Jasad Anak Ku

Jasad Anak Ku
"Di Mana Jasad Anak Ku"


__ADS_3

DIMANA JASAD ANAKKU ?


Part 1


"Loh, kamu kok sudah pulang, Sayang?" tanyaku saat melihat Damar yang sedang duduk di kursi bambu depan rumah. Samar-samar tercium aroma melati dan daun pandan dari tubuhnya.


Kulihat kulihat bibir Damar yang memucat dan baju Damar yang basah kuyup sementara sore menjelang Maghrib itu cuaca sedang cerah.


Aku celingukan mencari sepeda onthel anakku yang biasanya digunakannya untuk pulang pergi ke sekolah. Nihil, sepedanya tidak ada.


"Hei, kok diam saja. Sepedamu mana?"


Damar tetap terdiam dan hanya memandangiku dengan ekspresi yang sulit kulukiskan.


"Hm, ya sudah. Ayo masuk, Sayang!"


Aku membelai pipinya dan menarik tangannya pelan. Ya Tuhan, dingin sekali anak ini.


"Kenapa kamu sudah pulang, Sayang? Kamu katanya PERSAMI?" tanyaku bingung.


Segera kuambil kan handuk dan ku panaskan air di teko.


"Nggak jadi PERSAMI?" tanyaku sambil menambahkan gula dan teh celup ke dalam cangkir.


Damar hanya menganggukkan kepalanya lemah.


"Ya sudah. Kalau begitu, kamu mandi ya. Ini Ibu buatkan teh hangat. Sabar dulu. Tunggu airnya panas."


Damar tersenyum dan mendadak memelukku erat.

__ADS_1


"Ya Allah Damar, kamu dingin sekali. Ada apa? Kamu hujan-hujanan dimana? Nanti kamu sakit lo!" seruku berusaha melepaskan pelukan bocah berumur seputar tahun itu.


Risih karena air dari bajunya membasahi dasterku.


"Bu, Damar sayang sekali sama Ibu."


Aku tersenyum tapi merasa heran. "Kamu kenapa Sayang? Ada yang sakit?" tanyaku mulai muncul firasat tidak enak.


"Damar cuma kangen sama Ibu."


"Kamu itu ada-ada saja. Kan tiap hari ketemu Ibu. Masa masih kangen. Sudah sana mandi saja!"


Aku mengelus rambutnya yang basah. Dan tak lama kemudian terdengar suara bayi menangis.


"Sayang, adikmu menangis. Kamu tuang sendiri teko air panas ke bak sendiri bisa ya? Seperti biasanya kalau menyiapkan air mandi untuk adik."


"Hm, akhirnya tidur lagi."


Aku beranjak ke arah dapur, hendak menyiapkan makanan untuk Damar. "Damar! Kamu dimana Nak? Ayo makan dulu!" seruku sambil menyiapkan dua piring kosong dekat periuk nasi dan baskom berisi sayur bayam bening.


Hening tak ada sahutan. Aku menuju kamar mandi, ternyata sudah sepi. "Kemana sih Damar?"


Mendadak anak bungsuku menangis lebih keras. Aku segera menuju kamar dan melihat Damar sedang duduk di sebelah sang adik. Sementara Adinda, adik Damar yang masih berusia sembilan bulan menangis sekencang-kencangnya.


"Astaghfirullah, Damar! Kamu apakan adik kamu?"


Aku segera menggendong Adinda dan mengayun-ayunkannya. Namun, bukannya terdiam, Adinda justru menangis kian kencang.


"Damar, jawab pertanyaan Ibu, kamu apain adik kamu?" tanyaku mencekal baju Damar.

__ADS_1


Damar hanya menggeleng lemah. "Damar hanya ingin melihat adik saja."


"Hm, ya sudah. Kamu makan dulu yuk. Ibu temani."


Lagi-lagi Damar hanya terdiam. "Ibu, bagaimana kalau Damar pergi sama Bapak?"


Aku mendelik dan terkejut mendengar perkataan Damar.


"Jangan bilang begitu, Sayang. Bapak kan sudah nggak ada. Kamu jangan kelewatan kalau bercanda!"


Mendadak terdengar suara ketukan di pintu. Aku menoleh ke arah Damar.


"Sayang, kamu segera ke kamar mandi dulu ya? Ibu akan menemui tamu."


Aku segera bergegas menuju ke ruang tamu dengan menggendong Adinda tanpa menunggu jawaban Damar.


"Ada apa ini?! Kenapa datang ramai-ramai ke rumah saya?" tanyaku bingung melihat beberapa warga yang datang bergerombol di depan pintu.


"Bu, sebelumnya kami ingin mengucapkan bela sungkawa."


"Bela sungkawa? Bela sungkawa kenapa? Ada apa?" tanyaku dengan wajah bingung.


"Damar ditemukan meninggal di sungai dekat pertigaan sana. Itu jenazahnya." Salah seorang dari warga yang berkerumun di depan rumahku ikut bicara.


Pandangannya mengarah pada mobil sedan warna merah hati di belakangnya.


"Apa? Tidak mungkin! Damar ada di rumah ini!" jeritku tertahan.


Next?

__ADS_1


__ADS_2