ISABEL

ISABEL
ISABEL…, KAU MENYEBALKAN..!!


__ADS_3

Beberapa hari menetap di rumah suaminya, Isabel belum tidak mau pergi kesekolahnya padahal Zidan telah mengurus semua keperluan Isabel di sekolah. Namun Isabel tetap saja tidak mau pergi kesekolah, karena dia tau dia akan satu sekolahan dengan kakaknya yaitu Luisa. Ia tak ingin kejadian saat di SMP terjadi lagi padanya.


Akhirnya Zidan mengalah dan memberikan home schooling dengan membayar guru-guru terbaik untuk Isabel. Isabel pun belajar dengan giat saat Zidan mengawasinya, namun saat Zidan sedang berada di kantor, Isabel malah bermain game dan membiarkan gurunya cuap-cuap sendirian. Namun tetap Isabel mendapatkan nilai yang bagus bahkan guru-gurunya pada kebingungan saat memeriksa hasil ulangan karena Isabel memang tidak pernah suka belajar.


Salah satu pelayan pernah memergoki Isabel yang sedang berada di ruang belajar dengan gurunya, namun ia sedang bermain game. Pelayan itu lantas mengadu pada Zidan. Zidan pun memasang kamera CCTV di ruang belajar Isabel. Isabel memang tidak pernah mau belajar, ia sibuk bermain game dan tak mau memperdulikan gurunya. Zidan kesal dengan tingkah Isabel yang terlalu sibuk dengan gamenya saja. Zidan pun menyewa orang untuk merusak akun gamenya sehingga Isabel tidak dapat bermain game lagi.


“Aaarrghhh, kenapa dengan akun ku ini sih? Kenapa tidak bisa dibuka?” Teriak Isabel kesal saat di ruang belajar.


“Belbel, apa yang sedang kau lakukan, hah?” Zidan menampilkan wajah terseramnya saat menatap Isabel.


Isabel langsung melompat duduk ke kursi belajarnya dan mendengarkan penjelasan dari gurunya.


“Jika kau bermain game lagi saat belajar, aku akan membuatmu melahirkan anakku, belbel!” Kata Zidan lagi dengan ancaman jitunya.


“Tidak!” Teriak Isabel.


Setelah hari itu Isabel seakan jera dengan ancaman dari Zidan. Dia tak pernah bermain game lagi saat sedang belajar. Namun ia tau kalau Zidan lah yang telah menyuruh orang untuk merusak akun gamenya, karena ia pernah mendengar Zidan membicarakan hal itu melalui ponsel dengan orang lain.


“Awas saja! Ini sudah kedua kalinya kau mengerjai aku, om Zidan! Tunggu saja.” Gumam Isabel.


Zidan yang tipe pria yang gila bekerja, pergi beberapa hari ke luar kota untuk urusan bisnisnya.


“Aku peringatkan kau jangan buat masalah selama aku tidak berada di Itali! Apa kau mengerti belbel?” Kata Zidan.


“Siap om!” Sahut Isabel.


"Om, jangan sampai merindukan aku ya disana, hehehe." Sambung Isabel.


“Dasar bocah!” Ujar Zidan.


Kesempatan ini lah yang membuat Isabel merencakan sesuatu untu membalas Zidan. Zidan yang sejatinya pria cool namun sedikit konyol, sangat membenci warna ungu. Karena warna ungu itu membuatnya teringat akan terong. Zidan sangat tidak menyukai sayur yang satu itu. Isabel yang mengetahui hal itu, langsung memanggil para tukang untuk mengubah warna dinding serta benda-benda yang ada di dalam kamar utama yang di tempati oleh Zidan dan dirinya.


Setelah semuanya selesai, Isabel berselfi ria di dalam kamar yang dulunya dominan hitam dan putih kini berubah serba ungu. Setelah puas Isabel menghubungi Zidan yang baru saja selesai meeting.


Ttuutt…..tuuuttt….


“Halo? Ada apa belbel sayang?” Ucap Zidan menggoda Isabel.


“Om Zidan sayang! Kapan kau pulang?” Tanya Isabel.


“Kenapa? Apa kau sangat merindukan aku, hheeemmm?” Balas Zidan.


“Iya, aku sangat merindukanmu om! Aku sangat rindu dengan ciumanmu.” Sahut Isabel dengan imutnya.


Wajah Zidan merah sesaat sewaktu Isabel mengatakan merindukan ciumannya.


“Oh iya, om! Sangking rindunya aku ingin sekali video call denganmu.” Kata Isabel lagi.


“Baiklah! Cepat, video call nya aku tidak punya banyak waktu.” Sahut Zidan bohong. Padahal dia sedang memiliki waktu luang yang banyak ketika itu.


Isabel pun lantas menghubungi Zidan kembali dengan video call.


“Hai om!” Sapa Isabel melambaikan tanganya.


“Sedang berada dimana kau?” Tanya Zidan bingung.


“Dirumah.” Sahut Isabel.


“Sepertinya rumahku tidak ada cat berwarna ungu.” Ucap Zidan dalam hati sambil berpikir keras.


“Aku sedang berada di kamar kita, om sayang!” Sahut Isabel lagi.


“Apa kau bilang?” Teriak Zidan.


Dengan kesal Zidan memutuskan sambungan video callnya dengan Isabel. Ia langsung kembali pulang ke Itali hari itu juga. Isabel yang tau Zidan pasti akan kesal padanya, bersembunyi di salah satu kamar yang ada dirumah itu.


Akhirnya tibalah Zidan dan langsung berlari melihat kamarnya. Matanya terbelalak saat melihat semuanya berubah menjadi warna ungu.


“Tidak!” Teriak Zidan berlutut kesal.


“Isabel, kau sungguh menyebalkan!” Teriak Zidan lagi.


Zidan langung bergegas mencari keberadaan Isabel malam itu. Isabel yang mendengar teriakan Zidan, hanya terkekeh puas saat pembalasannya berhasil membuat Zidan kesal.


Kkkrriiiiuuukkkkk……


Perut Zidan yang tengah kelaparan. Zidan pun pergi menuju ruang makan dan berniat untuk makan malam. Saat melihat hidangan, ia sangat kaget karena semua hidangan itu terbuat dari terong yang berwarna ungu.


“Kenapa kalian masak terong?” Teriak Zidan bertambah kesal.


“Maaf tuan, nona Isabel yang menyuruhnya! Katanya tuan sedang ngidam terong.” Sahut pelayan itu.


“Ngi…ngidam? Apa kau pikir aku wanita hamil, hah?” Teriak Zidan murka.

__ADS_1


“Kurang ajar kau belbel! Aku akan buat kau melahirkan anakku dengan segera malam ini!” Umpat Zidan bergegas mencari Isabel keseluruh ruangan.


Zidan mencari-cari Isabel di setiap sudut rumah dan ia juga mencarinya di dalam ruang-ruang kamar di rumah itu.


One hour later………


“Hoooss…hoos….hhooosss, aku capek!” Ucap Zidan kelelahan mencari Isabel yang bersembunyi darinya.


“Aaarrrgghhhh! Kenapa dulu ayah membangun rumah seluas ini? Kamarnya begitu banyak membuatku lelah!” Terisak Zidan lagi sambil ngos-ngosan.


Di tempat persembunyiannya, Isabel merasa tenggorokannya sangat kering. Saat itu ia tak mendengar lagi suara teriakan Zidan yang sedang mencarinya. Malah ia berpikir kalau Zidan sudah pergi keluar rumah. Isabel pun dengan santainya membuka pintu dan melangkah menuju dapur. Saat itu matanya berada pandang dengan Zidan yang menoleh kearahnya.


“Disitu kau rupanya!” Teriak Zidan langsung berlari ke arah Isabel.


“Aaarrgghhhh!” Teriak Isabel berlari ke arah pintu kamar tempat dia bersembunyi.


Namun sialnya Zidan berhasil menangkapnya.


“Om, ampun! Aku janji tidak akan nakal lagi.” Kata Isabel yang kini dalam gendongan Zidan.


“Aku tak percaya padamu, belbel! Dasar kau bocah nakal.” Umpat Zidan sambil memukul bokong Isabel.


“Om, jangan pukul bokongku!” Teriak Isabel kesal.


Zidan pun menurunkan Isabel dari gendongannya.


“Jadilah gadis penurut kalau kau tak ingin melahirkan anakku dengan cepat!” bisik Zidan geram pada Isabel.


Zidan lantas berbalik dengan kesal hendak meniggalkan Isabel sendiri di kamar  itu. Namun langkahnya terhenti saat Isabel berlari memeluknya dari belakang.


“Om, marah ya?” Tanya Isabel memeluk Zidan dari belakang.


“Maaf! Aku cuma bercanda om.” Sambung Isabel lagi.


Zidan kembali menghadap Isabel.


“Makanya kalau jadi bocah itu jangan punya kebiasaan nakal! Aku sudah mewanti-wantimu agar tidak buat masalah saat aku tidak berada di Itali! Tapi kau malah membuatku kesal dengan warna ungu dan masakan serba terong itu!” Sahut Zidan sambil menusuk-nusuk jidad Isabel dengan jari telunjuknya.


“Huh, itu juga gara-gara om! Om duluan yang menggangguku, om sengaja membuatku takut saat pindah kesini, dan om juga yang merusak akun gameku kan?” Kata Isabel ketus.


“Itu supaya kau tidak gila dengan game mu itu!” Ujar Zidan.


“Kau harus fokus belajar, sebentar lagi kau akan masuk universitas!” Sambung Zidan lagi.


Hening beberapa saat.


“om, aku haus.” Kata Isabel.


Zidan kembali mengganggu Isabel dengan ciumannya kepadanya. Zidan terus mengecup bibir Isabel. Tidak di pungkiri mereka sangat menikmati ciuman tersebut membuat mereka seakan melayang.


“Apa kau masih haus, belbel?” Tanya Zidan dengan tersenyum nakal.


“Iiihhhh, om Zidan menyebalkan!” Umpat Isabel yang membuat Zidan tertawa.


Dengan berdengus kesal Zidan pun terpaksa tidur di kamar utama yang kini berubah menjadi ungu. Sementara Isabel hanya terkekeh saat Zidan menahan kesal malam itu.


“Om, sini! Kita selfie di kamar ungu kita yang bagus ini.” Ajak Isabel langsung menarik Zidan untuk foto denganya sambil berbaring.


Jeprat jepret sana sini dengan gaya-gaya konyol mereka.


“Om foto yang mana nih kita share ke medsos?” Tanya Isabel.


“ini bagus!” Jawab Zidan nmemilih foto mereka berdua saat Zidan tiba-tiba mencium pipi Isabel.


“Huh, dasar!” Gumam Isabel.


“Aku tidak mau!” sambung Isabel.


“Sini ponselnya, biar aku yang sebar, hehehe.” Kita Zidan merampas ponsel Isabel.


Zidan pun mambagikan foto-foto ke medsos yang menurutnya bagus namun tidak bagi Isabel, dengan #kamar ungu yang menyebalkan. Tak lupa Zidan juga membagikan foto-foto itu di medsosnya dengan #kamar ungu ulah si bocah nakal.


Semua teman di Indonesia yang berteman dengan Zidan di medsos, tertawa geli melihat foto-foto tersebut termasuk Abrar dan Balqis yang sedang santai di kamarnya.


“Abrar, lihatlah! Kak Zidan dan Isabel banyak kemajuan yah?” Kata Balqis senang.


“Tentu saja, itu semua juga karena bantuanku!” Sahut Abrar menyombongkan diri.


“Apa maksudmu?” Tanya Balqis bingung.


Kemudian Abrar menceritakan kejadian saat mereka berada di jepang. Balqis tertawa sampai terbahak-bahak saat Abrar menceritakannya.


“Astaga, mereka sangat unik!” Kata Balqis.

__ADS_1


“Oh, no no no no! Kita lah pasangan yang unik, Balqis.Hehehe.” Sahut Abrar mendekap mesra istrinya itu.


“Kita bukan pasangan unik, tapi pasutri somplak!” Sahut Balqis membalas dekapan suaminya.


“Hehehe, walaupun somplak yang penting bahagia.” Kata Abrar.


“Iya.” Sahut Balqis.


“Jadi kapan kita akan merencanakan calon anak kita yang selanjutnya?” Tanya Abrar.


“Mimpi saja sana!” Ujar Balqis membuat Abrar terkekeh.


“Aku ingin punya 12 anak, jadi kau harus melahirkan 9 bayi lagi hasil dari kecebongku, hihihihihi.” Kata Abrar tertawa geli.


“Balqis, tidak boleh ada bantahan!” Sambung Abrar lagi.


“Ya Tuhan, kenapa kau jodohkan aku dengan pria ini? Dia menganggapku seperti induk kucing, yang mudah melahirkan bayi begitu banyak!” Gumam Balqis dalam hatinya.


Di apartemannya Rudi sedang sibuk dengan pekerjaannya yang diberikan Abrar sang bos. Sementara Caca sedang nangis dan menghabiskan banyak tisu sambil menghubungi Ferry karena sangking rindunya kepada Isabel.


Setelah selesai bicara pada Ferry, Caca pergi menemui sang suami yang terus berkutat pada laporan-laporan penting dan bahkan lebih penting dari istrinya. (menurut Caca)


“Kak.” Panggil Caca.


“Heemmm.” Sahut Rudi tampa mau menoleh pada Caca yang berwajah sembab.


“Hhuuuwwwwaaaa!” Teriak Caca menangis yang membuat Rudi kaget.


“Sayang, ada apa? Kenapa menangis?” Tanya Rudi panik.


“Aku rindu Isabel.” Sahut Caca.


“Astaga, kirain ada apa!” Ujar Rudi menghela nafas.


Rudi langsung memeluk istri kesayangannya itu.


“Hei, hentikan tangisanmu! Sampai segitunya menangisi nona Isabel, seberapa kangennya sih sampai-sampai nangis seperti ini? Sedangkan denganku kau tidak kangen seperti ini.” Kata Rudi sedikit cemburu.


“Sini cium aku, kak!” Kata Caca membuka tangannya lebar-lebar.


“Tidak mau! Bukannya kau cuma rindu pada nona Isabel?” Kata Rudi ngambek.


Cuupp..ccuuppp….ccuupppp……


Caca berinisiatif untuk memulai pertarungan mereka di ranjang yang hangat malam itu. Rudi sejenak meniggalkan kerjaannya yang menumpuk untuk bermesraan dengan istrinya yang masih duduk di bangku SMA itu.


Saat Ibu sedang kebosanan di korea, Ibu melihat-lihat ponselnya yag terdapat notifikasi dari medsos Zidan. Mata Ibu terbelalak melihat foto anak dan menantunya itu dengan latar belakang serba ungu.


“Apa yang terjadi? Kenapa semuanya jadi ungu?” Gumam Ibu kaget.


Saat Ibu membaca #kamar ungu ulah si bocah nakal, Ibu langsung tertawa.


“Ternyata ulah Isabel! Hahaha, bocah itu berhasil mewarnai kehidupan Zidan yang kelam setelah kepergian Raisa.” Kata Ibu terus memandangi foto yang membuatnya senang.


“Aku berharap kau tidak akan pernah kembali lagi Raisa! Jika kau kembali kau hanya akan merusak kebahagiaan Zidan bersama Isabel.” Ucap Ibu dalam hatinya mengenang keburukan Raisa.


 


*****


Isabel yang berada di Itali selama 2 bulan, akhirnya menghubungi Caca dan Ferry saat mereka sedang berada di sekolah.


“Halo, apakah kalian merindukan aku disana?” Seru Isabel pada kedua sahabatnya.


“Isabel! Beraninya kau baru menghubungi kami?” Teriak Caca dan Ferry kesal.


“Hehehe, maaf ya guy’s!” Sahut Isabel merasa bersalah.


“Hei bule, kenapa kau tidak pernah online lagi di game hah?” Tanya Ferry.


“Akun punyaku di rusak oleh Om Zidan! Dia kesal aku terus-terusan main game.” Sahut Isabel.


“Pppfftt, hahahahahahaha.” Caca dan Ferry tertawa.


“Eh, kenapa tertawa?” Tanya Isabel bingung.


“Kami tak menyangka tuan Zidan sangat perhatian padamu! Apa kalian sudah tumbuh benih-benih cinta hah?” Tanya Caca.


"Iihh, apaan sih Ca!” Sahut Isabel malu.


“Jangan pernah melupakan kami disini ya bel! Kami sayang padamu.” Seru kedua temannya yang membuat Isabel terharu.


“Mereka sangat menyayangiku, bahkan orang tua kandungku tidak demikian, setelah menikah hingga sekarang orang tuaku tidak pernah menanyakan kabarku.” Ucap Isabel dalam hatinya bersedih.

__ADS_1


Isabel merasa seperti anak yang tidak memiliki orang tua. Hanya kakek, kedua sahabatnya dan kini Zidan lah yang menghiasi kehidupannya menjadi lebih bahagia.


__ADS_2