ISTRI BAR BAR Vs SUAMI DINGIN

ISTRI BAR BAR Vs SUAMI DINGIN
7


__ADS_3

Kau lah yang terbaik untuk-ku


Itu adalah sepenggal kata yang selama ini Gara rasa-kan, entah kapan rasa itu datang pada diri-nya.


Gara-pun tidak tahu. Tapi, setiap kali mata-nya memandang wajah Abel ,Gara selalu merasa bahwa hidup-nya kini telah sempurna.


Sebelum-nya Gara selalu merasa kekosongan dalam hati-nya, tapi setelah bertemu dengan Abel hatinya serasa penuh oleh rasa-


Entahlah Gara tidak tau, apa itu rasa cinta atau apa.


Dan yang pasti rasa itu muncul saat pertama kalinya Gara bertemu dengan Abel, dan bertatapan langsung dengan manik mata wanita itu.


Setelah pertemuan-nya dengan Abel waktu itu, Gara selalu uring-uringan karena dada-nya yang selalu berdebar setiap kali dirinya membayangkan wajah cantik Abel.


Saat masih kecil Gara selalu berdebar setiap kali mengejar ngejarnya.


Dulu Wanita itu selalu mencoba mencari perhatiannya bahkan memaksa nya untuk menikahinya ketika dewasa . Ia pun masih ingat bagaimana bahagia nya gadis itu ketika dia merespon sikap capernya dengan senyuman .


Gara yang melihat itu pun ikut tertawa melihat bagaimana raut bahagia yang terpancar dari wajah Abel.


Dan kala manik mata itu memandang-nya tak sengaja, membuat tubuh Gara yang rileks tiba-tiba menegang, dan dada-nya bergetar. Entah Gara tidak tau, tapi yang pasti dirinya suka akan hal itu.


Kemudian Minggu lalu Eyang Kakung ya bilang mau menjodohkan nya dengan cucu temannya .Awalnya ia menolak permintaan Eyangnya .


Namun satu hari setelah itu mama nya mengirimkan foto gadis yang akan di jodohkan denganya.


Dan Gara shock saat melihat foto calon yang akan di tunangkan dengannya ternyata wanita yang selama ini selalu berkeliaran dipikiran-nya. Hal itu membuat tubuh-nya semakin menegang, dada-nya semakin berdebar. senyum sumringah yang menghiasi wajah-nya.


Gara langsung menemui orang tua-nya


"Pah, mah, Gara gak mau tunangan , maunya langsung nikah"  Ujar Gara kala itu saat sudah menemui kedua orang-tuanya.


Dan yang  dapat-kan waktu itu adalah sebuah pukulan dibadan-nya oleh sang mama.


"Kemarin bilangnya nggak mau !"


..........


Plak


Gara terperanjat dari lamunan-nya, saat merasakan tepukan dibahu-nya.


"Ngelamun, ntar kesambet gue yang repot" Ujar Raja si pelaku yang membuyarkan lamunan Gara.


Gara menggaruk tengkuk kepala-nya.


"Mikirin apaan sih, sampai senyum-senyum geje?" Tanya Raja.


"Mikirin yang gak-enggak yah?" Lanjut-nya dengan tersenyum tengil.


Gara menggeleng.


Terdengar decakan dari mulut Raja.


"Bel, suami lo kaya-nya sariawan deh!!" Ujar Raja sedikit berteriak, agar bisa terdengar oleh Abel yang sedang berada di dapur.


Abel muncul membawa cangkir berisi kopi ditangan-nya. Lalu meletak-kan nya dimeja yang berada di hadapan Gara. Abel lalu mendudukan bokong-nya disamping Gara.


"Gak campur cuka kan?" Ujar Gara bercandan, yang langsung men dapat-kan gelengan dari Abel.


"Yang gue mana Bel?" Tanya Raja, sedikit berharap siapa tau sifat durhaka sang Adik sudah hilang.


"Buat sendiri sana" Jawab Abel tanpa memandang Raja karena tengah sibuk dengan ponsel ditangan-nya.


Emang jangan berharap lebih sama Abel tuh.


"Kenapa gak sekalian aja buatin?" Ujar Raja lagi.


"Males" Jawab Abel sedikit malas


"Mangkanya cari istri sana, biar ada yang ngebuatin kopi, terus biar ada yang masakin, sama urusin" Abel meletakan ponsel dimeja memandang wajah abang-nya dengan wajah lempeng.


"Gue mah cari istri bukan pembantu" Sangkal Raja.


Abel melempar kotak tisu yang ada dimeja, dan berhasil mengenai tangan Raja, membuat abang-nya meringgis sakit.


"Terus gue pembantu gitu?" Ujar Abel sedikit ngegas.


Raja mengguk sambil mengusap tangan-nya yang sedikit sakit.

__ADS_1


"Tampang lo kaya pembantu"


Rasanya Abel ingin menjual abang-nya saja.


"Jomblo sih lo, nyari calon istri dimana yah kan?" Abel tersenyum mengejek.


"Eh sekalinya nemu yang pas, malah istri orang" Lanjut Abel dengan kekehan diakhir kalimat-nya.


Raja melotot.


"Gar, boleh gue bakar istri lo?" Raja menunjuk Abel menggunakan dagunya dengan mata yang masih melotot.


Kalo mau nakut-nakutin Abel pelotot Raja gak akan mempan.


Gara memandang bergantian adik-kakak didepan-nya.


Kenapa cuman Gara doang yang waras disini(?)


"Lo juga yah, udah punya suami tapi masih suka sama duda" Sekarang giliran Raja yang tersenyum mengejek.


"E-eh enggak yah" Sangkal Abel.


"Halah ngaku lo, lo sering kesini tuh bukan mau ketemu mami, tapi mau liat Athaya, hayo ngaku?"


"Fitnah lo"


"Bilang-nya mau ketemu mami, alesan"


"Lo-


"KALIAN BERDUA RIBUT TEROS, MAMI CORET DARI AHLI WARIS YAH!!?"


Abel memandang Gara ngeri, dari tadi suami nya tuh senyum-senyum sendiri, sambil memainkan phonsel di tangan-nya.


.............


Dari tadi Abel mencoba untuk mengabaikan itu dengan sibuk menonton TV yang menyala menampilkan film kesukaan-nya.


Tapi matanya seolah bergerak sendiri untuk menengok kearah samping. Apalagi kalo mata Abel tak sengaja melihat dimple yang selalu muncul dipipi suami-nya setiap Gara terkekeh.


Entah setan kepo apa yang ngerasukin diri Abel, biasanya dirinya tidak pernah se kepo ini, apalagi yang bersangkutan dengan Gara.


Gara menengok, memandang Abel bingung, Abel pura-pura memandang kearah lain seolah tidak terjadi sesuatu. setelah cukup lama Abel menengok.


Abel menyengir saat Gara masih melihat kearah-nya, dan yang aneh-nya lagi Gara pun ikut menyengir.


Emang dasar pasutri akhlakqers


Abel melirik kebawah pada ponsel yang masih berada digenggaman Gara, dan sayang-nya layar ponsel itu sudah mati.


Abel mendengus lalu menggeser tubuh-nya sangat jauh dari Gara, sampai menyentuh pinggiran sofa. Abel kembali memandang TV yang masih menyala, yang sudah berganti acara.


Tiba-tiba Abel merasa ada yang menghimpit tubuh-nya, saat memandang kesebelah ternyata Gara menggeser duduk-nya menjadikan lengan kanan mereka menempel.


Abel memandang Gara bingung.


"Kenapa?" Tanya-nya.


"Kenapa?" Bukan-nya menjawab Gara malah balik bertanya.


"Mas kenapa?" Tanya Abel lagi.


"Kamu kenapa?" Tanya Gara balik, untuk yang kedua kali-nya.


Abel menggaruk kepala-nya dengan kasar.


Kenapa pulang dari rumah sakit sifat suami-nya tuh jadi beda.


Dulu aja biasa-nya jarang ngomong, terus kalo jawab 'iya' sama 'gak'. Tapi kenapa sekarang jadi sedikit bawel.


Apa karena otak yang didengkul-nya terluka(?)


Abel berdiri, lalu mendongak ke belakang dan Gara masih melihat-nya. Apa sangking cantik-nya yah sampai diliatin terus(?)


Abel berjalan keluar rumah saat baru ingat bahwa tanaman-tanaman yang ditanam-nya kemarin belum disiram.


Mengambil selang yang berada dihalaman rumah, lalu mulai menyiram tanaman-nya dengan bersenandung kecil.


Gak tau dari mana Abel bisa mendapat-kan ide untuk menanam tanaman untuk mengisi waktu kosong-nya.

__ADS_1


Yang Abel tanam itu bunga matahari yang dibeli-nya dari Bianca.


Bianca itu punya usaha, yaitu dagang online. Semua jenis barang dijual oleh Bianca. Dari barang keperluan anak-anak, orang dewasa, orang mati pun ada.


Apalagi harga-nya yang murah. Kalian wajib beli deh.


Abel mendengar sebuah suara klakson mobil, dan ternyata ada tamu yang datang, kayak-nya teman suami-nya deh, Abel udah apal sih mobil-nya.


Soal-nya bukan sekali dua kali aja teman Gara ini berkunjung kerumah-nya.


Abel mematikan kran air, lalu berjalan dengan terburu-buru ingin membuka-kan gerbang.


"Pak Herman kemana sih?" Monolog Abel sendiri. Pak Herman tuh satpam yang bekerja sebagai penjaga rumah.


Saat melewati kaca Abel menghentikan langkah-nya, dirinya menghadap kaca sedikit transparan yang masih bisa berkaca disana.


Abel memandang dirinya dari bawah sampai atas.


"Gembel" Tunjuk Abel pada kaca yang mencerminkan dirinya.


"PAK HERMAN BUKAIN GERBANG-NYA" Teriak Abel menyuruh pak Herman yeng entah dimana untuk membukkan gerbang, soal-nya Abel malu bertemu dengan tamu dengan penampilan kaya gembel.


Pak Herman muncul dari belakang rumah dengan berlari, lalu membuka-kan gerbang. Mobil hitam itu berjalan masuk. Abel langsung ngancir masuk kedalam rumah.


Dan disofa ruang tamu masih ada Gara yang sedang duduk dengan ponsel yang masih digenggaman-nya, tapi Abel melewati-nya sea masuk kedalam kamar dan langsung ngancir kekamar mandi.


♡♡♡♡


Ruang tamu tampak ricuh dari tawa teman-teman Gara, tapi Gara tidak termasuk didalam-nya, pria itu hanya terkekeh saja.


Yang berkunjung ternyata bukan hanya satu orang saja, tapi lima orang, teman Gara waktu SMA.


Dalion atau sering disebut lion si pembuat lelucon, dan yang lain serempak tertawa, entahlah humor mereka tuh pada anjlok padahal lelucon yang dibuat lion tuh receh. Yah terkecuali Gara sih.


"Istri lo gak ada Gar?" Tanya Gibran, gibran itu orang yang sering berkunjung kerumah Gara, jadi hanya gibran saja yang sedikit akrab dengan Abel.


Kalo yang lain-nya tidak terlalu, bertemu pun cuman sekali waktu acara pernikahan.


"Ada" Jawab Gara seada-nya.


Pria bertubuh jangkung berdiri lalu memandang menyelirik sudut-sudut ruangan rumah Gara.


Bukan buat mencari istri teman-nya seperti yang sekarang tengah Gibran pikirkan.


Jehan berpikir kenapa rumah teman-nya berubah menjadi serba merah muda begini(?) dari sofa yang dulu-nya berwarna Coklat kenapa sekarang menjadi merah muda(?)


Semua berubah kecuali warna cat dinding yang masih putih.


Suara langkah kaki terdengar, mereka semua serempak menengok kearah tangga, disana Abel sedang menuruni tangga dengan penampilan yang sudah cantik, tidak seperti gembel lagi.


Abel tersenyum menampilkan deretan gigi rapih-nya.


"Mau pada minum apa?" Tanya-nya sambil memandang satu persatu teman Gara.


Pandangan Abel terjatuh pada seorang pria yang duduk disebelah gibran, dirinya melotot lalu telunjuk tangan-nya terulur pada si pria itu.


Mereka yang melihat itu merasa bingung,


Rezka si pria yang tunjuk berdiri, lalu memandang istri teman-nya bingung, apa mereka pernah bertemu sebelum-nya(?)


Tapi kan waktu pernikahan Gara, Rezka datang, bahkan sempat salaman dan kenalan juga.


Abel menutup mulut-nya tidak percaya.


"Mas-nya ganteng banget, mau gak jadi istri kedua?"


"Maksud-nya suami kedua saya, ya gusti sangking gugup-nya" Abel berbicara heboh, menghiraukan orang-orang yang memandang-nya terkejut disana.


Rezka menegang saat mendapatkan pelototan dari Gara, padahal dirinya dari tadi gak ngapa-ngapain loh.


Mas Athaya gak jadi, mas yang ini pun bisa lah- batin Abel menjerit senang.


Abel yang baru menyadari semua itu menghentikan bibir-nya yang dari tadi berdecak kagum, memuji wajah mas tampan didepan-nya.


Wanita itu memandang suami-nya yang tengah memandang-nya pula, Abel menyengir.


"Maaf saya permisi dulu, anak saya nangis soal-nya" Abel langsung berbalik dan berlari menaiki tangga menuju kamar-nya.


"LO KOK PUNYA ANAK GAK BILANG-BILANG?" Ujar Gibran Bergema, membuat yang ada disana terperanjat kaget, Abel aja yang udah dikamar bisa mendengar teriakan Gibran.

__ADS_1


"Alesan gue bego banget sih" Gerutu Abel sendiri


__ADS_2