ISTRI BAR BAR Vs SUAMI DINGIN

ISTRI BAR BAR Vs SUAMI DINGIN
13


__ADS_3

"Mas, semalam grepein aku ya?!" Abel menuding Gara yang baru keluar kamar mandi.


Gara menaikkan sebelah alisnya.


"Kenapa emangnya?"


"Kenapa emangnya, kenapa emangnya!" Abel bertolak pinggang.


"Aku kaget dong, bangun-bangun kancing bajuku udah pada lepas, tali surgaku juga putus. Dan ini," Abel menunjuk dadanya sendiri.


"Kenapa sekarang pake tanda-tandain segala? Kemarin-kemarin kan nggak pernah."


"Pengin aja. Salah sendiri mau cari Suga r Daddy baru "


Abel mengusap wajahnya kasar. Bisa-bisanya Gara begitu tenang sedangkan Abel begitu kesal sampai rasanya ingin mengumpulkan anggota Ormas sekabupaten.


Bahkan pria itu malah menurunkan handuknya dan memakai ****** ***** di depan Abel.


Selain tidak berperasaan, Gara juga tidak berkemaluan. Maksudnya, Gara tidak tahu malu pakai baju disaksikan orang lain.


"Mas, itu aurat, Mas. Astaghfirullah!!" Abel berbalik, menjatuhkan dirinya ke tempat tidur, tengkurap lalu mengigit bantal agar suara raungannya tidak keluar.


Abel sudah berada di titik puncak kegemasannya pada Gara sampai-sampai Abel ingin mengganti kepalanya dengan kepala charger supaya tidak merasakan pusing. Atau mungkin bisa mengganti kepala keluarganya dengan kepala charger?


"Kamu ini kenapa sih?" Gara menghampiri istrinya setelah selesai mengenakan pakaiannya lengkap.


"Marah kalau saya sentuh-sentuh?"


"Bukan gituuuu." Abel bangkit dari tengkurapnya dan menyorot Gara tidak suka.


"Mas nggak tahu gimana kagetnya aku baru bangun lihat badan udah acak-acakan. Berasa habis dirampok tahu nggak, Mas?!"


"Maaf kalau gitu. Tadinya juga saya mau bangunin kamu, cuma nggak tega."


"Kan biasanya juga minta sebelum tidur." Abel mulai merendahkan suaranya melihat rasa bersalah dari sorot mata suaminya saat ini.


"Saya kebangun, terus lihat kamu..." Gara berdeham kecil sebelum melanjutkan,


"baju kamu bagus."


"Bilang aja aku seksi." Abel menahan tawa melihat wajah Gara yang tiba-tiba memerah.


Semalam, Abel memang sengaja memakai baju yang agak seksi berharap ia dapat melihat ekspresi Gara yang lain. Tapi Abel malah dibuat kesal, karena Gara terus sibuk dengan pekerjaannya. Akhirnya, Abel menyerah dan memilih tidur lebih dulu, mengabaikan Gara.


"Aku seksi kan, Mas?" lanjut Abel.


Gara mengangguk. "Iya."


"Iya apa?"


"Seksi."


"Nah gitu dong, jangan sungkan kalau memuji istri tuh." Abel makin semangat menggoda suaminya. Lantas, ia menggeser duduknya merapat pada Garq dan bertanya,


"semalam Mas ngapain aja?"


"Cuma nyentuh doang." Bagian Gara yang sedikit menggeser duduknya menjaga jarak dari Abel.


"Terus, kenapa Mas bisa bikin tanda. Tumben. Baru berani ya?"


"Baru bisa," jawab Gara seadanya.


Sedangkan Abel sudah hampir ingin berteriak girang saking terkejutnya mengetahui Gara baru belajar hal-hal seperti ini. Abel benar-benar merasa jadi manusia paling istimewa sudah menikahi perawan.


Maksudnya, jarang ada pria yang lugu seperti Gara. Jadi menurut Abel, Gara ini Kaku dan cuek tapi lugu.


Abel jadi gemas-gemas ingin mencium Gara liar, habis-habisan sampai nggak bisa napas.


Tapi ingat, Abel tidak mau jadi janda muda. Cukup menikah muda saja, tapi bukan istri muda juga.


Jadi, Abel hanya menggeser kembali duduknya agar merapat pada Gara.

__ADS_1


"Gimana caranya, Mas? Aku juga pengin bisa biar nanti Mas aku tandain. Mas nggak mau aku ******?"


"Abel."


"Mas." Abel lebih merengek meskipun tahu Gara sudah begitu malunya.


"Istighfar, Bel."


"Mana ada cuma istighfar doang, dada aku langsung merah-merah gini!"


"Cuma dihisap aja. Udah ah." Kali ini Gara benar-benar beranjak dari duduknya.


"Mas mau ke mana, heyy." Abel yang masih ingin menjahili Gara, ikut-ikutan beranjak.


Menguntit Gara yang kembali membuka lemari, dan memperhatikan rambut suaminya yang basah.


"Saya mau sholat, udah kesiangan." Gara mengambil sajadah setelah menjawab.


Abel tetap menguntit suaminya.


"Mas habis mandi junub ya?"


"Iya."


"Semalam keluar dong!"


"Hm."


Abel langsung menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia menganga lebar. Lalu membayangkan Gara yang mengeluarkan muatannya tanpa ituu. Bagaimana caranya?


Pantas saja bajunya sampai terkoyak.


Tapi, kenapa Abel tidak bangun? Selelap apa Abel tidur sampai tidak sadar Gara sudah melakukan banyak hal?


Abel jadi memeluk tubuhnya dengan kedua tangannya sendiri, bersikap defensif.


Membayangkan bagaiamana liarnya Gara mengeksploitasi tubuhnya diam-diam. Abel dalam keadaan sadar saja Gara begitu liarnya, apalagi kalau Abel tidak sadar.


"Kita sholat masing-masing aja dulu. Kamu belum mandi soalnya." Gara bersahut lagi membuat Abel semakin kaget.


"Katanya cuma nyentuh doang, tapi kok sampai harus mandi juga, Mas.... Mas!"


***


"Sayang," panggil Mama Liora, mertua Abel.


"Udah ada tanda-tanda isi belum?"


"Isi?" ulang Abel kurang paham.


Gara langsung bersahut sengaja menjawab,


"belum, Ma. Gara sengaja nunda kehamilan Abel sampai Abel wisuda. Biar nggak keganggu."


Abel tersenyum membenarkan, lantas Liora bertanya,


" Mantu mama yang cantik nggak di-KB kan?"


"Nggak kok, Ma." Bagian Abel menjawab sambil mengusap perutnya sekali.


"Baguslah." Liora mengusap rambut panjang menantunya dan menambahkan,


"jangan dulu di-KB takutnya rahim kamu kering dan susah punya anak. Amit-amit. Biar Gara aja yang pakai pengaman, atau suruh dia atur pembuangan. Ke kamar mandi kek, atau ke mana."


Abel mengangguk antusias dan nyeletuk,


"nggak ke kamar mandi, Mamaa. Tapi ke perut Aira."


Gara langsung berdeham nyaring melihat Mama nya yang berkedip cepat lalu tertawa sumbang.


"Ya nggak apa-apa, asal jangan di perut istri tetangga aja." Liora mengibaskan tangannya salah tingkah.

__ADS_1


Abel ikut tertawa. Saat ia hendak menjawab,


Gara menukasnya karena malu.


"kita pulang."


......


"Arabella !!"


Abel menggeliat, lalu tidur kembali, meringkuk seperti bayi. Gara sabar dan kembali membangunkan Abel sampai istrinya itu membuka matanya sedikit.


Bibirnya menjulur cemberut, namun tangan jahilnya malah dilingkarkan pada leher jenjang Gara.


"Sudah siang. Bangun."


Abel menggeleng pelan.


"Cium dulu, baru bangun."


"Bangun dulu, gosok gigi, nanti cium. Kan masih bau."


Abel melepaskan lilitan tangannya dan tersenyum sebelum mencuri kecupan di pipi Gara. "Ini wangi minyak kasturi."


Gara menghela napasnya menahan tawa. Ada-ada saja tingkah Abel yang menggelikan.


"Dan aku udah dapat pahala umroh," lanjut Abel yang gagal difahami Gara.


"Katanya mencium suami itu setara dengan mencium Hajar Aswad. Sini, Mas, aku ciumin sebadan!"


Gara langsung menghindar sebelum Abel berhasil menciumnya lagi. Ia menarik tangan istrinya agar bangun sepenuhnya.


"Gosok gigi dulu!"


"Aku mau romantis-romantisan dulu!"


"Bel, nurut sama suami pahalanya lebih besar."


Abel berdecak, namun tak urung beranjak ke kamar mandi, menuruti perintah suaminya sambil misuh,


"jadi suami kok nggak ada romantis-romantisnya, dasar SUTEJO!"


...........


"Mas, Mas, kiri, Mas. Biar aku aja yang turun!"


"Ini bukan angkot, Arabella," protes Gara sembari menepikan mobilnya di depan rumah mertuanya.


Abel tidak peduli lagi dengan Gara, ia sudah sangat merindukan kedua orang tuanya.


Dengan tergesa, ia membuka sabuk pengamannya lalu turun dari mobil Gara, tidak mau menunggu sampai Gara selesai memarkirkan mobilnya.


Abel langsung pintu lalu membukanya dan...


"Ya Allah!"


"Mamiiiiiiii." Abel langsung memeluk maminya tidak peduli dengan raut kaget  maminya itu.


"Abel kangen!"


Kemudian, Gracia melerai pelukan putrinya dan menjawil gemas pipi Abel.


"Makin gendut aja kamu tuh, dikasih makan apa sama Gara?"


"Makan hati," jawab Abel ketus. Ia tidak suka disebut gendut, takut jadi mirip dosennya.


Gracia tertawa geli, lalu Gara datang dan mengulurkan tangannya mencium punggung tangan mama mertuanya santun.


"Gimana kabarnya, Mi?"


"Baik, cuma Papinya Abel lagi ngambek tuh nggak jadi mancing." Liora tersenyum melihat perubahan wajah menantunya.

__ADS_1


__ADS_2