
Gara meringis pelan, merasa tidak enak hati. Semalam memang Papa mertuanya mengajak Gara untuk mancing ikan, tapi Gara kesiangan karena Abel dandannya lama sekali.
"Ya ampun, Papi aku." Abel menepuk dahinya sendiri seolah merasa teringati kalau ia masih mempunyai Papi.
"Papi aku di mana, Mami?"
"Taman belakang, paling."
Abel langsung masuk rumah begitu mendengar jawaban maminya. Sedangkan Gara berdalih,
"tadi habis beres-beres dulu, Mi, jadi agak telat."
"Nggak apa-apa sih, tenang aja. Kamu tuh kayak yang nggak tahu Papi kamu aja."
Gara hanya terkekeh menanggapinya. Tentu ia tahu betul bagaimana sifat ayah terkadang memang labil Persis Abel.
"Ya udah, Gara mau nemuin Papi dulu."
"Nggak minum dulu, Gar?"
Gara menggeleng. "Nanti aja Gara ambil sendiri kalau haus."
Setelah mendapat anggukan dari Gracia, Gara menyusul Abel mencari ayah mertuanya.
Begitu sampai taman belakang, dari pintu full kaca, Gara melihat Abel mencoba berbicara pada Papinya yang menyilangkan tangannya depan dada seperti tampak merajuk.
"Papi Abimana!" Abel memanggil Papinya, namun Abimana menyerongkan posisi berdirinya, tidak mau melihat Abel.
Gara menghentikan langkahnya, menyimak drama ayah dan anak di depannya.
"Papi, Abel kangen. Papi nggak kangen Abel?" tanya Abel.
"Kangen." Abimana menjawab ketus.
"Terus, kenapa nggak mau peluk?"
"Males."
"Tapi mau cium?"
"Mau," jawab Abimana.
Langsung saja Abel mencium pipi papinya singkat dan berkata,
"Abel sayang Papi banyak, sebanyak buih di lautan."
Mendengar itu, Abimana melirik menantunya yang hanya berdiri di ambang pintu. Lalu, Abimana membawa putrinya ke dalam dekapannya dan membalas,
"Papi juga sayang kamu banyak, sebanyak air di lautan."
Akhirnya, Gara menghampiri istri dan papi mertuanya. Ia mengulurkan tangannya, mencium punggung tangan Abimana juga seperti yang ia lakukan pada Gracia sebelumnya.
Abimana langsung melepaskan pelukan Abel, lalu menyentil daun telinga Gara tiba-tiba.
"Kamu itu gimana sih, ngaretnya sampe dua jam segala. Mancingnya kan jam delapan, ini udah jam 10 baru datang!"
Abimana melanjutkan ocehannya sambil mencari ponselnya. Sedangkan Gara melirik Abel yang malah memberikan heart sign, saranghae pada Gara sembari tersenyum lebar.
Gara berdeham saja, dan lanjut mendengarkan ocehan Abimana yang curhat karena tidak jadi memancing pagi tadi.
"Papi tuh ya udah ngajakin Papi kamu, tapi kamu tahu nggak dia malah balas apa?" tanya Gara sambil fokus pada ponselnya.
Lalu, ia menunjukan layarnya pada Gara.
"Malah ngirim pap!"
Gara melipat bibirnya ke dalam melihat foto kiriman ayahnya, malu.
Tampak Arion ,papanya sedang merangkul mamanya yang bersandar pada bahunya dengan keterangan,
nggak bisa balas chat, lagi sibuk pacaran.
"Itu foto udah lama sih, Pi. Dulu juga Papa spam foto itu di grup keluarga," kilah Gara.
__ADS_1
"Mana lihat!" Abel langsung merebut ponsel Papinya dan bersahut,
"oh iya, aku juga pernah lihat foto ini dari Aby. Katanya, Papa Arion lebay."
"Emang lebay, yang nggak lebay mah cuma Papi sama Mami Gracia," timpal Abimana sambil memasukan kembali ponselnya ke saku celana.
"Tapi nggak apa-apa, berarti Arion nggak mau mancing ikan. Jadi Papi mau mancing ikannya sama Gara aja. Nanti sore tapi, sama Pak RT ini mah, beda acara lagi. Bisa mancing nggak kamu?"
"Bisa," jawab Gara padahal nggak bisa.
Yang penting Abimana diam . Urusan nanti, gimana nanti aja.
***
"Saya aja yang bawa motor. Kamu pegang ini." Abimana memberikan alat pancing pada menantunya.
Gara diam di tempat, sembari membereskan kembali alat pancing dalam tas yang tidak tertata rapi sembari menunggu mertuanya mengeluarkan motor.
Abimana keluar garasi dengan motor vespa metiknya dan mulai bercerita,
"ini tuh motor penuh kenangan, sejarahnya nggak main-main. Dulu kalau pacaran sama Maminya Abel itu pake motor ini. Sengaja nggak pernah nyimpan jas hujan di bagasi motor, biar kalau hujan ada alasan buat neduh, terus mojok di depan toko kelontong yang udah tutup, mesra-mesraan. Indah pokoknya mah. Nggak bakal dijual tujuh belas miliar ini motor. Karena kemahalan juga sih kalau segitu. Mau naik nggak?"
Sejak tadi juga Gara mau naik, tapi menunggu Abimana selesai dulu bercerita, baru Gara mengangguk sebelum naik motor yang bersejarah.
Abimana melajukan motornya keluar pekarangan rumahnya sambil lanjut bercerita.
Gara kurang menyimak karena suara mertuanya tidak jelas, sawur dengan angin jalanan.
Gara cuma menjawab dengan kalimat, iya, masa, oh gitu, hmm. Cerita
Abimana masih berlanjut, sampai ia menepikan motornya di depan rumah bercat abu-abu muda.
Lalu gerbangnya terbuka, dan Abimana langsung bersahut,
"mana, katanya Pak RT mau pake motor harley?"
"Gayanya, bawa mantu segala. Bentar, Pak Abimana." Pak RT masuk lagi setelah berucap usil.
Abimana berbisik pada Gara,
Gara mengangguk saja. Penjelasan Abimana sudah cukup menghilangkan keheranan Gara, juga pasrah menjadi bahan pameran Abimana pada Pak RT.
Lalu Pak RT keluar, menaiki motor Harley antiknya lalu berucap,
"eh, Pak Abi, tahu nggak anaknya Bu Fey yang bungsu, yang perawan itu kemarin malam nikah!"
"Nikah? Malam-malam?" ulang Abimana membulatkan matanya.
"Kok nggak undang-undang ya?"
Pak RT memainkan gas motornya supaya mesinnya cepat panas sambil menjawab,
"iii Pak Abi mah nggak tahu ya, dia hamil di luar nikah. Makanya nggak rame-rame. Katanya sih udah telat tiga bulan."
Abimana menepak spido meter motornya gemas.
"Bikin kesel aja Bu Fey itu. Dulu ya, dia rajin banget ngomongin anak saya, katanya Abel nakal, pacarnya sering ganti. Anaknya sendiri malah hamil di luar nikah. Abel aja yang udah nikah belum hamil-hamil tuh. Bu Fey emang ya kalau ngomong lidahnya suka kebalik!"
Gara melengos, bukan karena mertuanya yang menyinggung kehamilan Abel, tapi ia sudah mulai jemu mendengar ghibahan bapak-bapak di depannya. Kalau begini, bisa-bisa mereka kesorean.
"Pi, jadi mancing?" tanya Gara memberanikan diri.
"Jadi dong!" Tapi Abimana malah menyetandarkan motornya dan turun.
"Kamu aja yang pake motornya. Saya mau ikut Pak RT aja."
Akhirnya, Abimana naik motornya Pak RT. Sedangkan Gara kerepotan membawa alat pancing dan motor secara bersamaan.
***
"Kayaknya kamu udah mulai terbiasa ya sama omelan Abel," ucap Abimana begitu Gara sudah dekat dengan meja makan.
Gara tersenyum tipis sambil menyimpan piring ikan hasil tangkapan Abimana.
__ADS_1
Tentu saja ia mengerti dengan arah pembicaraan Abimana. Papi mertuanya itu sejak tadi tidak berhenti mengoceh, mencibir
Gara yang tidak berhasil menangkap ikah satu pun.
Abel jadi ikut mengomelinya karena katanya Gara tidak sehebat papinya.
Begitu Gara duduk di kursi, Abimana melanjutkan dengan suara yang begitu pelan nyaris berbisik,
"kamu maklum aja ya, Gar, Abel itu mirip Maminya. Ambekan, sensi, hobi ngomel. Tapi kadang juga Abel jadi anak yang sabar, gampang luluh, kayak saya gitu."
"Iya, Pi." Gara menjawab cepat karena melihat kedatangan Abel dan Gracia yang masing-masing membawa mangkuk di tangan mereka, memberi kode pada Abimana, takut salah satunya mengamuk.
Gara mengambil alih mangkuk opor dari tangan istrinya dan menyimpannya di meja.
Sekarang, semua sisi meja makan berbentuk persegi itu, sudah terisi semua. Abel mulai mengisi piring milik Gara dengan nasi dan lauk pauk, hal yang sama dilakukan Gracia pada Abimana.
Sembari menunggu piringnya terisi, Abimana bersahut pada istrinya,
"Ay, kayaknya kita emang harus bikin anak lagi deh, biar kita nggak kesepian kalau Abel di rumah Gara, Lagian anak bujang kita juga suka keluyuran gak pernah di rumah dan Abel juga punya adik gitu."
"Nggak!" Abel menodongkan sendok yang sudah di tangannya ke arah Abimana yang berhadapan dengannya.
"Abel nggak mau punya adik!"
"Lha, kenapa? Kan nanti ada yang panggil kamu kakak. Waktu kecil juga kan kamu tuh penginnya dipanggil kakak."
"Sekarang nggak!" Abel mengangguk samar, membiarkan Gara menyimpan piring yang sudah penuh di depannya.
"Nanti anak sama adiknya Abel seumuran!"
"Ya nggak apa-apa-"
"Aneh, Papi!" Abel mulai mendebat papinya sampai sendok di tangannya meluncur begitu saja ke kolong meja.
Abel menunduk, hendak mengambil sendok makannya di bawah meja. Sedangkan Gara, sigap menutupi sudut meja, jaga-jaga kepala Abel kepentok.
Syukurnya, itu tidak terjadi. Abel kembali duduk tegak dan mulai menyuapkan makan malamnya.
"Padahal, kalau punya anak lagi bakal seru," gumam Abimana. Ia baru berhenti setelah mendapat pelototan istrinya.
"Bercanda, Sayang!"
Gracia acuh, dan melanjutkan makannya dengan tenang. Sedangkan Abel masih memperhatikan interaksi orang tuanya.
Menurut Abel, Papinya adalah gambaran suami idaman. Sangat, sangat romantis. Sampai-sampai kalau Abimana menggombali Gracia, malah Abel yang baper saking romantisnya.
Kadang, Abel tidak habis pikir kenapa ayahnya begitu kreatif menjadikan suasana apapun menjadi manis berkat keromantisamnya.
Saat Abimana berdeham, Abel makin melebarkan telinganya. Namun, Abimana hanya memanggil istrinya saja.
"Apa Pi ?" jawab Gracia. "Tambah nasi?"
Abimana hanya tersenyum dan menggeleng singkat.
"Cuma heran aja. Kamu tuh lagi ngunyah aja bisa banget bikin aku jatuh cinta."
Gracia langsung mendelik sinis dan menjawab lirih,
"malu sama anak-anak!"
Sedangkan Abel sudah menahan jeritannya sejak tadi, sejak ayahnya melemparkan gombalan.
Lalu Abel menoleh ke sebelahnya dan mendapati suaminya yang sedang meneguk air minum.
Abel langsung mengguncang bahu Gara pelan.
"Apa?" tanya Gara.
Abel malah mengedipkan matanya cepat, memberi kode supaya Gara menggombalinya juga, sama persis seperti yang dilakukan Abimana barusan.
Masa iya Gara tidak mendengarnya, segitu posisi duduk Gara dan Abimana cukup dekat. Ibaratnya Abimana berbisik pun, pasti kedengaran sama Gara.
"Oh," lanjut Gara membuat Abel semakin tidak sabar mendengar gombalan suaminya.
__ADS_1
Gara berdeham pelan dan berucap,
"makan sama sayurnya juga, Bel. Biar sehat."