
DIMANA JASAD ANAK KU ??
Part 14
Sulis baru saja memakaikan baju pada anaknya, Dinda, setelah anaknya mandi, saat ponselnya berbunyi nyaring. Dia segera meraih ponsel nya sambil menimang sang anak.
"Halo, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Bu Sulis. Ini pak Eko. Apa yang ingin ibu sampai kan?" tanya Pak Eko dari seberang telepon.
"Hm, sebenarnya hal ini sangat aneh. Bersangkutan dengan hal mistis."
Sulis menjeda kalimatnya. Menunggu reaksi guru anaknya itu.
"Hal mistis? Maksudnya apa ya, Bu?"
"Apa bapak percaya tentang santet dan jin qorin?"
Suasana hening sejenak. "Jujur saja saya adalah orang yang selalu menggunakan logika dalam segala hal. Tapi saya juga mempercayai bahwa makhluk astral seperti itu ada, walaupun saya belum pernah melihatnya langsung."
Suasana hening sejenak. Sulis dan Pak Eko sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Pak, saya ingin mengatakan hal yang sejujurnya. Saya tidak tahu harus mengatakannya ke siapa. Saya menanggung nya seorang diri dan dada saya serasa sesak saya ingin menceritakan pada bapak, sebagai satu-satunya orang yang saya percaya."
"Baiklah, Bu Sulis, saya bersedia mendengarkan cerita Ibu. Silakan menceritakannya secara garis besar."
"Baiklah, saya harap pak Eko percaya pada setiap yang saya katakan. Saya juga mengharapkan solusi pada masalah ini."
Sulis menghela nafas sejenak sebelum mulai bercerita.
"Sebenarnya setelah Damar menghilang, sosok anak saya itu selalu memperlihatkan dirinya pada saya."
Sulis lalu menceritakan semua hal yang terjadi padanya berkaitan dengan munculnya sosok Damar sampai pada buku diary yang dibacanya pagi tadi.
Suasana hening. Pak Eko dengan serius menyimak cerita dari Sulis.
"Lalu subuh tadi, saya melihat adanya banaspati yang terbang ke rumah saya. Bapak tahu kan banaspati itu apa?"
"Banaspati? Tidak mungkin!"
"Sungguh, Pak. Saya berani bersumpah demi Allah bahwa bola santet itu terbang melayang di kamar saya."
"Lalu apa yang terjadi setelahnya?"
"Sosok Damar muncul di depan saya dan menghalau bola santet itu sampai bola santet itu pergi Apa bapak percaya pada qorin?"
"Yah, saya percaya. Karena dalam Al-Qur'an telah disebutkan tentang Qorin dalam surat Al-Qaf."
"Iya Pak. Jadi menurut sosok yang mendatangi saya adalah jin Qorin Damar dan dia ingin menyampaikan sesuatu pada saya berkaitan dengan menghilangnya dia," sahut Sulis. "Lalu tentang bola santet itu apa bapak tahu yang terjadi selanjutnya?"
"Tidak. Saya tidak bisa menebak kemana bola santet itu pergi setelah menghilang dari kamar Bu Sulis."
"Saya juga tidak tahu kemana banaspati itu pergi. Saya hanya mendengar tetangga saya menjerit dan saya langsung menuju ke rumahnya. Dan ... saya tahu tetangga saya itu rupanya mengalami hal yang sangat mengerikan."
"Hal yang mengerikan? Apa maksud Bu Sulis?"
"Secara mendadak, seluruh kulit di tubuh tetangga saya mengalami semacam pengelupasan yang bernanah dan berdarah-darah," sahut Sulis.
__ADS_1
"Ah, jadi ...."
"Mungkin saja apa yang saya pikirkan sama dengan apa yang bapak pikirkan. Jadi apa yang harus saya lakukan?"
"Hm, sejujurnya saya masih merasa percaya nggak percaya mendengar cerita Bu Sulis. Saya tidak bisa memberi solusi. Tapi saya akan menawarkan kemungkinan jalan keluar yang bisa dipilih."
"Baiklah, apapun jalan keluar yang bapak tawarkan akan saya ambil asalkan bukan ke dukun, seperti apa yang dianjurkan oleh mbok Darmi."
"Jadi tetangga ibu menganjurkan ibu untuk ke dukun?"
"Iya. Tapi ternyata justru tetangga saya sendiri yang seperti nya membuka praktik perdukunan. Saya bingung dan nyaris tidak percaya siapapun lagi."
"Baiklah. Kalau begitu nanti sore setelah ashar, silakan Bu Sulis ke rumah kakak saya. Beliau bernama Mas Amir. Seorang ustadz yang biasa berurusan dengan jin, hal ghaib dan ruqyah. Alamat dan nomor telepon nya akan saya kirim setelah ini," ujar Pak Eko.
"Wah, Alhamdulillah. Ternyata ada jalan keluar dari masalah saya. Pada awalnya saya sungguh bingung dengan apa yang harus saya lakukan, sekarang sudah lega karena mendapatkan pencerahan dari pak Eko."
"Ya, senang bisa membantu Bu Sulis. Kalau begitu, telepon nya saya tutup dulu. Saya ada keperluan lain."
"Tunggu, Pak!"
"Apa masih ada yang belum disampaikan oleh Bu Sulis?"
Sulis tampak membuka mulutnya. Tapi sejenak dia merasa ragu.
"Eeee, sebenarnya saya pernah bermimpi bertemu dengan Damar setelah dia menghilang."
"Mimpi? Mimpi tentang apa?"
Sulis pun menceritakan mimpinya kepada pak Eko tentang siluman anjing yang pernah muncul di mimpinya.
"Baiklah, Bu. Silakan semua diceritakan pada kakak saya nanti tanpa terkecuali. Semoga kakak saya bisa membantu."
**
"Aaargghh!!"
Semua orang yang sedang berada di kamar Mbok Darmi berseru kaget saat melihat tubuh mbok Darmi meluncur ke lantai. Beruntung perawat laki-laki segera berlari ke arah mbok Darmi dan menangkap kepalanya tepat waktu. Tapi karena kaki perawat itu tidak kuat menapak lantai ruang rawat inap, mereka berdua terjatuh bersamaan.
Brakkk!!
Mbok Darmi langsung memejamkan matanya setelah terjatuh bersama perawat itu.
Sementara itu suster yang melihat kejadian di kamar mbok Darmi langsung menelepon dokter jaga untuk meminta bantuan.
Mbok Darmi dan Slamet segera dievakuasi ke tempat yang berbeda. Mbok Darmi dipindahkan ke ruangan lagi dengan Surti. Sementara itu Slamet dilarikan ke ruang operasi karena mengalami patah tulang. Pihak rumah sakit meminta tolong Surti untuk menghubungi istri Slamet agar datang ke rumah sakit untuk keperluan administrasi.
Surti tak henti-hentinya menangis melihat kondisi ibunya yang masih pingsan. Dan anehnya ibunya dinyatakan masih hidup meski pun Surti telah melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa saat kesurupan, kepala ibunya sampai terputar 180 derajat. Sesuatu yang sangat di luar akal sehat.
**
Surti sedang menunggui ibunya sendirian di ruang rawat inap saat pintu kamar ruangan diketuk dari luar.
Gadis itu segera beranjak dari kursi penunggu pasien dan berjalan menuju ke arah pintu.
Plaakkk!!!!
Plaakkk!!!
__ADS_1
Surti sangat terkejut setelah pintu terbuka, karena bukan sapaan atau kalimat salam yang terdengar melainkan dua kali tamparan di wajahnya.
"Dasar ******! Memang kamu ini perempuan yang tidak tahu malu. Sudah kuduga, sejak mas Slamet bertemu dengan kamu dan ibu kamu yang aneh itu, mas Slamet berubah aneh!" teriak perempuan di luar pintu kamar Surti dengan berkacak pinggang.
Perempuan itu cantik, seumuran dengan Slamet. Make up-nya tipis tapi terkesan cantik natural dan glowing. Tubuhnya sintal dan singset. Tidak ada yang akan menyangka jika perempuan itu berusia tiga puluh lima tahun karena dia masih seperti seusia Surti.
Surti menatap istri Slamet dengan perasaan terluka. Dia yang ma ti-ma tian menolak rayuan Slamet agar karena tidak mau menjadi pelakor, sekarang justru dipermalukan oleh istri sah Slamet.
"Bu Desi, ibu salah paham. Saya tidak ...,"
"Aaawww!"
Surti menjerit kaget saat Desi, istri Slamet menjambak rambut nya.
"Heh, murahan! Kamu jangan ngeles ya?! Aku tahu yang ada di otak kamu itu sama dengan perempuan - perempuan lain yang mendekati Slamet. Kamu ingin menyingkirkanku karena aku tidak bisa mempunyai anak kan? Cuih! Jangan mimpi kamu! Dasar *****!"
"Jaga ucapan kamu, Bu Desi!"
Surti akhirnya tidak dapat menahan kesabaran nya karena dia sudah diremehkan dan dipandang rendah oleh istri Slamet. Segera dicakar nya tangan Desi dengan kencang, hingga rambut Surti terlepas dari genggaman tangan Desi.
"Aaawww! Kurang ajar kamu ya! Berani-beraninya kamu mencakarku?! Sialan! Kamu pikir kamu hebat? Kamu benalu di keluarga kami!" jerit Desi penuh dendam. Tangan nya melayang hendak memukul Surti lagi. Tapi dengan tangkas, Surti menangkap tangan Desi dan memelintirnya di belakang punggung perempuan berpenampilan modis itu.
"Aw, kurang ajar kamu! Berani-beraninya perempuan kotor, matre, dan miskin seperti kamu memegang tanganku! Lepaskan, atau aku akan melaporkan mu ke polisi!" ancam Desi.
"Laporkan saja! Dan aku akan membuat kamu dan Slamet jatuh miskin!"
"Hah? Bagaimana caranya? Kamu pasti hanya menggertakku saja kan? Kamu dan perempuan menjijikkan itu pasti telah bersekongkol untuk mencelakai suamiku setelah kamu gagal menggoda suami ku!"
Surti mendelik mendengar kata-kata Desi.
"Heh! Sebelum bicara, pikir dulu pakai otak, jangan asal njeplak!" seru Surti ketus.
Dia lalu mendorong tubuh Desi kearah sofa di dalam ruang rawat inap Mbok Darmi dan mengunci pintu nya.
Desi mendelik saat melihat Surti mendekat ke arahnya.
"Mau apa kamu? Jangan macam-macam dengan ku! Aku bisa membuat kamu dipenjarakan seumur hidup!"
Surti terdiam, dia hanya menyedekapkan kedua tangan nya di depan dada.
Desi mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar rawat inap Mbok Darmi.
"Luar biasa! Pasti semua fasilitas ini adalah hasil dari menggerogoti harta suamiku! Aku sungguh tidak ikhlas, jika ibumu yang aneh dan sekarang penyakitan itu menikmati hasil keringat suamiku!" seru Desi berang. "Aku sudah curiga sejak awal, saat kamu dan ibu kamu menempel pada suamiku sejak menjabat menjadi kepala desa!"
"Heh! Dengarkan aku baik-baik, ibu Desi yang terhormat. Aku akan mengatakan hal ini satu kali saja. Karena itu pasang telinga mu baik-baik," tukas Surti. Dia yang semula lugu dan penakut berubah menjadi bar-bar karena stres dengan peristiwa yang terjadi belakangan hari ini. Sehingga saat Desi mendatangi dan melabrak nya, emosi Surtipun meledak.
"Kamu ya ...!"
"Sst! Tutup saja lambemu itu! Aku akan mengatakan hal ini meskipun melanggar janjiku pada ibu angkat ku.
Ibu angkat ku ini berhak mendapat kan uang dari suamimu karena suami kamu ini adalah anaknya! Anak kandung mbok Darmi. Lebih tepatnya anak yang lahir di luar ikatan pernikahan yang sah!"
Mata Desi membeliak dan sangat terkejut mendengar kan ucapan dari Surti.
"Apa?! Kamu pasti bohong karena tidak ingin kuhajar kan?" tanya Desi.
Surti tertawa. "Hahahaha! Aku tidak bohong! Jika tidak percaya, tanyakan saja pada suami kamu saat dia sadar. Dan kamu tahu siapa bapak kandung dari suami kamu alias suami dari ibu angkat ku?" tanya Surti menatap tajam pada Desi yang terdiam.
__ADS_1
"Bapak kandung dari suami kamu adalah Mbah Suryo, dukun dari desa sebelah yang tempat tinggalnya menyendiri di dalam hutan! Asal kamu tahu saja, perempuan yang kamu benci itu dan mbah Suryo telah membantu suami kamu untuk mendapatkan kekayaan dengan memuja Jin jantan berkepala anjing. Tentu saja dengan tumbal. Dan apa kamu tahu apa tumbal nya? Mata anak laki-laki setiap setengah tahun sekali!"
Next?