
Ferry masih langkah Isabel yang semakin cepat menghampiri Albi. Isabel semakin penasaran dengan apa yang ia lihat. Sosok pria yang berdiri berdampingan dengan Albi yang ternyata seniornya yaitu Nathan.
“Kak Nathan?” Kata Isabel menatap pria tampan nan populer di sekolahnya dulu.
“Isabel?” Sahut Nathan yang juga kaget melihat Isabel.
“Kalian saling kenal?” Tanya Albi pada Isabel dan Nathan.
“Kak Albi, kak Nathan ini seniorku di taekwondo waktu aku masih SMA.” Jawab Isabel.
“Albi kau mengenal Isabel?” Tanya Nathan.
“Dia sepupuku.” Jawab Albi.
“Kak Albi kok bisa kenal dengan kak Nathan?” Tanya Isabel.
“Hehehe, kakak perempuannya Nathan adalah pacarku! Aku mengenalnya saat kami masih sama-sama di belanda!” Jawab Albi.
“Oh, begitu!” Sahut Isabel.
“Lalu kak Nathan sedang apa di Itali?” Tanya Isabel.
“Aku hanya sedang liburan saja! Karena Albi sedang berada di Itali, jadi aku berkunjung kesini dan kebetulan sekali aku bertemu denganmu, Isabel.” Sahut Nathan.
“Sangat tak terduga ya?” Ujar Albi.
“Bagaimana kalau kita pergi cari tempat nokrong?’ Kata Albi mengajak Isabel dan Nathan.
“Tapi kak….,”
“Ayolah, kebetulan Nathan berada di Itali! Kita harus mengajaknya berkeliling.” Sambung Albi.
“Ayolah, bel! Kan sudah lama juga kita tidak ketemu.” Kata Nathan yang masih mengharapkan Isabel.
“Ya sudahlah, aku ikut!” Kata Isabel.
“Eeeeiiiiiittttttt, tunggu dulu! Isabel masih ada jam kuliah penting sekarang.” Kata Ferry yang tiba-tiba muncul.
“Iya kan, Isabel?” Sambung Ferry sambil memberikan kode kepada Isabel.
Ferry membawa sudut mata Isabel kearah depan pintu gerbang dan melihat kalau ada Zidan yang sedang mengawasinya.
“Astaga, nyaris saja! Ada om Zidan.” Ucap Isabel dalam hatinya.
“Hahaha, iya benar! Aku lupa kalau ada mata kuliah yang sangat penting! Maaf ya kak aku tidak bisa ikut.” Kata Isabel.
“Ayo bel, kita jadi mahasiswa yang teladan, hehehe.” Sambung Ferry mengajak Isabel menjauh dari Albi dan Nathan sesegera mungkin.
Isabel dan Ferry langsung berlari menjauh sementara Albi dan Nathan masih bengong melihat tingkah mereka yang tiba-tiba aneh. Ferry dan Isabel pergi ke perpustakaan yang disana juga ada Caca yang sedang mengerjakan tugas.
“Hoosshh….hoosshh, akhirnya bisa kabur!” Kata Isabel ngos-ngosan bersama Ferry.
“Darimana saja sih kalian?” Tanya Caca berbisik.
“Aku lagi nyelamatin si markonah dari Nathan dan suaminya.” Kata Ferry.
“Apa? Nathan ada di Itali?” Teriak Caca.
Semua orang memperhatikan mereka karena teriakan Caca.
“Hei ini perpustakaan, pelankan suaramu!” Ujar Isabel.
“Sebelum aku melihat tuan Zidan yang lagi mengintai Isabel, aku sudah melihat Nathan bersama Albi tadi pagi! Makanya aku larang dia untuk dekati si Albi, eh, si markonah malah lempeng aja melangkah.” Kata Ferry.
"Iiihh, si Isabel nih! Kalau tuan Zidan tau kau jalan dengan Nathan bisa di kurung kau selamanya di dalam menara seperti dongeng Rapunzel.” Sambung Caca.
“Aaahh eellaahh, aku mana tau ada om Zidan disitu! Dia tadi berangkat duluan katanya ke kantor, eh malah singgah kesini.” Sahut Isabel.
“Tanks ya bambang!” Ucap Isabel.
“Traktir.” Sahut Ferry.
“Iya ah, bawel!” Sambung Isabel.
Makan siang di sebuah café yang dekat dengan kampus, ketiga trio kwek kwek itu duduk santai dan bersenda gurau. Tak lama kemudian datanglah Albi dan Nathan yang kebetulan mau makan siang di sana. Albi dan Nathan langsung menghampiri mereka karena ada Isabel.
“Kalian tidak jadi jalan-jalan? Katanya mau cari tempat nongkrong.” Kata Isabel pada Albi dan Nathan.
“Tidak jadi, kata Nathan kalau gak ada kau dia gak mau pergi.” Kata Albi.
__ADS_1
“Apaan sih, kak Albi!” Sahut Isabel.
“Kita gabung disini ya?” Tanya Albi.
“Oke…oke.” Kata Isabel.
Mereka berlima pun berbincang dan saling kenal dengan Albi dan Caca juga Ferry. Nathan terus mencuri-curi pandang kepada Isabel. Isabel yang merasa di lirik balas melirik Nathan.
“Kak Nathan menatapku terus! Buat aku jadi salah tingkah saja.” Ucap Isabel dalam hatinya.
“Eh, tapi kalau di lihat-lihat kak Nathan ganteng banget ya Lord!” Ucapnya lagi dalam hati.
Isabel kini saling tatap dengan Nathan.
“Tidak! Om Zidan lah yang tertampan sejagat raya ini.” Teriak Isabel yang tiba-tiba berdiri dari bangkunya.
Ferry, Caca, Albi dan Nathan tercengang melihat Isabel yang berteriak mengagetkan mereka.
“Bel, kau kenapa? Kesurupan?” Tanya Albi.
“Iya, dasar aneh.” Sambung Caca.
“Hehehe, aku ke toilet dulu, guys!” Kata Isabel berlari menahan rasa malunya.
Tiba di dalam toilet Isabel bukannya pipis atau apalah aktifitas di toilet, dia malah berdiri di depan cermin dan terus mengulang kalimat yang ia teriakan tadi. Bahwa OM ZIDAN LAH YANG PALING TAMPAN SEJAGAT RAYA INI.
Kalimat itu terus di ucapkannya hingga beberapa wanita yang berdiri di sampingnya berbisik-bisik memandang dirinya.
“Apa lihat-lihat? Tidak pernah lihat gadis cantik sepertiku, hah?” Teriak Isabel ngamuk pada beberapa wanita yang menggosipkan dia.
“Iiihh, dasar gadis gila.” Sahut salah satu wanita itu.
“Biarin, daripada kau tukang gossip!” Balas Isabel.
Wanita itu pun keluar dari toilet dan kini hanya Isabel sendiri berada di dalam toilet tersebut. Tak lama kemudian, terdengar suara Caca yang memanggil dirinya.
“Bel, ayo kita balik ke kampus!” Ajak Caca.
“Oke.” Sahut Isabel.
“Eh, kak Nathan dan kak Albi sudah pergi?” Tanya Isabel.
“Lagi kumat! Di otak ku sekarang hanya ada wajah si om-om itu. Hehehe.” Jawab Isabel.
“Dasar budak cintanya om-om!” Ujar Caca yang juga ikut tertawa meledek Isabel.
Sore harinya Isabel pulang kerumah dan ternyata Zidan belum kembali dari kantor. Isabel langsung masuk ke kamar dan mandi seperti biasa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk main busa sabun.
Ceklek…suara pintu terbuka terdengar dari dalam kamar mandi.
“Eh, apa itu om Zidan?” Gumam Isabel yang masih di penuhi busa sabun.
“Om, apa itu kau?” Teriak Isabel.
Hening…tiada jawaban.
Isabel tentu penasaran siapa yang masuk ke dalam kamarnya. Ia membuka pintu kamar mandi dan secara tiba-tiba Zidan muncul menangkap tubuh Isabel. Isabel kaget dan berteriak.
“Om, ngagetin saja sih!” Ujar Isabel memukul pundak Zidan.
Zidan hanya tertawa saat melihat ekspresi wajah Isabel yang kesal padanya.
“Sudah berapa lama kau bermain dengan busa sabun, hah?” Tanya Zidan masih mendekap Isabel.
“Dua jam, hehehe.” Jawab Isabel cengengesan.
“Ayo kita sambung main busanya!” Kata Zidan langsung menjatuh kan dirinya dan Isabel ke dalam bathup yang sudah di penuhi busa sabun.
Bbbyyyyyuuurrrrr…………….
Tubuh Zidan dan Isabel basah dan busa muncrat kemana-mana.
“Hei, tadi apa saja yang kau lakukan di kampus?” Tanya Zidan.
“Bersenang-senang.” Sahut Isabel menggosok tubuh Zidan dengan busa.
“Dengan kak Nathan mu tersayang?” Kata Zidan tau segalanya.
“Huh, suka banget ngintai orang!” Gumam Isabel.
__ADS_1
“Kalau tidak ada si Ferry kau pasti sudah pergi kan bersama Nathan dan Albi?” Ujar Zidan sewot.
“Iya maaf! Aku pikir karena kak Nathan cuma berlibur makanya aku mau ikut menemaninya berkeliling!” Kata Isabel.
“Awas saja kalau kau berani melakukan hal itu di belakangku.” Ancam Zidan.
“Iya, tidak akan ku lakukan!” Sahut Isabel.
“Kau suka padanya kan karena dia tampan?” Tanya Zidan cemburu.
“Tidak! Biasa aja.” Jawab Isabel.
“Bohong!” Ujar Zidan.
“Om, om tau gak siapa pria yang paling tampan sejagat raya ini?” Tanya Isabel melingkarkan kedua tangannya keleher Zidan.
“Ya pasti aku lah!” Jawab Zidan dengan percaya dirinya.
“Itu benar, memang om Zidan lah pria tertampan sejagat raya ini.” Sahut Isabel menatap Zidan.
“Jadi sekarang kau berusaha menggodaku, belbel?” Tanya Zidan mendekatkan wajahnya pada Isabel.
Isabel hanya tersenyum manis.
“Dasar bocah.” Ujar Zidan mendorong kepala Isabel.
*****
Di kediaman Abrar.
“Hhuuwwwaaaa………huwaaa…………” Si kembar Melia dan Melani nangis rebutan mainan.
Si Azlan puyeng jagain adeknya. Sementara si emak dan bapaknya lagi asik milih tempat untuk melanjutkan bulan madu yang entah untuk keberapa kalinya. Sambil menatap ponsel dan membuka aplikasi embah google, Balqis dan Abrar melihat tempat-tempat wisata luar negeri.
“Hah, luar negeri melulu! Indonesia ini luas, tempat wisatanya juga tak kalah indahnya.” Kata Balqis.
“Iya sih! Jadi kita kemana nih?” Tanya Abrar.
“Kita ke pulau Bunaken saja! Di Sulawesi utara.” Kata Balqis.
“Lihat nih tempat wisatanya, baguskan!” Sambung Balqis lagi menunjukkan gambar di posnelnya.
“Iya…iya! Ya udah kita liburan kesana saja.” Kata Abrar.
“Ajak anak-anak ya.” Ucap Balqis.
“Kalau ajak anak-anak entar gimana kita mau ena-ena untuk program anak selanjutnya, Balqis?” Ujar Abrar.
“Hehehe, iya juga sih! Ya sudahlah kita berdua saja, anak-anak titip sama kakek aja.” Kata Balqis kegirangan memeluk Abrar.
Kemudian Azlan muncul dengan posisi si Melia di kaki sebelah kanan dan si Melani di kaki sebelah kiri. Adeknya bukannya di gendong malah di seret sama Azlan.
“Mi, pi, mau kasih adek baru ya buat aku?” Tanya Azlan.
“Hehehe, iya!” Seru Abrar dan Balqis kompak.
“Aku mau gantung diri saja, kalau nanti adeknya lahir lagi dari perut mami.” Kata Azlan.
“Kenapa?” Teriak Abrar dan Balqis kaget.
“Terlalu banyak adik, aku jadi puyeng!” Jawab Azlan.
“Ada pengasuh! Selama papi banyak uang, kau gak perlu puyeng jagain adikmu.” Kata Balqis.
“Lihat lah Melia dan Melani, bahkan mereka tidak mau bermain dengan pengasuhnya. Mereka hanya mengikutiku kemana aku pergi.” Kata Azlan.
“Aku suka main sama kak Azlan.” Kata Melia.
“Aku juga.” Kata Melani.
“Apa nanti kalau aku sedang bermesraan dengan pacarku kalian akan mengikuti aku juga hah?” Teriak Azlan pada kedua adiknya itu.
Melia dan Meliani mengangguk.
Abrar, Balqis dan Azlan menghela Nafas melihat kelakuan si kembar yang tak mau jauh dari sang kakak.
“Saat dewasa aku pasti akan menjadi bujang lapuk jika adik-adikku semuanya perempuan dan mengikuti kemana aku pergi.” Kata Azlan dalam hatinya. Azlan kini hanya bisa pasrah sebagai anak tertua dari orang tuanya yang akan memberinya 11 orang adik.
__ADS_1