
Setelah aku menerima lamaran itu, akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan acara pernikahan nya 3 bulan selanjutnya disaat aku naik kelas ke kelas 12.
"Benar-benar seenaknya banget njir, apa-apaan? Mereka merencanakan dan memutuskan sesuka hati mereka tanpa meminta pendapatku bagaimana? Dasar iblis" Kataku dalam hati mengumpat-ngumpat mereka
.....
Keesokan harinya, suasana hatiku benar-benar buruk. Semalaman aku tidak bisa tidur memikirkan jika aku sudah menikah nanti, bagaimana kehidupan ku kedepannya? Padahal aku sudah merencanakan semua cita-cita ku setelah lulus SMA aku ingin melanjutkan kuliah ngambil jurusan bisnis marketing, kemudian bekerja, ketemu jodoh, menikah dan membangun usaha sendiri hidup bahagia bersama keluarga kecilku.
Tapi dapat dilihat sekarang kalau semua impianku itu hancur gara-gara perjodohan bodoh ini. Mafia? Apa-apaan? Jika aku bisa berontak mungkin aku sudah kabur dan pergi dari negara aneh ini.
Untuk menenangkan pikiran aku pergi ke bangunan bawah tanah, tempat dimana biasanya aku melakukan bisnis jual beli narkoba dengan pengguna nya secara langsung.
K3 merupakan salah satu jenis narkoba yang efeknya sangat kuat, bisa membuat halusinasi yang sangat kuat bagi yang menggunakan. Jika tidak bisa mengendalikan bisa berakibat fatal dan menyebabkan kematian layaknya kena serangan jantung.
Dan semua orang yang masuk ke tempat ini harus memiliki nama samaran yang paten, agar bisa di kenali sekali masuk. Ada juga sandi sandi yang harus di katakan sebelum masuk, dan sandi itu bukanlah sebuah angka atau sebuah nama melainkan kalimat yang sangat aneh aneh dan hanya diketahui oleh pelanggan dan penjual saja.
Sandi antara para pembeli dengan penjual itu berbeda sehingga mudah ditentukan oleh para penjaga. Dan ruang untuk jenis yang berbeda juga berbeda-beda, semuanya sudah di pisah dan di khususkan.
"Nona Hamster, silahkan sandi anda" Sambut penjaga yang menyapaku
"Maukah kau melakukan *** denganku?" jawabku, kemudian penjaga itu mengangguk dan mengantarku ke ruangan yang biasa aku masuki
__ADS_1
"Silahkan ikuti saya"
Sesampainya di dalam ruangan yng sangat pengap, di penuhi orang orang gila pecandu narkoba yang sudah menunggu dengan wajah wajah mereka yang sarkas dan raut muka yang masam
"Heh Hamster! kenapa kau sangat sering datang telat sih akhir akhir ini?" Sambut seorang pria dengan berbagai pertanyaan
"Bisa aja kau, dasar semut. Kau tau kan kalau pekerjaan ku bukan cuma ini, aku juga perlu belajar mengerjakan tugas rumah dari sekolah aku kan masihlah seorang pelajar" Jawabku
"Kenapa kau tak berhenti saja? Bukankah pekerjaan ini hasilnya itu sungguh lumayan? Bukannya cita-citamu itu sebagai pengusaha ya? Kumpulin modal dulu baru bisa buka usaha" Jelasnya, tapi aku tak perduli. Dia hanyalah seorang pengajar ajaran sesat, masa pelajar yang kayak aku gini disuruh berhenti sekolah demi melakukan kerjaan kotor kayak gini.
"Lapor Hamster! Gawat! Seorang pecandu mengamuk di depan karena tidak di izinkan masuk, ya sebab karena pecandu itu tidak memiliki uang Hamster!" Panggil anak buahku yang melapor.
Aku segera menelepon anak buahnya ayah yang ada di penangkaran, karena ayah berpesan jika ada masalah atau keributan panggil saja mereka. Dan tak lama kemudian setelah di panggil, Paman Zenzo dan anak lainnya datang dan langsung menangkap pecandu yang mengamuk itu.
Aku buru buru pergi ke ruangan yang sudah dipersiapkan khusus untuk menghukum para pecandu yang mengamuk, dan itu hampir setiap hari terjadi. Biasanya hanya paman Zenzo yang melakukannya tapi sekarang aku ingin ikut kesana.
"Nona? Kenapa anda ke sini?" Tanya Zenzo terkejut
"Hmmm ngga apa apa kok, kau lanjutkan saja" Jawabku seraya menghampiri bangku yang ada bekas darah yang sudah mengering kemudian duduk di atasnya. Tatapanku menuju ke si pecandu yang tak berdaya karena sudah di pukuli habis habisan.
"Zenzo" panggilku, sejenak dia berhenti dan berjalan menghampiri ku yang berada cukup jauh dari tempatnya.
__ADS_1
"Ya nona? Ada apa?" Tanyanya penasaran dan selalu siap siaga dengan apa yang akan aku perintahkan
"Paman... kau sudah berapa lama bekerja seperti ini?" Tanyaku yang membuat paman Zenzo agak terkejut
"Sudah lama" Jawabnya singkat, sepertinya dia tidak mau membahas tentang dirinya, dilihat dari raut wajahnya yang terlihat tidak nyaman dan tidak suka. Tapi aku tetap melanjutkan pertanyaan ku, yang menurutku itu sebenarnya tidak penting.
"Apa paman tidak merasa bosan atau merasa penuh dengan dosa dengan pekerjaan yang sekarang paman jalani? Apa paman tidak menginginkan kehidupan normal layaknya orang-orang normal di luar sana? Hidup mereka terlihat sangat tenang dan penuh kebahagiaan, apa paman tidak ingin merasakan hal itu?" Tanyaku
Paman Zenzo terdiam, raut wajahnya terlihat tidak baik kemudian dia menjawab dengan nada sinis karena tidak suka.
"Ck, saya tidak mengerti apa yang sedang anda katakan barusan!" jawabnya ketus. Kemudian dia beranjak pergi dengan langkah yang sangat besar, semua orang keheranan karena mereka ditinggalkan begitu saja oleh ketua mereka tanpa di beri perintah apapun.
"Hamster! bagaimana ini hamster? apa yang harus kami lakukan selanjutnya?" tanya mereka yang bingung mau melakukan apa karena ketua mereka si Paman Zenzo sudah keluar duluan tanpa perintah apapun.
Aku bangun dari tempatku duduk dan berjalan ke arah mereka, melihat si pecandu masih tersadar dan menatapku dengan tatapan menjijikkan. Aku jadi ngga suka
"Kalian... kalian lihat kan kalau dia masih sadar?" Tanyaku ke anak buah ayahku
"Iya hamster dia masih sadar" jawab mereka serentak, aku mengangkat kepalaku dan menatap si pecandu dengan tatapan jijik
"Kalian pasti tau kan apa tugas kalian? Siksa dia sampai aku puas, tapi jangan biarkan dia mati sebelum aku keluar dari ruangan ini" kataku. Mereka terlihat terkejut mendengar perintahku, tapi mereka tetap mau melakukannya tanpa menjawab nya
__ADS_1
"Cabut semua kuku-kukunya dan berikan dia 2 kantong narkoba tanpa perlu membayarnya, agar dia sadar kalau hanya demi mendapatkan sekantong narkoba dia harus siap kehilangan segalanya. Panggil Tendon untuk segera menjemput ku, dan bilang kalau aku akan menunggu nya di depan.Ahh dan jangan lupa panggil juga ketua kalian si Zenzo agar memberi kalian perintah, apakah kalian harus berada di sini atau harus kembali ke penangkaran budak." Jelasku sambil berjalan keluar dari ruangan yang sangat sumpek pengap dan angab itu.
Aku harus segera pulang ke rumah sebelum ayah, jika ayah tau kalau aku ke bangunan bawah dia pasti sangat marah. Karena di dalam perjanjian pertunangan aku di larang keras ikut bisnis sekarang, dan aku hanya di ijinkan untuk sekolah dan di rumah saja oleh calon mertua si Gaiiro Dellamorta.