya.” Kata kakek.
“Benarkah? Apa aku boleh ikut kek? Aku sangat merindukan Azlan.” Pinta Isabel.
“Tentu saja, ayo naiklah!” Kata kakek.
Isabel pun akhirnya ikut bersama kakek untuk pergi ke sekolah Azlan. Setibanya disana, kakek berteriak memanggil cicit kesayanganya itu. Namun apa yang di lakukan Azlan sangat di luar dugaan. Azlan berlari menuju arah kakek dan Isabel. Saat kakek membuka lebar kedua tanganya ingin memeluk cicitnya, si Azlan malah hanya melewati kakek saja. Ternyata Azlan berlari menuju ke gadis yang ia sukai di sekolahnya.
“Dasar cicit somplak!” Ujar kakek nangis bombai.
“Sabar ya kek.” Ucap Isabel sambil menghela nafas panjang.
“Aku sangat merindukannya hingga datang kesini untuk menemuinya, tapi dia malah berlari mendatangi gadis yang dia sukai tanpa melihat kearahku.” Sambung kakek.
“Mohon bersabar! Ini ujian.” Kata Isabel lagi.
Isabel pun mendekati Azlan yang sedang berusaha untuk mengejar anak perempuan yang seusia denganya di sekolah.
“Hei, kenapa kau terlihat murung?” Tanya Isabel.
“Gadis yang aku sukai ternyata menyukai temanku.” Sahut Azlan.
“Oh, kau sedang patah hati ya? Sini aku peluk.” Kata Isabel.
“Tante, jangan peluk aku disini! Nanti gadis yang aku sukai bisa salah paham.” Kata Azlan.
“Apa kau bilang? Tante?” Tanya Isabel kaget.
“Iya, kau itu istrinya om Zidan, makanya aku memanggilmu tante.” Sahut Azlan.
“Tua banget aku ya lord!” Gumam Isabel dalam hatinya.
“Hei, aku lihat banyak gadis cantik di sekolahmu, kenapa kau tidak melupakan dia dan mencari gadis yang lain saja?” Tanya Isabel.
“Aku tidak mau!” Sahut Azlan.
“Kenapa?” Tanya Isabel.
“Karena dia adalah cinta pertamaku! Maka dari itu aku harus berjuang mendapatkanya.” Jawab Azlan.
“Astaga, dewasa sekali pemikirannya!” Gumam Isabel.
“Hei, siapa yang mengajarimu berbicara seperti itu?” Tanya kakek.
“Papi!” Sahut Azlan.
“Kurang ajar kau Abrar, kau mengajarkan cicitku yang masih berusia 5 tahun berpikir sedewasa ini!” Umpat kakek kesal pada Abrar.
Isabel yang sudah terlanjur ikut dengan kakek, akhirnya sampai dirumah Abrar pada saat yang tepat untuk makan siang. Balqis langsung mengundangnya makan siang bersama dengan kakek dan juga Abrar yang pulang dari kantornya.
Tak ada hal aneh yang di tunjukkan oleh Isabel saat makan bersama dengan mereka. Isabel bersikap biasa saja seperti tidak ada masalah yang sedang menimpanya. Setelah makan siang kakek bermain dengan ketiga cicitnya di ruang bermain, sementara Isabel di tahan Abrar dan Balqis untuk duduk di ruang keluarga dan berbincang dengan mereka.
“Isabel, apa kau tidak ingin mengatakan apapun pada kami?” Tanya Balqis.
“Apa?” Isabel bingung.
“Tentang kau dan Zidan.” Sahut Abrar yang mempunyai sifat tak sabaran.
“Tidak ada apa-apa diantara kami berdua yang harus di bicarakan.” Kata Isabel menundukkan wajahnya.
“Hei, aku sudah menganggapmu seperti adikku!” Kata Abrar.
“Kami sudah tau semuanya tentang masalah kau dan Zidan.” Sambung Abrar.
“Hah? Tau dari siapa, om?” Tanya Isabel kaget.
“Jangan panggil aku om! Itu panggilan sayangmu untuk Zidan, panggil aku kakak!” Kata Abrar.
“Iya.” Sahut Isabel.
“Aku tau hal itu dari Ferry! Dia menceritakan semuanya karena khawatir pada dirimu yang mencintai Zidan.” Kata Abrar lagi.
“Huh, dasar Ferry! Bagaimana bisa dia cerita pada kak Abrar?” Tanya Isabel.
“Selama kau di Itali, aku dan Ferry semakin dekat, dan sekarang dia adalah adik angkatku.” Kata Abrar.
“Kembalilah ke Itali, Zidan itu milikmu bukan milik Raisa.” Kata Abrar lagi.
“Aku tidak mau! Aku sudah melupakannya.” Sahut Isabel menolak dengan keras.
“Kau pikir aku bodoh? Lihat wajahmu memerah ssat aku katakan kalau kau mencintai Zidan.” Ujar Abrar.
“Isabel, jika kau mencintai kak Zidan, miliki dia jangan sampai wanita sialan itu menyakiti kak Zidan untuk kedua kalinya.” Kata Balqis.
“Maksud kakak?” Tanya Isabel yang belum tau tentang Raisa yang sebenarnya.
Balqis pun menceritakan semua tentang Raisa yang telah mengkhianati Zidan dengan Erwin sahabat Zidan sendiri.
“Apa kau mau melihat kak Zidan di sakiti oleh wanita pengkhianat itu lagi?” Tanya Balqis.
“Tapi kak, bagaimana aku bisa merebut hati om Zidan, jelas-jelas dia hanya memperdulikan wanita itu.” Kata Isabel.
Kemudian Abrar berbisik pada Balqis.
“Eh, kok jadi main bisik-bisik! Jadi teringat lagu elvi sukaesih.” Ucap Isabel dalam hatinya melihat pasutri yang konyol itu.
Lalu dengan tiba-tiba Balqis menarik tangan Isabel.
“Kak kita mau kemana?” Tanya Isabel bingung.
__ADS_1
“Ke salon!” Sahut Balqis yang terus menyeret Isabel masuk kedalam mobil.
Balqis mengajak Isabel ke sebuah salon langganannya untuk merawat diri dan mengubahnya menjadi gadis yang cantik. dengan mengubah gaya rambut, mengecat kuku, dan juga memoles wajahnya dengan make-up yang tipis namun membuat Isabel seperti gadis yang cantik dan anggun.
Setelah keluar dari salon, Balqis membelikan beberapa baju dan gaun untuk Isabel dan beberapa sepatu yang juga cocok di pakai oleh gadis seusia Isabel. Setelah puas berkeliling belanja keperluan untuk mengubah diri Isabel yang awalnya tomboy menjadi gadis cantik yang feminim, mereka kembali kerumah.
“Mami, kakak cantik itu siapa?” Tanya Azlan menatap Isabel.
“Apa kau tidak mengenalnya? Dia istri om Zidan!” Sahut Balqis.
“Wah, kau sangat cantik, tante!” Seru Azlan dengan mata yang berbinar-binar menatap Isabel.
“Apa kau mau menjadi pacarku saat aku sudah besar nanti? Hehehe.” Tanya Azlan cengengesan pada Isabel.
Pplleeettaakkkk……….
“Jangan kurang ajar kau Azlan! Dasar mata keranjang.” Ujar Balqis menjitak kepala putranya itu.
“Aduh, aku hanya bercanda, mami!” Kata Azlan sambil mengusap kepalanya yang benjol.
Lalu Abrar pun datang melihat Isabel yang kini sudah menjadi gadis yang feminim.
“Wow, Zidan pasti mimisan saat meilhatmu Isabel!” Seru Abrar.
“Kak, kau jangan berusaha untuk mengelabui aku! Belum tentu kak Zidan suka dengan dandananku.” Kata Isabel tak percaya diri.
Abrar menyeret Isabel untuk bercermin.
“Lihatlah dirimu yang sekarang! Kau bertambah cantik dengan gayamu yang sekarang.” Kata Abrar.
“Kangan sia-siakan dirimu yang cantik ini untuk bersedih hanya karena rivalmu yang sudah jelas hanya seorang wanita berumur!” Sambung Abrar lagi.
“Benar Isabel! Raisa itu hanyalah seorang tante-tante yang wajahnya tidak secantik dirimu! Apalagi dia jahat, dia pengkhianat.” Kata Balqis.
Abrar dan Balqis terus menghasut Isabel agar Isabel mau kembali dalam pelukan Zidan dan menjauhkan Raisa dari kehidupan Zidan.
“Om Zidan milikku! Kalian benar, aku akan kembali untuk menjauhkan tante jahat itu dari om Zidan.” Kata Isabel dengan tekad yang kuat.
“Semangat!” Seru Abrar dan Balqis.
Isabel kembali kerumah kakeknya untuk mengemasi pakaiannya yang akan dia bawa ke Itali. Saat sedang mengemasi pakaiannya, ponsel Isabel berdering dari nomor yang tak dikenal.
“Siapa sih?” Gumam Isabel.
“Halo!” Sapa Isabel.
“Halo, ini aku Zidan!” Sahut orang itu.
Jantung Isabel langsung berdetak kencang. Isabel berusaha untuk biasa saja agar rencananya berjalan dengan lancar.
“Iya om, ada apa?” Tanya Isabel.
“Kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau kembali ke Indonesia?” Tanya Zidan.
“Maaf ya om, kakek ku sedang sakit..jadi aku buru-buru kembali dan lupa mengatakannya padamu.” Sahut Isabel.
“Eh, tau dari mana nomor baruku, om?” Tanya Isabel.
“Dari bibi Yona.” Jawab Zidan.
“Oh.” Sahut Isabel singkat.
“Apa kakekmu sudah sembuh?” Tanya Zidan.
“Sudah.” Jawab Isabel.
“Lalu kapan kau akan kembali ke itali?” Tanya Zidan lagi.
“Aku belum tau pasti, karena aku masih ingin berlama-lama disini.” Jawab Isabel dusta.
“Cepat pulang! Kau harus belajar, sebentar lagi ujian masuk universitas.” Kata Zidan.
“Apa kau menyuruhku pulang hanya untuk belajar saja, hah?” Teriak Isabel kesal.
Karena kesal Isabel langsung mematikan sambungan teleponnya.
Di Itali Zidan yang juga sangat kesal saat Isabel mematikan sambungan telepon secara tiba-tiba, membanting ponselnya hingga pecah.
“Dasar gadis tidak peka! Apa dia tidak tau kalau aku sangat merindukan dirinya? Aaaarrgghhh!” Teriak Zidan kesal.
Isabel pun memutuskan kembali ke Itali tanpa sepengetahuan Zidan. Setibanya disana ia melihat Raisa sedang berbincang dengan Zidan di ruang tengah. Mereka sangat akrab dan Raisa sangat manja pada Zidan.
“Aku pulang!” Teriak Isabel sengaja membesarkan suaranya agar terdengar oleh Zidan.
Zidan mendengar suara Isabel, langsung keluar dan melihatnya.
“Isabel? Kau kembali?” Ucap Zidan kaget melihat Isabel yang kini berubah menjadi gadis cantik yang feminim.
“Om, aku kembali!” Sahut Isabel tersenyum manis.
“Kau cantik sekali!” Ucap Zidan terpesona menatap Isabel.
“Benarkah? Ini semua hanya untukmu, om!” Bisik Isabel pada telinga Zidan.
Lalu tiba-tiba Raisa mendekat kepada Zidan.
“Siapa dia?” Tanya Raisa pada Zidan sambil melirik Isabel.
“Kenalkan, aku Isabel, istri sahnya om Zidan!” Sahut Isabel.
Raisa sangat terkejut saat Isabel mengatakan kalau dirinya adalah istri Zidan. Selama Raisa sembuh, Zidan belum mengatakan kalau dia telah menikah dengan Isabel.
“Kenapa kau terkejut, tante? Om Zidan tidak bilang kalau dia sudah menikah dengan gadis yang jauh lebih muda darimu?” Kata Isabel sengaja memancing emosi Raisa.
“Apa kau bilang? Tante?” Tanya Raisa begitu kesal.
__ADS_1
“Iya, kau kan memang sudah tante-tante!” Sahut Isabel.
“Jaga bicaramu! Jangan sampai aku menampar wajahmu itu.” Bentak Raisa.
“Kenapa kau malah sewot? Kan memang benar kau itu tante-tante.” Sahut Isabel memancing emosi Raisa.
“Kurang ajar kau!” Teriak Raisa hendak menampar Isabel.
Dengan cepat Zidan menangkap dan menahan tangan Raisa.
“Cukup, Raisa! Jangan buat onar dirumahku.” Bentak Zidan membela Isabel.
“Zidan, kenapa kau malah marah padaku? Dia yang bersikap kurang ajar padaku.” Kata Raisa membela diri.
“Hentikan! Sebaiknya kau pulang saja, Raisa! Ini sudah larut malam.” Kata Zidan mengusir Raisa.
“Tapi sayang, malam ini aku berniat untuk menemanimu.” Kata Raisa berusaha untuk merayu Zidan.
“Lain kali saja, aku akan menyuruh supir untuk mengantarmu pulang.” Kata Zidan.
Dengan kesal Raisa pergi meninggalkan rumah Zidan. Namun Raisa akan tetap mencari cara untuk membalas perbuatan Isabel padanya.
Dikamar warna ungu.
“Aku sangat lelah!” Ucap Isabel berbaring setelah selesai mandi.
Tiba-tiba Isabel menjerit saat tangan kekar melilit tubuhnya.
“Aaarrrggghh!” Teriak Isabel terkejut.
Ternyata Zidan yang bersembunyi di balik sisi ranjang.
“Ternyata kau, membuatku kaget saja!” Kata Isabel pada Zidan.
“Belbel.” Panggi Zidan.
“Apa?” Sahut Isabel masih kesal.
“Aku ingin minta maaf karena meninggalkanmu dirumah sakit itu, dan juga mengingkari janjiku saat ultahmu.” Kata Zidan menyesali perbuatanya.
“Lupakan saja.” Sahut Isabel yang mencoba untuk tidak bersedih mengingat kejadian itu.
“Kau tidak marah padaku?” Tanya Zidan.
“Buat apa marah? Kau berbuat seperti itu karena wanita yang kau cintai kan, om?” Sahut Isabel.
Mendengar perkataan Isabel tentang Raisa, Zidan malah semakin bersalah pada Isabel.
“Isabel dengar kan aku baik-baik, memang benar Raisa itu wanita yang aku cintai, tapi bukan berarti aku akan menyia-nyiakanmu!” Kata Zidan frustasi memilih antara Isabel atau Raisa.
“Hei, hatimu rakus sekali, om!” Ujar Isabel.
“Aduh, kepalaku pusing menghadapi Isabel dan Raisa! Aku mencintai Raisa, namun disisi lain aku tidak ingin kehilangan Isabel! Aku jadi bingung.” Ucap Zidan dalam hatinya.
“Om, kenapa? Sepertinya kau sedang frustasi.” Kata Isabel sambil merayu Zidan.
“Sialan! Dia semakin menggemaskan!” Ucap Zidan dalam hatinya menatap Isabel.
“Om, apa kau tidak rindu padaku?” Bisik Isabel yang membuat Zidan tidak sanggup menahan gejolak hatinya.
“Apa kau sedang menggodaku, belbel?” Zidan balik berbisik kepada Isabel.
“Apa kau tahan dengan godaanku, om?” Balas Isabel.
“Kurang ajar! Dia semakin berani membalasku!” Gumam Zidan dalam hatinya.
“Hehehe, baiklah! Kau akan menjadi santapanku, belbel.” Kata Zidan langsung menerkam tubuh Isabel yang hanya menggunakan pakaian tidur yang sedikit vulgar.
Keesokan paginya, Isabel terbangun saat Zidan masih tertidur disampingnya. Ia mengingat kembali bagaimana cinta pertamanya menyentuh dirinya dengan lembut samalam. Air matanya menetes saat memandangi wajah Zidan yang masih menyimpan perasaan untuk wanita lain.
“Aku harus kuat menjalani ini semua demi dirimu! Aku tak ingin kau tersakiti lagi oleh Raisa, yang kau cintai itu.” Ucap Isabel dalam hatinya.
Saat Zidan bergerak dan mulai terbangun, Isabel memejamkan matanya berpura-pura masih tidur. Zidan pun membuka matanya dan melihat Isabel tertidur disampingnya hanya menggunakan selimut sebagai penutup tubuhnya yang polos.
“Sial, aku melakukan itu padanya semalam!” Ucap Zidan dalam hatinya.
“Om, kau sudah bangun.” Kata Isabel berpura-pura baru bangun tidur.
“Belbel.” Panggil Zidan.
“Heeemm?” Sahut Isabel.
“Apa kau ingat yang kita lakukan semalam?” Tanya Zidan.
“Ingat!” Sahutnya.
“Apa kau tidak menyesal?” Tanya Zidan.
“Tidak!” Sahut Isabel.
“Kau tidak takut jika nanti kau hamil?” Tanya Zidan.
“Untuk apa takut? Kalau hamil yang tinggal melahirkan saja dan aku akan menjadi ibu yang baik untuk anak-anakku.” Jawab Isabel.
“Tapi kau kan masih sangat muda, Apa kau tidak ingin menggapai cita-citamu? Kau itu manusia cerdas!” Kata Zidan.
“Aku sudah punya suami yang kaya raya! Aku gak perlu bekerja kan?” Kata Isabel dengan gamblangnya.
“Lagi pula cita-citaku sekarang hanya ingin menua bersamamu, om!” Gombal Isabel yang berhasil membuat hati Zidan lumer nan meleleh.
“Beraninya kau merayuku lagi pagi-pagi buta begini, belbel! Dasar bocah penggoda!” Kata Zidan menarik Isabel masuk kedalam selimut.
“Aaarrrggghhh, kau mau apa om?” Teriak Isabel di dalam selimut bersama Zidan.
“Melanjutkan yang semalam!” Sahut Zidan.
__ADS_1