
mobil yang di kendarai sopir dari rumah Raka ke rumah Eli melaju dengan kecepatan sedang , mobil yang Raka beli khusus untuk bepergian jika sedang bersama keluarga mobil yang sedikit lebih luas dan besar dari mobil lain yang ada di rumah Raka .
" sayang ahh", ucap Eli karena Raka ikut mengantarkan Eli , Raka duduk di belakang bersama Eli tapi Raka memainkan bagian tubuh Eli yang ia suka . mendengar racauan sang pujaan hati Raka lantas menutup tirai yang ada di mobil itu agar sang sopir tak melihat walau masih bisa mendengar , Raka menghisap benda kenyal Eli tanpa ampun , membolak balikan tubuh Eli sesuka hati nya untuk mencapai puncak hasrat nya , Eli hanya menikmati semua yang Raka mainkan tanpa banyak bicara atau pun berkomentar karena melawan atau melarang pun percuma karena Raka tipe orang yang keras kepala , setelah menyelesaikan permainan nya Raka membuka kembali tirai penutup nya , badan Eli terasa pegal semua karena permainan Raka tadi .
" Pa capek", rengek Eli kepada Raka
" sini aku pijitin Ma", jawab Raka sambil sedikit terkekeh kecil melihat ekspresi Eli
" mana yang pegal Ma ? ini ?" tanya Raka kepada Eki sambil meremas benda menonjol di dada Eli
" Papa", ucap Eli merajuk karena sang kekasih selalu saja begitu
" iya iya Ma" jawab Raka sambil terkekeh lebih kencang , Raka memijit pundak Eli dengan teliti dan penuh rasa sayang hingga mobil yang mereka tumpangi sampai depan rumah Eli sekitar pukul setengah 9 malam
" masuk dulu Pa", tawar Eli kepada raja
" nggak usah Ma , sudah malam besok Papa harus pergi pagi - pagi", jawab Raka sambil mencium kening Eli lalu Eli turun dari mobil setelah mencium punggung tangan Raka , Eli melambaikan tangan ketika mobil Raka langsung putar balik untuk pulang
∆∆∆
" mau makan malam non?" tanya bik warti kepada Eli saat Eli akan masuk kearah kamar nya
" nggak usah bik tadi aku udah makan kok", jawab Eli " aku masuk dulu bik", pamit Eli lagi dan masuk kedalam kamarnya membaringkan tubuh nya yang remuk redam karena ulah sang kekasih , Eli bangkit dan berjalan duduk di kursi kecil depan cermin meja rias yang ada di kamar nya . ia pandangi dua aset berharga miliknya ada banyak tanda merah yang Raka tinggal kan di sana , Eli membayangkan betapa ganas nya permainan Raka ketika bersama nya .
" apa akan selamanya aku merasakan kebahagiaan ini?" pikir Eli yang mulai gelisah akan masa depan nya
" semoga saja keputusan ku ini udah benar", doa elu memonolog dirinya sendiri
setelah lama Eli bercermin , Eli merangkak menuju ranjang membaringkan tubuhnya sambil membuka ponsel mahal nya.
__ADS_1
ia berselancar di sosial media , tak jarang teman sosial media Eli yang menggodanya baik di chat atau pun di kolom komentar namun Eli tak pernah menanggapi itu , Eli hanya membalas pesan atau pun komentar yang Eli rasa ia kenal dengan pemilik akun selebihnya ia biarkan saja , bagaimana pun juga Eli sudah Raka di hati nya dan perasaanya harus di jaga
"derttt .. derttt .. derttt", getaran ponsel Eli memaksa ia menyudahi kegiatan nya , ternyata sang kekasih yang menghubungi memang tak ada bosan - bosan nya Raka sama si Eli
" halo Pa ", ucap Eli membuka percakapan
" halo Ma ", jawab Raka dari sana
" Papa lagi ngapain?", tanya Eli
" lagi kangen sama Mama", ucap Raka
" Papa selalu saja menggombal", jawab Eli malu - malu
" enggak gombal Ma tapi beneran", ucap Raka lagi
" kurang banget lah Ma", jawab Raka santai
" dasar papa", ucap Eli
Eli merasa ada yang berbeda dari dirinya selain tubuhnya yang merasa pegal dari ujung kaki sampai ujung rambut Eli juga merasa tubuhnya lemas tak berdaya dan kedinginan yang berlebih hingga menggigil , apa yang terjadi ini ? pikir Eli
" Mama masih di sana kan?" tanya Raka yang tak mendengar suara Eli dari sebrang
" masih Pa , Mama capek banget Pa", keluh Eli
" Ya udah Ma , istirahat dulu aja", jawab Raka
sambungan telefon pun mati , Eli memejamkan matanya mulai menjelajahi alam mimpi .
__ADS_1
" di mana aku?" ucap Eli pada dirinya sendiri karena ia seperti berada di ruangan rumah sakit ada tabung oksigen dan infus yang kabelnya menyambung di tangan
" apa ini mimpi?" tanya Eli lagi , Eli mencubit pipi nya
" AW sakit , ini ternyata bukan mimpi tapi dimana aku", ucap Eli yang kebingungan tak ada orang yang menemaninya di sana pikir Eli , Raka yang mendengar ucapan Eli pun terbangun dari tidurnya
" kamu sudah sadar Ma syukurlah", ucap Raka merasa lega karena Eli sudah sadar dari pingsan nya
" apa yang terjadi Pa? aku dimana ?" cecar Eli kepada Raka
" setelah kamu mematikan ponsel mu tadi malam , bik Warti menghubungi ku Ma karena kamu terus mengigau bik Warti khawatir dan membuka pintu kamar mu yang tidak kamu kunci , ia memegang jidat mu yang terasa sangat panas", jelas Raka
" lalu aku datang dan membawa mu kesini dalam keadaan kamu sudah tak sadar kan diri", ucap Raka lagi yang hampir meneteskan air mata tak tega melihat kekasih nya berbaring lemas di tempat tidur rumah sakit
" kenapa nangis Pa , Mama baik - baik saja kok", ucap Eli menenangkan sang kekasih dan memaksakan tersenyum walau seluruh tubuhnya terasa lemas tak berdaya
" aku nggak tega aja Ma lihat kamu seperti ini , apa karena ulah Papa di mobil malam itu?" tanya Raka
" udah nggak usah di pikir Pa yang penting Mama sudah mendapatkan pertolongan di waktu yang tepat", jelas Eli mengusap tangan Raka yang melingkar di perut nya
" kalau kamu pengen makan apa - apa bilang sama Papa Ma dan mulai besok aku tak ingin kamu bekerja ", tegas Raka lagi
" tapi tanggung sayang lima hari lagi aku gajian", mohon Eli
" tidak ada bantahan Ma , aku tak mau terjadi apa - apa dengan mu , jika cuma masalah uang kenapa kamu tak pernah memintanya pada ku , kenapa Mama tak pernah memakai uang yang sudah aku kirimkan ke Mama?" oceh Raka lagi memang Raka memanjakan Eli dengan segala yang ia punya tapi Eli tak pernah berniat meminta atau memakai nya karena memang Eli belum menjadi tanggung jawab nya pikir Eli
" bukan cuma soal uang Pa , aku di rumah akan bosan jika tak punya pekerjaan", jelas Eli lagi
" pokonya Papa tak ingin ada bantahan lagi Ma , Papa ini calon suamimu jadi Mama harus menurut dengan apa yang Papa katakan", tegas Raka membuat Eli menghela nafasnya panjang karena kalau sudah begini Raka pasti tak bisa di bantah atau di negosiasi lagi jadi mau tak mau dengan terpaksa Eli menuruti permintaan Raka untuk berhenti bekerja .
__ADS_1