
Setelah semuanya terungkap, Vani mendekam di dalam penjara. Aftur tak sudi unutk menolong putri kesayanganya itu. Dia ingin memberikan pelajaran penting untuk Vani yang selama ini selalu mendapatkan apa yang dia inginkan karena tuan Aftur sangat memanjakannya.
Dania mendatangi Luisa yang masih tinggal di rumah kontrakan yang sederhana itu. Dania tau alamatnya dari Isabel yang dulunya sering mengunjungi Luisa. Pagi itu Luisa akan berangkat kerja. Saat membuka pintunya ia terkejut melihat Dania yang berdiri di hadapannya.
“Ibu.” Gumam Luisa menatap Dania.
“Luisa.” ucap Dania langsung memeluk Luisa.
Luisa membawa masuk ibunya kedalam rumah kontrakan yang sederhana itu. Di dalamnya hanya terdapat sebuah karpet dan juga meja bundar serta kamar yang berisikan sebuah ranjang kecil dan juga lemari yang sempit.
“Luisa, kembali lah kerumah.” Kata Dania.
“Tidak ibu, aku sudah nyaman tinggal disini.” Sahut Luisa menolak.
“Ruangan ini sangat kecil, bahkan rumah ini tidak seluas kamarmu di sana.” Kata Dania pilu.
“Tapi aku nyaman di rumah ini.” Sahut Luisa.
“Aku senang menjalani semuanya dengan kerja kerasku sendiri.” Sambung Luisa lagi.
“Tubuhmu sangat kurus.” ucap Dania menatap putrinya dengan iba.
“Aku ini masih single, jadi aku harus diet untuk mempercantik tubuhku.” Sahut Luisa dusta, padahal ia kesulitan membeli makanan yang enak.
Dania terus membujuk Luisa untuk kembali kerumah, namun Luisa tetap dengan pendiriannya. Dania pulang dengan tangan hampa. Saat menatap rumahnya, ia mengenang kembali saat ketiga putrinya berlarian bermain di rumah itu dengan penuh canda dan tawa. Air mata Dania tumpah mengingat kembali kenangan manis bersama ketiga putrinya tesebut.
Di ruang kantornya Zidan menatap foto Isabel sambil memeluk Gaby. Dengan pipi merah merona Zidan mengingat kenangan manis bersama Isabel dan tanpa ia sadari Rudi menatapnya yang sedang senyum-senyum sendiri.
“Maaf tuan, waktunya untuk menghadiri rapat.” Kata Rudi.
Zidan malah tidak mendengar dan terus menatap foto istri dan anaknya itu.
“Eehhheemm, tuan!” Panggil Rudi dengan suara sedikit keras membuat Zidan kaget.
“Apaan sih? mengagetkan aku saja!” Ujar Zidan kesal pada Rudi.
“Tuan, rapatnya akan di mulai.” Kata Rudi.
“Aku tidak mau rapat! Kau saja yang gantikan aku! Aku mau peluk si belbel dulu.” Sahut Zidan beranjak pergi dari ruang kantornya.
“Astaga, tingkahnya sama persis dengan tuan Abrar!” Gumam Rudi.
“aku juga rindu padamu, Caca.” ucap Rudi nangis bombai.
Zidan selalu menindas Rudi untuk lembur dengan pekerjaan kantornya sehingga Rudi tak bisa banyak menghabiskan waktu bersama Caca yang telah memberikan seorang putra padanya.
Zidan tiba di kampus Isabel, kemudian dia turun dan mencari-cari keberadaan Isabel. Lama berkeliling ia melihat Isabel sedang duduk bersama Caca di sebuah bangku taman kampus. Saat akan menghampirinya, Zidan melihat dua orang pria mendekati Isabel. tubuh Zidan langsung berapi-api saat menatap dua orang pria yang ingin berkenalan dengan istrinya itu.
Dengan jalan sedikit berlari Zidan menghampiri Isabel dan langsung menariknya lalu mencium Isabel di depan semua orang. Setelah puas mencium Isabel, Zidan kembali menatap 2 pria bule yang bengong melihat aksinya tersebut.
“Apa lihat-lihat? Dia istriku!” Ujar Zidan dengan bahasa Itali.
Kedua pria tersebut langsung kabur dan berlari menjauh dari Isabel dan Zidan. Si Caca masih ternganga melihat Zidan mendekap Isabel di depan umum.
“Om!” Panggil Isabel.
“Heeemmm?” Sahut Zidan.
“Masih tidak mau lepas nih? Malu om dilihat orang!” Kata Isabel.
“Hei, bodoh! Ini Negara Itali, semua orang bebas bermesraan di depan umum! Lagipula kau kan istriku.” Sahut Zidan.
Kemudian Zidan melihat Caca yang masih syok melihat aksinya barusan.
“Ca, si Rudi tidak pernah melakukan hal seperti tadi?” Tanya Zidan tersenyum tipis.
Caca menggeleng.
“Hahaha, sudah kuduga! Pria sedingin Rudi mana mungkin melakukan hal itu di depan umum.” Sahut Zidan tertawa.
“Tapi kak Rudi hebat, semalam bisa 5 kali di ranjang.” Ucap Caca keceplosan.
“What!” Zidan dan Isabel terkejut.
Caca bukannya malu malah mengangguk.
“Om, kenapa tidak bekerja?” Tanya Isabel.
“Aku sudah punya si dingin alias Rudi di kantor! Untuk apa aku bekerja, hehehe.” Sahut Zidan cengengesan.
“Pantas saja kak Rudi sering lembur, ternyata di tindas oleh tuan Zidan.” Gerutu Caca.
“Istirnya ngamuk! Akan aku potong gaji suamimu!” Ancam Zidan pada Caca.
“Tidak!” Teriak Caca.
Zidan terus menyeret Isabel yang melambaikan tangannya kepada Caca yang masih nangis bombai takut gaji suaminya di potong Zidan.
Zidan membawa Isabel kesebuah pantai yang indah. Mata Isabel berbinar-binar saat melihat pantai dengan desiran angin sepoi-sepoi.
“Wah, pantai!” Seru Isabel yang akan keluar dari mobil.
Zidan langsung menarik tangannya mengahalangi Isabel keluar dari mobil.
“Eh, kenapa om?” Tanya Isabel bingung.
“Aku mengajakmu kemari bukan untuk menikmati keindahan pantai saja.” Kata Zidan.
“Lalu?” Tanya Isabel semakin bingung.
“Belbel, aku mau kau!” Bisik Zidan di telinga Isabel.
“Kenapa tidak dirumah saja sih om?” Tanya Isabel.
“Aku ingin menikmatinya disini.” Bisik Zidan lagi.
“Di mobil?” Tanya Isabel polos.
Zidan mengangguk.
“Memangnya bisa, om?” Tanya Isabel mulai menggoda Zidan.
Zidan tak mau menjawab lagi langsung menyerang Isabel yang memancing hasratnya barusan, dan mobilpun bergoyang.
Malam harinya tuan Aftur kembali kantor dan langsung menuju kamarnya. Disana ia melihat Dania sedang menangis sambil menatap foto ketiga putrinya tersebut. Ibu mana yang tak terluka menerima kenyataan putri tertuanya mendekam di penjara dan putri keduanya menderita di rumah kontrakan yang sempit dan sumpek itu. Aftur menghela nafasnya dan memeluk istrinya.
“Apa kau merindukan mereka?” Tanya Aftur.
Dania bertambah sedih dan menggangguk.
“Besok aku akan membujuk Luisa untuk kembali kesini.” Kata Aftur.
“Bagaimana dengan Vani?” Tanya Dania.
__ADS_1
“Aku tidak akan membantunya keluar dari penjara!” Sahut Aftur.
“Tapi dia juga putrimu.” Ucap Dania.
“Karena aku masih menganggapnya sebagai putriku, maka aku harus memberinya pelajaran atas apa yang dia lakukan selama ini!” Kata Aftur.
“Dania, kita selama ini salah mendidik putri-putri kita! Aku tidak akan tutup mata dengan ulah yang Vani lakukan.” Sambung Aftur lagi.
Keesokan harinya tuan Aftur datang untuk menjemput Luisa, namun saat mengetuk pintu rumah kontrakannya tidak ada jawaban. Lalu ia pergi ke tempat Luisa bekerja, disana air matanya tumpah melihat Luisa berpeluh keringat membersihkan meja di café tersebut. Hatinya sangat terluka melihat Luisa yang biasanya manja kini bersusah payah hanya untuk mendapatkan uang gaji yang tak sebanding dengan uang jajan yang dia berikan dulu.
“Luisa.” Panggil Aftur dengan mata yang berkaca-kaca.
“Ayah.” Ucap Luisa terkejut.
Aftur langsung memeluk Luisa yang memakai seragam kerjanya.
“Ayah.” Ucap Luisa menangis melepaskan kerinduannya pada Aftur.
“Ayo nak, kita pulang!” Ajak Aftur.
Luisa menggeleng.
“Maafkan ayah yang sangat marah padamu.” Ucap Aftur.
“Tidak ayah, aku lah yang salah, aku yang seharusnya minta maaf padamu.” Sahut Luisa.
Dengan linangan air matanya Aftur terus membujuk Luisa untuk kembali pulang ke rumah. Luisa yang tak tega melihat ayahnya memohon, setuju untuk kembali pulang kerumahnya. Dania dan Isabel sangat senang melihat Luisa kembali kerumah. Luisa juga kembali meneruskan pendidikannya yang sudah lama ia tinggalkan.
Hari berganti dengan sangat cepatnya, di balkon kamarnya Luisa menatap kosong melihat lampu-lampu kota yang tampak kecil seperti bintang yang bersinar di langit. Angin malam mendera rambut panjangnya yang pirang. Matanya yang biru menatap sendu mengingat wajah Ferry yang kini jauh darinya.
“Sedang apa kau disana, Ferry? Aku sangat merindukanmu!” Gumam Luisa.
Isabel yang malam itu menginap dirumah orang tuanya di karenakan Zidan sedang pergi perjalanan bisnis ke luar kota, menghampiri Luisa yang sedang termenung di balkon kamarnya.
“Mikirin si Ferry ya!” Ucap Isabel meledek Luisa.
Luisa hanya tersenyum malu di ledek oleh Isabel yang tau isi hatinya.
“Sampai sekarang Ferry masih jomblo.” Kata Isabel lagi.
“Yang benar saja! Memangnya di Indonesia tidak ada cewek cantik.” Sahut Luisa.
“Banyak sih, tapi saat aku sedang chat denganya, dia selalu menanyakan dirimu.” Kata Isabel.
Luisa hanya diam.
“Kau tak percaya? Nih lihat sendiri, chat nya.” Sambung Isabel menyodorkan ponselnya.
Luisa membaca semua isi chat dari Ferry yang hanya bertanya tentang dirinya saja. Perasaan Luisa sangat bahagia ternyata selama ini Ferry masih mencintainya bahkan selalu merindukannya.
“Bel, berikan alamat Ferry padaku.” Kata Luisa.
“Untuk apa?’ Tanya Isabel.
“Nanti kau juga akan tau!” Sahut Luisa.
Isabel yang tak mau ambil pusing dengan niat Luisa, langsung memberikan alamat Ferry di Indonesia.
Pagi harinya Dania duduk menyuapi Gaby sarapan bersama tuan Aftur yang bermain-main denganya.
Isabel tampak tenang menyantap sarapannya di meja makan. Tiba-tiba terdengar jeritan seorang pelayan yang berlari membawa sepucuk surat dari kamar Luisa.
“Tuan, nyonya!” Panggil pelayan itu.
“Nona Luisa, kabur!” Jawabnya.
“Apa?” Teriak mereka panik.
Kemudian mereka membaca surat yang ditinggalkan oleh Luisa untuk kedua orang tuanya.
Ayah, ibu! aku pamit ya. Aku ingin mengejar cintaku yang berada di Indonesia. Aku sangat mencintainya. Jadi aku harap kalian merestui hubunganku dengannya. Dia hanya pria biasa, jadi aku minta ayah dan ibu jangan mengharapkan lebih darinya. Cukup doakan aku bahagia bersamanya.
Salam sayang.
Luisa..
“Ternyata dia mengejar Ferry! Pantas saja dia minta alamatnya semalam.” Gumam Isabel.
“Kau kenal dengan pria itu?” Tanya Aftur.
“Tentu saja, dia itu sahabat terbaikku! Orang tuanya saja sudah aku anggap seperti orang tuaku saat aku di Indonesia, mereka selalu menyuruhku makan kalau aku mengunjungi mereka.” Jawab Isabel yang sangat dekat dengan keluarga Ferry.
“Nanti si Luisa, pasti jadi gendut jika bertemu dengan orang tuanya Ferry! Ibunya Ferry hobi masak dan makan.” Sambung Isabel lagi.
“Sudahlah! Jika Ferry dan keluarganya baik, aku akan merestui mereka.” Kata Aftur.
“Hiks….hiks….hiks” Tangisan Dania terdengar oleh Aftur dan Isabel.
“Kenapa kau malah menangis?” Tanya Aftur.
“Aku bukan menangis, tapi terharu!” Teriak Dania.
“Aku akan memiliki menantu lagi.” sambung Dania.
Aftur dan Isabel kembali ke meja makan menyambung sarapannya, sementara Dania masih terharu biru di depan Gaby yang menatapnya bengong.
“Kenapa nenek tua ini menangis yah? Apa aku melewatkan sesuatu?” Ucap Gaby dalam hatinya yang kini sudah berusia 2 tahun.
Luisa tiba di Indonesia malam hari dan langsung pergi kerumah Norman.
“Kakek.” Sapa Luisa berlari memeluk Norman.
“Hah, cucuku yang licik, akhirnya kau mengunjungiku.” Sahut Norman.
“Kek, aku sudah berubah, tidak licik lagi.” Kata Luisa sewot.
“Iya, kakek hanya bercanda! Isabel sudah cerita semuanya pada kakek.” Kata Norman.
Norman memeluk Luisa dengan erat. Sudah lama ia merindukan pelukan dari cucunya tersebut.
Setelah cukup istirahat Luisa pergi ke alamat yang diberikan oleh Isabel. Di sana ia melihat rumah yang sederhana namun sangat damai dan teduh dengan halaman yang cukup luas yang di hiasi pepohonan yang rindang. Luisa terus mengetuk pintu rumah itu, namun tak ada sahutan dari dalam. Tiba-tiba ia di hampiri oleh tetangga disitu.
“Kau cari siapa, gadis cantik? Kau bisa bahasa Indonesia?” Tanya seorang wanita tua.
“Iya, nek! Aku mencari Ferry.” Sahut Luisa.
“Mereka semua pergi ke tempat mereka berjualan.” Kata nenek itu.
“Apa aku boleh tau alamatnya?” Tanya Luisa.
“Di ujung jalan raya di tengah kota ada sebuah minimarket yang menjual sayuran dan juga buah-buahan! Itulah tempatnya.” Jawab nenek itu.
“Terima kasih, nek.” Ucap Luisa.
__ADS_1
“Apa kau kekasih Ferry?” Tanya nenek itu lagi.
“Aku calon istrinya.” Jawab Luisa.
“Wah, Ferry sangat beruntung menikahi gadis bule sepertimu.” Kata nenek itu.
Luisa hanya tersenyum dan kemudian pamit pergi untuk menemui Ferry di minimarket yang di katakan oleh nenek tadi. Luisa bergegas pergi dengan menggunakan taksi. Setibanya disana ia melihat supermarket yang lumayan besar dengan banyak buah dan sayuran terlihat dari luar. Ferry yang saat itu sedang duduk merapikan dagangannya, membawa sekotak buah untuk disusun di atas meja. Terdengar suara pintu terbuka.
“Selamat datang!” Ucap Ferry kemudian menoleh kearah Luisa yang baru saja masuk kedalam.
Ferry terkejut melihat wanita yang sangat dirindukannya berdiri di hadapanya dengan senyuman yang sangat manis. Tanpa sadar Ferry menjatuhkan sekotak buah yang dia pegang. Ferry mengucek-ngucek matanya seakan tak percaya meliah Luisa di hadapannya.
“Ferry.” Sapa Luisa.
“Kau, benar-benar Luisa?” Tanya Ferry.
Luisa mengangguk sambil tersenyum. Luisa mendekati Ferry yang masih bengong menatapnya.
“Ferry, aku mau menjadi istrimu! Ayo kita menikah.” Bisik Luisa di telinga Ferry.
Ferry syok mendengar bisikan dari Luisa. Ia langsung jatuh pingsan. Luisa kaget melihat Ferry yang jatuh pingsan di hadapanya. Luisa menjerit dan jeritannya terdengar oleh kedua orang tua Ferry.
“Ada apa?’ Tanya ibunya Ferry.
“Dia tiba-tiba pingsan.” Jawab Luisa panik.
“Wah, kau bisa bahasa Indonesia ya?” Seru ayah Ferry yang malah fokus pada Luisa bukannya Ferry.
Luisa mengangguk.
“Fer, sadar nak.” Ucap ibunya menepuk pipi Ferry.
Ferry membuka matanya dan langsung menggenggam tangan Luisa.
“Ayah, ibu, Aku mau kawin!” Seru Ferry kegirangan.
Pleeetttaaakkkkkkkk…………..
Kepalan tangan ayahnya mendarat di kepala Ferry.
“Nikah dulu, woi! Baru kawin!” Ujar ayahnya Ferry.
Orang tua Ferry sangat senang dan ramah kepada Luisa. Mereka tak menyangka ada wanita bule nyasar yang mencintai anaknya tersebut. Luisa duduk dan berhadapan dengan orang tua Ferry yang sebenarnya sih sama konyolnya seperti Ferry.
“Nak, apa kau rabun?” Tanya ayah pada Luisa.
“Tidak!” Jawab Luisa.
“Apa kau pernah terluka di bagian kepalamu, sehingga kau mengalami geger otak?” Tanya ibu.
“Tidak!” Sahut Luisa.
“Lantas kenapa kau mencintai Ferry?” Tanya ayah dan ibu serentak.
“Apa kau tidak tau, ferry itu anak konyol yang sifatnya turun dari ibunya.” Kata ayah.
“Hei, kau juga konyol!” Teriak ibu tidak terima di bilang konyol.
“Hah, mereka malah mempermalukan aku!” Gumam Ferry.
Luisa tertawa melihat orang tua Ferry yang sangat konyol namun mesra di hadapannya.
“Dihh, dia malah ngakak!” Ujar Ferry melihat Luisa tertawa karena kekonyolan dari orang tua Ferry.
“Luisa, kau ingin pesta pernikahan seperti apa?” Tanya Ferry menggenggam tangan Luisa.
Ppplleeeettaaakkkkkkkkkkk………
“Jangan mendahului orang tua! Kami yang akan menentukan pesta pernikahan kalian berdua.” Kata ibu setelah kesal pada Ferry.
“Kita akan buat acara pesta pernikahan yang mewah untuk mereka.” Kata ayah pada ibu.
“Eeemmm, paman! Sebenarnya aku hanya ingin pernikahan yang sederhana saja.” Ucap Luisa.
“Jangan panggil paman! Kau akan menjadi menantu kami, jadi kau harus memanggil ayah dan ibu pada kami.” Kata ibu.
“Iya.” Sahut Luisa.
Karena ramai pelanggan Luisa ikut membantu Ferry dan kedua orang tuanya melayani pelanggan yang ingin membeli sayur dan buah. Mereka sudah melarang Luisa untuk mengerjakan semuanya, namun Luisa tetap hanya ingin membantu meringankan pekerjaan Ferry dan kedua orang tuanya.
Setelah menutup minimarketnya, Ferry pamit kepada kedua orang tuanya untuk mengajak Luisa jalan-jalan.
Luisa yang jarang berkunjung ke Indonesia sangat antusias untuk berjalan-jalan bersama Ferry. Dengan menggenggam tangan Ferry, Luisa pun melangkahkan kakinya berjalan menyusuri kota menikmati pemandangan malam.
Ferry yang hanya pria sederhana, mengajak Luisa makan cemilan malam di pinggir jalan. Karena rasa cintanya terhadap Ferry begitu besar, Luisa membiasakan dirinya untuk makan di pinggiran kota bersama Ferry. Luisa ingin mempersiapkan dirinya hidup sederhana bersama pria pujaan hatinya tersebut.
Setelah puas berjalan-jalan, Ferry mengantar Luisa kerumah kakeknya. Sebelum masuk mereka duduk di bangku taman halaman rumah kakeknya tersebut.
“Malam ini, bulan tampak indah ya!” Ucap Ferry menatap Luisa.
“Bulannya di sana, kenapa kau malah menatapku?” Sahut Luisa dengan wajah memerah.
“Untuk apa aku melihat kesana, bulannya ada di sampingku!” Ucap Ferry.
“Dasar gombal!” Ujar Luisa.
Mereka saling menatap. Semakin lama wajah mereka semakin dekat. Saat Ferry sedikit lagi akan mencium Luisa, tiba-tiba terdengar suara Norman.
“Eeehheeemmm! Sudah malam woi!” Kata tuan Norman.
“Hahaha, kakek, apa kabar?” Sapa Ferry langsung berdiri dengan gugup.
Si Luisa pasang wajah cemberut menatap Norman dan langsung pergi masuk kedalam rumah dengan kesal.
“Aku pamit dulu ya kek!” Kata Ferry.
“Iya, hati-hati di jalan, Fer.” Sahut Norman.
Norman mengejar Luisa yang kesal padanya.
“Hei, kau kesal?” Tanya tuan Norman.
“Kakek mengganggu saja, menyebalkan!” Sahut Luisa cemberut.
“Aku kan hanya bilang sudah malam, apa salahnya?’ Ujar Norman berdalih.
“Apa kakek tau? Aku sudah lama menunggu adegan itu tadi!” kata Luisa dengan gamblangnya.
“Dasar mesum! Ternyata kau gadis murahan.” Ujar tuan Norman.
“hhheeemmmmpppp!” Luisa langsung masuk kedalam kamarnya.
__ADS_1
Norman tertawa geli melihat tingkah cucunya yang blak-blakan kepadanya.