
Dimana Jasad Anakku ??!;
Part 18
"Ibu ... ibu! Damar kangen sekali! Tolong aku pak Ustadz!"
Tangan Ustadz Amir tetap memegang kepala Sulis.
"Katakan siapa kamu dan dari mana asal kamu?" tanya ustadz Amir.
"Saya qorin dari Damar. Saya hanya ingin jasad saya ditemukan dan dikuburkan dengan layak, Pak Ustadz! Huhuhu!"
Ustadz Amir mengerut kan dahinya. Dia memang terbiasa berurusan dengan kesurupan dan berikhtiar mengobati santet, tapi belum pernah sekali pun dia berurusan dengan korban pelaku kriminal maupun pembunuhan.
"Siapa yang membunuh kamu?"
"Pak Slamet dan teman-teman nya. Banyak sekali anak-anak yang di bu nuh lalu dikubur di hutan. Termasuk Damar. Mereka ... mereka bahkan bekerja sama dengan jin besar berbentuk anjing. Saya tidak rela pak Ustadz! Saya ingin jasad saya ditemukan dan membalas perbuatan mereka!"
Ustadz Amir merenung sejenak. Ini perkara sulit. Jelas sekali kalau mereka lapor polisi, polisi tidak akan mempercayai mereka. Mana bisa mereka yang selalu berpikir dengan logika mendadak menerima petunjuk berdasarkan hal ghaib seperti ini?
Tapi jika dia menolong Damar, mungkin selamanya qorin anak ini akan bergentayangan menuntut balas.
"Damar, apa kamu bisa menyebutkan pelaku pembunuhan kamu dan tempat kamu dikuburkan?"
"Iya Pak ustadz, saya bisa menunjukkan nya."
Damar pun menyebutkan semua pelaku pembunuhan pada dirinya sekaligus letak tubuhnya di dalam hutan. Damar juga tak lupa menyebutkan bahwa mbok Darmi adalah penganut ilmu rawa rontek dan Mbah Surya adalah penganut ilmu rawa rontek dan panca Sona yang susah dikalahkan.
"Pak Ustadz, tolong saya untuk membalas perbuatan mereka! Saya tidak ikhlas kalau mereka menghancurkan hidup saya dan keluarga saya! Demi Allah, pak Ustadz! Saya akan membalas kematian saya dengan kematian mereka!"
Damar menggerung dan menangis tersedu-sedu di hadapan ustadz Amir. Tangan Damar mengepal dan menghantam lantai langgar dengan perlahan.
"Damar, saya tahu apa yang kamu alami sangat pahit. Tapi kamu tahu kan kalau dunia kamu dan dunia kami berbeda?"
"Aaarghhh! Pak Ustadz ingin membela para pembunuh Damar?"
"Tidak Damar! Sekali-kali tidak. Saya sangat berempati terhadap apa yang terjadi padamu. Saya akan membantu kamu untuk mencari bukti kejahatan mereka dan melaporkan nya pada polisi. Kamu bisa pergi dengan tenang kembali pada Allah!"
"Tidak pak Ustadz! Qorin bapak saya ditahan mbah Surya, saya juga ingin membebaskan nya. Saya hanya punya waktu tiga bulan sebelum saya menghilang dari dunia ini atau saya akan ditangkap Mbah Surya seperti bapak.
Kalau pak Ustadz ingin lapor polisi, saya juga akan membalas mereka dengan cara saya. Tapi saya tetap meminta bantuan pak Ustadz untuk menolong ibuku menemukan dan memakamkan jasadku secara layak!"
Ustad Amir mengangguk. "Insyallah, saya dan saudara saya akan membantu kamu, Damar. Sekarang kamu boleh pergi, kasihan ibu kamu butuh banyak energi untuk bersinggungan dengan jin seperti mu."
Damar menatap ustadz Amir. "Semoga pak Ustadz menepati janji padaku!"
Sulis pun memejamkan matanya dan tak lama kemudian dia pun pingsan.
Ustadz Amir yang seorang duda karena istrinya meninggal bersama anak dalam perutnya karena mengalaminya emboli air ketuban* saat proses persalinan itu memanggil Eko, adiknya, yang sedang menggendong Dinda di luar langgar.
__ADS_1
"Eko, kasus ini ternyata sulit. Ada tindak kriminal dan tumbal karena pesugihan. Ada juga pelaku ilmu ajian rawa rontek dan panca Sona yang jelas akan sulit dikalahkan."
Eko melongo. "Benarkah, Mas? Masalahnya sesulit itu ternyata? Saya tidak menyangka jika urusan ini begitu kompleks. Lalu apa yang akan mas Amir lakukan? Apa mas Amir akan menolong Bu Sulis atau tidak?"
"Hm, atas dasar kemanusiaan, aku ingin menolong nya. Tapi hal ini jelas berbahaya jika ku lakukan sendirian. Kamu dan teman kamu yang di kepolisian itu harus membantuku."
"Tapi, kita tidak bisa menjadikan kesurupan dan keterangan jin sebagai bukti kan, Mas? Bisa-bisa aku ditertawakan Raden, kalau aku memberitahu semua perkataan dari jin murid ku," ujar pak Eko sangsi.
"Hal ini yang harus kita bicarakan dengan Sulis sekarang. Jadi kamu ajak istri kamu ke langgar, agar istri kamu menemani Bu Sulis yang sedang pingsan. Nggak etis kalau lawan jenis di dalam langgar bukan untuk beribadah."
"Baiklah kalau begitu, saya titip anak Bu Sulis dulu ya. Saya akan memanggil istri saya."
Pak Eko lalu menyerahkan Dinda pada Ustadz Amir. Ustadz itu menatap Dinda penuh kasih sayang. Dia teringat lagi pada anak istrinya yang meninggal di ruang bersalin.
Pak Eko baru saja mengenakan sandal di luar halaman langgar saat ustadz Amir meminta pak Eko agar membawa kan gayung berisi air dan daun bidara, serta bantal.
Guru olahraga yang baru menikah delapan bulan itu mengangguk lalu segera melakukan permintaan kakak kandung nya.
Ustad Amir memercikkan air bidara dari dalam gayung itu ke wajah Sulis beberapa kali, sehingga Sulis mengerjapkan matanya beberap kali dan perlahan membuka mata.
"Bu Sulis sudah sadar?" tanya Ustad Amir.
Sulis mengangguk. Dia merasa kan kepalanya berat. Perempuan itu mencoba untuk duduk sendiri dan mengingat-ingat apa yang baru saja terjadi.
Sulis menatap ustadz Amir dengan penuh tanda tanya.
"Apa yang baru saja terjadi pada saya?" tanya Sulis kebingungan. Kepalanya berdenyar-denyar saat dia mencoba mengingat apa yang telah terjadi. Sulis melihat Dinda yang sedang tertidur pulas dalam gendongan istri pak Eko.
"Bu Sulis, diminum dulu airnya agar tenang dan menyingkirkan energi negatif yang mungkin berada di dalam diri ibu," ujar ustadz Amir.
Sulis meraih gelas mineral itu dan meminumnya perlahan. Setelah tenang, ustadz Amir mengajak nya bicara, "tadi jin qorin Damar memasuki tubuh Bu Sulis."
Sulis terkejut, tubuhnya menegang. "Damar kesini? Mana Damar?" tanya Bu Sulis mencari-cari anaknya di segala penjuru langgar.
"Dia sudah pergi, tapi dia ingin kita menemukan jasadnya. Damar anak yang cerdas itu mengatakan dengan baik lokasi rumah dukun pesugihan dan lokasi dia dan para korban dikubur kan."
Ustadz Amir pun menceritakan semua yang diceritakan oleh Damar padanya.
Wajah Sulis memucat. Dia harus menerima kenyataan bahwa anaknya tidak sekedar menghilang. Tapi meninggal karena kejahatan. Dan bahkan suami nya pun dibun uh oleh pak Slamet.
"Kita harus mencari jasadnya pak Ustadz! Kita juga harus lapor polisi!"
"Betul. Tapi kita harus mengumpulkan buktinya. Kita tidak mungkin lapor dengan membawa keterangan dari jin qorin kan?"
Sulis hanya mengangguk. Dalam hatinya membenarkan perkataan ustad Amir. Tapi yang jelas, satu hal yang sekarang dia mengerti, ternyata banyak serigala berbulu domba di sekitar nya.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Pak Ustadz? Apa pak ustadz mau membantu saya? Apa saya harus menyerah dalam memperjuangkan keadilan untuk anak dan suami saya?" tanya Sulis setengah berputus asa menyadari kasusnya sangat sulit.
"Tidak Bu Sulis. Kita hanya perlu menyusun rencana agar mereka bisa ditangkap polisi. Jadi kita harus mengumpulkan bukti. Saya punya rencana, Bu ..."
__ADS_1
***
Malam itu Desi, istri Slamet, terlibat pertengkaran dengan sang suami.
Sebenarnya dia sudah tidak ingin bertemu dengan Slamet lagi setelah mendengar cerita Surti. Diam-diam Desi takut jika dia juga ditumbalkan oleh Slamet.
"Des." Salmet perlahan membuka mata. Lelaki itu sudah pindah ke ruang paviliun setelah menjalani operasi penyambungan pergelangan tangan dengan pen.
"Ya Mas?" tanya Desi menatap wajah suaminya dengan ekspresi dingin.
Slamet menatap wajah istrinya dan mulai merasa heran.
"Kamu kenapa, Des? Aku baru operasi dan aku sangat haus. Tidak bisa kah kamu melayaniku dengan wajah sumringah?" tanya Slamet. Desi terdiam dan malah bermain ponsel membuat Slamet meradang.
"Des, tolong ambilkan aku air minum, aku haus," pinta Slamet dengan nada memelas.
Desi dengan ogah-ogahan meletakkan ponselnya dan menuju ke atas nakas. Mengambil gelas mineral dan memberikan nya pada sang suami dengan kasar.
"Tangan ku yang kanan nggak bisa karena habis operasi. Tanganku yang kiri ada selang infus nya. Tidak bisakah kamu berbaik hati memberikanku minum dari tangan mu?" tanya Slamet dengan nada memelas.
Desi mendelik. "Jangan manja! Tangan kiri kamu yang ada infusnya kan masih bisa untuk minum? Nggak harus aku bantu kan?" tanya Desi ketus. Slamet sangat sakit hati mendengar nya.
"Kamu kok berubah gitu sih? Oh begitu ya caranya. Kalau aku sehat dan kaya, kamu baik sama aku. Tapi kalau aku miskin dan sakit-sakitan, kamu tidak mau merawatku. Iya kan?"
"Tuh, kamu sudah tahu! Aku bahkan jijik karena kamu memberi ku makan dengan bantuan ANJING! Sungguh memalukan! Aku bahkan tidak sampai berpikir kalau kamu melakukan pesugihan, Mas!" teriak Desi sambil menuding Slamet yang masih lemah pasca operasi.
Deg! Seketika Slamet terkejut. Dia merasa terancam dengan ucapan Desi.
"Astaga, siapa yang bilang padamu tentang hal itu, Des?!" tanya Slamet seraya menatap wajah Desi serius.
Desi memalingkan mukanya. "Kamu tidak perlu tahu aku mendapatkan informasi itu darimana."
Desi menjeda kalimat nya. "Yang ingin kutanyakan, apa kamu benar-benar melakukan tindak pesugihan dengan jin?" tanya Desi sengit, membuat niat jahat Slamet pun muncul.
"Aku memang memerlukan bantuan jin untuk kaya. Dan kamu juga ikut menikmati kekayaanku bukan? Nggak usah munafik, Des! Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang setelah mendengar aku ternyata melakukan pesugihan?" tantang Slamet.
Desi terkejut melihat Slamet yang justru blak-blakan. Awalnya dia mengira bahwa Slamet akan menutup-nutupi kenyataan itu, tapi ternyata Slamet justru berterus terang padanya.
"Kamu mau tahu apa yang akan kulakukan setelah mengatahui tentang perbuatan kamu, Mas? Aku minta cerai sekarang juga! Aku masih cantik dan akan mencari laki-laki yang lebih mapan dan tampan daripada kamu! Lagipula aku tidak mau ikut-ikutan berhubungan dengan kamu dan jin kamu itu!"
Slamet menggeleng. "Bagaimana kalau aku tidak mau untuk menceraikan mu?"
"Aku yang maju ke pengadilan agama dan menggugat cerai kamu, Mas," jawab Desi dengan enteng. Dia lalu berdiri dan melambaikan tangan pada Slamet.
"Kamu tidak usah bingung dengan perceraian kita. Biar aku yang mengurus nya. Kamu hanya perlu membagi gono gini denganku.
Lumayan kan kamu bisa menikah dengan Surti setelah bercerai dengan ku? Hm, ya sudah, aku pulang dulu ya? Jangan mencariku. Cari saja Surti atau suster untuk melayanimu," tukas Desi seraya melenggang pergi meninggalkan Slamet.
Setelah Desi tidak terlihat lagi, Slamet dengan menahan rasa sakit di tangan kanannya, berusaha bergeser dan meraih ponselnya di atas nakas. Dengan cepat dia menelepon Udin, sang sopir.
__ADS_1
"Halo, Din. Ikuti Desi dan bun uh dia. Dia sudah mengetahui rahasia pesugihan dan hendak menceraikan ku, jadi bu nuh Desi, dan hilangkan jejak!" tukas Slamet tegas.
Next?