
Zidan yang ingin menuju keruang kerjanya, mendengar suara berisik dari dalam kamar. Zidan menempelkan telinganya ke pintu kamar Isabel.
“WELCOME TO MOBILE LEGEND!” Suara yang terdengar dari dalam kamar.
“Kurang ajar, dia ngegame online lagi! Wah nih anak, minta di buat jera nih!” Ujar Zidan langsung pergi mengambil kunci cadangan.
Zidan membawa segerombol kunci cadangan untuk membuka pintu kamar itu.
“Eh, yang mana kuncinya ini? Banyak sekali!” Gumam Zidan bingung menatap segerombol kunci.
Zidan pergi memanggil pelayan untuk membuka pintu kamar tersebut agar dia tidak repot-repot kesal dengan kunci sebanyak itu. Pintu pun terbuka, Isabel terperanjat melihat Zidan masuk ke dalam kamar.
“Om.” Ucap Isabel langsung menjatuhkan ponsel cadangannya.
“Kau sedang apa belbel? Memperdayai aku agar kau bisa ngegame disini?” Tanya Zidan dengan wajah angkernya.
“Hehehe, om tampan banget malam ini! Lagian aku tiaak ngegame kok!” Ucap Isabel berdalih.
Hening….
“SHOUT DOWN!” Suara game online di ponsel Isabel manandakan kalau hero yang digunakan Isabel mati terbunuh.
“Kau pintar berbohong sekarang ya? Sini ponselmu!” Kata Zidan merampas ponsel Isabel.
“Om jangan, itu ponsel cadanganku!” Kata Isabel memohon.
“Mana ponsel yang aku belikan?” Tanya Zidan.
“Sudah rusak.” Gumam Isabel.
“Kenapa?” Tanya Zidan.
“Aku banting, habisnya aku kesal karena kau bilang aku cewek murahan, saat kau telepon aku banting aja!” Sahut Isabel.
“Belikan yang baru ya om, hehehe.” Pinta Isabel.
“Tidak akan!” Ujar Zidan.
Zidan pun keluar dari kamar itu dengan membawa ponsel cadangan milik Isabel untuk bermain game di belakang Zidan.
“Om, jangan di bawa dong!” Kata Isabel mengikuti Zidan.
“Tidak, kau tidak boleh pegang ponsel.” Sahut Zidan.
“Kalau tak pegang ponsel gimana caranya nanti jika kau mau menghubungi aku?” Tanya Isabel.
“Masih ada telepon rumah.” Kata Zidan meletakkan ponsel Isabel didalam brangkas.
“Telepon rumah?” Tanya Isabel bingung.
“Iya! Kau harus di hukum karena telah membohongi aku selama ini! Aku kira kau tidak ngegame lagi, ternyata di belakangku kau masih memainkannya.” Sahut Zidan.
“Selama sebulan kau tidak boleh keluar rumah! Apa kau mengerti?” Sambung Zidan.
“Bagaimana dengan kuliahku om?” Tanya Isabel.
“Sejak kapan kau peduli dengan belajar? Jangan modusin aku lagi, aku tau kau ke kampus cuma ingin ngumpul dengan sahabatmu saja, bukannya serius belajar!” Kata Zidan yang tau sifat Isabel.
“Ddihhh, ini om-om, tau aja aktifitasku di kampus yang sebenarnya.” Gumam Isabel dalam hatinya.
“Om!” Panggil Isabel.
“Apa?” Tanya Zidan.
“Ponsel.” Sahut Isabel.
“Tidak akan ku berikan, sampai kau benar-benar berjanji tidak ngegame lag.” Kata Zidan.
“Huh, menyebalkan!” Umpat Isabel melangkah keluar kamar.
“Hei, kau mau kemana?” Tanya Zidan.
“Mau tidur lah di kamar yang tadi.” Jawab Isabel cemberut.
“Belbel, apa kau tau, di kamar itu ada penghuninya.” Kata Zidan.
“Maksud om?” Tanya Isabel.
“Di kamar itu kadang-kadang terdengar suara aneh, seperti ada hantunya gitu! Serem banget lah pokoknya.” Ujar Zidan menakut-nakuti Isabel.
“Dih, tidak mempan! Apaan ada hantu! Dasar tukang berkhayal.” Kata Isabel tetap pergi ke kamar itu untuk tidur sendirian disana.
“Ya sudah kalau tak percaya!” Kata Zidan.
Isabel pun tidur dengan nyenyak di kamar itu. Sementara Zidan masih terjaga karena tak ada Isabel di sampingnya.
Hampir seminggu Isabel tidak di perbolehkan keluar dari rumah. Ferry dan Caca bingung menghubungi Isabel, karena ponselnya pun di sita oleh Zidan dan di masukkan kedalam brangkas. Alhasil agar kedua sahabatnya tidak khawatir padanya, ia menghubungi Caca lewat telepon rumah dan mengatakan hal yang sedang terjadi padanya. Seminggu lamanya Isabel terpenjara dalam rumah begitu pula dengan Zidan yang kesulitan tidur setiap malamnya karena Isabel tidur di kamar lain.
“Aaarrgghhh, menyebalkan! Betah banget si belbel tidur sendirian tanpa aku.” Teriak Zidan kesal.
“Ini tidak bisa di biarkan! Aku harus cari cara agar belbel tidur denganku lagi.” Kata Zidan memikirkan rencana yang bagus.
One hour later…..
“Kenapa otakku tidak bekerja sih? Gimana ya caranya?” Gumam Zidan masih kebingungan belum menemukan cara.
“Eh, telepon si Abrar aja! Dia kan banyak ide konyol.” Sambung Zidan lagi.
Lantas Zidan pun menghubungi Abrar.
“Ada apa kakak ipar? Lagi pisah kamar ya dengan belbel?” Tanya Abrar yang tau segalanya dari Ferry.
“Sejak kapan kau jadi dukun? Tau saja kalau aku pisah kamar dengan belbel.” Sahut Zidan.
“Hehehe, Abrar gitu loh!” Kata Abrar cengengesan.
“Apa kau ada ide?” Tanya Zidan blak-blakan.
“Banyak! Mau yang mana?” Sahut Abrar.
“Kasih tau dulu idenya, begok! Lalu nanti aku pilih pakai ide yang mana.” Kata Zidan.
“Oke oke.” Sahut Abrar.
“Eeemmmm, si belbel tidur sendirian kan di kamar itu?” Tanya Abrar.
“Iya!” Jawab Zidan.
“Berani juga ya dia, hehehe.” Ucap Abrar.
“Aku tutup dulu ya teleponnya!” Kata Zidan ngambek.
“Aaahhh eelahh, begitu aja ngambek! Slow man.” Kata Abrar.
Hening……..
“Woi, masih hidup apa tidak sih?” Teriak Zidan.
“Aku ada ide yang brilian! Gimana kalau kau takut-takuti saja dia, pura-pura ada hantu di kamar itu.” Kata Abrar.
__ADS_1
“Aku udah pernah bilang padanya kalau di kamar itu ada hantu, dia malah anteng-anteng aja!” Sahut Zidan.
“Kalau cuma pakai omongan ya tidak mempan lah! Buktikan kalau hantunya benaran nyata, hehehe.” Kata Abrar.
“Hehehe, bener juga! Gak sia-sia adikku nikah sama orang gila sepertimu.” Kata Zidan langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Tut…tut…..
“Aaaarrggghhh, dasar ipar sialan!” Umpat Abrar kesal pada Zidan.
Zidan pun memulai aksinya dengan menggunakan beberapa pelayan menjadi hantu untuk menakut-nakuti Isabel di kamarnya. Isabel yang sedang membuka majalah di ranjangnya, terkejut saat melihat sosok bayangan putih yang sekelebat melintas di jendela kamarnya.
“Iihhh, apa tuh?” Gumam Isabel berdegik ngeri.
Tak lama kemudian ia mendengar suara tangisan wanita yang sayup-sayup.
“Itu suara tangisan siapa sih? Seram sekali!” Kata Isabel semakin ketakutan.
“Isabel…….isabel……….Isabel……….” suara rintihan yang memanggil namanya.
“Aaarrggghhh, siapa itu?” Teriak Isabel melihat kesegala arah.
Tak lama kemudian muncul bayangan putih dari balik jendela kamarnya dengan rambut acak-acakan. Isabel sangat kaget saat melihat sosok itu. Ia berteriak lari ketakutan keluar dari kamarnya menuju kamar Zidan.
“Om Zidan!” Teriak Isabel.
Zidan yang tau Isabel sedang ketakutan hanya terkekeh jahat sambil berbaring di ranjangnya.
Tok tok tok…..
“Om, buka pintunya!” Teriak Isabel mengetuk pintu kamar Zidan.
Dengan segera Zidan membuka pintu kamarnya. Isabel langsung masuk dan bahkan bersembunyi di balik selimut.
“Kau kenapa belbel?” Tanya Zidan pura-pura tak tau.
“Om, ada hantu di kamar itu! Ternyata om benar, iiihhh serem banget.” Jawab Isabel langsung memeluk Zidan.
“Jadi?” Tanya Zidan.
“Om, aku tidur sama om lagi ya disini.” Pinta Isabel.
“Tidak, pergilah tidur di kamar yang lain sana! Banyak kamar di rumah ini.” Kata Zidan menolak.
“Om, tega amat sih! Aku takut.” Kata Isabel.
“Beneran nih mau tidur bareng aku lagi?” Tanya Zidan.
“Iya…iya!” Isabel menganggukkan kepalanya berulang kali.
“Ada syaratnya.” Kata Zidan.
“Apa?” tanya Isabel.
“Yang pertama jangan pernah membantahku, yang kedua jangan pernah dekat-dekat dengan pria manapun, dan yang ketiga, kau harus bersedia melayani aku setiap malam, belbel.” Bisik Zidan di telinga Isabel.
“Iya! Tidak usah buat syarat juga aku sudah melakukannya setiap hari.” Gumam Isabel langsung berbaring hendak tidur.
Zidan mendekatkan dirinya pada Isabel.
“Belbel, ingat kan syarat yang ketiga harus apa? Hehehehe.” Bisik Zidan lagi yang membuat wajah Isabel memerah.
Tanpa persetujuan Isabel, Zidan langsung menyantap tubuh istrinya tersebut. Sementara para pelayan yang berpura-pura menjadi hantu masih tertawa geli melihat Isabel yang lari ketakutan dari kamar itu. Rencana mereka malam itu berhasil membuat Isabel jera untuk tidak pisah kamar lagi dengan Zidan.
Beberapa hari kemudian Isabel masih sangat penasaran dengan kamar yang berhantu itu. Ia mencoba untuk masuk lagi pada siang harinya. Ia berpikir disiang bolong tidak mungkin ada hantu.
Dengan menghela nafas ia pun masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya. Isabel celingak celinguk sambil berdegik ngeri mengingat bayangan putih di balik jendela kamar malam itu. Saat Isabel masuk kedalam kamar itu, tanpa sengaja Zidan yang pulang ke kerumah untuk mengambil berkas yang tertinggal melihatnya.
“Hehehe, dia pasti penasaran dengan hantu bohongan pada malam itu! Kerjain ah.” Gumam Zidan tersenyum licik.
Zidan bersembunyi di bawah jendela kamar dari luar dan berjongkok agar Isabel tak dapat melihat dirinya. Dengan merubah suaranya menjadi seram, Zidan pun mulai menakut-nakuti Isabel yang berjalan menuju ke jendela kamar itu dari dalam.
“Hhheemmmm…..hihihihihihihihihi………hhhhuuuwwaaahhh…..hhhuuuu…..” suara Zidan menakuti Isabel.
“Siapa itu?” Teriak Isabel mundur lima langkah.
“Aku jin penghuni kamar ini! Hihihihihihihi.” Balas Zidan sambil tertawa geli.
“Aaarrrggghhh! Dasar hantu bodoh, beraninya kau muncul di siang bolong begini!” Teriak Isabel.
Wwwwwwuuuuuusssshhhhhhhh………….., Isabel berlari sangat kencang dari kamar itu karena ketakutan. Setelah Isabel pergi Zidan tertawa terbahak-bahak melihat Isabel yang lari begitu kencang seperti atlet pelari yang sedang mengikuti lomba kejuaraan.
“Hahahaha, lucu sekali dia! dasar bocah, tau takut tapi malah penasaran.” Ucap Zidan.
Isabel yang ketakutan tertelungkup di dalam selimut. Zidan masuk kedalam kamar dan melihat Isabel dengan posisi yang menggelikan, namun ia berusaha biasa saja seperti tidak ada kejadian apa-apa.
“Belbel, kau kenapa?” Tanya Zidan berpura-pura tidak tau.
“Ada hantu!” Sahut Isabel bergetar.
“Apa kau ke kamar itu lagi?” Tanya Zidan.
Isabel hanya mengangguk.
“Bandel sih! Sudah di bilangin jangan kesana lagi malah tidak mau menurut.” Ujar Zidan.
Isabel tak mau menanggapi Zidan, dia hanya diam dan terus menutupi dirinya dengan selimut. Zidan hanya terkekeh saat melihat Isabel yang ketakutan akibat ulahnya tadi.
“Hei, kau tidak ke kampus?” Tanya Zidan.
“Dosennya cuti!” Sahut Isabel asal bicara padahal asli males belajar.
“Bukan dosennya yang cuti, tapi kau lah yang suka bolos! Dasar pemalas.” Ujar Zidan.
“HHeemmpp!!!” Sahut Isabel lagi.
“Terserah.” Sambung Zidan.
“Oh iya, aku yang larang dia keluar rumah, makanya dia tidak ke kampus! Hehehe, faktor usia dan pekerjaan yang banyak membuatku jadi pikun!” Ucap Zidan dalam hatinya.
Zidan pun kembali ke kantornya setelah mengambil berkas yang ia perlukan. Malam harinya sebelum makan malam Zidan pulang dari kantor, tubuhnya sangat lelah dengan pekerjaannya. Saat menuju ke kamar ia melihat seorang pelayan membawakan air minum dan obat.
“Untuk siapa obat itu?” Tanya Zidan.
“Nona sedang sakit, tuan! Obat ini untuk nona.” Jawab pelayan itu.
Zidan kaget mendengar Isabel sakit karena tadi siang dia masih baik-baik saja. Zidan pun berlari masuk kedalam kamr dan melihat Isabel yang pucat berbaring di ranjang.
“Belbel sayang, kau kenapa?” Tanya Zidan sangat cemas dan menyentuh kening Isabel yag panas.
“Astaga, kau demam!” Kata Zidan mulai panik.
“Om, aku takut!” Ucap Isabel lemah.
“Takut pada siapa?” Tanya Zidan.
“Hantu itu.” Sahut Isabel.
“Eh, apa dia demam karena ketakutan tadi siang? Ya ampun, kalau tau begini aku tidak akan menakut-nakutinya tadi.” Gumam Zidan dalam hatinya.
__ADS_1
Zidan pun memberikan obat penurun demam dan mengompres Isabel dengan air es. Zidan merasa bersalah telah membuat Isabel jatuh sakit akibat dari ulahnya tadi siang. Ia pun berjaga semalaman untuk mengganti kompres Isabel sampai demamnya turun.
Keesokan paginya Isabel bangun dan melihat kesebelahnya yaitu Zidan dengan kantung mata berwarna hitam akibat tidak tidur semalaman menjaga Isabel.
“Kau sudah bangun, belbel!” Ucap Zidan kelelahan.
“Aaarrgghh, hantu!” Jerit Isabel sambil menunjuk Zidan.
“Hei, ini suamimu, bukan hantu!” Kata Zidan.
“Om, kantung matamu hitam aku kira kau hantu yang waktu itu.” Gumam Isabel.
“Iya lah kantung mataku hitam, semalaman aku tidak tidur karena menjaga kau yang sedang demam.” Sahut Zidan.
“Oh, om, aku tambah cinta padamu!” Ucap Isabel terharu.
“Aku mau tidur.” Kata Zidan langsung menjatuhkan dirinya di atas tubuh Isabel.
“Om…om, berat!” Pekik Isabel.
“Grrookk….grrookkk….groookk.” Suara dengkuran Zidan.
“Hehehe, dia langsung mendengkur! Terima kasih yang suami ku yang tampan.” Kata Isabel mengecup kening Zidan yang sudah lelap tertidur di atasnya.
Isabel sangat bosan terus-terusan dirumah, ia sangat ingin pergi ke kampus untuk bertemu dengan kedua sahabatnya dan juga Albi kakak sepupunya itu. Isabel yang sudah tidak kuat dengan kebosananya mencoba untuk membujuk Zidan agar memberikan izin untuknya keluar rumah. Langkah pertama untuk membujuk Zidan dengan memasak daging rendang yang kini sedang di gilai oleh Zidan.
“Om, sini aku suapi makan daging rendang kesukaanmu!” Ucap Isabel sangat manis kepada Zidan.
Zidan tau apa yang sedang di lakukan oleh Isabel padanya, dan saat Isabel mencoba membujuk GAGAL TOTAL. Isabel melakukan langkah yang kedua dengan berpura-pura belajar serius di meja belajarnya saat Zidan sedang memperhatikannya. Isabel mencoba untuk menjadi anak yang rajin belajar di mata Zidan.
Namun lagi-lagi GAGAL TOTAL.
“Aaarrggghh, susah sekali sih cuma mau keluar rumah saja!” Teriak Isabel frustasi.
“Tidak ada cara lain lagi, kali ini aku pasti akan berhasil, hehehehe.” Ucap Isabel merencanakan sesuatu.
Sore hari saat Zidan pulang dari kantor lebih awal, Isabel menyambutnya dengan manis seperti seorang istri yang budiman. Namun Zidan bukanlah orang bodoh yang gampang di bujuk. Ia tau Isabel bersikap manis setiap harinya hanya untuk mendapatkan izin keluar rumah.
“Belbel, tidak sia-sia aku mengurungmu di rumah selama ini! Kau menjadi istri yang imut sekali.” Ucap Zidan sambil mencubit pipi Isabel dengan gemas.
“Jangan cubit pipiku om.” Sahut Isabel sewot.
“Oh, begitu? Sewot lah terus, kau juga yang akan rugi!” Ujar Zidan.
“Hehehe, om apa kau mau mandi dulu?” Tanya Isabel langsung berubah ekspresi menjadi manis kembali.
“Aku mau mandi denganmu, belbel, hehehe.” Bisik Zidan di telinga Isabel.
“Baiklah!” Sahut Isabel pasrah demi keinginanya.
Setelah mandi dan makan malam bersama, Zidan pergi menuju ruang kerjanya dan menatap layar laptop dengan fokus. Sementara Isabel di dalam kamar sedang merencanakan sesuatu untuk Zidan. Di depan cermin Isabel sedang memegang lingeri yang sudah lama ia beli namun tak pernah ia pakai karena malu dengan usianya yang masih tergolong bocah.
“Haruskah aku pakai ini dihadapannya? Tapi aku sangat malu.” Kata Isabel.
"Sedikit murahan gak sih kalau aku pakai ini di hadapan om Zidan?" Kata Isabel lagi.
Berpikir lama akhirnya Isabel kini mengenakan lingeri itu. Ia kembali menatap dirinya di cermin.
“Astaga, aku seperti tidak menggunakan baju! Semua tubuhku terlihat begitu saja.” Gumam Isabel.
“Untuk apa aku harus malu, om Zidan kan sudah mengobrak-abrik tubuhku selama ini!” Kata Isabel lagi.
Demi keinginannya agar Zidan memberikan kebebasan lagi, Isabel pun rela malu di hadapan Zidan dengan menggunakan lingeri itu.
Ceklek…..pintu kamar di buka oleh Zidan. Isabel kaget saat melihat Zidan masuk. Begitu pula dengan Zidan yang tak kalah kagetnya melihat Isabel berani menggunakan lingeri di hadapannya.
Zidan tercengang melihat Isabel yang berdiri kaku dengan lingeri itu. Namun seketika senyuman Zidan mengambang saat sadar kalau Isabel berusaha keras untuk mendapatkan kebebasan lagi. Zidan langsung melangkah cepat menghampiri Isabel.
“Apa kau sedang merayuku, belbel?” Tanya Zidan langsung mendekap Isabel.
“Baiklah, ini sudah di mulai!” Gumam Isabel dalam hatinya.
Dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Zidan, Isabel pun melancarkan aksi gilanya.
“om, apa kau suka aku memakai ini?” Tanya Isabel dengan tatapan menggoda.
“Tentu saja, belbel! Kau membuatku bergairah sekali dengan lingeri yang kau pakai ini! Kalau begitu apa kau sudah siap melahirkan anakku, belbel?” Sahut Zidan.
“Tentu om! Aku akan melahirkan anak yang banyak dan sehat untukmu.” Balas Isabel.
Mendengar perkataan Isabel, Zidan tersenyum lebar. Ia tau apa yang di lakukan istrinya itu hanya menginginkan kebebasannya lagi. Setelah melayani hasrat suaminya, Isabel yang masih terjaga berbaring menyamping menghadap Zidan yang duduk sambil bersandar.
“Om!” Panggil Isabel.
“Hhheemmm.” Sahut Zidan.
“Besok aku ke kampus ya!” Pinta Isabel.
“Kau kan tidak suka belajar untuk apa kau kesana?” Tanya Zidan.
“Aku bisa di keluarkan dari kampus kalau terlalu banyak tidak hadir! Lagian aku juga sangat bosan dirumah terus.” Gumam Isabel.
“bilang saja kalau kau ingin pergi main dengan teman-temanmu….!! Modus mulu kerjanya…” ujar Zidan.
“Hehehe, om Zidan memang suami yang perhatian.” Sahut Isabel.
“Pergilah, tapi ingat jangan terlalu bebas dengan pria-pria di kampusmu itu! Atau aku akan mengurungmu seumur hidup.” Ancam Zidan.
“Siap!” Seru Isabel senang.
“Besok pakai lingeri lagi, oke?” Bisik Zidan.
“Dasar!” Umpat Isabel sewot sambil berlari ke kamar mandi.
“Hahaha.” Zidan tertawa lepas.
Esok harinya Isabel bergegas pergi ke kampusnya, tak lupa ia mengecek isi tas yang akan di bawanya.
“Eh, semalam aku lupa minta hp cadanganku! Aarrggghhh, dasar sial! Sia-sia saja usahaku semalam.” Ucap Isabel.
“Oh iya, kan dia minta aku pakai lingeri lagi! Hehehe, nanti malam aku akan mendapatkan ponselku lagi! Betapa cerdasnya aku.” Ucap Isabel lagi sambil keluar dari kamarnya.
Ia pun pergi ke kampus di antar oleh supir pribadinya. Sampai disana ia melihat Albi yang sedang duduk dengan seorang teman yang terlihat tak asing di matanya.
“Eh, teman kak Albi itu sepertinya aku kenal!” Gumam Isabel terus melangkah mendekati Albi yang sedang berbincang dengan seorang laki-laki.
Saat ingin mendekati Albi, langkahnya terhenti karena Ferry yang tiba-tiba memanggilnya.
“Bel, kau mau kemana?” Tanya Ferry.
“Bertemu kak Albi, mau minta maaf soal yang waktu itu.” Sahut Isabel.
“Jangan kesana!” Kata Ferry.
“Kenapa?” Tanya Isabel bingung.
“Eemmm…., itu….anu……”
“Aarrggghh, apaan sih! Entar dulu aku mau ketemu kak Albi dulu.” Potong Isabel langsung pergi meninggalkan Ferry.
__ADS_1
“Aduh, gimana nih kalau Isabel ketemu dengannya, ini pasti akan menjadi bencana untuk tuan Zidan dan Isabel.” Ujar Ferry.
Ferry yang tak bisa menghalangi Isabel mendekati Albi dan laki-laki itu hanya bisa diam dan melihat Isabel yang berjalan mendekat kepada Albi dan laki-laki itu.