
"Tadaaaaaaaa." Abel tersenyum lebar menunjukan sesuatu di tangannya pada Gara.
"Apa itu?"
"Ini lulur." Namun Gara masih mengernyitkan dahinya. Abel menghela napas mulai kesal dan mengulangi penjelasannya,
"ini lulur pengantin."
"Buat apa kamu beli itu?"
"Buat selai roti!" Abel mulai menyorotkan matanya sinis.
"Buat luluran lah! Mas ini gimana sih."
"Maksudnya kan kamu biasa ke salon kalau luluran."
"Aku lagi males ke salon, Mas Gara."
Gara menggeleng pelan. "Abel, saya sengaja ngasih kamu uang banyak ke kamu untuk perawatan kamu, di habisin dong !nanti biar mas kasih lagi .masih banyak ini !!"
"Besok nggak aku kasih uang lagi kalau nggak di habisin ," lanjut Gara sebal.
"Iya .Mas tenang aja,bakal aku habisin kok." Abel tersenyum sambil mengambil kembali lulurnya kemudian mendekati Daffa.
Gara mengangguk .
Lantas, Abel membuka tutup lulurnya kemudian meraih tangan Gara dan memakaikannya lulur.
" Mas aja yang lulurin aku. Aku bakal bahagia banget kalau Mas sentuh-sentuh, usap-usap, pijit-pijit pakai tangan Mas yang lebar ini."
"Kena bulunya!" Gara memekik kesakitan karena bulunya tertarik scrub lulur.
Abel tersenyum usil, lalu mencium tangan Gara. "Nanti aku kasih bayarannya yang spesial buat Mas Gara. Gimana?"
"Kamu suka aneh-aneh." Gara tidak percaya pada Abel.
"Mana ada! Aku sukanya Mas Gara." Dan benar saja, Abel malah membuka bajunya dan tidur telungkup di depan Gara.
"Ayo, Mas, lulurin aku. Tadi kan udah aku contohin gimana caranya."
Gara berdeham nyaring disuguhkan punggung putih mulus milik istrinya. Daripada melulurnya, Gara akan lebih senang jika disuruh menciumi punggung Abel sampai berbekas.
Abel merengek lagi, Gara yang masih terdiam, akhirnya bergerak mulai mengambil lulur baru milik istrinya dan mengaplikasikan pada permukaan punggung Abel. Benar-benar halus sampai Gara meneguk salivanya berkali-kali, mulai tergiur melakukan hal yang lebih.
"Yang bener, Mas Gara. Jangan berhenti sampai semua dakinya keangkat," sahut Abel membuyarkan lamunan liar Daffa.
"Saya nggak bisa terus-terusan lulurin kamu. Kalau saya sibuk, nanti kamu ke salon saja. minta Bianca buat nemenin," balas Gara yang mulai mengerti dengan keusilan istrinya.
__ADS_1
Abel tidak menjawab, ia malah memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut Gara. Meskipun terasa kaku, tapi mampu menjalarkan rasa hangat ke seluruh tubuhnya.
Lama kelamaan, Abel yang tidak tahan sampai-sampai ia membalikan badannya, menutupi sebagian dadanya dan berucap,
"aku pengin itu aja."
"Apa?" Gara mengernyit tidak paham.
"Peluk-peluk, cium-cium, terus nganu."
Gara sempat menahan napasnya sesaat sebelum berdeham kembali, dan mengontrol matanya supaya tidak jelalatan.
"Tapi kamu lagi subur."
"Mas Gara nolak aku?" Mata Abel mulai berkaca-kaca. Padahal, Gara memang hanya basa-basi saja.
"Ya nggak sih," jawab Gara langsung beranjak dari duduknya.
"Alat saya kan habis, mau beli dulu sebentar."
Gara mengambil kunci mobilnya, namun disimpan lagi dan memilih kunci motor. Abel nyaris tertawa terbahak melihat keantusiasan Gara.
Jika saja Garq tidak pernah hampir kelepasan membuahi Abel, mungkin pria itu sudah akan langsung menerjang istrinya saat itu juga. Tapi, Gara sabar, ia takut kelepasan lagi.
"Mas cepetan ya, aku udah buka baju, lho," sahut Abel saat Gara mengganti celananya dengan yang lebih panjang.
Gara bergegas meninggalkan kamarnya, dan Abel yang tertawa geli. Benar-benar Gara mengeluarkan motornya dan pergi ke apotek terdekat, membeli alat yang dimaksudnya dengan tergesa.
Abel menumpukan tangan kanannya di dada Gara, dan kepalanya di atas lengan Gara. Tidak lama, wanita itu bergerak membenarkan tangan kirinya yang tertimpa badannya sendiri.
Masih kurang nyaman, Abel memindahkan tangan kirinya menjadi ke belakang, namun malah pegal. Lantas, ia memindahkan tangan kirinya jadi menyilang ke depan, namun badannya jadi tidak menempel ke badan Gara.
abel kesal karena kalau di film-film posisi seperti ini tampak sangat mesra, namun saat dipraktekkan langsung malah merepotkan.
"Kamu lagi ngapain sih,bel. Bukannya tidur malah gerak-gerak terus." gara akhirnya bersuara heran dengan istrinya.
"Susah banget dapat posisi pas biar kelihatan intim dan mesra kayak di film-film, Mas. Tangan aku malah pegel," aku Abel.
Lantas, Gara bergerak, membalikkan posisi Abel menjadi memunggunginya. Saat Abel hendak protes, Gara memeluknya dari belakang. "Gini udah cukup?"
Abel tersenyum lalu mengangguk. Begini lebih nyaman, tangannya tidak pegal dan Abel masih bisa merasakan kehangatan tubuh suaminya. Lalu Ab3l mengusap-usap punggung tangan Gara di perutnya, namun hembusan nafas Garq semakin terasa teratur di dekat telinganya. Lantas, Abel menyenggol Gara beberapa kali.
"Mas!" panggilnya terdengar seperti sebuah teguran.
"Hmm."
"Kok malah tidur?"
__ADS_1
"Ngantuk, Bel," aku Gara. Suaranya sudah terdengar begitu lesu.
"Kebiasaan banget setiap habis nananinu malah tidur. Aku kan pengin ngerasain pillowtalk, masa setiap malam pillowtalk-ku cuma sama guling." Abel kembali mengeluhkan kehidupan rumah tangganya yang jauh dari kata romantis.
"Kita masih bisa ngobrol besok sebenarnya, bel." Gara menghela napas sesaat sebelum melanjutkan,
"kamu mau obrolin apa emangnya?"
"Dari awal nikah, kita belum bulan madu lho, Mas. Di rumah terus." Abel mengingatkan Gara bahwa setelah menikah, ia langsung tancap gas di rumah.
"Aku pengin coba di hotel yang sering kena razia. Bayangin, Mas, kita digrebek, terus kita lihatin buku nikah kita."
"Aneh-aneh aja kamu tuh." Gara menepuk perut Abel pelan.
"Mending ke Dubai. Katanya kan kamu pengin ke Dubai?"
"Ya udah, hotel Dubai aja kalau gitu."
"Nanti, ya. mas masih banyak kerjaan .mas udah persiapin semuanya disana" jelas Gara.
Mendengar itu, Abel membalikkan badannya, menghadap Gara dan mendapati suaminya yang sudah terkantuk-kantuk.
Abel tidak tega, tapi ia juga masih punya pertanyaan untuk Gara, "Mas udah nyiapin semuanya buat bulan madu kita ?"
Gara mengangguk pelan mengiyakan. " mas udah nyuruh orang mas buat persiapin semua.nanti mas usahain sesuai apa yang Abel mau"
Abel malah berkaca-kaca terharu karena suaminya mengusahakan untuk memenuhi keinginannya juga. Jujur, Abel agak malu karena merasa benar-benar jadi beban suami sungguhan. Padahal, saat itu Abel hanya bercanda saja mengaku ingin ke Dubai sebagai alasan menolak lamaran Gara.
"Aku nggak mau nikah sama Mas Gara. Aku belum pernah ke Dubai!"
Untuk menolak Gara, Abel memang sempat mengeluarkan alasan-alasan aneh yang tidak masuk akal.
Tapi Gara selalu berhasil mendebatnya, dan siapa sangka untuk urusan Dubai ini, Gara malah mewujudkannya. Ini lebih romantis dari film-film.
"Mas Gara." Abel memeluk Gara tanpa drama seperti awal.
"Hamili aku di Dubai nanti."
...........
"Bianca, ini gue gimana?"
Abel menggoyang-goyangkan lengan Bianca dengan mata yang sudah berkaca-kaca, sedangkan Bianca tampak lesu. Tidak menanggapi keluhan Abel dan malah menggeser kursinya menjaga jarak dari Abel, lalu wanita itu kembali melamun.
"Rasanya pengin gue banting aja mesin printer depan dosen gue, terus pidato demo. Bener-bener kejam banget!" Akhirnya Abel menangis sedih karena skripsinya terkendala lagi dan malah tidak mendapat ACC, padahal tinggal selangkah lagi ia bisa menyelesaikannya.
"Dia nggak tahu apa kalau laki gue udah pengin punya anak."
__ADS_1