ISTRI BAR BAR Vs SUAMI DINGIN

ISTRI BAR BAR Vs SUAMI DINGIN
2


__ADS_3

Malam harinya di Masion keluarga Abiyatsa ,Abel beserta keluarganya menikmati makan malam bersama. Masih dengan bahasan tadi pagi tentang Perjodohan yang membuat Abel pusing.


Tak lama kemudian Bel berbunyi menandakan ada Tamu yang datang .Dan Abimana dan Gracia anehnya secara pribadi membuka pintu masionnya untuk menyambut tamu yang datang. Melihat hal aneh itu Abel tidak menghiraukan nya dan tetap terus melanjutkan makannya.


" Selamat malam .Kedatangan saya kesini, ingin melamar putri anda"


Brakkk


"ADUH MAMI, ABEL PINGSAN!" Teriak Raja yang melihat adiknya pingsan karena sayup sayup mendengar ucapan tamu yang datang.


...................


"Ini mas minumnya" Abel meletakkan gelas berisi kopi dimeja yang berada di hadapan calon suaminya.


Tentu saja hal itu merupakan inisiatif dari Abel sendiri yang membuat kedua orang tuanya dan kakaknya Heran melihat perubahan sikap Abel.


Abel masih menunggu, masih berdiri disana.sambil mencuri cuti pandang pada calon suami nya Tejo.


Gadis itu Mengira Sutejo yang akan di jodohkan dengan dia itu Jelek ,hitam ,tonggos seperti apa yang Bianca katakan padanya . ternyata semua tebakannya salah .


SUTEJO yang ini jauh dari kata jelek . Pria yang memiliki nama Sutejo Anggaraksa Wicaksana yang sebenarnya biasa di panggil Gara itu  memiliki kulit putih , tinggi ,hidung mancung , seperti spek opa opa Korea dan tak lupa dengan sikap dingin dan cueknya .


Kalau Abel tau dari awal yang akan di jodohkan dengannya Cogan tampan seperti ini iya tak akan menolak.


Namun selang beberapa menit pun kata-kata itu tidak keluar, yang ada malah Calon suaminya mengambil gelas, lalu meminumnya.


Setelah gelas diletakkan kembali pun kata-kata itu tidak juga keluar.


Abel masih asik menunggu, MENUNGGU CALON SUAMINYA MENGUCAPKAN KATA 'TERIMA KASIH'


Gara melirik nya, Abel sudah gradak-grudug ditempat.


Pasti mau ngucapin Terima kasih nih- batinnya menjerit.


Tapi bukan sebuah ucapan yang keluar melainkan, Gara memutuskan pandangannya dan berdiam diri mendengarkan obrolan para orang tua yang membahas tentang pernikahan nya.


Ingin rasanya Abel menjerit prustasi, lalu menjambak rambut orang didepannya. Tapi yang Abel lakukan hanya berbalik lalu berjalan dengan menghentak-hentakan kakinya.


Blamm!!


Abel menutup pintu kamarnya dengan kasar.


"AKKKKKK!!!" jerit nya dengan kedua tangan menjambak rambut panjangnya.


"MAMA ABEL MAU SAMA SI DUDA ITU AJA!!"


............


"Bi, gue mohon bantuin gue" Abel menyatukan kedua tangannya, memohon pada sahabat seperbangsatannya untuk menolong ia dari kekejaman Tejo.


"Salah lo sendiri sih" Bianca menempeleng kepala Abel, Bianca tuh sama kesalnya, bukan kesal sama Tejo yah, tapi sahabatnya.


Bianca aneh deh, Abel tuh yah udah punya suami tampan pari-purna dan kaya. Tapi malah pengen sama duda beranak satu yang kemarin secara abstrak ia ajak nikah.


"Anjir, kalo tante Gracia tau, pasti lo di coret dari ahli waris" Bianca menggelengkan kepanya kekiri-kekanan.


Abel mendengus


"Bodo amat, gue gak butuh warisan, gue maunya om Duda" Ucap Abel menggebu-gebu.


Abel masih menyesali keputusannya yang menolak SIDUDA beranak satu yang ternyata sebenarnya sifatnya ramah, dan malah menerima lamaran si Tejo. Yang tampan tapi cuek , kaku dan super dingin.


Abel menjambak rambutnya, tanda ia frustasi.


"Apa gue give-away in aja yah si Tejo" Tiba-tiba ide kurang ajar itu melintas dibenak Abel.


Plakk


"GOBLOK LO!!"


.........


Di sebuah ballroom hotel, terlihat sepasang pengantin muda yang tengah mengenakan gaun pengantin adat jawa.

__ADS_1


"Diam, Bi. Bikin malu aja lo dari tadi!" Untuk kesekian kalinya, Abel kembali mendengus sebal.


Bianca Alexander. Gadis berambut pendek yang duduk di belakang Abel tersebut tampak tak henti-hentinya menoel sanggul rambut Abel, hingga membuatnya menjadi pusat perhatian para tamu yang lain.


"Sanggul rambut lo gede banget " ujar Bianca penasaran.


Pisau mana pisau?! Abel jadi menyesal sudah mengundang sahabatnya yang satu ini.


Sementara itu, Gara tampak menghela panjang nafasnya. Tangan kekarnya membalas uluran tangan Abimana yang merupakan Ayah dari Abel gadis yang akan menjadi istrinya.


"Nak, Sutejo Anggaraksa Wicaksana,kanthi ngucap Bismillahirahmanirrahim ,Aku nikahake lan takjodohake Anakku Arabella Gabriella Abisatya pikantuk sliramu ,Kanti maskawin seperangkat alat sholat, perhiasan 100 gram , Arta sebesar 500 juta ingkang kebayar lunas."


"Kula tampi nikahipun Arabella Gabriella Abisatya putri panjenengan.kanggo Kula piyambak ,Kanti mas kawin ingkang sampun kasebut , Kula bayar lunas !" ucap Gara hanya dengan satu tarikan nafas.


"Gimana para saksi? Sah?"


"SAH!!" sahut para tamu tersebut dengan antusias.


Setelah menyelesaikan doa, Abel kemudian berbalik dan mencium tangan Gara, begitupula dengan Gara yang mencium balik kening Abel.


"Jangan lama-lama nyiumnya, nanti makeup gue luntur," bisik Abel, membuat Gara segera menyudahinya.


Akhirnya, pernikahan ini bisa berjalan lancar meskipun hanya mengundang para kerabat serta keluarga dekat mereka saja.


Hal ini merupakan permintaan Gara, membuat kedua belah pihak keluarga hanya bisa mengadakannya secara kecil-kecilan, meskipun masih terkesan mewah.


"Gue harus bilang astaghfirullah atau alhamdulillah?" Abel bergumam pelan.


Abel kemudian menoleh, menatap sosok Gara yang sedang mengambil rokok dari sakunya.


"Apa? Ngapain natap saya kayak gitu?" tanya Gara dengan sinis ketika Abel terus memperhatikannya.


"Oh my god, Tejo. Lo mau ngerokok di tempat kayak gini?" Abel menegur Gara, mengingat mereka masih berada di dalam ballroom hotel. Abel kira Tejo akan kalem seperti orang orang darah biru lainnya.tapi ternyata selain dingin pria yang jadi suaminya juga kadang ketus.


"Yang sopan !! Jangan panggil saya Tejo !! Panggil saya Gara !!". Gara tidak suka dari tadi istrinya memanggi nya Tejo . Karena nama panggilannya adalah Gara bukan Tejo.


"Ia deh Mas Gara, please. Jangan bikin gue malu," tegur Abel sekali lagi.


"Hm" jawab Gara dengan berdehem singkat.


Untung saja cowok ini kaya dan wajahnya Tampan,coba saja kalau jelek, maka mustahil Abel mau menerima perjodohan ini.


Membayangkannya saja sudah membuat Abel berdecih tidak sudi.


"Ehh, mau kemana?" Abel menatap Gara yang tiba-tiba berdiri di sampingnya.


"Mau ngerokok. Kenapa? mau ikutan ngerokok juga?"


Setelah acara pernikahannya selesai, Gara dan Abel memutuskan untuk pulang dan kembali ke rumah baru mereka.


Gara setuju saat papanya membelikannya sebuah perumahan mewah sebagai hadiah pernikahan.


"Kalian berdua jaga diri baik-baik, ya, di sini?" pinta Tuan Wicaksana. Liora ibu dari Gara mengangguk.


"Umur Abel masih muda, jadi wajar aja kalau kalian bakal sering berdebat atau mungkin berantem kecil-kecilan. Asalkan, berantemnya jangan sampai ngebakar rumah ini, apalagi rumah tetangga."


Abel memperhatikan gaya mama mertuanya tersebut yang terlihat super glamor dan tentunya sangat fashionable. Persis seperti dirinya. Ia kira mama mertua nya akan sangat ketat seperti eyangnya Gara tapi ternyata tidak.


Liora kemudian menggenggam lembut tangan Abel dan menatap Gara dengan serius.


"Apapun yang Abel minta, kamu harus kasih ke dia. Ingat kita keturunan ningrat , kita marga Wicaksana nggak boleh kayak orang susah!"


"Gimana kalau dia minta jadi istri kedua Papa?" Sahut Aby adik kandung Gara menaik turunkan alisnya.


"Aby! Mulut kamu pengen mama tampol, ya?" Liora memelototi putra bungsunya itu, membuat Aby memutar malas bola matanya.


Beberapa menit kemudian, Abel terlihat mencium tangan Eyang Kakung Gara ,


Dan kedua mertuanya dan kedua orangtuanya yang ingin pulang.


"Jaga diri kamu baik-baik, ya, Sayang? Kalau Gara kasar sama kamu, bilang aja sama mama. Nanti, mama bakal masukin dia kembali ke rahim mama," ucap Liora sambil mengacungkan kedua jempolnya kepada Abel, membuat Abel terkekeh geli.


Setelah kedua orang tuanya pergi, Gara segera mencari kunci rumahnya yang ia letakkan di dalam saku celananya.

__ADS_1


"Cuman kita doang yang bakal tinggal di sini?" tanya Abel.


Gara diam saja tak menjawab.


Abel menatap rumah mewah berlantai dua di hadapannya itu yang dilingkupi cat berwarna putih, abu-abu, dan hitam.


Seluruh area rumah itu dikelilingi oleh pagar tinggi sehingga membuatnya terjamin aman dari yang namanya maling.


"OH MY GOD, GARA! LO MURTAD?! KOK, DI RUMAH INI ADA KOLAM BABINYA, SIH?!" Abel menjerit heboh saat iris coklatnya melihat sebuah kolam yang terletak di tengah-tengah rumah mereka.


Gara mendengus. Dan menjawab dengan malas.


"Itu kolam ikan "


Abel mengangkat acuh bahunya.


"Kok, isinya cuman Ikan koi doang?" tanyanya sambil melirik isi kolam ikan tersebut.


"Kenapa emang? Kamu mau ada biawaknya juga?"


Abel menghela nafas panjang. Dirinya harus ekstra sabar dalam menghadapi cowok cuek modelan Gara.


"Besok tambahin ikan piranha juga. Sekali nyebur, pindah alam lo," jawab Abel dengan tampang jengkelnya.


Sabar Gara, sabar. Berbicara dengan Abel memang membutuhkan mental yang kuat agar tidak sakit hati.


"Kamu ternyata kaya banget ya, Mas?" Abel dengan girang berjalan mengekori Gara yang sudah memasuki kamar mereka di lantai dua.


"Ini walk in closet khusus buat aku, kan?" tanya Abel ketika Gara meletakkan koper-koper mereka di depan sebuah walk in closet yang berada di dalam kamar tersebut.


"Punya kamu sama aku," koreksi Gara.


Abel mendengus mendengar jawaban cowok itu. Pakaiannya dapat terbilang sangat banyak, jadi tidak akan cukup jika harus berbagi walk in closet dengan Gara. Belum lagi kalau dirinya habis shopping, pasti pakaiannya bakal bertambah banyak.


Seketika kedua mata Abel langsung terbelalak kaget saat Gara malah tiba-tiba membuka baju kaosnya di depannya.


Gila! Nodai adek, Mas!


"Jangan, Mas. Aku tau kalau ini malam pertama kita, tapi gue beneran belum siap," ujar Abel seraya menggelengkan kepalanya.


Gara mengernyit. Ia maju mendekati Abel, membuat Abel malah semakin melangkah mundur.


"Please, mas. Aku masih pengen segel."


"Hah?"


"Om. Jangan, Om. Saya masih kecil, Om."


Gara menyentil jidat Abel, membuat gadis itu meringis kesakitan.


"Bilangnya nggak mau, tapi kancing bajunya malah pada dibuka," cibir Gara sembari menatap Abel yang malah membuka kancing bajunya sendiri.


Abel menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Malu sendiri karena ulah tangannya yang tidak bisa diajak bekerja sama.


"Aku cuman mau mandi. Kamu nggak usah mikir yang macem-macem," kata Gara, membuat gadis itu semakin meringis malu.


"Lagian kamu ngapain, sih, tiba-tiba buka baju di depan gue? Bikin otak saya jadi travellingaja."


Tak menghiraukan ucapan Abel, Gara kemudian membuka kopernya dan mengambil handuk, serta pakaian gantinya dari sana.


"Bersihin kamarnya. Habis mandi, saya mau langsung tidur." Setelah mengatakan itu, Gara segera beranjak memasuki kamar mandi yang berada di pojok kamar.


Abel menghentak-hentakkan kakinya di lantai.


Apa tadi katanya?


Ngebersihin kamar?


Oh my god. Nggak sudi, Sayy!


Daripada membereskan kamar seperti yang Gara suruh, Abel lebih memilih untuk keliling dan melihat-lihat isi rumah barunya ini.


Di lantai 1 terdapat garasi, halaman belakang, dapur, ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, kolam ikan, dan juga kamar mandi. Sementara di lantai dua, terdapat 2 kamar, sebuah ruangan kosong, dan juga sebuah ruangan gaming milik Gara.

__ADS_1


"Gara tajir juga , Gajadi nyesel deh !!" Ucap Abel sambil cengengesan.


__ADS_2