
Isabel kini sudah di belikan ponsel baru oleh Zidan, yang pasti nya lebih mahal dari yang sebelumnya. Ponsel cadangan tetap dalam brangkas di sita oleh Zidan. Zidan tak mengizinkan Isabel memegang dua ponsel. Dan ponsel yang baru saja ia belikan hanya boleh nomor Zidan dan keluarga serta kedua sahabatnya saja selain itu
tidak boleh. Itu perjanjian Isabel pada Zidan saat mengizinkan Isabel memegang ponsel lagi.
Hari-hari yang di lakukan Isabel seperti biasanya, pergi ke kampus saat ia sedang bosan berada di rumah dan bertemu dengan kedua sahabatnya Ferry dan Caca. Di perpustakaan tempat biasa mereka menghabiskan waktu jika menunggu jam mata kuliah lainnya. Isabel yang duduk di sudut ruangan di hampiri oleh Albi kakak sepupunya itu.
“Bel, pulang kampus ikut kita ya.” Kata Albi.
“Kemana kak?” Tanya Isabel.
“Si Nathan akan kembali ke Indonesia, jadi kita kumpul bertiga! Nathan yang mengajakmu, katanya ada yang mau di bicarakan denganmu.” Kata Albi.
“Mau bicara apa dia?” Tanya Isabel.
“Mana aku tau!” Jawab Albi.
“Aduh, gimana ya!” Kata Isabel bingung.
“Tidak baik kalau menolak ajakan Nathan, dia kan seniormu dulu! Lagian besok juga Nathan sudah kembali.” Kata Albi.
“Eeemmm, ya sudahlah, aku ikut!” Kata Isabel.
Sebenarnya Isabel takut ketauan Zidan, tapi karena memikirkan gak enak hati dan takut di bilang sombong oleh seniornya akhirnya Isabel ikut pergi bersama Albi dan Nathan ke sebuah café yang terletak di pusat kota Itali.
Isabel kini sedang bercengkrama dan besendagurau dengan Albi dan Nathan sambil menikmati minuman dan makanan yang tersedia di mejanya.
“Eh, aku ke toilet dulu!” Kata Albi langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
“Ini kesempatanku untuk mengatakan perasaanku kepada Isabel.” Ucap Nathan dalam hatinya.
“Bel.” Panggil Nathan.
“Iya….” Sahut Isabel.
“Ada yang ingin aku katakan padamu!” Kata Nathan.
“Apa kak?” Tanya Isabel.
“Sebenarnya aku sudah lama suka padamu, dari saat kamu masuk SMA.” Ucap Nathan yang membuat Isabel terkejut.
“Bel, kamu mau tidak jadi pacar aku?” Ucap Nathan menyatakan perasaannya pada Isabel.
Isabel malah bengong di tembak sama cowok tertampan di sekolahnya dulu. Tiba-tiba sebuah tangan kekar menarik kerah baju Nathan dengan kasar.
“Kau bilang apa tadi, hah? Kau menyatakan perasaanmu pada istriku?” Teriak Zidan pada Nathan.
“Om Zidan.” Ucap Isabel terkejut.
“Siapa yang kau bilang istirmu, hah?” Balas Nathan berteriak pada Zidan.
“Isabel adalah istriku!” Teriak Zidan lagi.
Bagaikan tersambar petir apa yang di dengarnya barusan sangat mengejutkan bagi dirinya yang memang tak mengetahui kalau Isabel sudah hampir 2 tahun menikah dengan Zidan.
“Beraninya kau membawa istriku.” Kata Zidan kalap pada Nathan.
Lalu munculah Albi yang baru selesai dari toilet.
“Ada apa ini?” Tanya Albi bingung.
“Kau lagi! Apa kau tidak mengatakan pada temanmu kalau Isabel adalah istriku?” Tanya Zidan menatap Albi kesal.
“Aku pikir Nathan sudah tau, karena dia kan seniornya Isabel.” Sahut Albi.
Kemudian Zidan menatap Isabel dengan luapan emosinya.
“Aku sudah katakan padamu jangan pernah mendekati pria lain di belakangku.” Kata Zidan mencengkram lengan Isabel dengan kasar.
“Om, aku……………………
Isabel langsung jatuh pingsan saat ingin menjelaskan kepada Zidan. Zidan panik saat Isabel jatuh pingsan. Ia langsung membawa Isabel kerumah sakit terdekat. Dengan cemas Zidan menunggu di luar ruangan saat dokter sedang memeriksa keadaan Isabel. Tak lama berselang dokter pun keluar dan Zidan langsung menghampirinya.
“Bagaimana kondisinya dokter? Apa yang terjadi padanya?” Tanya Zidan sangat khawatir.
“Jangan panik tuan, dia hanya kelelahan! Tolong jaga kesehatannya dan juga nutrisi dari makanannya agar janin yang ada di dalam kandungannya sehat.” Kata dokter.
“Apa? Janin?” Tanya Zidan kaget.
“Iya, istri anda sedang hamil 3 bulan! Apa anda tidak tau?” Sahut dokter itu.
Zidan langsung berlari masuk kedalam ruangan dimana Isabel masih berbaring namun sudah tersadar.
Isabel ketakutan saat Zidan menghampirinya.
“Om, maaf!” Ucap Isabel sambil menangis.
“Isabel.” ucap Zidan langsung memeluk erat dirinya.
“Eh, kenapa om Zidan malah memelukku? Perasaan tadi dia ngamuk-ngamuk!” Ucap Isabel dalam hatinya.
“Kita akan segera punya anak, sayang.” Kata Zidan tersenyum bahagia.
__ADS_1
“Hah? Maksud om aku sedang hamil?” Tanya Isabel yang tak menyadari bahwa dirinya sedang mengandung buah cintanya bersama Zidan.
“Iya sayang, disini ada buah cinta kita.” Kata Zidan mengelus perut Isabel.
“Benarkah om? Wah, aku sangat bahagia!” Seru Isabel memeluk Zidan.
“Belbel, kau harus berhenti kuliah sampai dia lahir.” Kata Zidan.
“Iya.” Jawab Isabel tersenyum bahagia.
Karena berita gembira itu luapan emosi Zidan musnah seketika pada Isabel. Zidan lalu membawa Isabel kembali pulang dan berusaha untuk menjaga kesehatan Isabel dan calon bayinya. Sementara Nathan yang kini sedang menunggu penerbangannya, hanya bisa berusaha melupakan perasaannya kepada Isabel yang kini telah berstatus istri dari pengusaha terkaya di Itali.
Dengan berat hati Nathan membuang potongan kecil gambar Isabel yang ia ambil dari foto mereka saat masih bertanding taekwondo dulu. Mencoba melupakan cinta pertamanya, Nathan pun kembali ke Indonesia.
*****
Di ranjang yang hangat Zidan sedang berbaring bersama Isabel. Zidan menyingkap baju Isabel keatas hingga terlihat perut Isabel yang masih rata. Zidan mengelus dan sesekali menempelkan telinganya di atas perut Isabel.
“Hei, nak, ini papamu!” Kata Zidan pada janin yang ada di dalam Rahim Isabel.
“Hahaha, geli, om!” Tawa Isabel saat Zidan mengelus perutnya.
“Belbel, menurutmu anak kita nanti laki-laki atau perempuan?” Tanya Zidan.
“Perempuan.” Jawab Isabel.
“Aku juga berpikir seperti itu, hehehehe.” Kata Zidan.
“Om sudah kabari ibu tentang kehamilanku?” Tanya Isabel.
“Astaga, aku lupa!” Kata Zidan.
Zidan lantas mengambil ponselnya dan segera menghubungi Liana di korea.
“Ibu, ada berita gembira.” Kata Zidan.
“Apa?” Tanya Liana.
“Aku akan jadi ayah.” Jawab Zidan.
“Ya Tuhan, syukurlah! Aku sangat bahagia mendengarnya.” Ucap Liana terharu.
“Ibu kenapa menangis?” Tanya Zidan.
“Aku sangat gembira mendengarmu bahagia bersama Isabel!” Kata Liana yang tak mampu menahan rasa harunya.
“Iya, ibu!” Sahut Zidan.
“Aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk istri dan calon bayiku.” Sambung Zidan.
“Titipkan salam ibu pada Isabel, beberapa bulan kedepan aku akan datang mengunjungi kalian di Itali.” Kata Liana.
“Iya.” Sahut Zidan.
Setelah menutup teleponnya, Zidan melihat ke samping dan ternyata Isabel sudah pulas tertidur. Di masa kehamilannya yang masih muda, Isabel lebih cepat lelah dan gampang sekali tertidur. Zidan membelai rambut pirang yang akan melahirkan anaknya itu. Ia terkenang kembali saat-saat pertama kali mereka bertemu dan saling mengumpat saat bertemu lagi lagi dan lagi. Pertemuan yang terus berulang membuat mereka berjodoh dan menikah. Kini mereka sedang menantikan kelahiran buah cinta mereka.
Ibu yang sangat bahagia membagikan kebahagiaanya kepada Balqis dan juga Clara.
Mereka turut senang mendengar Zidan akan segera menjadi ayah.
Di sisi Balqis dan Abrar.
“Akhirnya kak Zidan akan jadi ayah.” Kata Balqis.
“Jadi kita kapan?” Tanya Abrar.
“Bagaimana kalau besok lusa kita pergi liburan?” Sahut Balqis yang juga ngebet ingin punya anak lagi.
“Oke.” Kata Abrar.
Balqis dan Abrar mulai mempersiapkan keperluan mereka selama pergi berlibur ke bunaken, Sulawesi utara. Sementara Azlan yang tau kalau orang tuanya akan pergi berlibur hanya bisa nangis bombai.
“Ini adalah liburan semesterku di sekolah, bukannya aku yang pergi berlibur tapi malah orang tuaku! Dunia ini sungguh kejam.” Kata Azlan.
“Kakak, ayo main!” Ajak Melia dan Melani.
“Aku tidak mau!” Kata Azlan.
“Nanti kalian coret-coret wajahku yang tampan ini dengan spidol!” Sambung Azlan melotot pada kedua adiknya.
Melia dan Melani sangat suka melihat Balqis sedang berhias dengan make-up. Mereka pun ingin menjadi perias.
Namun bukan wajah Balqis sebagai objek melainkan Azlan. Dan bukan bedak atau lipstick sebagi make-upnya, tapi spidol yang di atas meja kerja Abrar lah yang jadi alat make-upnya. Saat Azlan sedang tertidur kedua adiknya mencoret-coret wajah Azlan dengan spidol permanent yang susah hilang walau sudah di bilas dengan air. Karena ulah kedua adiknya, Azlan tak mau pergi ke sekolah sampai warna spidol di wajahnya benar-benar hilang dan wajahnya kembali tampan.
Berangkatlah Balqis dan Abrar ke Sulawesi utara tepatnya di bunaken untuk berlibur sekaligus mencari ketenangan dalam programnya memiliki anak lagi. Wirna si pengasuh Azlan dan juga para pengasuh Melia dan Melani memboyong Azlan juga si kembar menginap dirumah kakek.
“wah….wah, cicit-cicit buyut datang berkunjung ke rumah! Buyut senang sekali.” Kata Kakek kepada ketiga cicitnya itu.
__ADS_1
“Dimana orang tuanya, Wirna?” Bisik kakek pada pengasuh ketiga bicah itu.
“Tuan dan nyonya pergi berlibur jadi mereka dititipkan disini.” Jawab Wirna.
“Hah, padahal aku ingin berencana main catur dengan tenang! Tapi ya sudahlah, aku akan menikmati coretan spidol lagi di wajahku akibat si kembar.” Kata kakek.
“Kakek buyut! Kami bawa spidol warna yang banyak loh, papi yang belikan! Kata papi biar kami puas mencoret wajah kakek buyut, hehehehe.” Kata si kembar Melia dan Melani.
“Dasar Abrar sialan!” Umpat kakek dalam hatinya.
Hanya 30 menit si kembar dan Azlan tiba dirumah kakek, rumah tersebut menjadi riuh ricuh akibat kenakalan ketiga anak Abrar. Anak-anak Abrar memanglah anak terusuh sejagat raya. Kakek hanya pasrah saat wajahnya di coret-coret oleh Melia dan Melani. Walaupun begitu kakek tetap senang dan bahagia memiliki kesempatan bermain dengan cicit-cicitnya di usianya yang sudah senja.
Tak lama kemudian Devan datang untuk mengecek kesehatan kakek setiap bulannya. Devan melihat kondisi rumah bagaikan kapal pecah. Semua mainan berserakan di setiap sudut ruangan. Devan juga terkejut melihat wajah kakek yang persis mirip ondel-ondel akibat ulah dari si kembar.
“Pppffftt, kakek mirip ondel-ondel.” Kata Devan menahan tawanya.
“Kau ini, beraninya mengejekku! Cepat periksa kesehatanku!” Perintah kakek.
“Iya, baik!” Sahut Devan.
“Melihat semua cicitku, aku ingin memiliki umur yang panjang.” Kata kakek lagi.
“Patuhilah semua yang aku katakan pada kakek, kakek harus diet daging yang berlemak, juga jauhi garam.” Sahut si Dokter.
“Iya, baiklah, dasar cerewet!” ujar kakek kesal di nasehati.
“Kek, semua bocah ini akan menginap disini?” Tanya Devan.
“Iya!” Sahut kakek.
“DImana orang tuanya? mati kah?” Tanya Devan lagi.
“Pergi liburan, aku rasa Abrar dan Balqis ingin punya anak lagi, makanya mereka ingin memiliki waktu berdua.” Sahut kakek.
“Kau kapan nambah anak? Apa cukup seorang saja?” Tanya kakek.
“Nantilah, kalau Kenzo sudah berusia 5 tahun, agar dia bisa menjadi kakak yang baik buat adik-adiknya nanti.” Sahut Devan.
Abrar dan Balqis menikmati masa liburannya di bunaken. Sedangkan Zidan lagi sibuk-sibuknya memberikan perhatian kepada Isabel yang sedang hamil muda. Isabel mulai merasakan yang namanya ngidam. Bahkan ngidamnya gak mengenal tempat dan waktu.
“Om.” Panggil Isabel pada Zidan yang sedang mendengkur saat tidur tengah malam.
“Om.” Panggil Isabel lagi.
“Hheeemmm.” Sahut Zidan.
“Aku ingin makan ubi.” Kata Isabel.
Zidan langsung membelalakan matanya.
“Ubi? Mana ada ubi disini! Ini Itali bukan korea ataupun Indonesia.” Kata Zidan.
“Tapi aku ingin ubi, hikss…hiksss….hiksss.” Ujar Isabel langsung menangis.
“Sayang, tapi disini tidak ada ubi! Kalau kentang mau tidak? Kan mirip seperti ubi.” Kata Zidan.
Isabel menggeleng sambil nangis.
“Tuhan, tolonglah aku! Kenapa dia selalu minta yang aneh-aneh saat hamil?” Ucap Zidan dalam hatinya.
Isabel terus menangis, sementara Zidan sedang berpikir keras dimana dia bisa mendapatkan ubi.
“Oh, ibu! Minta kirim saja.” Gumam Zidan.
Zidan pun menghubungi Ibu, dan meminta dikirimkan ubi untuk Isabel.
“Sayang, ditunda dulu makan ubinya ya, nanti ibu akan kirim ubi untukmu!” Kata Zidan membujuk Isabel.
“Ya sudah, kalau gitu aku mau makan ketoprak saja!” Kata Isabel.
“Aaarrggghhh, dimana aku akan mencarinya belbel? Masa iya aku bolak balik Indonesia Itali hanya untuk beli ketoprak?” Teriak Zidan menjambak rambutnya sendiri sangking frustasinya.
“Hhhuuuwwwaaaaa, om Zidan jahat! Yang makan anakmu om, bukan aku.” Teriak Isabel nangis histeris.
“Iya maaf, aku tidak bisa menuhi keinginanmu belbel!” Ucap Zidan sedih.
“Kenapa malah om yang sedih sih? Nanti aku tambah nangis nih.” Kata Isabel.
“Oke…oke! Minta yang lain ya, yang aku bisa penuhi.” Kata Zidan.
“Aku mau makan pasta buatan om yang seperti dulu.” Pinta Isabel.
“Masakan aku tidak bisa di bilang makanan, belbel! Rasanya juga pahit.” Kata Zidan.
“Hhuuuwwwwaaaaa, om Zidan memang jahat!” Teriak Isabel.
“Oke sayang, baiklah! Suamimu yang tampan ini akan masak pasta untukmu.” Ucap Zidan.
“Hore!” Seru Isabel senang.
Dengan naik kepunggungnya, Zidan pun membawa Isabel turun keruang dapur untuk melihat Zidan masak makanan untuknya. Zidan mulai dengan menggunakan celemek untuk memasak sementara Isabel menatapnya dengan bahagia karena Zidan semakin perhatian padanya semenjak dirinya hamil buah cinta mereka.
__ADS_1