Istri Kecil Di Keluarga Mafia

Istri Kecil Di Keluarga Mafia
Chapter40 Siapa?


__ADS_3

Pak kepala pelayan menghampiri mobil biru yang daritadi pengemudinya belum keluar, tapi saat pak kepala pelayan mendekati pintu mobil. Tiba-tiba pintu mobil ditendang dengan keras dari dalam dan membuat pak kepala pelayan terlempar jauh.


Aku terkejut dan syok parah melihat sosok yang keluar dari dalam mobil mendekati pak kepala pelayan yang masih batuk batuk dan kemudian bangun dengan sempoyongan dia mencoba membuat kuda-kuda siap melawan pria bertubuh besar menyeramkan itu.


Sudah sangat terlihat siapa yang lebih unggul di antara mereka berdua, tapi pak kepala pelayan tidak menyerah begitu saja. Dia tetap berniat untuk melawan musuh yang jelas jelas sangat jauh perbandingannya dibandingkan dengannya.


Pak kepala (Gen) Menyerang dengan sangat gesit dan terampil dalam mengeluarkan jurus jurus mematikannya, tapi dengan santai di tangkis oleh pria besar itu bahkan tanpa berpindah langkah. Aku tercengang sekaligus gemetaran di dalam mobil, aku sangat khawatir kalau Gen nanti kenapa-kenapa.


Sayang sekali aku tidak bisa membawa mobil, jika bisa mungkin aku akan kabur dan mencari bantuan orang lain karena tepat sekali tempat yang sekarang ini sangat sepi bahkan satu orangpun tidak ada yang terlihat batang hidungnya. Dan soalnya lagi, hp ku lobet kehabisan baterai karena sejak di rumah sakit aku tidak mencharge baterai. Chargenya juga lupa aku bawa karena sibuk tegang.


Sepertinya pertahanan Gen sudah mulai lemah, dia di pukuli sampai babak belur. Kondisinya benar-benar parah, aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku sudah tidak tahan jika hanya duduk menonton dalam diam seperti ini untuk waktu yang lama.


Aku keluar dari mobil dan berteriak sekencang-kencangnya memanggil namanya pak kepala pelayan dan menyuruh pria besar itu untuk berhenti. Tidak lupa juga aku berteriak meminta tolong kepada siapapun yang mau menolong pak kepala pelayan yang sedang sekarat.


Pria besar itu menoleh ke arahku yang teriak teriak keras, sepertinya dia tidak tahan dengan suara berisikku. Dia berjalan dengan cepat menghampiriku, pak kepala pelayan berteriak menyuruhku kabur. Tapi sudah terlambat, pria bertubuh besar itu berjalan mendekatiku sambil berkata


"Sialan suaramu cempreng sekali, bisa diam ngga sih?"


JLEBBB!


Tanpa sadar dan tanpa terduga sebuah pisau menusuk perutku di sebelah kiri, darah bercucuran keluar. Pak kepala pelayan pingsan dan aku tercengang melihat ke arah pria besar yang sudah tepat berada di depanku dengan menusukkan sebuah pisau kecil ini. Sungguh aneh tapi lupa tusuk ini sama sekali tidak berasa sakit sedikitpun, hanya darah yang keluar dengan deras.

__ADS_1


"Huh?" Aku memegang tangan pria besar yang menusukku ini, pandanganku buram, bumi terasa sedang berputar kencang dan kemudian aku pingsan.


.....


Sementara itu di sebuah ruangan yang dipenuhi oleh komputer dan alat alat canggih lainnya, seorang perempuan berambut panjang menggunakan kacamata berdecak kesal. Tugas dadakan yang sangat sulit ini yang paling dia benci saat pertama kali bekerja sebagai ahli hack dan informannya YuuGi secara rahasia.


Dialah Rey yang di chapter sebelumnya di telepon oleh YuuGi untuk segera menemukan siapa pelaku yang mau membunuh istrinya itu. Dan waktunya ngga main main, cuma di kasih waktu 3 jam pelaku harus sudah di temukan beserta bukti dan laporannya.


Tangannya sangat cepat mengetik bahkan di beberapa komputer sekaligus. Dan belum beberapa menit dia sudah menemukan siapa pelaku yang mau menembak istri bossnya itu. Dia mendapatkan nya dari hasil cctv yang ada di restoran itu. Polisi juga saat itu sedang menonton cctv yang ada di restoran tempat kejadian perkara.


Tapi tetap saja si Rey yang duluan, dia mengirimkannya ke YuuGi sejumlah barang bukti seperti Poto seseorang yang sedang membidik pistolnya ke arah Glory. Seorang perempuan pertopeng dengan memakai pakaian serba hitam, Rey pergi ke rumahnya YuuGi dengan segera.


.....


Semuanya panik mendengarkan ceritanya pak kepala pelayan Gen, mereka juga mendapatkan laporan kalau YuuGi kabur dari rumah sakit. Ayah mertua Gaiiro menekan keningnya berfikir keras, ayah Hirahara juga datang dengan panik.


"Penculikan lagi penculikan lagi! Apa-apaan sih mereka? Kenapa harus Glory yang di culik dan di sakiti? Aku tidak bisa tinggal diam begini terus, aku akan segera mencari Glory" Kata ayah Hirahara yang berencana mencariku secepatnya walaupun dia tidak tau siapa pelakunya


"Tunggu dulu Kei, tidak usah terburu-buru. Kita selidiki dulu siapa pelakunya, kita tidak harus tergesa-gesa seperti ini..."


"Apanya yang tenang? Gaiiro! Mentang mentang dia adalah anakku, dia juga menantumu!" Teriak ayah Hirahara memotong kata katanya ayah mertua Gaiiro.

__ADS_1


Tak lama kemudian YuuGi datang bebarengan dengan Rey , Rey membawa bukti rekaman cctv di belakang resto.


"Hiden" Kata ibu mertua Yin Rui, yang baru pertama kali berbicara ini. Semuanya terkejut saat ibu mertua menyebutkan nama Esa Hiden di hadapan semua orang.


"Apa maksudmu ibu?" Tanya YuuGi yang tidak pernah kepikiran soal Esa Hiden. YuuGi dan Esa dari awal sudah tidak pernah akur, tapi dia tidak pernah menyangka kalau Esa akan melakukan itu kepada istrinya.


"Bubu apa maksudmu menyebut nama Hiden?" Tanya ayah mertua yang juga heran


"Darimana anda tau kalau Esa Hiden adalah pelakunya?" Tanya pak kepala pelayan


"Esa Hiden dan Kara Rosen adalah orang yang menyukai Nyonya Muda, mereka bisa saja menjadi tersangka dalam kasus ini" Jelas Rey menganggantikan Ibu mertua menjelaskan


"Jika benar demikian, kenpaa mereka yang menyukai Glory mencoba untuk membunuh Glory?"


"Itu masih menjadi teka-teki" Jawab Rey


Sementara itu aku yang masih tidak sadarkan diri, aku bermimpi. Bermimpi jika ada seseorang yang mukanya tidak kelihatan menggendongku ke dalam kamar.


Dia menidurkan ku di atas kasur dan kemudian mencium keningku. Sosok orang itu pun keluar setelah menidurkan ku, aku bisa melihat tato 3 ular melilit bulan di punggungnya yang lebar.


Kenapa wajah orang itu tidak terlihat sedangkan tatonya terlihat sangat jelas? Apa arti dari semua mimpi ini? Ini mimpi atau kenyataan sih?.

__ADS_1


Tak lama kemudian lelaki besar yang bertato itu pun datang lagi, dia duduk di sampingku. Dia membelai rambutku dengan lembut, sangat terasa nyata. Kemudian dia berkata


"Kenapa kau tidak istirahat? Bukannya melahkan jika kau terus diam begitu sambil terluka seperti itu?" Tanyanya. Aku terkesiap dan bangun melihat perut kiriku yang sudah di perban dan di obati, sakit sekali.


__ADS_2