
Di sekolah...
Tatapan tidak mengenakkan tertuju padaku, hampir semua orang menatapku berjalan di lorong kelas, bahkan sampai di dalam kelas pun mereka tetap menatapku. Aku tidak tau apa yang menarik dariku hingga sampai segitunya mereka menatapku, apakah aku hari ini semakin cantik?
"Hey teman-teman hari baru tentunya ada gosip baru juga loh" Kata seseorang memulai pembicaraan yang membuat semua orang jadi fokus ke arahnya. Dialah si ratu pembully di kelasku, temennya si Ran pembully kelas kakap yang selalu menjadikanku bahan Bullyan dan gosippan yang tidak mendasar.
"Wah apa tuh, seru ngga? Kalau ngga seru aku ngga mau dengar!" Sahut seseorang lagi yang beda kelompok
"Seru lah tentunya! Kalian pasti terkejut mendengarnya, penasaran ngga?" Tanya si Ratu Bully, yang gayanya sangat norak.
"Mau dongg" jawab teman teman sekelas ku serempak, memang kelas rendahan itu ya seperti ini. Andai kalau nilaiku tidak seburuk kemarin aku mungkin akan berada di kelas yang lebih bagus. Aku mengabaikan mereka yang mulai bergosip
"Sudah ku duga kalian pasti penasaran! Jadi begini.... Katanya di kelas kita ini, ada siswa yang sudah menikah loh! Tapi katanya yah beritanya masih di sembunyikan dengan baik, menurut yang aku dengar juga orang itu menikah dengan lelaki yang sudah berumur tapi kaya raya!" Teriaknya, di lanjutkan dengan tawa keras yang membuat kelas gaduh.
Aku sangat terkejut dengan apa yang Ratu Bully katakan, aku tidak menyangka akan ada orang yang mengetahui rahasia ini. Bisa gawat jika mereka tau kalau orang yang di maksud Ratu Bully itu adalah aku. Masalah ayah belum kelar sekarang malah ada masalah baru lagi yang seperti ini.
"Waahhh?! Jadi orang yang menikah itu dari kelas kita ini? Dan orang itu adalah seorang perempuan? Ahh yang bener?" Tanya seseorang yang sepertinya sangat kepo dengan gosip yang di sebarkan oleh Ratu Bully. Aku semakin tidak tahan dengan gosippan mereka, tapi aku tahan aku tidak bisa beradu mulut soalnya, yang ada aku pasti semakin di bully kalau seperti itu.
__ADS_1
"SMA sudah menikah?! Bukannya tidak boleh sekolah lagi ya? Siapa yang tidak sekolah hari ini? Isss pasti udah jebol aja tuh lubang hahahaha" teriak seorang laki-laki di lanjutkan dengan sorakan siswa lainnya.
Aku jadi semakin ngga suka, padahal mereka tidak tau kalau aku sama sekali belum pernah di sentuh oleh suamiku. Ngga semua orang yang sudah menikah itu hilang keperawanan nya, mereka mah sok tau. Tak lama kemudian guru pun datang, dan meminta maaf karena telat.
Singkat cerita....
Bel pulang pun berbunyi di jam 4 sore, aku lega karena gosip yang di sebarkan tadi tidak jadi berlanjut karena sudah di gantikan oleh gosip lain. Nama orang yang sudah menikah itu juga tidak di sebutkan oleh si Ratu Bully, sepertinya dia juga tidak tau siapa nama orang yang menikah itu. Tapi aku heran darimana dia dapet gosip gosip seperti itu setiap hari.
Aku berdiri di bawah pohon rindang di depan sekolah sembari menunggu jemputan datang. Sesaat kemudian datanglah mobil hitam yang sangat familiar karena hampir semua mobil yang ada di rumah ayah dan di rumah YuuGi warna dan mereknya sama.
Tapi yang mengejutkan adalah, orang yang menjemput ku bukanlah supir yang biasanya menjemput ku melainkan orang lain yang belum aku kenal. Tapi aku positif thinking aja, mungkin saja orang ini suruhan nya orang orang rumah karena supir pribadiku ada halangan lain mungkin?
"Nona? Supirku tidak memanggil ku begitu, dia biasanya memanggilku Nyonya! Siapa kau?! Aku ngga mau kalau bukan supirku yang jemput!" Kataku menolak karena kata YuuGi begitu, dia melarangku untuk ikut siapapun selain supir yang sudah di perintahkan olehnya.
"Jika anda menolak saya, tidak akan segan-segan untuk menyakiti anda" Katanya mengancam, aku tidak takut dan balik menjawab dengan berani
"Coba saja! Disini kan di depan sekolah, ada banyak saksi yang melihatnya!" Jawabku.
__ADS_1
Tapi orang itu tiba-tiba menangkapku dan mencengkeram kedua tanganku ke belakang, tentunya ya sakit dong. Aku berontak tapi tiba-tiba dia memukulku di bagian tengkuk bekalang leherku, dan sesaat kemudian aku kehilangan kesadaran ku.
....
Saat aku bangun, kudapati diriku sudah berada di sebuah ruangan yang sangat kotor pengap dan sesak, sama seperti ruangan tempat menjual belikan narkoba dulu di bangunan bawah tanah.
Aku duduk di kursi yang sangat kuat, tangan dan kakiku di ikat dengan erat menyatu dengan kursi tempatku duduk. Badanku di plester super ketat sehingga sulit untuk bernafas, begitu juga dengan mulutku yang disumpal kain agar tidak bisa berteriak. Ini namanya penyekapan, penculikan dan kekerasan!
Aku ingin mencoba berteriak melepaskan diri tapi aku tidak punya tenaga untuk itu. Perutku lapar dan tubuhku sangat lemas, sepertinya ini sudah malam dan aku belum makan saat tadi siang. Dan aku juga haus, aku tidak kuat berada di tempat ini apalagi dengan kondisi serba di ikat seperti ini.
Padahal tubuhku lemah seperti ini tapi bisa-bisanya mereka mengingat ku berlebihan seperti ini. Bahkan tidak memberiku makan, benar-benar seperti neraka. Ngga cukup apa kalau aku di rumah ngga pernah mendapatkan kasih sayang, ya ngga usah di siksa kayak gini juga dong Bagong! Kataku di dalam hati mencaci maki, orang yang sudah membuatku menderita begini.
"Sebenarnya seberapa banyak sih dosa yang sudah saya perbuat kok hukumannya menyiksa seperti ini? Ngga cukup kah jika nanti jiwa saya saja yang di siksa di neraka ngga usah tubuh saja juga" Kataku dalam hati, mengeluh kepada-Nya . Dan tentu saja Ia tidak akan memerdulikanku karena aku adalah Hambanya yang tidak pernah berdoa dan memohon ampunan kepada-nya, sudah berdosa banyak tapi tetap bangga.
Aku akan mencoba untuk berdoa disaat seperti ini, aku berharap Ia akan mendengarnya. Aku merenung tapi aku tidak bisa fokus karena perutku yang sudah menangis kelaparan, begitu juga dengan kerongkonganku yang kering kehausan.
Aku berfikir kenapa Ia begitu kejam dalam menghukum hamba Nya seperti ini. Tapi tiba-tiba aku tersadar, sebenarnya bukan Ia yang kejam tapi manusia, lingkungan, dan sifat kita lah yang kejam.
__ADS_1
Manusia-manusia serakah dan pendosa yang bahkan tidak pantas disebut manusia karena sifat mereka yang bahkan lebih rendah dari binatang dan lebih busuk dari sampah. Aku mengerti kenapa Ia membenci orang orang yang seperti aku ini, karena tentu saja Ia sudah bosan melihat sikap-sikap ciptaannya yang mulai tidak patuh kepada-nya