
Haatchu!
"Yarhamukillah." Gara bersahut.
"Yahdikumullah," balas Abel sembari menggosok hidungnya yang gatal.
"Mas kenapa nggak bilang aku cantik?"
Gara yang sedang mengeluarkan pakaian dari mesin cuci berhenti sejenak, melirik Abel dan bertanya,
"kenapa emangnya?"
"Kalau Mami bersin, Papi selalu nyahut 'bersin aja kamu tuh cantik, Ay.' Mas nggak mau kayak Papi juga. So sweet, lho."
"Oh," respon Gara lalu kembali pada kegiatan awalnya dan menambahkan,
"nggak bersin aja kamu tuh cantik, Bel."
Abel merona malu mendengarnya.
"Mas."
"Hm?"
"Kamu so sweet."
"Iya." Gara membalas singkat dan memberikan ember pakaian bersih pada istrinya.
Memang di rumah ini tidak ada pembantu rumah tangga .Alasannya adalah belajar mandiri .kalau di tanya siapa yang membuat aturan itu ,tentu saja Eyang Putri Wicaksana yang terhormat. Abel jadi sebal.
"Kamu bagian jemur ya, Bel."
Senyum lebar Abel hilang, seperti tersapu ombak tsunami. Iya, tsunaminya Gara.
Bisa-bisanya pria itu menyuruhnya menjemur pakaian sesaat setelah menggombal.
Padahal, Abel seperti mulai melihat titik terang jiwa romantis .
"Aku kira, aku bakal dapat sun cinta saking cantiknya." Akhirnya Abel mengambil alih ember cucian dari Gara sambil cemberut.
"Rumah nggak bakal beres kalau cuma cinta-cintaan, Abel. Sini, saya aja yang jemur kalau kamu nggak mau." Gara yang melihat istrinya cemberut langsung mengulurkan tangan guna mengambil cucian.
"Nggak usah!" Abel menepis uluran tangan Gara dan berbalik. Sambil melenggang, ia berucap lagi,
"biar aku yang menjemur pakaian kita dengan penuh cinta."
Abel turun ke halaman rumahnya.
Karena halaman depan yang paling banyak mendapatkan sinar matahari jadi kalau menjemur pasti di halaman depan.
Tapi tidak masalah, rata-rata tetangganya juga menjemur pakaian di halaman depan rumah.
IYA, TAPI REPOT KALAU JEMUR PAKAIAN DALAM!
Tapi Abel tidak kehabisan akal. Supaya pakaian dalamnya tidak kelihatan saat ada tamu masuk ataupun tetangga yang main, Abel menyampirkan pakaian dalam lebih dulu, lalu disusul dengan baju.
Jadi, pakaian dalamnya tertutup baju. Abel merasa jadi orang paling jenius di dunia. Harusnya Gara bersyukur kan punya istri secerdik Abel?
Abel tertawa miris dalam hati sambil mengibaskan baju milik Gara sebelum menyampirkannya di jemuran, merasa tidak mungkin.
Lalu Gara keluar, membawa kantong plastik sampah. Pria itu bertegur sapa dengan tetangga mereka yang sudah lumayan berumur setelah membuang sampah.
Abel mencebik sinis melihat keramahan Gara, bahkan pria itu tersenyum setiap menimpali sapaan tetangganya.
Sama tetangga aja ramah banget kayak yang mau ngutang, sama istri mah boro-boro yang ada kaku sama cuek!
Gara kembali menutup gerbang rumahnya setelah selesai mengobrol dengan tetangganya.
Lalu pria itu mencuci tangan sebelum menghampiri Abel yang masih menjemur pakaian sambil cemberut.
"Kan udah saya bilangin, kalau jemur pakaian itu dibalik, biar warnanya nggak pudar," ucap Gara lalu membalikkan baju mereka yang dijemur asal oleh Abel.
"Katanya mau menjemur dengan penuh cinta, tapi kok gini."
__ADS_1
Abel mundur, membiarkan Garq yang menjemur sambil mengomel. Kesempatan supaya tidak bekerja.
"Lain kali kalau jemur pakaian itu yang tersusun ya, Biar rapi."
"Iya, Mas," jawab Abel sambil mengelus daun-daun tanaman kuping gajah yang ia dapat dari mertuanya.
Gara kembali berucap sambil membenarkan urutan jemuran pakaiannya,
"nih ya, yang kecil-kecil gini, simpan di jajaran paling atas." Gara menjajarkan baju-baju Abel yang lebih kecil.
"Jajaran paling bawah, itu pakaian yang paling besar. Celana, sarung-"
"Popok gajah." Abel ikut-ikutan menyahut saking jemunya.
Gara melirik istrinya yang sudah dalam posisi jongkok, tidak membantunya menjemur pakaian. Gara hanya menghela napas saat Abel tersenyum kikuk tapi dengan raut yang usil.
"Bel."
Abel berdiri.
"Memangnya kenapa sih harus disusun segala, Mas?" Abel kembali ikut menyampirkan pakaiannya.
"Biar cepat kering," jawab Gara.
"Kalau kamu jemur pakaian besar di atas, dan pakaian kecil di bawah, nanti yang paling bawah itu nggak bakal kena panas matahari karena ketutup sama pakaian lebar yang di atas. Juga..." Gara memindahkan celananya yang dijemur Abel di jajaran paling atas menjadi di jajaran paling bawah.
"Kalau tersusun rata begini kan lebih rapi kelihatannya. Sejajar baju kamu, sejajar lagi baju aku. Lebih rapi, kan. Nggak acak-acakan kayak tadi."
Gara menujuk hasil jemurannya, Abel jadi memperhatikan, dan mengernyit.
Daripada rapi, Abel melihatnya seperti diskriminasi pakaian. Gara benar-benar memisahkan baju Ab dengan baju miliknya sendiri.
Baju Abel di jajaran paling depan, belakangnya diisi baju-baju Gara, dan paling belakang diisi pakaian dalam yang tersusun. Sejajar bra, sejajar ****** *****, sejajar lagi tanktop dan kaos dalam.
Abel menghela napas, padahal, ia mau bajunya dengan baju Gara ada dalam satu jajaran sebagai simbol bahwa mereka hidup bersama.
"Aku lebih suka celana disimpan di jajaran paling atas, biar cepet keringnya." Karena tidak suka dengan sistem menjemur Gara, Abel membantah pendapat suaminya, dan tetap pada pendiriannya.
Sepeninggalnya Gara, Abel menukarkan posisi baju-baju Gara dan miliknya, sehingga baju mereka berada di jajaran yang sama.
Melihat jemuran yang penuh, Abel makin cemberut lalu ikut masuk ke rumahnya.
............
Abel tersenyum semangat melihat ponselnya tergeletak di dekat lemari baju. Baru saja ia hendak menggapainya, pandangannya hilang. Seluruh ruangan begitu gelap.
Untuk beberapa saat Abel diam mencerna keadaan, lalu berteriak sangat kencang.
Teriakannya bertambah nyaring saat pintu kamarnya diketuk. Wanita itu malah menangkup wajahnya sambil jongkok.
"Jangan ganggu aku!" jeritnya nyaring. Abel benci gelap.
"Abel..."
"No! Aku nggak mau lihat kamu, setan jelek. Pergi!" Abel malah menangis tersedu saking takutnya.
Membayangkan seandainya yang mengetuk pintu itu adalah hantu yang hendak menyekapnya. Abel menggeleng tegas.
"Aku udah punya suami, jangan ganggu aku. Suamiku galak, Gak peka ,Kaku , tapi aku mau sama suamiku aja. Suamiku ganteng, kamu jelek!"
Pintunya diketuk kembali ditambah hantu itu memainkan gagang pintu, membuat Abel semakin menjerit,
"nggaaaakkkk! Aku nggak mau ikut sama kamu. Aku mau sama suamiku aja, biarin aku jadi istri yang baik buat suamiku. Aku masih mau sayangin suamiku. Jangan pisahin aku dari suamiku, aku cinta suamiku. Beneran!"
"Bel, ini aku. Suami kamu. Buka pintunya."
"MAS SUTEJO!" Abel menjerit lega mendengar suara suami sungguhannya. Lantas, ia meraba-raba dalam gelap, mencari pintu kamarnya lalu menggedornya dari dalam, panik.
"Mas Tejo, bukain pintunya!"
"GARA bel ,bukan Tejo!!". Gara paling tidak suka di panggil Sutejo ,karena nama itu merupakan nama sopir eyang nya .ia tak suka jika orang salah panggil .
"Pintunya kamu yang kunci."
__ADS_1
Abel tertawa sambil menangis, merutuki kebodohannya sendiri yang mengunci pintu dari dalam.
Dengan tergesa, ia mencari kunci pintu dan membukanya. Ia langsung menghambur ke pelukan Gara yang menyalakan lampu sorot ponselnya. Bukannya reda, Abel semakin terisak di dada suaminya.
"Mati lampu," ucap Gara sembari membawa Abel masuk kembali ke kamar.
Setelah sampai di tepi ranjang, Abel duduk seenaknya dipangkuan Gara, masih memeluknya sambil menangis.
Gara menghela napas dan sambil melotot berucap,
"kenapa kamu panggil aku setan jelek?"
Mendengar itu, Abel menghentikan tangisnya sekaligus dan menjauhkan wajahnya dari ceruk leher Gara.
Ditatapnya Gara dalam remang cahaya sembari mengingat apa saja yang sudah ia ucapkan sebelumnya.
Tiba-tiba saja rasa gengsi menguasainya, maka Abel turun dari pangkuan Gara dan menudingnya seolah lupa dengan rasa malu dan rasa bersalahnya,
"kenapa tadi nggak bilang kalau Mas yang ngetuk pintu?!"
"Kamu yang jerit-jerit nggak jelas." Gara menyimpan ponselnya di nakas tempat tidur tanpa mematikan lampu sorotnya.
"Katanya mau jadi istri yang baik, turunin telunjuknya."
Abel berdesis, namun wajahnya merona malu. Lantas, ia melipat kedua tangannya di depan dada angkuh. Abel berharap dibujuk Gara yang baru saja menyindirnya, namun pria itu malah membereskan tempat tidur lalu berbaring.
"Kamu nggak pegel berdiri tetus?" Akhirnya, Abel ditanya oleh Gara.
"Mas nggak merasa bersalah sama aku?" tanya Abel.
"Mas udah nyindir aku barusan!"
"Tapi kamu bilang cinta sama aku dalam keadaan sadar kan ?"
Abel memalingkan wajahnya malu.
"Nggak usah dibahas!"
"Oke." Gara tampak mengerti.
"Jadi, kamu mau tidur sebelah mana? Kanan atau kiri?"
"Kiri!" jawab Abel setengah judes.
Gara menggeser posisinya memberi ruang untuk istrinya. Abel naik ke tempat tidur dengan rasa gengsi yang tinggi. Tapi rasa penasarannya lebih mendominasi melihat Gara tampak biasa saja setelah mendengar Abel mengaku cinta.
Maka Abel bertanya ragu,
"Mas kok masih biasa aja? Padahal kan tadi aku nggak sengaja bilang cinta. Apa jangan-jangan Mas nggak cinta aku?"
"Aku nggak mungkin nikahin kamu kalau nggak ada rasa."
"Rasa apaaa?" Abel gemas karena penjelasan Gara tidak spesifik.
"Rasa ayam bawang?"
"Cinta."
Jawaban singkat Gara membuat Abel tersenyum lalu mengedipkan matanya cepat, genit, sebelum menjadikan lengan Gara sebagai bantalan kepalanya.
"Tapi Mas tetap cuek tuh sama aku gak peka juga."
"Kapan saya cuek?" tanya Gara membuat Abel mencubit pelan pinggang suaminya.
"Harus banget ya aku jelasin kalau Mas itu cuek. Aku kesal nggak dibujuk, nggak dicium, nggak dirayu-rayu. Sekarang aja, Mas nggak belai-belai aku, padahal udah mau tidur. Kalau lagi gulat aja aku ini dicium sampai sesak, di belai sampai panas. Heran!"
"Begitu," gumam Gara. Lalu, ia membawa Abel ke dalam dekapannya dan mengelus rambut hitam lembut istrinya.
"Saya kira perlakuan saya selama ini sudah cukup buktiin sayang saya ke kamu. Lain kali bilang ya kalau saya ada kurang." Gara yang sebenarnya kaku bisa ngomong seperti ini karena privat sama Raja Minggu lalu .
Abel mengangguk nyaman dalam pelukan hangat suaminya. Terlebih saat Gara mengecup kening dan kepalanya berkali-kali.
"Sekarang tidur, udah malam. Tenang aja, kita cuma berdua. Hantu nggak bakal bisa pisahin kita."
__ADS_1