ISABEL

ISABEL
TAMU TENGAH MALAM


__ADS_3

Bel pintu apartemen yang sedang di tempati oleh Isabel terus berbunyi. Isabel yag sudah mengenakan earphone di telinganya sedang asik mendengarkan lagu di ponselnya. Merasa tak ada yang membuka pintunya, Zidan menekan beberapa digit angka sebagai kode untuk membuka pintu apartemen itu.


Pintu terbuka Zidan pun masuk dan menuju kamar utama. Isabel yang asik mendengarkan musik tak tau kalau Zidan sudah masuk kedalam apartemennya. Zidan perlahan membuka pintu kamar dan melihat Gaby yang sedang tertidur pulas di samping Isabel yang masih menggoyangkan kakinya sambil mendengarkan musik sambil memejamkan matanya.


Zidan duduk di tapi ranjang yang otomatis membuat sensasi goyangan pada ranjang. Isabel yang merasakan goyang pada ranjangnya langsung membuka matannya dan terkejut melihat Zidan sudah duduk di sampinganya. Isabel hendak menjerit sangking kagetnya. Tau Isabel akan menjerit Zidan langsung menutup mulut Isabel dengan telapak tanganya. Ia tak ingin Gaby terbangun karena jeritan Isabel yang kaget melihatnya.


“Jangan berteriak, nanti Gaby terbangun!” Bisik Zidan pada Isabel.


Isabel hanya mengangguk dan Zidan pun melepaskan tanganya dari mulut Isabel. Isabel masih menatap Zidan yang juga sedang menatap dirinya.


“Maaf!” Ucap Zidan yang membuat hati Isabel bergetar.


Mata mereka berdua masih saling menatap. Air mata Isabel berlinang saat menatap Zidan.


“Maafkan kebodohanku, Isabel!” Ucap Zidan lagi dengan rasa penyesalannya.


Isabel tak tega melihat air mata yang jatuh dari sudut mata Zidan. Ia melihat wajah Zidan yang lusuh dengan tampak di penuhi oleh rambut-rambut halus yang kini mulai melabat entah berapa lama Zidan tidak bercukur hingga wajahnya menjadi brewokan. Sisi rambutnya yang mulai agak memanjang di bagian telinganya dan juga tubuhnya terlihat lebih kurus dari biasanya yang bugar. Isabel tau Zidan tak merawat dirinya sendiri setelah ia pergi meninggalkan Zidan. Isabel langsung memeluk Zidan dan tangisan mereka berdua pun pecah di kamar itu.


“Kenapa kau menjadi seperti ini, om?” Tanya Isabel terisak dalam tangisnya.


Zidan melepaskan pelukan Isabel.


“Isabel, mari kita bercerai!” Ucap Zidan membuat Isabel terkejut.


“Ce…cerai? Tapi kenapa om?” Teriak Isabel yang membuat Gaby terbangun dan menangis.


“Aku tidak ingin lagi melihatmu dalam kehidupanku.” Sahut Zidan.


“Aku tidak mau!” Teriak Isabel lagi.


“Itu sudah keputusanku, Isabel!” Balas Zidan.


“Dalam beberapa hari surat cerainya akan selesai, tanda tangani lah surat itu nanti.” Sambung Zidan sambil melangkah pergi dari apartemen itu.


Isabel kembali menangis saat Zidan mengatakan hal yang tak pernah ia mengira akan keluar dari mulut pria yang selama ini selalu memanjakannya dan juga menyayanginya. Sambil memeluk Gaby, Isabel terus memecahkan keheningan malam dengan suara isakan tangisnya.


Zidan kembali kerumahnya dan menyendiri di dalam kamar utama yang begitu banyak kenang-kenangannya bersama Isabel.


“Lebih baik begini, Isabel! Agar kau bahagia.” Ucap Zidan dengan raut wajah yang sedih.


Dalam kesedihannya hanya dengan Ferry lah ia dapat membagikannya. Ia tak mau melibatkan orang tua dan ibu mertuanya dengan masalah yang sedang ia hadapi bersama Zidan. Isabel yang membawa Gaby kembali bertemu dengan Ferry di café tempat biasa mereka bertemu. Dengan isak tangisnnya, Isabel mengutarakan kesedihannya kepada Ferry.


“Kenapa bisa sampai serumit ini sih?” Tanya Ferry.


“Aku tak tau! Aku juga gak pernah menyangka kalau dia akan menceraikan aku.” Sahut Isabel.


“Bel, apa kau akan menandatangani surat perceraian itu nanti?” Tanya Ferry.


“Entahlah! Kalau om Zidan memang tidak mencintai aku lagi itu bisa saja terjadi! Aku akan menanda tanganinya…” Sambung Isabel.


“Bel, apa kau sudah kehilangan akal, hah? Tuan Zidan tidak mungkin tidak menucintaimu lagi, ini pasti ada sesuatu dibalik semuanya.” Kata Ferry.


“Aku tak tau lagi harus berbuat apa.” Sahut Isabel.


“Tenanglah Isabel!” Ucap Ferry.


Setelah puas mengutarakan kesedihannya, Isabel pergi kerumah orang tuanya. Disana ia tak menampakkan raut wajah yang sedih. Dia tersenyum ceria menyembunyikan masalah yang sedang ia hadapi. Aftur dan Dania bermain dengan Gaby yang sudah bisa meracau khas bayinya.


“Ayah, aku tau dimana keberadaan Luisa.” Kata Isabel.


“Aku tak ingin tau dimana dia.” Sahut Aftur.


“Ayah, kenapa ayah begitu mengeraskan hati untuk Luisa? Kondisinya tidak baik, ayah.” Kata Isabel.


“Apa kau tidak mengerti apa yang aku katakan? Aku tidak ingin melihatnya lagi.” Ujar Aftur.


“Bagaimana hubunganmu dengan Zidan? Apa kalian baik-baik saja?” Tanya Aftur.


“Iya, kami baik-baik saja! Kami tambah bahagia semenjak kehadiran Gaby di kehidupan rumah tangga kami.” Jawab Isabel dusta.


“Syukurlah kalau begitu!” Sahut Aftur.


“Maaf ayah, aku berbohong!” Ucap Isabel dalam hatinya.


Selang beberapa hari Rudi datang ke apartemen Isabel untuk memberikan surat cerai dari Zidan.


“Nona, tuan Zidan memerintahkan kau untuk menandatangani surat cerai ini!” Kata Rudi.


“Dimana tuanmu?” Tanya Isabel.


“Tuan sedang sibuk di kantor, makanya dia mengutusku untuk datang menemuimu.” Sahut Rudi.


Isabel mengambil surat cerai yang diberikan Zidan padanya. Lalu Isabel menyuruh Rudi pergi dari apartemennya. Isabel menitipkan Gaby kepada Dania. Kemudian ia pergi menemui Zidan di kantornya. Namun saat ia sudah berada di ruang kerja Zidan, Isabel tidak menemukan Zidan dan ternyata salah satu karyawan disana mengatakan kalau Zidan sudah berminggu-minggu tidak pernah datang ke kantornya.


Lantas Isabel pun pergi kerumah dan menemukan Zidan yang sedang berada di dalam kamar tepatnya disudut ruangan. Kondisi Zidan saat itu sangat kacau. Dirinya sangat lusuh bagaikan tak pernah terurus. Saat Isabel masuk Zidan melihat kearahnya sebentar kemudian berpaling.


“Kau ingin kita bercerai kan?” Tanya Isabel pada Zidan.


Lalu Isabel mencari sebuah pulpen di dalam laci dan langsung menanda tangani surat cerai itu.


“Ini, sudah aku tanda tangani.” Sambung Isabel melemparkan surat cerai itu ke wajah Zidan.


“Sekarang giliranmu tanda tangan surat cerai itu!” Kata Isabel geram.


“Pergilah! Aku pasti akan menanda tanganinya.” Sahut Zidan.

__ADS_1


“Aku benci kau, Zidan!” Teriak Isabel pada Zidan.


Isabel begitu emosi ketika itu. Teriakan Isabel penuh amarah dan kekesalannya terhadap Zidan.


Zidan mendekati Isabel dan menatapnya.


“Aku melakukannya karena aku ingin melihatmu bahagia, Isabel.” Kata Zidan lirih dengan raut wajah yang sedih.


“Bahagia dari mananya bodoh! Apa kau tidak lihat aku terus saja bersedih karenamu?” Teriak Isabel.


“Isabel.” Ucap Zidan tak sanggup melihat istrinya terus menangis.


“Pergilah!” Teriak Zidan mengusir Isabel dari rumahnya.


“Aku tidak mau!" Teriak ISabel lagi.


Zidan terdiam sejenak saat Isabel mengucapkan hal itu padanya. Ia tau betapa cintanya Isabel kepada dirinya.


Namun dengan sifatnya yang selalu terbakar cemburu melihat Isabel dengan pria lain, membuat Zidan tak ingin membuat Isabel tersiksa akan sifat buruknya itu. Isabel berlari kearah Zidan dan memeluknya dengan begitu erat.


“Om lebih baik aku membunuhmu, dari pada aku melihatmu dengan wanita lain.” Ucap Isabel memeluk Zidan dengan erat sambil menangis.


“Tidak ada wanita lain, Isabel! Aku hanya tak ingin membuatmu tersiksa karena sifatku yang selalu terbakar cemburu melihatmu dengan pria lain, walaupun itu temanmu.” Kata Zidan membalas pelukan Isabel padanya.


“Kita saling mencintai kenapa harus berpisah?” Teriak Isabel.


“Isabel, tolong pahamilah maksudku.” Ujar Zidan.


“Aku tak peduli!” Sahut Isabel.


Kemudian Isabel mengambil akta cerai yang belum ditanda tangani oleh Zidan. Ia merobek kertas tersebut dengan sangat kesal hingga menjadi kepingan-kepingan kecil. Zidan melihat apa yang dilakukan oleh Isabel yang merobek surat perceraian itu. Dengan kasar Zidan langsung menarik lengan Isabel dan kemudian menciumnya serta mendekap tubuh Isabel. Mereka pun menumpahkan rasa kerinduan yang berkecamuk di dalam hati mereka setelah lama berpisah rumah.


“Om, jangan ceraikan aku….hiks…hiks..hiks” Ucap Isabel dalam isak tangisnya.


“Tidak akan! Aku tidak akan pernah berpikir lagi untuk menceraikanmu, Isabel! Kau milikku, kau hanya milikku.” Sahut Zidan kembali mendekap istrinya.


“Tapi, bagaimana jika aku menyakitimu lagi karena sifat cemburuku?” Tanya Zidan.


“Om, percayalah pada cintaku! Aku tidak akan pernah menduakanmu.” Sahut Isabel.


“Aku hanya ingin kau dan Gaby dalam hidupku.” Sambung Isabel lagi.


“Maafkan aku, Isabel, maafkan aku!” Ucap Zidan mencium kening Isabel.


Hening beberapa saat.


“Belbel!” Panggil Zidan.


“Hheemmm.” Sahut Isabel.


“Dimana Gaby?” Tanya Zidan.


“Ayo kita pergi jemput Gaby!” Ajak Zidan.


“Om saja yang pergi, aku lelah, aku mau tidur!” Kata Isabel.


Isabel berbalik dan tidur seketika dengan tubuhnya yang hanya di balut dengan selimut. Zidan bangkit membersihkan dirinya dan bergegas pergi untuk menjemput Gaby di rumah mertuanya. Setibanya disana ia disambut oleh Vani yang masih menggilai dirinya.


“Kak Zidan, apa kabar? Sudah lama tidak bertemu denganmu!" Sapa Vani masih ingin menarik perhatian Zidan.


“Menyingkirlah, aku mau menjemput Gaby!” Sahut Zidan dingin.


Zidan melewati Vani begitu saja tanpa mau menatap sedikitpun kepada Vani. Vani mengikuti Zidan menemui Dania yang menggendong Gaby.


“Dimana Isabel? Dia tidak ikut kesini?” Tanya Dania pada Zidan.


“Tidak, dia lelah dan sedang beristirahat! Aku kesini untuk membawa Gaby pulang kerumah.” Kata Zidan.


“Baiklah, tunggu sebentar aku akan bawakan tes perlengkapan punya Gaby.” Sahut Dania.


Dania pun pergi mengambil tas perlengkapan Gaby di dalam kamarnya. Zidan yang sedang menggendong Gaby di hampiri oleh Vani lagi.


“Eeemmm, apa Isabel berada dirumahmu?” Tanya Vani.


“Pertanyaan bodoh apa ini? Kau pikir dia tinggal dimana kalau tidak di rumahku?” Ujar Zidan jengkel pada Vani.


“Bukan begitu! Aku hanya ingin tau saja.” Kata Vani mati kutu di hadapan Zidan.


Setelah mendapatkan tas perlengkapan Gaby, Zidan langsung pamit dan pergi membawa Gaby pulang kerumahnya. Vani masuk kedalam kamarnya dan menghubungi seseorang yang tak lain adalah anak buah Zidan yang ditugaskan sebagai mata-mata untuk Isabel saat berada di Indonesia.


Flashback on


Sebelum Isabel dan ibu berangkat ke Indonesia untuk mengunjungi Clara yang baru saja melahirkan, Zidan yang tak bisa ikut karena sibuk dengan kerjaannya memerintahkan 2 anak buahnya untuk memata-matai Isabel selama berada di Indonesia. Selama ini Vani diam-diam mencari tau tentang sifat Zidan yang sangat cemburuan kepada Isabel. Vani ingin sekali melihat rumah tangga adik bungsunya itu hancur. Dengan memberikan uang yang besar kepada salah seorang mata-mata itu, Vani menyuruhnya untuk memanas-manasi Zidan. Kebetulan saat di Indonesia Isabel bertemu dengan Nathan, dan foto itu lah yang menjadi senjata untuk Vani menghancurkan biduk rumah tangga Zidan dan Isabel.


“Bagaimana dengan hubungan mereka sekarang?” Tanya Vani pada mata-mata itu.


“Tuan Zidan sangat marah saat aku mengirimkan foto-foto itu padanya! Dan sekarang aku dengar kalau nona Isabel pergi meninggalkan tuan Zidan.” Jawab mata-mata itu.


“Hahahahaha, memang ini yang aku inginkan!” Kata Vani tertawa jahat.


“Hei, nona jangan lupa dengan sisa bayaranku.” Kata mata-mata itu.


“Tenang saja! Kau bekerja dengan baik…aku akan segera mentransfer uangnya padamu.” Sahut Vani.


Setelah menutup teleponnya, Vani tertawa puas karena berhasil membuat Isabel dan Zidan berpisah.

__ADS_1


“Setelah mereka berpisah, aku akan merebut hati Zidan! Hahaha, Isabel yang sangat malang.” Ucap Vani penuh percaya diri.


Flashback off


Setelah kepulangan Zidan, Vani masuk kedalam kamarnya dan menghubungi mata-mata itu lagi.


“Kau bilang padaku kalau isabel pergi meninggalkan Zidan, lantas kenapa sekarang aku dengar kalau mereka baik-baik saja, hah? Apa kau mencoba untuk menipuku?” Teriak Vani pada mata-mata yang tak lain adalah anak buah Zidan.


“Hei nona, aku tidak menipumu! Aku hampir mati di hajar oleh anak buah nyonya Liana karenamu!” Ujar mata-mata itu.


“Asal kau tau saja, aku bahkan kehilangan pekerjaan menjadi anak buahnya setelah melakukan hal yang kau perintahkan padaku.” Aambung mata-mata itu lagi.


‘Dasar brengsek! Kau sudah menerima uang yang banyak dariku, kenapa kau malah menyalahkan aku? Dasar idiot!” Teriak Vani marah.


“Nona, apa kau ingin aku bersaksi bahwa kau lah yang menyuruhku untuk membuat tuan Zidan dan istrinya berpisah?” Tanya mata-mata itu mengancam Vani.


“Apa maksudmu? Kau mengancamku, haT?” teriak Vani semakin kesal.


“Tentu saja aku mengancammu sekarang! Aku punya bukti rekaman saat kau memerintahkan aku melakukan pekerjaan kotor itu.” Ancam mata-mata itu kepada Vani.


“Beraninya kau!” Umpat Vani begitu kesal padanya.


“Aku tidak akan membayangkan apa yang akan terjadi padamu jika tuan Zidan mengetahuinya, nona!” Sambung mata-mata itu lagi.


“Apa yang kau inginkan?” Tanya Vani.


“Aku ingin uangmu! Kirimkan aku uang 500 juta, maka bukti yang aku pegang akan menjadi milikmu, heheh.” Ucap mata-mata itu.


Vani sangat kesal dan langsung membanting ponselnya ke lantai.


“Brengsek! Darimana aku bisa mendapatkan uang segitu banyak?" Gumam Vani kebingungan.


Vani berpikir untuk mencari jalan agar mendapatkan uang dengan jumlah yang tidak sedikit itu. Ia pergi melihat situasi rumahnya dan melihat Dania yang sedang membaca majalah di ruang tengah. Vani masuk kedalam kamar orang tuanya dan mengambil beberapa perhiasaan milik Dania untuk di jual. Vani juga sempat meletakkan perhiasan lainnya ke dalam tas yang ada di lemari Inggrid, pelayan yang telah setia padanya selama ini untuk menjadi kambing hitam. Vani terburu-buru untuk menjual beberapa perhiasan demi mendapatkan uang untuk mengambil bukti rekaman kejahatannya pada mata-mata itu. Setelah hari itu Inggrid yang menjadi pelayan setianya harus terusir keluar dan masuk kedalam sel tahanan karena telah dituduh mencuri perhiasan milik Dania.


 


 


*****


Isabel dan Zidan pun kembali mesra setelah melalui pertengkaran yang hampir saja membuat kehidupan rumah tangga mereka hancur. Saat Gaby sedang tidur di kamarnya, Isabel membantu Zidan untuk mencukur rambut-rambut halus yang mulai menebal di bagian wajahnya. Isabel duduk di atas pangkuan Zidan dan fokus dengan mencukurnya. Zidan terus menatap Isabel yang terlalu fokus dengan apa yang sedang ia kerjakan di atas pangkuan Zidan.


“Belbel!” Panggil Zidan.


“Hhheemmm?” Sahut Isabel.


“Apa kau akan benar-benar membunuhku saat itu?” Tanya Zidan mengingat kejadian waktu itu.


“Iya!” Jawab Isabel santai.


“Huh, kau bilang kau cinta padaku, tapi kau malah ingin membunuhku!” Gumam Zidan sewot.


“Hei om, kau juga begitu! Kau bilang kau mencintaiku, tapi malah berniat menceraikan aku! Aku pikir saat kau datang ke apartemen malam itu, kau akan mengajakku baikan, tapi malah semakin menyakiti aku!” Balas Isabel.


“Maaf ya sayang.” Ucap Zidan.


Isabel hanya tersenyum saat melihat Zidan mengatupkan dua telapak tangannya untuk memohon maaf padanya. Isabel pun mengangguk.


“Om, kau kan sudah percaya dengan cintaku, jadi jangan cemburuan lagi.” Kata Isabel.


“Iya, aku akan mencoba untuk tidak cemburu buta lagi.” Sahut Zidan.


“Kalau begitu aku bisa kuliah lagi kan om?” Pinta Isabel.


“Tidak!” Sahut Zidan.


“Kenapa?” Tanya Isabel.


“Kau itu sudah jadi istri seorang pria yang harta kekayaannya tak akan habis walaupun kau menghambur-hamburkannya! Jadi kau tidak perlu kuliah.” Sahut Zidan.


“Om, pendidikan itu penting.” Ujar Isabel.


“Sejak kapan kau tertarik dengan pendidikan, bukannya kau lebih suka jadi anak bandel dengan bermain game sepanjang waktu? Bilang saja kalau kau memang ingin bermain dengan teman-teman sebayamu kan di kampus?” Tanya Zidan.


“Iya sih, tapi setidaknya aku ingin mendapatkan gelar sarjana, om!” Sahut Isabel.


Zidan menatap Isabel yang manyun.


“Hah, ya sudah lah, kau boleh kembali menyelesaikan pendidikanmu! Tapi ingat bukan berarti kau lupa dengan statusmu yang sekarang! Kau sudah menjadi istri dan juga seorang ibu.” Kata Zidan mengalah.


“Iya om sayang.” Sahut Isabel senang.


“Cium aku, disini!” Perintah Zidan menunjuk ke pipinya sebelah kanan.


“Mmuuaacchh.” Isabel melakukannya.


“Disini…disini……disini…….disini……..disini.” Zidan menunjuk ke semua tubuhnya yang membuat Isabel kesal.


Brrruukkkkkk…


Kepalan tangan Isabel mendarat di wajah Zidan.


“Hhhheeemmmmpppppp!” Isabel turun dari pangkuan Zidan dan pergi begitu saja.


Zidan hanya diam melompong melihat Isabel yang tiba-tiba memukulnya.

__ADS_1


“Apa salahku ya Lord? Aku hanya minta cium!” Gumam Zidan sambil mengelus bekas tonjokan Isabel padanya.


Isabel terkekeh saat mendengar gumaman Zidan.


__ADS_2