
Isabel menatap dirinya di depan cermin sambil membolak balikkan tubuhnya. Zidan yang lagi libur kerja hanya mendengkur sekencang-kencangnya saat tidur padahal hari sudah mulai siang.
“Sepertinya aku gendutan!” Gumam Isabel.
“Aaarrgghhh, melar nih karena baru melahirkan!” Pekik Isabel lagi.
Makan siang bersama di ruang makan.
“Kau cuma makan sayur?” Tanya Zidan pada Isabel.
“Hhheeemmmm.” Sahut Isabel mengiyakan.
“Sudah kayak kambing saja, hehehehe.” Ujar Zidan.
“Aku gendut om! Makanya aku diet makan sayur.” Sahut Isabel.
“Gendut dari mananya sih?” Tanya Zidan.
Isabel langsung berdiri dan memperlihatkan bagian tubuhnya yang sedikit menonjol.
“Nih, lemak hewani semuanya nih.” Kata Isabel.
“Sexy, tau! Mmuuuccchh.” Sahut Zidan memonyongkan mulutnya meledek Isabel.
"Mesum!” Sahut Isabel sewot.
Zidan hanya terkekeh saat Isabel sewot padanya. Tak lama Liana menghampiri sambil menggendong Gabriella.
“Cuma makan sayur, bel?” Tanya Liana.
“Ibu, aku gendut! Aku mau diet.” Sahut Isabel.
“Gendut darimananya sih? Tubuhmu bagus kok.” Kata Liana.
“Tetap mau diet! Nanti kalau aku gendut om Zidan cari wanita lain.” Gumam Isabel.
“Pppffftt, hahahaha.” Liana dan Zidan ngakak.
“Apaan sih, malah tertawa.” Ujar Isabel kesal.
“Lucu banget nih bocah!” Kata Zidan masih meledak tertawa seraya menunjuk Isabel.
“Bocah, apaan? Aku sudah jadi mama om.” Sahut Isabel.
“Sudah…sudah! Kau itu tidak gendut, makan yang benar, jangan sayur saja.” Kata Liana pada Isabel.
Isabel yang masih manyun duduk kembali dan makan makanan yang di sajikan di meja makan. Saat Isabel sedang makan, Zidan memperhatikan Isabel terus.
“Makin berisi makin cantik si bocah!” Ucap Zidan dalam hatinya menatap Isabel.
“Kalau dia masuk kuliah, pasti banyak pria yang mendekatinya! Kalau si belbel tertarik dengan pria-pria di kampusnya, bagaimana dengan nasibku ini ya Lord?” Kata Zidan lagi dalam hatinya.
“Om, aku kembali kuliah ya!” Pinta Isabel.
“Tidak!” Sahut Zidan.
“Gaby masih kecil.” Sambungnya lagi.
“Kan ada ibu disini! Lagian Gaby juga sudah punya pengasuh.” Sahut Liana.
“Tetap tidak boleh.” Sahut Zidan.
“Eeeheemm, Apakah ibu ada mencium aroma kecemburuan disini?” Tanya Isabel menyindir Zidan.
“Bukan aroma cemburu, bel, tapi aroma takut di selingkuhi, karena merasa dirinya sudah tua jadi takut di selingkuhi.” Sambung Liana ikut menyindir Zidan.
“Apaan sih!” Sahut Zidan kesal merasa tersindir.
Liana dan Isabel hanya tertawa saat melihat Zidan kesal sambil makan.
*****
Di Indonesia Clara yang sudah hamil tua datang kerumah Balqis karena sedang bosan. Kenzo yang takut di tindas oleh Melia dan Melani langsung berlari masuk ke kamar Azlan.
“Lagi hamil tua gini kenapa repot-repot kesini sih! Kan kau tinggal telepon aku biar aku yang menemuimu.” Kata Balqis.
“Aku bosan, aku ingin jalan-jalan!” Sahut Clara.
“Devan tau kau keluar?” Tanya Balqis.
“Tidak, dia lagi sibuk dirumah sakit.” Jawab Clara.
Tiba-tiba Clara meringis kesakitan.
“Eh, kenapa?” Tanya Balqsi panik.
“Aduh, tiba-tiba sakit nih.” Sahut Clara.
“Abrar!” Teriak Balqis memanggil Abrar yang sedang berada di ruang kerjanya.
Abrar langsung turun dan menemui Balqis. Ia juga kaget melihat Clara yang kesakitan sambil memegang perutnya.
“Ada apa?” Tanya Abrar.
“Si Clara mau lahiran!” Kata Balqis.
“Oke…oke! Aku panggil supir dulu.” Kata Abrar panik.
“Aaarrggghhhh!” Jerit Clara yang membuat Balqis semakin panik.
Clara terus menjerit kesakitan saat merasakan kontraksi pada perutnya. Balqis yang panik sambil menemani Clara jatuh pingsan seketika.
“Hei, aku yang mau melahirkan kenapa kau yang pingsan, bodoh!” Teriak Clara pada Balqis yang sudah tergeletak pingsan di lantai.
“Abrar!” Teriak Clara.
“Apa?” Sahut Abrar.
“Istrimu pingsan!” Teriak Clara lagi.
Abrar semakin panik saat melihat kedua wanita itu. Yang satunya jerit-jerit kesakitan, yang satunya lagi tergeletak pingsan.
“Dasar kalian merepotkan aku saja!” Teriak Abrar frustasi.
Clara pun di bawa kerumah sakit oleh Leo yang kebetulan sedang berada dirumah Abrar. Sementara Abrar menemani Balqis yang belum sadar di kamarnya. Tak lama kemudian, Balqis tersadar dan langsung duduk berhadapan dengan Abrar.
“Hhuuuoooeeekkkk” Balqis muntah tepat di tubuh Abrar.
“Aaarrgghhh, kenapa kau muntah ditubuhku, Balqis?” Teriak Abrar terkejut.
Bukannya menjawab Balqis malah terus-terusan muntah di tubuh Abrar. Si Abrar hanya bisa pasrah saat tubuhnya menjadi tempat muntahan Balqis.
“Aku pusing!” Gumam Balqis.
“Aku lebih pusing lagi, mencium bau muntahanmu ini, Balqis!” Sahut Abrar sewot.
“Jangan-jangan kau hamil!” Sambung Abrar lagi.
Balqis bukannya menjawab perkataan Abrar, ia malah tumbang karena sangking pusingnya.
Di Itali ibu mendapatkan kabar kalau Clara sudah melahirkan anak kedua mereka berjenis kelamin perempuan Liana sangat senang mendengarkan kabar itu dan akan berangkat ke Indonesia untuk menjenguk Clara yang masih di rawat di rumah sakit. karena Isabel belum ada aktivitas lain, maka Liana mengajak ikut serta Isabel dan
memboyong Gaby. Zidan yang masih banyak pekerjaan tidak bisa ikut, namun ia menyiapkan beberapa anak buahnya untuk memata-matai Isabel selama berada di sana tanpa sepengetahuan Liana.
Menempuh perjalanan panjang sampailah mereka di apartemen yang ada di Indonesia. Liana dan Isabel pergi menjenguk Clara di rumah sakit dan Gaby di titipkan kepada pengasuhnya di apartemen.
Dirumah sakit.
“Dimana Kenzo?” Tanya Liana sambil menimang cucu barunya itu.
“Dia tidak mau kesini untuk melihat adiknya!” Sahut Clara.
“Kenapa?” Tanya Liana.
“Dia tidak suka adik perempuan, karena sering di tindas sama si Melia dan Melani.” Jawab Clara.
“Astaga, ada-ada saja!” Gumam Liana.
“Isabel, bagaimana pengalamanmu menjadi seorang mama muda?” Tanya Clara.
__ADS_1
“Sangat menyenangkan!” Sahut Isabel.
“Pasti kak Zidan bahagia banget tuh, iya kan bu?” Kata Clara.
“Iya, sudah pasti dia bahagia!” jawab Liana.
Sore harinya saat akan kembali ke apartemen, Liana mengajak Isabel pergi ke salah satu pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa keperluan. Saat sedang belanja Liana mendadak ingin ke toilet, akhirnya Isabel sendirian menunggu Liana. Tak lama kemudian seorang pria menghampirinya. Dan itu adalah Nathan yang tak sengaja bertemu dengan Isabel di pusat perbelanjaan itu.
“Hai Isabel, kau kembali kesini?” Sapa Nathan dengan ramah.
“Iya kak, aku mengunjungi iparku!” Sahut Isabel.
“Dimana suamimu?” Tanya Nathan.
“Di Itali, dia sedang sibuk jadi tidak ikut kesini!” Jawab Isabel.
“Oh ya, kakak sedang apa disini? Belanja?” Tanya Isabel.
“Iya, aku berbelanja sekalian sedang menunggu seseorang.” Jawab Nathan.
“Apa kau sedang menunggu pacarmu?” Tanya Isabel.
“Hehehehe, iya! Aku belum lama pacaran dengannya.” Sahut Nathan sumringah.
Terjadilah obrolan panjang di antara mereka berdua. Anak buah Zidan yang sedang memata-matai Isabel mengambil beberapa gambar Isabel dan Nathan yang sedang bercengkrama sambil tertawa. Tak lama kemudian pacar Nathan datang dan mereka pun berpisah. Isabel masih setia menunggu Liana yang berada di toilet.
Gambar hasil jepretan mata-mata itu dikirim kepada Zidan melalu ponselnya. Zidan yang hanya melihat foto-foto itu langsung kesal dan marah di kantornya. Ia merasa Isabel janjian bertemu dengan Nathan saat berada di Indonesia.
“Beraninya kau Isabel! Kau mengambil kesempatan untuk bertemu dengannya saat kau berada di sana tanpa aku! Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu.” Kata Zidan dengan luapan amarahnya.
Zidan langsung pergi menuju Indonesia untuk menemui Isabel disana. Tanpa memberi kabar apapun, Zidan tiba dan langsung menemui Isabel yang sedang bermain bersama Gaby di ruang tengah apartemen. Saat itu Liana juga berada di apartemen.
“Zidan, kau datang.” Sapa Liana.
Zidan yang sedang kesal tak menghiraukan Liana yang sedang berbicara padanya. Zidan menuju kearah Isabel dan mengambil Gaby dengan kasar untuk di berikan kepada pengasuhnya.
“Om, kenapa tidak memberi tau kalau mau kesini?” Tanya Isabel bingung melihat Zidan tiba-tiba datang ke Indonesia.
“Kenapa aku harus memberitahukanmu dulu? Apa agar kau bisa menyembunyikan kelakuanmu saat kau disini?” Teriak Zidan yang membuat Gaby menangis.
“Om ada apa? Kenapa tiba-tiba marah?” Tanya Isabel semakin bingung.
“Kau belum mau jujur padaku, hah?” Bentak Zidan lagi.
“Kenapa om?” Isabel gemetar melihat Zidan membentaknya.
“Jelaskan semua foto-foto ini?” Teriak Zidan sambil melemparkan foto-foto kepada Isabel.
Isabel melihat foto dirinya yang sedang berbincang dengan Nathan di pusat perbelanjaan itu.
“Apa kau ingin mengakuinya?” Tanya Zidan geram.
“Mengakui apa?” Isabel balik bertanya.
“Kau janjian bertemu dengan Nathan selama kau disini kan?” Ujar Zidan mencengkram lengan Isabel dengan kuat.
Isabel meringis kesakitan saat Zidan memperlakukannya dengan kasar.
“Zidan, lepaskan Isabel! Kau menyakitinya!” Teriak Liana marah pada Zidan.
“Ibu, ini urusanku dengan Isabel! Aku mohon jangan mencampuri urusanku.” Kata Zidan.
Zidan yang tak ingin Liana melihatnya berbuat kasar pada Isabel langsung menyeret Isabel masuk kedalam kamar.
Di dalam kamar Zidan kembali berteriak kepada Isabel.
“Beraninya kau selingkuh di belakangku, Isabel.” Ujar Zidan mencengkram wajah Isabel.
“Lepaskan aku!” Teriak Isabel emosi.
“Oh, kau bahkan berani melawanku sekarang.” Sahut Zidan semakin kesal pada Isabel.
“Aku muak karena kau selalu saja cemburu buta padaku!” Teriak Isabel menantang Zidan.
“Apa? Kau bilang aku cemburu buta? Sudah jelas kau bertemu denganya lagi. Roto itu buktinya!” Kata Zidan.
“Aku pergi bersama ibu ke pusat perbelanjaan, dan saat ibu sedang ke toilet tanpa sengaja kami bertemu disana!” Kata Isabel.
“Terserah kau! Aku tidak perduli lagi padamu.” Sahut Isabel langsung pergi meninggalkan Zidan dari kamar itu.
Saat Isabel sudah di ambang pintu, Zidan menariknya dan menghempaskan tubuhnya ke ranjang dengan sangat kasar.
“Jangan pernah mengacuhkan aku saat aku sedang bicara, Isabel! Kalau tidak aku akan berbuat kasar padamu.” Ancam Zidan yang sudah gelap mata.
“Kau bunuh saja aku!” Teriak Isabel sambil berlinang air mata.
“Kau, kau menantangku, hah?” Ujar Zidan langsung mencengkram lengan Isabel.
Isabel hanya diam menatap Zidan yang sudah tenggelam dengan emosinya. Saat itu Liana masuk dan melihat apa yang dilakukan Zidan pada Isabel. Dengan cepat Liana mencoba untuk menghentikan Zidan.
“Zidan, lepaskan Isabel! Apa kau sadar dengan tindakanmu ini, hah?” Teriak Liana mencoba untuk menyadarkan Zidan.
Liana terus memukul-mukul lengan Zidan yang masih mencengkram lengan Isabel. Liana kembali berteriak sambil memukuli Zidan. Seketika tangan Zidan terlepas dari lengan Isabel yang hampir membiru olehnya. Zidan masih kesal dan pergi keluar dari kamar. Liana langsung memeluk Isabel.
“Kau tidak apa-apa, nak?” Tanya Liana sangat khawatir pada Isabel.
“Ibu.” Tangisan Isabel pecah sambil memeluk ibu yang duduk di sisi ranjang.
Liana terus mencoba untuk menenangkan Isabel saat itu, sementara Zidan masuk ke kamar lainnya untuk menyesali perbuatannya kepada Isabel.
“Apa yang aku lakukan? Aku sangat kasar padanya, tadi!” Gumam Zidan sambil melihat kedua telapak tanganya.
“Apa yang sudah aku lakukan?” Teriak Zidan ngamuk dan menghancurkan semua benda yang ada di kamar itu.
Liana yang mendengar Zidan berteriak dan suara benda-benda yang pecah dari kamar itu hanya diam tak ingin memperpanjang masalah saat semuanya sedang emosi. Liana kembali melihat semua foto-foto yang berserakan di lantai. Saat Zidan sudah agak tenang, Liana menghampirinya di dalam kamar yang sudah seperti kapal pecah.
“Zidan, ibu ingin bicara padamu.” Kata Liana.
“Aku tidak mau!” Sahut Zidan yang duduk di lantai dengan menekukkan kakinya.
“Ada apa denganmu? Kenapa kau menjadi seperti monster di hadapan Isabel?” Tanya Liana.
“Dia mengkhianati aku, ibu!!” Teriak Zidan.
“Hanya karena foto-foto ini?” Tanya Liana melemparkan semua foto ke wajah Zidan.
Zidan tak bergeming.
“Jika kau tidak mencintai Isabel lagi, ceraikan saja dia! Kau tidak perlu mencari-cari kesalahannya dengan menggunakan anak buahmu untuk memata-matainya.” Ujar Liana kesal.
“Justru karena aku mencintainya makanya aku menjadi seperti ini, ibu!” Teriak Zidan kembali emosi.
“Apa ini yang kau sebut cinta? Kau memata-matainya, kau cemburu buta, kau tidak percaya pada orang yang kau cintai! Bahkan kau menjadi monster di hadapannya tadi! Apa itu namanya cinta, hah?” Balas Liana berteriak pada Zidan.
Zidan semakin kalut dengan perkataan ibu yang langsung mengenai hatinya.
“Zidan, dengar kan aku baik-baik! Kelakuanmu kepada Isabel sudah sangat keterlaluan!” Kata Liana.
“Apa ibu tidak memahami aku? Aku tidak suka melihatnya berbincang mesra dengan pria lain.” Kata Zidan.
“Tapi bukan berarti kau menghalangi Isabel berkomunikasi dengan orang lain, Zidan!” teriak Liana kesal.
“Kecemburuanmu itu kelewat batas.” Sambung Liana lagi.
“Asal kau tau, waktu itu aku yang mengajak Isabel untuk pergi ke pusat perbelanjaan itu! Dan foto-foto yang di ambil itu saat aku sedang berada di toilet!” Kata Liana menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
“Omong kosong! Ibu berusaha membelanya?” Ujar Zidan masih tak mau percaya.
“Terserah kau, Zidan!” Sahut Liana hilang kesabaran.
“Jika suatu saat Isabel pergi karena kecemburuanmu itu, jangan pernah menyesalinya!” Sambung Liana kemudian pergi meninggalkan Zidan.
Zidan kembali kesal dan menghancurkan barang-barang yang tersisa di kamar itu. Isabel terus menangis di kamarnya sambil memeluk Gaby. Ia sangat marah pada Zidan yang terus saja cemburu buta. Ditambah lagi sikap kasar yang di berikan Zidan padanya membuat Isabel semakin kesal pada Zidan.
Isabel yang sedang marah pada Zidan memutuskan untuk pergi meninggalkan apartemen itu membawa serta Gaby yang belum berusia setahun. Diam-diam Isabel pun keluar dari apartemen itu dan kembali ke Itali. Isabel berniat untuk bersembunyi ke apartemen yang diberikan Zidan padanya di itali. Liana mencari anak buah Zidan yang menjadi mata-mata untuk Isabel. Setelah mendapatkan mata-mata tersebut, Liana menyeretnya ke hadapan Zidan.
“Ada apa ini, ibu?” Tanya Zidan bingung.
“Ayo ceritakan semuanya pada tuanmu apa yang sebenarnya terjadi!” Kata Liana pada mata-mata itu.
“Tuan! Sebenarnya foto itu aku ambil saat nyonya Liana sedang berada di toilet.” Kata mata-mata itu yang sudah babak belur di hajar anak buah Liana.
__ADS_1
“Apa maksudmu?” Tanya Zidan.
“Saat itu nona Isabel dan nyonya Liana sedang berbelanja, dan saat nyonya pergi ke toilet, ada pria yang mendekati nona Isabel! Lalu aku mengambil fotonya untuk di kirim kepadamu, tuan.” Jawab mata-mata itu.
“Apa kau melihat pria itu dan nona Isabel bermesraan?” Teriak Liana.
“Tidak! Mereka hanya berbincang biasa! Bahkan aku mendengar kalau pria itu sedang menunggu kekasihnya datang dan tanpa sengaja bertemu dengan nona Isabel.” Jawab mata-mata itu lagi.
Mendengar perkataan anak buahnya, Zidan menjadi lemas. Tubuhnya seakan tak berdaya mengetahui yang sebenarnya terjadi. Zidan mengepalkan tangannya dan mendaratkan pukulan keras kepada anak buahnya yang di tugaskan untuk memata-matai Isabel.
Setelah puas ia menghajar anak buahnya, Zidan berlari menuju kamar Isabel untuk meminta maaf. Saat Zidan membuka pintu kamar itu, ia tak melihat siapapun disana. Zidan pun mulai panik karena tak mendapati Isabel dimanapun di apartemen itu. Ia bertanya pada semua pelayan dan juga pengasuh Gaby, namun tak ada satupun dari mereka yang tau keberadaan Isabel. Zidan terduduk lemas di sofa sambil menundukkan kepalanya.
“Apa kau tau kesalahanmu sekarang, Zidan?” Tanya Liana.
“Ibu, dia meninggalkan aku!” Sahut Zidan dengan perasaan yang begitu hampa.
“Itu buah dari sikap kecemburuanmu yang terlalu berlebihan! Aku sudah memperingatkanmu, Zidan, jangan pernah menyesali apa yang sudah kau lakukan.” Kata Liana.
Liana berusaha biasa saja di hadapan Zidan bahkan itu seakan tak perduli dengan perasaan Zidan yang sedang dirundungi kesedihan dan juga penyesalan yang luar biasa. Padahal dalam hatinya, Liana sangat mengkhawatirkan Isabel dan Gaby yang pergi entah kemana. Diam-diam Liana mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari Isabel keseluruh kota itu. Namun hingga fajar tiba, Liana belum juga mendapatkan kabar tentang keberadaan Isabel.
Sudah dua hari berlalu masih belum ada berita keberadaan Isabel yang mereka pikir Isabel masih berada di Indonesia. Zidan semakin tak karuan di dalam kamarnya. Ia sangat frustasi memikirkan Isabel yang pergi membawa serta anaknya meninggalkan dirinya. Liana semakin khawatir dengan keadaan Zidan dan juga Isabel yang juga belum ada kabar sama sekali.
Malam hari saat waktu di Indonesia, ponsel Liana berdering. Dengan cepat Liana mengangkatnya karena telepon itu dari Isabel. Isabel menghubungi Liana hanya tak ingin membuat Liana mengkhawatirkan dirinya yang pergi membawa Gaby.
“Isabel, kau dimana nak? Aku sangat khawatir padamu!” Kata Liana khawatir.
“Ibu, maafkan aku! Karena pergi diam-diam.” Sahut Isabel terisak.
“Kau ada dimana? Sekarang ibu akan menyusulmu.” Tanya Liana.
“Aku di Itali! Aku di apartemen yang diberikan om Zidan padaku.” Jawab Isabel.
“Astaga, kau sudah kembali ke itali!” Sahut Liana.
“Ibu, tolong rahasiakan keberadaanku dari om Zidan!” Kata Isabel.
“Kenapa nak?” Tanya Liana.
“Aku….aku sangat marah padanya, ibu! Dia sudah keterlaluan.” Sahut Isabel.
“Iya, ibu mengerti! Baiklah, jika itu maumu.” Sahut Liana.
Setelah menutup teleponnya, Liana melihat Zidan yang masih tak karuan di dalam kamarnya sambil menatap layar ponselnya melihat foto-foto Isabel saat mereka sedang berada di dubai. Sebenarnya Liana tak kuat melihat kondisi Zidan saat itu, namun untuk membuat Zidan jera dengan sikapnya yang cemburuan kepada Isabel, Liana terpaksa mengacuhkan Zidan yang sedang di rundung kesedihan.
*****
Hampir dua minggu setelah kepergian Isabel, Zidan semakin tidak karuan.
Liana memutuskan untuk membawa Zidan kembali ke Itali.
“Zidan, mau sampai kapan kau akan seperti ini! Ayo kembali ke Itali.” Kata Liana.
“Tidak, aku yakin Isabel akan kembali kesini, ibu!” Sahut Zidan bersikeras.
“Zidan, jika kau seperti ini, semuanya akan menjadi hancur! Kau mempunyai tanggung jawab lain.” Kata Liana.
Zidan masih tak bergeming.
“Zidan, jangan jadikan rasa bersalahmu menghancurkan segala kehidupanmu! Jika kau mencintai Isabel, rubah sikapmu dan berusahalah mencari dia! Bukan hanya diam disini menunggunya kembali.” Kata Liana lagi.
“Aku harus mencarinya kemana, ibu? Semua tempat di kota ini sudah aku telusuri, namun aku tetap tidak menemukan istri dan anakku!” Ujar Zidan.
Liana yang tak tau lagi harus berbuat apa terhadap Zidan, akhirnya meminta bantuan kepada Abrar untuk menangani masalah yang sedang Zidan dan Isabel hadapi. Liana menemui Abra di kantornya dan menceritakan semuanya kepada Abrar.
“Ibu, beri tau saja pada Zidan dimana keberadaan Isabel.” Kata Abrar.
“Aku tidak bisa, Abrar! Aku sudah terlanjur berjanji pada Isabel untuk tidak memberitahukan keberadaannya kepada Zidan! Aku juga ingin memberikan efek jera pada Zidan agar tidak berprilaku seperti itu lagi pada Isabel.” Jawab Liana.
“Kalau begitu bujuk saja Isabel untuk kembali kesini, gampangkan?” Sahut Abrar.
Plaakk…………
“Dasar bodoh! Aku meminta bantuan padamu, tapi kau malah membuatku semakin frustasi.” Ujar Liana memukul Abrar sang menantu.
“Huh, malah aku yang di serang!” Gumam Abrar sewot.
“Jadi aku harus apa, Abrar? Si Zidan sudah seperti orang gila! Tidak nafsu makan, dan bahkan dia juga tidak mau mengurus dirinya sendiri.” Kata Liana pusing memikirkan putranya.
“Ibu kembalilah menemani Zidan, aku akan cari jalan keluarnya.” Kata Abrar.
Liana pun menuruti apa yang Abrar katakan. Saat Liana akan keluar dari ruangan Abrar, langkah kaki Liana terhenti.
“Eh, apa si Balqis hamil lagi? Aku dengar dia sering muntah-muntah!” Tanya Liana pada Abrar.
“Iya, hehehe.” Jawab Abrar cengengesan.
“Aku benar-benar tak menyangka kalau aku akan memiliki cucu yang banyak!” Kata Liana sambil berlalu meninggalkan ruangan Abrar.
“Tenanglah ibu, aku akan memberimu 12 cucu!” Teriak Abrar antusias.
Liana tak menghiraukan ucapan Abrar, ia langsung bergegas pergi meninggalkan kantor Abrar. Malam harinya saat sedang menemani Balqis di kamar, Abrar terus memikirkan jalan keluar untuk mengatasi masalah yang sedang di hadapi oleh Zidan dan Isabel. Balqis memandangi Abrar sedari tadi.
“Kau sedang memikirkan apa?” Tanya Balqis.
“Jalan keluar!” Sahut Abrar.
“Jalan keluar itu di sana, arah pintu! Tinggal dibuka saja pintunya dan kau bisa langsung keluar.” Kata Balqis.
“Bukan jalan keluar ruangan yang aku bilang!” Ujar Abrar sewot.
“Tapi jalan keluar untuk masalah yang sedang Zidan dan Isabel hadapi saat ini.” Sambung Abrar lagi.
“Sejak kapan kau bodoh? Gitu saja tak bisa.” Ujar Balqis.
“Apaan sih? Kenapa jadi aku yang bodoh?” Teriak Abrar kesal.
Kemudian Balqis mengambil ponselnya dan menghubungi Zidan.
“Kak, aku dengar Isabel sudah kembali ke Itali! Dan sekarang dia sedang menantimu disana.” Kata Balqis membocorkan semuanya pada Zidan melalui ponselnya. Abrar terkejut meilhat Balqi yang begitu mudahnya membocorkan rahasia keberadaan Isabel.
“Apa? Kau tau darimana?” Tanya Zidan.
“Itu tidak penting! Yang penting pergilah susul istrimu dan minta maaf lah padanya.” Sahut Balqis.
Zidan langsung menutup teleponnya.
“Hei, apa yang kau lakukan? Kalau ibu tau kau yang mengatakannya pada Zidan, mati lah kau, Balqis!” Kata Abrar pada istrinya yang judes itu.
“Ibu tidak akan menghajarku, karena aku sedang mengandung cucunya, hehehehe.” Sahut Balqis.
“Kau ini! Pokoknya kalau ibu marah aku tidak ikutan.” Kata Abrar langsung berbaring tidur.
“Huh, dasar penakut!” Umpat Balqis yag juga ikut berbaring untuk tidur.
Zidan langsung membereskan barang-barangnya dan bergegas ingin kembali ke Itali.
“Kau mau kemana Zidan?” Tanya Liana.
“Isabel berada di Itali! Aku akan kembali dan menemuinya, ibu.” Sahut Zidan.
“Siapa yang mengatakannya padamu?” Tanya Ibu.
“Balqis.” Sahut Zidan.
Zidan bergegas kembali ke Itali dengan burung besi yang membawanya menemui Isabel disana. Liana tidak ikut karena harus menemani Clara yang baru saja melahirkan. Namun saat itu Liana tidak menghubungi Isabel untuk mengatakan kalau Zidan sudah tau dimana keberadaan dirinya. Liana juga melihat penyesalan yang ada pada diri Zidan, dan Liana berharap Zidan dan Isabel dapat kembali bersama.
*****
Di kamar mandi apartemennya, Isabel tengah sibuk memandikan Gaby. Sambil bermain busa, Gaby sangat ceria.
Hari-hari yang dilakukan oleh Isabel adalah mengurus putrinya sendirian di apartemen itu tanpa pengasuh.
Isabel sangat menikmati hari-hari bersama putrinya itu. Isabel mengajak putrinya bermain, menyuapinya makan, bahkan menggendongnya saat pergi berbelanja keperluan mereka berdua di supermarket terdekat.
Malam hari saat Gaby sudah lelap tertidur di samping Isabel, Isabel merebahkan tubuhnya menatap langit-langit kamar. Perasaan kosong yang ia rasakan saat itu.
“Aku merindukanmu, om!” Gumamnya.
__ADS_1
Tak lama ia mendengar suara bel pintu berbunyi. Isabel mengernyitkan dahinya sambil berfikir siapa yang datang pada tengah malam begini. Bel terus berbunyi yang mengusik telinga Isabel, namun Isabel tak mau membuka pintunya sama sekali. Ia takut kalau yang datang itu adalah orang yang akan berbuat jahat kepadanya. Agar tak terlalu terganggu dengan bel pintu yang terus berbunyi, Isabel menutup telinganya dengan earphone dan mendengarkan lagu dari ponselnya.