Istri Tak Ternilai Tuan Jefrey

Istri Tak Ternilai Tuan Jefrey
Akan berusaha sangat keras


__ADS_3

Sejenak Isabella membeku saat dia melihat bocah kaku yang ada di hadapannya itu.


Tidak tahu kenapa dia fikir putra nya benar-benar memiliki ekspresi persis seperti Jefrey.


Bola mata Harvey menatap lurus ke arah Isabella, seolah-olah dia memang tengah menunggu perempuan itu entah sejak pukul berapa.



"Mama?"


Satu kalimat meluncur dari Balik bibir bocah laki-laki tersebut.


mendengar kata Mama jelas membuat Isabella langsung menyambar tubuh Harvey, dia mencium bocah laki-laki itu dengan jutaan cinta nya.


Bisa dibayangkan bagaimana cara Isabella menuntaskan kerinduan nya?!.


Dia langsung membawa langkah, menggendong bocah kecil itu tanpa peduli dengan orang-orang disekitar nya.


Menangis bahagia bahkan tidak berhenti memeluk dan mencium Bocah laki-laki itu penuh dengan cara nya sendiri.


Dan Jefrey jelas mengerutkan keningnya.


"Dia mengabaikan ku?"


Laki-laki itu bertanya ke arah Justin, menatap tidak percaya saat Isabella melewati dirinya.


"Bukankah itu menyedihkan kak? aku Fikir kakak seperti suami yang tidak di anggap"


Kekeh Justin sambil menaikkan ujung bahu nya.


Laki-laki itu sengaja mengompori sang gunung es tersebut, laki-laki pelit ekspresi itu rupanya bisa juga mengeluarkan ekspresi nya saat ini.


Melihat Justin yang seolah-olah mengejek nya membuat Jefrey merasa kesal.


"Kembalilah ke kantor sekarang juga"


Ucap nya dengan nada yang begitu kesal dan Datar.


Justin menggeleng-gelengkan kepalanya.


Kau ini begitu kaku dan menyebalkan, aku penasaran bagaimana caranya kakak ipar akan tahan menghadapi kamu. Atau jangan-jangan kamu yang bakal bertekuk lutut dengan kakak ipar.


Batin Justin.

__ADS_1


"Matahari sudah mulai menghilang, tidak kah Kakak melihat nya?"


Oceh Justin sambil mendengus tidak percaya dengan ekspresi kakak nya.


Dia fikir kakak nya tidak sabaran sekali ingin mengusir nya dari sana.


"Baiklah aku akan pulang, selamat menikmati kesendirian mu, kak"


Ucap laki-laki itu sambil menepuk punggung kakak nya sejenak.


Setelah Justin pergi, Jefrey hanya bisa menghela nafasnya pelan, dia mencoba mengejar langkah Isabella dan Harvey dengan bersikap setenang mungkin.


Dia Fikir karena siang ini menjadi pernikahan pertama mereka, dia maafkan jika Isabella banyak-banyak mengabaikan nya.


Jefrey terlihat mengikuti langkah Isabella yang membawa Jefrey menuju ke ruang tamu mereka, anak dan ibu itu terlihat bercengkrama bersama sambil tertawa bahagia.


Harvey jelas anak yang sangat sulit untuk bisa dekat dengan siapapun, bahkan bocah laki-laki itu tidak pernah akur dengan maid mana pun yang di pilih oleh nya atau Ibu Jefrey sendiri.


Dimasa lalu Jefrey tidak pernah menyangka jika Isabella sendiri yang mendonorkan sel telur nya.


Satu ingatan melintas di atas kepalanya soal masa lalu dimana dia membuat lamaran untuk Amalira Santoso, dimana lamaran itu di buat dengan alasan dia merupakan laki-laki miskin yang tidak memiliki apa-apa.


Ayah Isabella Langsung menolak lamaran nya dengan dalih jika putri nya telah menikah dengan Aldi.


Hingga satu kenyataan diketahui oleh laki-laki tua tersebut 1 tahun kemudian.


"Jefrey Van Efron?"


Santoso jelas tercekat, merasakan kerugian besar seolah-olah menerjang laki-laki itu.


Bicara dengan asisten pribadi nya untuk menukar pernikahan.


"Bagaimana jika tuan Jefrey menikah dengan putri ku yang satu nya"


"Mayang punya potensi besar untuk bisa mengurus perusahaan, suami dan anak sekaligus"


Mendengar ucapan Santoso jelas membuat Jefrey mendengus.


Dia jelas tidak tertarik pada perempuan itu.


Dia tahu betul desas-desus beredar soal sepak terjang Perempuan itu, untuk naik ke atas mayang jelas menggunakan banyak cara agar bisa sampai ke puncak kejayaan nya.


Bahkan perempuan itu memanipulasi kematian seseorang juga merayu Beberapa produser untuk bisa mendapatkan peran utama dalam beberapa layar lebar.

__ADS_1


"Papa... Papa..."


Tiba-tiba suara Harvey memenuhi gendang telinga nya.


Bocah kecil yang ekspresi nya sekaku dirinya itu kini bergelayut di leher Jefrey, mereka duduk di ruang tamu dimana tidak terdapat siapapun disana kecuali mereka.


"Ada apa sayang?"


Jefrey bertanya sambil menyentuh lembut tangan Jefrey yang mengalung di leher nya.


"Bisakah Papa dan Mama memberikan Harvey seorang adik? Paman Justin bilang membuat adik begitu mudah tanpa harus membelinya ke toko atau mendapatkan nya secara online dengan bersusah payah"


Isabella yang awalnya tersenyum melihat kedekatan Harvey dan Jefrey seketika melotot kaget mendengar ucapan putra nya itu.


Apa?.


Dia fikir bagaimana bisa Justin mengajar kan putra nya berfikir seperti itu.


rasanya dia ingin sekali menghajar adik ipar baru nya itu.


Mendengar ucapan Harvey seketika Jefrey memicing kan sebelah matanya, dia baru tahu Justin pandai juga mengelabui putra nya untuk membuat mereka melewati malam pertama tanpa gangguan dari Harvey.


Laki-laki itu kemudian langsung menatap ke arah Isabelle sambil menaikkan ujung bibirnya.


Apa?.


Isabella bertanya dalam hati saat menatap ekspresi aneh Jefrey, dia berusaha untuk menutup ke dua dada nya secara spontan.


"Kalau begitu malam ini Harvey harus tidur dengan nenek, sebab Papa dan Mama akan berusaha keras untuk membuat adik baru untuk kamu"


Mendengar ucapan Jefrey seketika Isabella menelan Saliva nya, wajah gadis itu seketika memerah.


Ucapan macam apa itu?!.


"Baik, itu bukan masalah"


Dan putra nya menjawab dengan penuh semangat.


Seketika Jefrey menampilkan ekspresi wajah yang begitu aneh, membuat Isabella seketika bergidik ngeri sambil berusaha untuk memutar tubuhnya.


"Kamu mau kemana, baby?"


Pertanyaan Jefrey terdengar begitu mengerikan bagi Isabella.

__ADS_1


"Hahahaha aku fikir harus ke.... ah ke dapur untuk menyiapkan makan malam"


Setelah berkata begitu, Isabella secepat kilat meninggal kan dua laki-laki itu dengan cepat.


__ADS_2