
Abel yang sadar diperhatikan, lalu mendongak tanpa menghentikan tangannya yang sedang menggaruk pantat.
"Kenapa?" Tanya-nya, yang alhamdulillah udah melepas tangannya dari pantat tepoz-nya.
Gara tidak menjawab, dirinya hanya memandang Abel.
Abel mengernyit, dengan alis terangkat sebelah.
"Kenapa? Mau sarapan? Kalo mau sarapan buat aja sendiri sana, gak liat apa gue lagi sakit!" Ucap Abel sedikit ngegas.
Gara yang mendengar itu sedikit terperanjat kaget, mulai nih jiwa bar-bar sang istri keluar.
"Yah terus apa?" Tanya Abel lagi saat setelah melihat Gara menggelengkan kepalanya.
Hening
Gara yang sibuk memandangi sang istri, dan Abel yang sibuk tengah menggerutu.
"Kamu sakit apa?" Akhirnya pertanyaan itu lolos dari bibirnya meski sedikit ada rasa gugup.
"Sakit jiwa!"Jawab Abel dengan mata yang melotot. Abel gak tau deh kenapa pagi ini bawaan-nya sensitif mulu.
"Bisa ubah gaya bicara kamu?" Tiba-tiba Gara berucap dingin, membuat jiwa bar-bar sea perlahan-lahan menghilang, nyali untuk mengamok pada suaminya seketika padam.
"Hehe, maaf khilaf" Ucap Abel sedikit cengegesan.
Gara tidak menjawab, dirinya malah berlalu pergi keluar kamar meninggalkan Abel yang sedang menggerutu sebal.
"Dasar suami gak pengertian, istrinya lagi sakit bukannya dikasih perhatian" Abel berdiri diatas kasur, lalu melempar selimut yang melilit tubuhnya ke lantai.
"Mami, apa Abel dulu durhaka sama mami? Sampai-samapi Abel dapet karma ini?" Monolog Abel sendiri dengan tubuh yang sibuk meloncat-loncat.
"Mas Athaya bawa aku mas" Monolog-nya lagi dengan tangan seperti biasa menjambaki rambut panjangnya.
Sementara kaki Abel tengah sibuk menendang-nendang bantal, membuat bantal itu terlempar kelantai.
Lihat yang diperbuat Abel mengakibatkan kamar menjelma menjadi kapal pecah.
"AKKKK" Abel menjerit kaget saat tiba-tiba tubuhnya melayang.
Oh, Ternyata Gara mengangkat tubuhnya, dan membawa-nya lari, menuruni tangga menuju lantai bawah.
"Eh, eh mau dibawa kemana nih?" Racau Abel, dan memberontak berusaha melepaskan tubuhnya dari gendongan sang suami.
Gara tidak menjawab, ia sibuk berlari keluar rumah, membuat Abel seketika melilitkan tangannya dileher sang suami, dirinya takut terjatuh, mana lari Gara kaya lomba maraton antar RT lagi.
"Mau kemana sih?" Bingung Abel setelah dirinya dimasukan kedalam mobil.
"Kita kerumah sakit-
-jiwa sekarang"
"HAH"
...........
Meja makan tampak diselimuti dengan awan kegelapan yang muncul di tubuh Abel.
Mata Abel dari tadi tak luput dari memandang sang suami yang duduk dihadapannya dengan tajam.
Nafas Abel memburu, dirinya sedang menahan amarah untuk tidak menggebug orang didepannya.
__ADS_1
Abel kira tadi Gara hanya bercanda, ternyata benar Gara membawanya kerumah sakit, ditambah jiwa.
Sampai-sampai tadi Abel harus pulang berjalan kaki, karena Gara yang keukeuh menyuruh Abel masuk kedalam RSJ.
Bahkan tadi sedikit terjadi cek-cok diantara mereka berdua, dan tolong di garis bawahan, itu terjadi dipinggir jalan.
Tak ayal orang-orang menganggap mereka sebagai pasangan pasien yang kabur dari gedung bercat putih itu.
Dan sekarang yang dilakukan Gara hanya menggaruk tengkuk kepalanya.
Seharusnya yang dibawa ke rumah sakit jiwa tuh Gara, lihatlah tak biasnya Gara cengengesan.
Abel berdiri, lalu membalikan tubuhnya dan melangkah pergi.
Gara kira sang istri akan masuk kedalam kamar, tapi dirinya salah saat Abel malah berjalan kearah pintu keluar.
"Mau kemana?" Ucap Gara sedikit berteriak, karena jarak ia dan Abel cukup jauh.
Abel tidak menghiraukan dan malah terus berjalan. Saat sampai diambang pintu Abel menghentikan langkahnya, dan membalik tubuhnya.
"Jangan cariin gue-
-gue mau cari sugar daddy"
Mengumpat adalah yang sekarang tengah Abel lakukan.
Bagaimana tidak, sudah dua hari dirinya menginap dirumah orang tuanya, dan sudah dua hari pula Gara tidak pernah menghubungi-nya sama sekali.
Setelah kejadian itu, Abel tidak pernah lagi ketemu suaminya.
Dasar suami syalan -batinnya menjerit.
Tadi Abel diajak oleh maminya, tapi karena jiwa mager yang sudah melekat ditubuhnya, Abel menolak.
Sekelebet ide muncul di benak-nya.
"Pasti si bangsat lagi ada dirumah nih" Abel menuruni ranjangnya, dan sedikit mempercantik wajah-nya. Siapa tau nanti diluar ketemu pujaan hatinya.
Keluar kamar menuruni tangga, tak lupa dirinya membawa sebungkus cemilan yang diambil dari kulkas.
Saat membuka pintu rumah Abel dikejutkan oleh sesosok yang berdiri dihadapan-nya.
Abel memandang siluet didepan-nya tajam.
Ngapa nih manusia purba ada disini- batinnya menjerit tak suka.
"Ngapain?" Tanya Abel sedikit ngegas pada suaminya.
Yah, yang berdiri dihadapan-nya tuh suami-nya alias bapak Sutejo Anggaraksa Wicaksana.
Gara tidak menjawab, malah menggaruk kepalanya, yang Abel pikir pasti banyak kutu didalam-nya.
"Ak-
"Bel"
Ucapan Gara terpotong oleh suara yang berasal dari balik tubuh-nya
Abel menyingkirkan tubuh Gara yang berada didepan-nya guna melihat siapa gerangan yang tadi menyebut nama-nya.
Dan-
__ADS_1
"Mas athaya?" Kaget Abel.
Mimpi apa gue semalem sampe didatengi mas crush -batin Abel bersorak gembira.
Gara yang penasaran akhirnya mendongak kebelakang.
"Oh jadi ini sugar Dady nya"
..........
Abel memandang sengit orang yang berada didepan-nya, dan jangan lupakan gigi yang bergelemutuk dari tadi.
Sementara orang yang didepan-nya hanya menampilkan wajah datar-nya seperti biasa.
"Jalan keluar ada disana" Abel menggerakkan tangan-nya menunjuk pintu keluar rumah, guna mengusir sang suami dari hadapan-nya.
Dasar istri durhaka
"ABEL" Teriak mami Gracia yang sekian kalian yang kala mendengar ucapan pengusiran yang terlontar dari mulut anak kedua-nya.
"Mami kenapa sih ajak masuk orang ini!" Ucap Abel sedikit berteriak, supaya bisa didengar oleh mami Gracia yang berada di dapur.
"Kalian tuh kalo lagi ada masalah bicarain baik-baik, jangan pada gini, apa lagi kamu Abel gak boleh gitu sama suami. DURHAKA" Ucap mami Gracia setelah kembali dari dapur dengan tangan membawa nampan yang diatasnya diisi oleh cemilan buatan-nya dan juga secangkir kopi.
"Itu kenapa gula yang ada di toples ilang?" Lanjut-nya, bertanya pada Abel.
"Mas Athaya minta tadi" Jawab Abel dengan jujur.
Yah tadi Athaya dateng kerumah tuh cuman mau minta gula, Abel kira Athaya mau menjemputnya untuk membangun rumah tangga, eaa
Dan yang bikin Abel kesel tuh, sama ucapan suaminya yang sangat membagongkan.
Untung tadi yang mendengar hanya diri-nya saja.
"Kamu kasih sama toples-toples nya?" Mami Gracia mengeleng-gelengkan kepala nya, memikirkan kelakuan sang anak yang sangat gila.
Itukan taperwer- batin mami Gracia menjerit, ingin mengamok tapi malu ada menantu.
Nanti ilang dong image sebagai mertua idaman
Abel menangguk menjawab pertanyaan mami-nya.
"Pulang sono" Usir Abel sekali lagi pada Gara yang langsung mendapatkan gerakan dari sang Mami.
"Kamu yang pulang sana" Ucap mami Gracia sambil melotot garang pada sang anak.
"Kok mami ngusir aku sih?"
"Mami gak sayang lagi sama aku?"
"Bukan gitu, kamu harus pulang kerumah kamu, harus ngurusin Gara kamu tuh udah jadi istri"
"Gak mau mah, Gara-nya ngeselin minta di bunuh"
"Heh, ngomongnya. Kalo kamu ngebunuh Gara terus kamu mau jadi janda heh?"
"Lebih bagus jadi janda"
Sementara Gara yang dari tadi memperhatikan pertengkaran antara ibu dan anak, melongok di tempat.
Ini dia gak salah nyari calon istri dan mertua gak sih(?)
__ADS_1