ISTRI BAR BAR Vs SUAMI DINGIN

ISTRI BAR BAR Vs SUAMI DINGIN
8


__ADS_3

Sudah hampir menginjak usia enam bulan pernikahan Abel dan Gara, tidak ada yang berubah sama sekali dari hubungan mereka, sama seperti hari- hari biasa-nya saja. Yang beda-nya cuman sifat Gara yang sedikit berubah.


Gara sering kali bermanja pada Abel, mau berangkat kekantor harus ada salam perpisahan dulu, bahkan cuman kekamar mandi pun harus pake salam perpisahan.


Dari yang dulu irit bicara sekarang bawel-nya ngalahin bayi yang baru bisa bicara.


Dan seringkali melontarkan pertanyaan yang sangat random, jadi bingung sendiri Abel jawab-nya.


Dan satu kali, Gara sekarang seringkali mengomeli hal-hal yang kecil.


Sedari tadi saja yang Gara lakukan tuh mengoceh tanpa henti, membuat kepala Abem pening mendengar-nya.


Padahal Abem dari tadi cuman nanggepin 'hmm' doang, tapi ocehan Gara bukan-nya berhenti tapi pria itu malah mengoceh yang sudah melantur ke mana-mana.


Ayam pak RT aja sampai diomelin, yang katanya sering telat berkokok.


Abel yang sedari tadi mendengarkan Gara sambil membaca, meletakan buku diatas meja. Dia gak bisa konsen tau.


"Mas" Panggil Abel, yang langsung menghentikan ocehan Gara, padahal tadi Gara tengah mengoceh tentang Bu RT yang katanya selingkuh.


Gara tuh ngoceh-nya sambil ghibah.


"Kenapa?" Tanya Gara, menaikan sebelah alis-nya.


"Ini udah malem, tidur gih" Suruh Abel, kalo


Gara tidur-kan kuping nya menjadi tenang.


Gara melirik jam, disana jam menunjukan pukul sebelas lewat Dua puluh menit. Astaga udah berapa lama dirinya berceloteh(?)


Gara beranjak dari sofa, mengulurkan tangan-nya di hadapan Abel, yang langsung mendapatkan kernyitan dari siempu-nya.


Gara yang mengerti akan kebingungan istri-nya akhirnya bersuara.


"Mau tidur kan? Yaudah ayo"


Karena tidak mendapat-kan jawaban dari istri-nya Gara langsung menarik lembut tangan Abel untuk berdiri, lalu berjalan melangkah menuju ranjang.


Gara merebahkan tubuh-nya disamping sebelah kanan ranjang, lalu menepuk tempat disebelah kiri yang masih kosong, menyuruh Abel untuk kesana.


Ab akhir-nya beranjak naik, merebahkan dirinya disamping Gara dengan tubuh yang menghadap langit-langit kamar.


Dan bedanya Gara menopang kepalanya menggunakan tangan yang di tekuk, lalu memandang istri-nya lekat-lekat.


"Kamu mau punya anak berapa?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut Gara dengan tiba-tiba.


Abel memandang suami-nya kaget, tuh kan mulai lagi.


"Gak tau" Jawab Abel seada-nya, emang Abel masih belum tau mau punya anak berapa.


Pertanyaan ini udah seringkali Gara tanya-kan, dan Abel pun dari dulu pasti menjawab 'gak tau'


"Kalo aku enam belas" Ujar Gara membuat Abel melotot.


Dasar Sutejo Gila !!umpatnya dalam hati


Ini juga satu perubahan yang Gara alami, pria itu mengubah gaya bicara-nya, dari yang saya-kamu, menjadi aku-kamu.


"Aku kepengen buat team sepak bola" Gara berujar sambil berkhayal dimasa depan, dirinya mempunyai anak 16, lalu membuat sebuah team sepak bola, dimana diri-nya menjadi seorang pelatih.


Kapan yah itu terjadi(?)


"Tapi kan sepak bola, sebelas orang" Ujar Abel.


"Lima-nya lagi cadangan" Jawab Gara.


Abel menganggukan kepala-nya berusaha untuk mengerti dengan cara pikir Gara.


Tapi, beberapa hari yang lalu mereka pernah membahas tentang hal ini juga. Waktu itu Gara bilang kata-nya mau punya anak tujuh, kenapa sekarang nambah(?)


"Se-dikasih nya aja mas, kalo cuman dikasi satu atau dua ya alhamdulillah" Ujar Abel.


Gara mengangguk-anggukan kepala-nya.


"Kalo mau banyak, berarti kita harus sering ngelakuin?" Ujar Gara sambil menaik turunkan alis tebal-nya, dan dengan tawa tengil yang terlihat diwajah tampan-nya


Abel yang mengerti maksud suami-nya, tidak menanggapi, wanita itu malah membalikan tubuh-nya kesamping, membelakangi Gara.


......


Makan malam dirumah mertua serasa makan malam direstoran mewah, semua jenis makanan ada, dari lalapan sampai dessert semua ada.


Sebenar-nya Abel sedikit malas, untuk makan malam dirumah orang tua Gara, tapi karena diri-nya tidak ingin predikat sebagai istri Idaman tercemar.


Padahal itu predikat Abel yang bikin sendiri.


Beberapa hari yang lalu mama Liora mengundang Abel dan Gara untuk makan malam bersama, dan Gara setuju akan datang.


Sebenar-nya waktu itu Mama Liora juga mengajak bang Raja untuk ikut, tapi Abel berbohong kalo abang-nya itu lagi sibuk.


Yah kalian tau lah sifat Raja tuh gimana, suka malu-maluin.


Mama Liora mengambilkan makanan untuk suami-nya, Papa Arion.


Abel yang melihat itu pun mengikuti apa yang mama Liora  lakukan, meletakan beberapa sendok nasi di piring Gara, dengan lauk-lauk nya juga.

__ADS_1


Padahal dirumah, gak pernah gini. Makan malam berdua pun mereka jarang, karena Gara yang selalu pulang larut malam, yang kala itu Abel sudah tertidur nyenyak.


Mungkin hanya hari minggu saja mereka makan berdua, karena Gara selalu meliburkan diri.


Aby memandang miris piring didepan-nya yang masih kosong.


Kapan Aby punya istri ya? -batin Aby.


Sekolah saja belum beres sudah mikirkan istri.


Jadi dengan terpaksa Aby mengambil makanan sendiri.


Kalo dirumah Mami Gracia, setiap kali makan pasti keadaan-nya hening, karena Papi sea tidak suka ada yang berbicara saat makan.


Kalo disini beda, Mama Liora heboh berceloteh ria, disini tuh yang berkuasa Mama Liora, jadi kalo mertua Abel sedang berceloteh saat makan jangan melarang-nya, Siap-siap aja diamuk.


"Kalian kapan mau ngasih mama cucu?"


"Uhuk-uhuk" Abel memukul dada-nya karena tiba-tiba tersedak saat mendengar pertanyaan yang terlontar dari sang mertua.


Gara akan segera memberikan minum sebelum mama-nya berteriak heboh.


"Aby buruan ambil minum" Heboh mamah Liora, padahal didepan-nya tuh ada segelas air. Aby memberikan minum bekas diri-nya pada sang mama.


Aby mau balas dendam pada kakak ipar-nya, soalnya waktu Aby berkunjung ke rumah mereka, Aby suka diledeki Oleh Abel.


Yang kata-nya Aby Anak buangan, karena Punya kulit hitam, beda sama abang-nya yang berkulit putih.


Emang dasar kakak ipar durhaka.


Mama Liora menyerahkan gelas pada Gara, menyuruh anak-nya untuk memberikan-nya minum.


Setelah acara tersedak selesai mereka melanjutkan makan malam yang tadi sempat tertunda.


Abel menggeser kursi-nya agar lebih dekat dengan Gara.


"Mas kok tadi gelas-nya bau yah"


..........


Hari minggu adalah jadwal Abel ke salon untuk mempercantik diri. Tapi sayang harus gagal karena teman bangsat-nya berkunjung kerumah.


Abel meletakan jus jeruk dimeja yang berada di hadapan bianca. Sudah hampir satu minggu mereka tidak pernah bertemu, mau kangen, tapi apa yang di kangen dari sifat gila bianca.


Bianca langsung meminum jus buatan temen-nya itu sampai tandas. Abel menatap ngeri bianca.


"Jadi, lo mau apa kesini? Sampai-sampai ngeganggu acara ke salon gue?" Tanya Abel langsung pada inti-nya.


Abel harus cepat-cepat pergi sebelum suami-nya bangun, bisa-bisa-nya nanti Gara ikut. Abel gak mau itu terjadi.


Bianca menyerahkan sebuah amplop besar berwarna Jingga pada Abel. Abel menatap bingung amplop itu.


Bianca merapikan kemeja-nya yang sedikit kusut, lalu menutup tas yang tadi ia bawa.


Abel mengambil amplop itu lalu memandang-nya lekat. Tiba-tiba suara lengkingan terdengar dari mulut wanita itu.


"YAAMPUN! ini pasti dari mas athaya yah?" Abwl melirik Bianca dengan wajah yang berbinar. Bianca gelagapan ditempat.


"E-em, kalo gitu gue pulang dulu yah" Bianca berdiri lalu berlari keluar rumah Abel.


Abel memandang aneh teman-nya, tapi raut wajah-nya seketika berubah saat menatap amplop digenggaman-nya.


"Mas athaya orang-nya romantis banget yah" Dengan perlahan Abel membuka amplop itu, didalam-nya terdapat sebuah kertas yang lumayan sedikit tebal.


Abel mengeluarkan isi-nya.


"Undangan pernikahan" Monolog Abel membaca sebuah tulisan yang tertera dalam kertas yang dipengang-nya.


"Mas athaya mau ngajakin gue Nikah gitu?" Bingung Abel, lalu tangan-nya membuka lipatan kertas.


Dan mata-nya nyaris keluar saat membaca tulisan pada kertas yang dipegang-nya.


"BIANCA SYALAN"


Gara yang berada diundukan tangga terperanjat kaget, mendengar terikan istri-nya.


Dengan cepat pria itu menuruni tangga menghampiri istri-nya yang sedang duduk.


Gara melihat Abel sedang memegang sesuatu, karena penasaran diri-nya mengambil kertas itu dan mulai membaca-nya.


"Undangan pernikahan, Athaya Geovan Dan Bianca Alexander" Ujar jefran membaca tulisan yang tertera dalam kertas yang dipegang-nya.


"Athaya tuh, bukan-nya sugar daddy kamu?


♡♡♡♡


Untuk yang kedua kali-nya, acara ke salon harus batal, karena Abel pergi untuk menemui Bianca. Abel butuh penjelasan.


Abel berkacak pinggang saat Bianca membuk-kan pintu rumah-nya, perempuan itu menyengir.


"Masuk Bel" Bianca mempersilakan Abel masuk.


Abel melangkah masuk dengan tangan yang masih berkacak pinggang, lalu mendudukan bokong-nya disofa empuk Bianca.


"Lo kok gak bilang-bilang?" Ujar Abel, membuat Bianca menelan ludah-nya. Raut wajah Abel nyeremin banget.

__ADS_1


"Hehe, gue takut lo marah" Cicit Bianca yang masih bisa didengar Abel, Bianca bahkan tidak berani untuk duduk berhadapan dengan Abel, jadi yang dilakukan perempuan itu hanya berdiri dan masih diambang pintu.


"YA-IYALAH GUE BAKAL MARAH!" Teriak Abel lumayan cukup keras, membuat Bianca terperanjat kaget.


"Kenapa sih, Mas Athaya mau sama lo, bukan-nya Sama gue?" Ujar Abel. Bianca yang tadi menampakan raut wajah takut-nya, sekarang berganti dengan raut wajah mencibir.


"Mas Athaya-nya juga punya otak kali, gak mungkinkan dia suka sama istri orang" Cicit Bianca, yang sayang-nya masih bisa didengar Abel.


"Gue denger" Sentak Abel.


"Apa tadi? Mas athaya? Sejak kapan lo manggil dia pake embel-embel 'mas'?" Tanya Abel sedikit ngegas.


"Dia yang nyuruh gue buat panggil 'mas'" Jawab Bianca.


Abel mengacak rambut-nya.


"Maaf Bel, gue gak maksud buat ngerebut Athaya dari lo" Ujar Bianca. Perempuan itu akan bersiap kabur karena tukut diamuk oleh Abel.


"Kok lo gak bilang dulu sama gue kalo mau nikah? Gue ini temen lo bukan sih?" Ujar Abel.


Bianca yang mendengar itu langsung berjalan dan mendudukan dirinya disamping Abel.


"Lo teman gue kok Bel, gue cuman takut lo bakal marah" Jawab Bianca.


"Siapa bilang gue bakal marah?"


"Lo gak marah?"


"Yah, enggak lah bego, harus-nya kan gue seneng, temen gue yang jomblo akut akhir-nya mau nikah juga" Ujar Abel. Bianca memandang teman-nya tak percaya.


"Lo bukan-nya suka sama mas athaya?" Tanya Bianca takut-takut.


"Dih, gue cuman mengangumi-nya aja, bukan suka" Jawab Abel dengan jujur, yah tapi Abel sedikit tidak Terima mas athaya idola-nya akan menikah dengan teman bangsat-nya.


"Tapi waktu itu lo mau ceraiin Gara terus bilang nikah sama mas athaya "


Abel langsung mencubit tangan Bianca, membuat siempu-nya berteriak karena sakit.


"Bisa-bisa dicoret dari ahli waris dong gue"


...........


Gara berjongkok didepan gerbang rumah Bianca, pria itu disuruh istri-nya untuk berdiam diri disana, kata-nya Abel cuman sebentar, tapi ini udah hampir satu jam.


Gara memutar-mutar jari pada tanah dibawah-nya.


"Permisi, mas mau minta sumbangan?" Ujar seseorang mengaget-kan Gara.


Gara berdiri lalu membalik tubuh-nya.


"Eh, maaf kirain yang suka minta sumbangan" Ujar athaya sedikit merasa bersalah.


Gara memandang sengit pria dihadpan-nya. Bisa-bisa nya Gara dikira mau minta sumbangan, apa athaya tidak bisa melihat setelan mewah yang dipakai-nya.


Ternyata sugar daddy istri-nya buta.


Gara mengulurkan tangan-nya, bermaksud untuk berkenalan.


"Kenalin saya suaminya Abel" Ujar Gara menekan-kan dua kata terakhir dikalimat-nya.


Dengan canggung athaya menjabat tangan pria didepan-nya.


"Saya te-


"Sugar daddy nya Abel kan?"


Athaya tersedak oleh air liur-nya sendiri.


Apa-apaan nih(?)


Sementara itu Abel beru keluar dari rumah Bianca sambil mengobrol bersama teman-nya itu.


Saat sedang asik-asiknya mengobrol pandangan Abel teralihkan pada Gara yang sedang berbicara dengan seseorang. Abel langsung melotot saat menyadari bahwa orang itu adalah athaya.


Abel langsung berlari sebelum suami-nya itu berbicara yang tidak-tidak. Ah tapi sepertinya diri-nya terlambat saat melihat raut wajah athaya yang shock.


"Mas" Panggil Abel bertuju untuk Gara, tapi kedua pria itu sama-sama mengalihkan pandangan-nya pada diri-nya.


Abel tersenyum menyapa athaya, yang langsung dibalas oleh pria itu dengan senyum canggung.


Suara deheman terdengar dari bibir Gara, pria itu melotot pada Abel, sementara Abel tidak mengerti apa maksud dari Gara.


Dibelakang sana Bianca asik memperhatikan.


"Ayo pulang" Abel langsung menggandeng tangan Gara dan menarik-nya, tapi tertahan karena Gara menahan-nya.


"Aku belum selesai ngobrol-nya sama sugar daddy kamu" Cegah Gara, masih ingin membahas sesuatu dengan athaya.


Abel melotot, lalu mencubit tangan suami-nya dengan keras, membuat Gara menjerit sakit.


Bianca tertawa jahanam, ternyata seru juga melihat pertengkaran antar suami istri.


Abel melirik takut pada athaya yang masih berdiri didepan-nya, lalu memandang Gara, Abel menyengir dan tertawa canggung.


Dan dalam hitungan detik raut wajah-nya berubah menjadi tajam, membuat Gara yang melihat-nya terkejut.

__ADS_1


"Yaudah kalo gitu, aku pulang sendirian" Abel memandang Gara lalu berlalu pergi meninggalkan kedua pria yang disana.


Dengan terpaksa Gara mengikuti Abel, tapi sebelum pergi sempat-sempatnya Gara mengarahkan tangan-nya yang berbentuk V pada mata-nya, dan pada mata athaya.


__ADS_2