ISTRI BAR BAR Vs SUAMI DINGIN

ISTRI BAR BAR Vs SUAMI DINGIN
6


__ADS_3

Kalian tau apa yang dua hari ini Abel lakukan(?)


Yaitu mengurung dirinya dikamar, sambil menangis tersedu-sedu dipojokan.


Abel itu berasa bersalah pada suami-nya.


Bahkan Gara sampai harus dibawa kerumah sakit.


Tapi untung-nya beberapa jam lalu Bianca datang dan berhasil membujuk Abel untuk keluar dari kamar.


"Bianca hiks gue ngeracuni hiks Gara" Ujar Abel sambil menangis tersedu-sedu. Bianca prihatin melihat penampilan Abel yang sangat kacau.


Rambut acak-acakan, mata sembab, hidung merah.


Tangan Bianca terulur mengusap punggung sang teman.


"Kita kerumah sakit yah, jenguk suami lo" Bujuk Bianca, soalnya selama dua hari Gara dirawat dirumah sakit Abel tidak pernah sekalipun memperlihatkan batang hidung-nya disana.


Karena Abel masih merasa enggan menemui Gara, Abel merasa bersalah.


Untung waktu itu ada abang-nya, Raja yang berkunjung, jadi saat itu Gara dibawa kerumah sakit oleh Raja.


Abel menggeleng lalu menangis dengan kencang.


"Yaampun bel, lo tuh salah paham tau" Bianca sekali lagi menenangkan Abel, dengan membawa tubuh teman-nya kedalam pelukan.


"Enggak bi, kata Abang Raja, mas Gara drop"


Abel sesegukan dalam pelukan Bianca.


Iya, selama dua hari ini Abel bertukar pesan dengan kakak-nya. Untuk menanyakan kabar sang suami. Dan kata Raja ,Gara sampai harus dioperasi karena kekurangan darah.


Mengingat itu tambah membuat tangisan Abel menjadi kencang.


"Bang Raja kok dipercaya"


............


Akhirnya setelah Beberapa jam membujuk Abel, Bianca akhirnya membawa teman bangsat-nya mengunjungi Gara.


Tapi meski dengan satu syarat, untung syarat-nya gak aneh. Cuman Bianca disuruh menemani masuk saja.


Abel dan Bianca tengah berdiri di hadapan pintu bercat putih didepan-nya, sebenar-nya Bianca dari tadi sudah akan membuka itu pintu, tapi selalu terhalang oleh Abel yang katanya masih belum siap.


"Kan gue temenin" Bujuk Bianca lagi, dan akhirnya sekarang mendapat-kan anggukan dari Abel.


Tangan Bianca bergerak memegang knop pintu, Abel langsung bergerak mundur dan bersembunyi dibalik tubuh Bianca. Bianca mendorong-nya membuat pintu itu terbuka lebar.


"Halo semuanya" Sapa Bianca.


Ternyata diruangan-nya banyak Para keluarga berkumpul, Ada orang tua, dan adik-nya Gara. Dan jangan lupakan Raja yang tengah sibuk dengan Phonsel-nya.


Abel yang melihat itu semakin menyembunyikan tububnya, dibelakang Bianca.


"Bianca, masuk nak" Ujar Mama Liora, mamanya Gara.


"Eh ada menantu mama juga, masuk Sayang" Lanjut-nya setelah menyadari kehadiran Abel.


Tangan Bianca menarik tangan Abel lalu menarik-nya membawa masuk kedalam ruangan.


"Tuh Bel, suami lo katanya kangen" Ujar bianca tiba-tiba membuat Abel jadi semakin gugup.


Abel mendongak-kan kepalanya, dan seketika langsung menundukan kepala-nya lagi, saat matanya tak sengaja memandang Gara yang sedang memandang kearah-nya pula.


"Istri durhaka, suami lagi sakit bukan-nya ditemenin, malah ngilang" Ujar Raja Yang kini sudah meletakan Phonsel-nya dimeja.


Abel tambah menunduk, malu tau, mana ada mertua-nya lagi.


Emang kaka laknat


"Mba Abel kemana aja, mas Gara kangen nih" Ujar Aby, adik-nya Gara ikut-ikutan.


Bisa Abel dengar kekehan dari kaka laknat-nya.


"Hush, udah jangan gitu, sini Abel duduk disini" Mama liora menarik Abel dan mendudukan tubuh Abel dikursi tepat disamping ranjang Gara.


Hal itu membuat Abel semakin menundukan kepala nya, masih belum berani melihat langsung suaminya.


Gara yang melihat itu mengernyit bingung.


"Kok nunduk? Jerawatan yah?" Ujar Gara membuat Raja Dan Aby menyemburkan tawanya, tak lupa juga Bianca. Dan sedikit terdengar kekehan dari Kedua mertuanya.


Yaudah, Abel kembali lagi menunduk, membuat kepalanya bersentuhan dengan ranjang yang Gara tiduri.


"Hiks, hiks"


Mereka semua langsung terdiam saat mendengar isak tangis keluar dari mulut Abel, dan tubuh Abel yang bergetar.


"Eh kenapa?" Bingung Gara dan menepuk bahu bergetar istri-nya.

__ADS_1


Bukan-nya berhenti, Abel malah menangis kencang. Membuat semua orang yang ada disana kaget.


"Kamu kenapa?" Gara tambah bingung.


Abel mendongak-kan kepala-nya, membuat Gara bisa melihat wajah sembab Abel.


"HUAAAA" Abel menangis kencang, membuat semua orang tambah kaget. Gara langsung menepuk-nepuk pipi istrinya.


Dua hari ditinggal kok jadi gini- batin Gara


"Yaampun Abel kenapa" Mama liora langsung berdiri dan mengusap punggung menantu-nya.


Semua orang saling lirik, merasa bingung. Bianca yang mengerti hanya bisa mengulum senyum-nya.


"HUAAA MAAF"  Abel berdiri dan langsung menghambur memeluk tubuh sang suami.


Gara terperanjat kaget, bahkan semua orang terperanjat kaget.


"Maaf hiks"


Meski bingung Gara membalas pelukan Abel dan mengusap punggung sang istri.


"Kenapa minta maaf?" Tanya Gara yang bingung dengan sikap istrinya. Apa kerena sudah dua hari ditinggal kepribadian Abel jadi berbahaya(?)


"Maaf ini salah aku, hiks aku yang udah bikin kamu begini hikss maaf-


-tapi aku waktu itu gak sengaja masukin cuka kedalam kopi kamu" Abel semakin menyembunyikan kepala-nya kepalanya didada bidang sang suami.


Semua orang terheran-heran.


Tangan Gara meraih dagu dan, dan mendongak-kan nya.


"Maksud-nya saya gak ngerti?" Tanya Gara, membuat Abel menghentikan tatangisan-nya.


Abel menegak-kan tubuh-nya, lalu menghela nafas.


"Ini tuh salah aku, waktu itu akau masukin cuka ke kopi kamu, aku udah ngeracuni kamu, hiks"


HENING


"HAHAHHAHAHAH"


Tiba-tiba semua orang disana menyemburkan tawanya, terkecuali Gara yanga hanya terkekeh kecil.


Dan Raja dan Bianca lah yang ketawanya paling kenceng.


"HAHAHA lo percaya gue boongin" Ujar Raja Disela tawanya.


Abel yang mendengar itu terlihat bingung, mata Abel melirik kanan kiri. Dan tak sengaja matanya melihat kaki Gara yang diperban.


"Saya waktu itu bukan pingsan gara-gara minum kopi kamu, tapi saya kepeleset" Ujar Gara dengan kekehan diakhir kalimat-nya.


Oh istrinya menangis-tuh cuman gara-gara salah paham. Ingin sekali rasanya Gara menyemburkan tawanya, tapi Gara harus menjaga image-nya.


Abel yang mendengar itu kembali menyembunyikan wajah-nya pada dada bidang Gara.


Abel malu


Gara tengah berbaring diatas ranjang, dan disampingnya Abel sibuk menyuapi makanan kedalam mulut Gara.


Padahal Gara masih bisa memakan-nya sendiri. Emang dasar abel-nya aja yang lebay. Katanya takut kaki Gara tambah sakit.


Padahal makan tuh menggunakan tangan bukan kaki.


Abel memberikan suapan terakhir.


"Emm anak pinter" Abel mengusap kepala sang suami lembut, dan berlalu pergi keluar untuk mengambil air minum yang tertinggal didapur.


Gara yang diperlakukan seperti itu bergidig ngeri.


Yang biasanya Abel selalu bodoamat, tapi kini setelah kepulangan Gara dari rumah sakit. Abel menjadi lebih perhatian pada Gara.


Ntahlah, gara juga bingung.


Abel kembali dengan gelas berisikan air ditangan-nya, setelah sampai disamping Gara, Abel langsung mengarahkan gelas-nya pada mulut Gara.


Dengan telaten Abel membersihkan air yang sedikit bercucuran disudut bibir Gara menggunakan tangan-nya.


Gara sempat berpikir, apa setan bar-bar pada tubuh Abel sudah hilang(?) sampai membuat sang istri menjadi lebih perhatian pada dirinya.


Abel berjalan, menaiki ranjang yang berada disebelah Gara, lalu menidurkan tubuh-nya disana. Tangan Abel menarik selimut sampai menutupi tubuh Gara dan dirinya.


Gara memperhatikan apa yang istrinya lakukan dari tadi. Kenapa Abel menjadi perhatian seperti ini(?)


Abel yang merasa diperhatikan memindahkan pandangan-nya pada Gara, tidak ada yang bicara mereka hanya saling pandang. Gara yang merasa sedikit kikuk mengalihkan pandangan-nya. Lalu tangan-nya menggaruk belakang kepala yang sama sekali tidak gatal.


"Kenapa digaruk? Banyak kutu yah?" Ujar Abel membuat Gara melotot.


Tangan Abel terulur merapikan rambut Gara yang berantakan, bukan maksud apa-apa ya, Abel tuh geregetan liat-nya. Bukan hanya tangan Abel yang maju tapi wajah-nya pun ikutan maju.

__ADS_1


Gara membeku saat wajah Abel berada tepat dihadapan-nya.


Kenapa jantung Gara berdetak dengan cepat(?)


Brakk


Abel dan Gara terperanjat kaget, saat mendengar pintu yang dibuka cukup kencang, dan tangan Abel dengan reflek menjambak rambut tebal Gara, membuat siempu-nya meringgis sakit.


"ASTAGHFIRULLAH, MATA GUE" Raja si pelaku berteriak histeris karena mata suci-nya sudah ternodai.


Terdengar suara gudubrak-gudubrak dari lantai bawah. Seperti suara seseorang yang tengah berlari.


Tubuh tegap Raja tersingkir karena dorongan dari belakang.


"Mami bentar lagi dapet cucu?" Mami Gracia berdiri dibalik tubuh Raja, yang sudah dirinya dorong. Tak lupa  mata-nya yang melotot, setelah itu tersenyum sumringah melihat kemesraan antar anak dan mantu-nya.


Padahal kejadian-nya gak gitu.


Abel yang baru menyadari tangan-nya menjambak rambut Gara langsung melepaskan-nya, dan mulut-nya mengucapkan kata maaf.


"Tuh kan mami bilang juga apa, mereka berdua tuh lagi sibuk-" Jeda mami Gracia dan memandang Abel dan Gara bergantian dengan senyum tengil.


"-Sibuk bikin cucu" Lanjut-nya dengan alis yang dinaik turunkan.


Abel hanya bisa mendumel dalam hati, melihat kelakuan mami-nya yang super ajaib.


Sementara Raja hanya bisa bengong, salah-nya disini tuh apa(?) bukan-nya tadi dirumah mami yang buru-buru mau kesini mau melihat keadaan menantunya.


"Udah kita pulang aja" Mami Gracia berbalik mendorong tubuh tegap sang anak, Raja hanya bisa pasrah saja.


Saat berada diambang pintu mami Gracia menghentikan langkah-nya dan berbalik.


"Lanjutin aja, buat yang banyak yah, semangat" Ucap-nya dan setelah itu berlalu pergi.


Abel mengusap wajah-nya tanda ia frustasi, lalu mendongak memandang Gara dengan cengiran khas-nya.


"Bukan mami aku"


.............


Sudah dua minggu berlalu, kaki Gara sekarang sudah sembuh, dan sudah bisa digerakan.


Dan sekarang saja Gara tengah joging ditaman yang tak jauh dari rumah-nya, dan jangan lupakan Abel yang berada jauh di belakang, Abel tengah berjongkok sedang mengatur nafas-nya karena kelelahan.


Udah tau tubuh-nya lemah, masih aja mau ikut Gara joging.


Iyah, tadi pagi Abel bersikeras mau ikut joging, padahal udah Gara larang, karena dirinya tau Abel itu mudah kecapean, bahkan lari dari kamar ke pintu utama rumah aja Abel sering ngeluh cape.


Entah Abel yang terlalu lemah, atau rumah mereka yang terlalu besar.


Semenjak Gara pulang dari rumah sakit Abel tuh sering banget ngintilin dirinya ke mana-mana, bahkan waktu Gara mau kerja saja, abel ingin ikut. Untung-nya Abel masih bisa dibujuk.


Gara menghentikan langkah-nya dan berbalik memandang istrinya yang masih berjongkok dengan nafas memburu.


Gara melangkah menghampiri Abel, lalu ikut berjongkok didepan sang istri.


"Capek?" Tanya Gara.


Abel mendongak, dan langsung tersenyum sumringah.


"Gak kok, ayo lanjut" Abel berdiri dan langsung menarik tangan Gara untuk ikut berdiri.


Gara tau sang istri kelelahan. Jadi Gara menarik tangan Abel membuat mereka kembali berjongkok.


Gara menbalikan tubuh-nya dengan posisi yang masih berjongkok.


"Naik" Ujar-nya.


Abel memandang punggung tegap Gara.


"Naik kesini maksud-nya?" Tanya Abel menepuk punggung Gara. Yang langsung diangguki oleh Gara.


"Dihh, mau modus yahh?" Abel tertawa renyah, mengerti maksud dari suaminya.


Dasar tukang modus- batin Abel


Gara menghela nafas, mau modus apa coba, mereka kan sudah sah jadi suami istri.


"Yaudah sih, kalo gak mau" Gara sudah bersiap untuk berdiri, tapi tertahan oleh tubuh Abel yang tiba-tiba memeluk leher-nya.


"Dih ngambekan" Ujar Abel dengan tangan yang memeluk leher Gara erat.


Gara berdiri, tangan-nya menekuk kebelakang, mengang-kat tubuh Abel yang lumayan berat.


"Berat banget, kamu makan apa sih? Makan rumput?" Ujar Gara yang langsung mendapatkan tabokan dari tangan Abel didada-nya.


Gara mulai melangkah, tujuan Gara sekarang ke rumah, karena sudah merasa cukup olahraga hari ini.


"Ya kali makan rumput"

__ADS_1


__ADS_2