
Setelah kejadian seperti kemarin, tidak ada yang berubah antara hubunganku dengan YuuGi. Padahal dia kemarin bilang kejadian itu hanya main main, tapi kenapa dia tidak berusaha membujukku untuk tidak semakin curiga dengannya.
Sikapnya yang acuh tak acuh membuatku merasa jengkel, ingin ku tabok dengan nampan agar wajahnya yang tampan itu membusuk dan tidak jadi tampan lagi. Kata-katanya yang kemarin yang bilang kalau perselingkuhan itu hanya main-main ternyata cuma kedok belaka agar aku menghapus Vidio rekaman itu.
Sebenarnya aku sudah menduga hal ini tapi mau bagaimana pun waktu tidak bisa di ulang kembali. Aku terlalu cepat untuk percaya dan luluh akan rayuannya. Aku seharusnya sadar, lelaki yang tidak pernah setia bahkan sampai menikah 12 kali ini sudah pasti tidak akan bisa berubah.
Dia pergi bekerja di pagi buta dan pulang entah jam berapa, begitu saja terus menerus. Aku berfikir kenapa aku harus di kurung seperti ini, bahkan aku dilarang keluar rumah sama sekali jika tidak ada sangkutannya dengan keluargaku atau dari keluarganya.
Ini sebenarnya sudah masuk kedalam kasus kekerasan rumah tangga, kalaupun bukan kekerasan fisik tapi ini adalah kekerasan mental. Mentalku bisa rusak lama lama jika di kurung seperti ini, hidupku seperti burung di sangkar emas. Bahkan umurku yang baru segini sudah merasakan betapa kerasnya hidup..
Apa mungkin dosa di kehidupanku dulu begitu melimpah, sehingga di kehidupanku yang sekarang aku akan merasakan hukumannya. Orang bilang kalau ngga ada uang maka ngga akan bahagia, tapi berbeda denganku. Uang berlimpah tapi ngga pernah mendapatkan kasih sayang, apa mungkin ini karena uang haram ya?
Singkat cerita...
Semester awal keseharian ku sebagai siswa kelas 12 pun dimulai. Kehidupan ku yang membosankan kembali terulang lagi, pernikahan ku tidak harmonis, ayahku pun sama sekali tidak pernah memberi kabar sejak saat aku menikah dengan YuuGi. Komplit sekali, benar benar hebat, luar biasa! Kadang aku memuji diri sendiri yang bahkan tidak mampu membalikkan situasi.
Dipagi hari yang cerah, langit bersih membiru tanpa adanya awan yang melintas. Udara sejuk berhembus menerobos masuk ke kamarku lewat jendela yang terbuka. Kabut tipis meraba tubuh membuatku merinding kedinginan.
__ADS_1
"Lagi-lagi dia tidak pulang... " Gumamku seraya bangun dari tempat tidur, berjalan masuk ke kamar mandi dan bersiap karena sebentar lagi aku akan kembali ke sekolah.
"Liburan telah usai, sebaiknya aku fokus belajar saja. Kan aku ingin jadi pengusaha sukses, setelah lulus nanti aku mau lanjut kuliah saja deh siapa tau di ijinkan" aku berbicara sendiri, itu sudah termasuk ke dalam kebiasaan ku mulai dari saat aku masuk ke rumah ini. Rumah yang besar namun sepi, berada di dalam hutan yang memiliki jalan besar khusus ke rumah ini.
Jauh dari keramaian kota, dan jauh dari orang tua. Aku tau alasan kenapa YuuGi membuat rumah di pelosok seperti ini, karena jauh dari kota jauh juga kemungkinan orang-orang tau dimana rumahnya.
"Nyonya! Sarapan Anda jangan sampai lupa!" Teriak pak koki yang sudah seperti ibu ku di rumah ini, dia sangat perhatian kalau masalah makan begitu juga dengan pak kepala pelayan yang sudah seperti ayahku. Mereka sudah ku anggap sebagai orang tuaku sendiri
"Iya pak! Ngga sampai kelupaan kok!" Sahutku dari lantas 2
"Duh Nyonya cantik sekali, apa seragamnya untuk musim ini berganti lagi?" Tanya pak koki sambil menyiapkan sarapan.
"Tidak kok, aku hanya akan pakai yang ini. Ngapain punya banyak seragam" Jawabku sambil melahap roti panggang dengan lahap, karena tidak ada YuuGi di rumah jadi aku tidak perlu memperhatikan tata Krama.
"Nyonya jangan lupa susunya" Lanjut pak koki, dan kemudian pak kepala pelayan memulai pembicaraan yang sepertinya sangat serius.
"Nyonya, apa anda sudah mendengar kabar tentang ayah anda? Akhir akhir ini situasinya benar-benar sedang gawat" Kata pak kepala pelayan, aku jadi terkejut mendengarnya karena ada kata (gawat) di belakang kalimatnya
__ADS_1
"Aku tidak mendengar apapun, memangnya ada apa " Tanyaku serius, aku takut kalau ayah kenapa-napa tanpa ku ketahui.
"Tuan Hirahara diduga masuk ke dalam komplotan penyeludup senjata di luar perintah Tuan besar. Tuan besar sangat marah saat mendengar kabar yang mencengangkan ini, beliau sangat marah dan bahkan sudah mencap Tuan Hirahara sebagai pengkhianat organisasi Mafia Dellamorta." Jelasnya, seketika aku batuk saat mendengar penjelasan pak kepala pelayan.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk! A-apa?! Ayah di cap sebagai pengkhianat organisasi? Ngga! Itu kan belum ada bukti yang jelas mengenai peristiwa kali ini kan? Ayahku belum terbukti berkhianat kan?" Tanyaku panik dan ngga percaya kejadiannya akan seperti itu, apa yang sudah ayahku lakukan sampai situasinya gawat seperti ini.
Pantas saja YuuGi jarang pulang, mungkin karena kejadian kali ini. Tapi aku ngga mau tau, aku tidak ingin mengingat YuuGi di situasi saat ini yang paling terpenting adalah keselamatan ayahku!
"Nyonya, tolong tenanglah! Anda tidak perlu mengkhawatirkan hal ini, dan jika Tuan besar mengintrogasi anda, anda hanya perlu menjawab jika anda tidak tau apa apa tentang kejadian ini. Sebenarnya kami bermaksud menyembunyikan nya dari anda sampai kasus ini benar benar terungkap kebenaran nya. Tapi menurut informasi yang kamu dapatkan dari departemen informasi dari organisasi, bukti bukti sudah banyak di kumpulkan dan ayah anda sudah benar-benar terbukti melakukan pengkhianatan." Sambung pak koki menjelaskan.
Jantungku kembali berdegup kencang, aku ingin mencari tau tentang kelanjutannya lebih detail lagi. Aku berencana untuk melewatkan sekolah hari ini tapi hal itu di larang oleh Pak kepala pelayan dan pak koki. Mereka bilang agar aku tetap bersikap tidak tau apa apa, dan tetap tenang agar tidak mendapatkan kecurigaan.
Bagaimana aku bisa tenang, tapi kata-kata pak kepala pelayan dan pak koki juga benar. Aku hanya perlu bersikap tidak tau apa -apa dan tetap menjalankan kegiatan seperti biasa agar tidak menimbulkan kecurigaan. Aku mulai menarik napas panjang, belajar menormalkan ekspresi seakan tidak terjadi apa-apa. Padahal di dalam hati, pikiranku sangat kacau dan risau.
Bagaimana nanti nasibku jika aku ikut terseret ke dalam konflik ini, kan aku anaknya ayah satu satunya. Jika ayah benar-benar terbukti berkhianat bisa hancur sudah hidupku karena tidak mungkin organisasi akan melepaskan ku begitu saja.
Aku mulai memenangkan diri, tersenyum gembira di cuaca yang cerah ini dan berjalan melangkahkan kaki berangkat menuju ke sekolah.
__ADS_1