
DIMANA JASAD ANAK KU ?
Part 15
Beberapa tahun yang lalu,
Darmi pulang dari sekolah dengan mengendarai sepeda kayuhnya saat dia melihat kucing cantik yang kakinya sedang terluka di pinggir jalan depan sebuah rumah sederhana.
Gadis itu segera turun dari sepeda nya lalu menghampiri kucing berwarna hitam.
"Hai, kamu cantik sekali! Nama kamu siapa?"
Awalnya kucing itu tampak ketakutan dan hendak lari, tapi karena kaki nya terluka, dia hanya bisa pasrah saat Darmi mengelus tubuh berbulu nya.
"Darah kamu keluar banyak. Aku ikat dulu dengan pita rambut ku ya agar darahnya tidak keluar lagi," ujar Darmi seraya berlutut dan membelai kucing itu.
Dengan cekatan, Darmi pun melepas kan pita yang mengikat rambut kepang duanya lalu mengikatkan nya ke kaki kucing di hadapannya. Setelah selesai, Darmi menggendong kucing di hadapannya dengan hati-hati.
"Jangan sentuh kucing saya!" seru seorang laki-laki tampan dan gagah yang keluar dari rumah sederhana di hadapan Darmi. Gadis itu tercengang dan melepaskan kucing dari pelukan nya.
Pemuda itu datang dan langsung merebut kucingnya dari pelukan Darmi. Dia menatap laki-laki pemilik kucing itu dengan takut-takut.
"Maaf, saya tidak bermaksud jahat. Saya hanya ingin mengobati kucing mas nya. Saya lihat tadi kakinya berdarah dan saya tidak tahu penyebabnya," ujar Darmi membela diri.
Lelaki bermata elang itu menatap Darmi dengan pandangan yang menyelidik, dia lalu menatap ke arah kaki kucing nya dan menghela nafas.
"Baiklah. Maafkan saya, Dik. Saya kira kamu seperti orang-orang lain yang tidak suka dan menghindar saat bertemu kucing berwarna hitam," ujar pemuda itu seraya mengulas senyum. Darmi yang selama ini kurang pergaulan dan di rumah terus menjadi meleleh dan baper karena senyuman manis pemuda itu.
"Ti-tidak apa-apa, kok Mas. Saya senang bisa membantu sesama makhluk Tuhan tanpa membeda-bedakan warna kulit dan jenis makhlukNya. Oh, ya. Kalau begitu, saya melanjutkan perjalanan pulang saya, ya Mas. Semoga kucing nya lekas sembuh," ujar Darmi seraya menganggukkan kepalanya dengan canggung.
Lelaki itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih sekali lagi lalu membiarkan Darmi berlalu dengan sepeda kayuhnya. Sedangkan Darmi tetap mengayuh sepeda nya meski pun badan dan kaki gemetar dan jantung nya berdebar kencang.
***
Darmi terkejut dan seketika mengerem sepeda kayuhnya saat melihat laki-laki pemilik kucing hitam di pinggir jalan dan menatap ke arah nya. Lelaki itu berdiri seraya memegang pita rambut merahnya.
"Mas kucing? Kenapa di sini?" tanya Darmi polos melihat laki-laki itu mendekat ke arahnya.
Mendekat perkataan Darmi, laki-laki itu tergelak. "Mas kucing? Lucu banget panggilan kamu. Oh ya kita belum berkenalan dengan benar kemarin," ujar laki-laki itu mengulurkan tangan kanan nya.
Darmi menjabat tangan laki-laki itu dengan malu-malu.
"Saya Darmi, Mas."
"Saya Surya. Saya berdiri di sini untuk menunggu kamu pulang. Karena kemarin saya lihat kamu pulang jam segini, jadi saya sekarang juga menunggu kamu di sini pada waktu yang sama."
Wajah Darmi memerah. "Memang nya kenapa mas Surya sampai menunggu saya di sini?"
Lelaki itu menyodorkan pita rambut warna merah muda ke arah Darmi.
"Sekali lagi terima kasih telah menolong kucing saya yang terluka, Dik. Apa kamu mau mampir ke gubukku sejenak? Aku bisa memasak dan hari ini aku memasak ketan bubuk kedelai. Kalau kamu mau, mampirlah. Si Hitam juga ingin bertemu dengan mu."
Darmi berpikir sesaat. Sebenarnya dia harus segera pulang ke rumah dan tidak boleh mampir ke mana-mana setelah pulang dari sekolah oleh orang tuanya. Tapi entah kenapa kali ini Darmi nekat dan melanggar peraturan dari orang tuanya.
'Ah, nggak apa-apa deh. Cuma sekali saja aku nggak langsung pulang ke rumah,' batin Darmi lalu mengikuti Surya masuk ke rumah nya.
"Boleh Mas. Aku juga ingin merasa kan ketan bubuk buatan mas Surya."
__ADS_1
Darmi tersenyum saat Surya mengulur kan piring mungil dari anyaman bambu dialasi daun pisang berisi ketan.
"Wah enak sekali ketan ini! Ngomong-ngomong kemana orang tua mas Surya?" tanya Darmi saat melihat rumah Surya yang sepi. Mendadak wajah Surya terlihat murung.
"Orang tua saya sudah meninggal sejak tiga bulan yang lalu. Jadi saya di rumah sendirian sekarang."
Darmi menatap Surya dengan pandangan iba. Mereka lalu melanjutkan makan dan ngobrol dengan santai.
"Hm, saya pamit pulang dulu, Mas. Takut dicari orang tua saya," pamit Darmi.
"Sudah habis ketannya? Apa mau nambah lagi?" tawar Surya.
Darmi menggeleng sopan. "Tidak usah, Bang. Saya langsung pulang saja."
Surya pun mengangguk. "Hati-hati di jalan, kalau besok-besok mau mampir, mampir saja sekalian menengok si Hitam."
Darmi dengan wajah berbinar, mengiyakan ajakan Surya lalu berpamitan pada lelaki itu untuk pulang ke rumahnya.
**
Minggu demi Minggu berlalu, Darmi selalu pulang terlambat karena mampir ke rumah Surya terlebih dahulu. Darmi merasa menemukan belahan jiwanya karena saat bersama dengan Surya, dia merasa sangat nyaman.
"Hujan, Dik. Bagaimana kamu pulang nya? Apa mas antar saja dengan payung? Mas kebetulan nggak punya payung," ujar Surya menatap hujan yang sedari tadi turun sejak Darmi mampir ke rumahnya.
"Aku pinjam payungnya saja, Mas. Biar aku pulang sendiri. Aku takut orang tuaku cemas."
"Hm, oke. Aku ambilkan payung dulu. Ada di dekat dapur."
Surya berdiri dan Darmi pun juga ikut berdiri. "Tunggu, Mas. Aku juga ingin ke kamar mandi. Bisa tunjukkan arahnya?" punya Darmi.
Darmi mengangguk dan tersenyum lalu mengikutinya Surya dari belakang.
"Awww!"
Darmi nyaris terpeleset saat kakinya yang basah melewati lantai ubin rumah Surya.
"Hati-hati!"
Surya menangkap tubuh Darmi yang hampir terjatuh, tapi justru mereka jatuh berdua di lantai. Darmi berada di atas tubuh Agus. Entah siapa yang memulai, keduanya saling berbagi kehangatan di antara dinginnya aroma hujan.
***
"Mas, aku telat," ucap Darmi dengan wajah penuh kecemasan saat tiga bulan setelah kejadian di sore hujan itu.
Wajah Surya pias. Tapi dia tetap berusaha untuk bersikap tenang.
"Aku akan bertanggung jawab karena aku juga mencintaimu."
Surya pun datang ke tempat orang tua Darmi. Orang tua Darmi yang termasuk salah satu orang kaya di desa itu tidak terima dengan pengakuan Surya.
"Pergi kamu! Dasar laki-laki sialan! Anakku tidak akan pernah kunikahkan dengan pemuda miskin dengan asal usul tidak jelas seperti kamu!"
Orang tua Darmi mengusir Surya dan mereka pun pindah rumah ke kota lain, tanpa mempedulikan tangisan sang putri, mencoba menyembunyikan kehamilan Darmi.
Beberapa bulan berlalu, Darmi pun melahirkan anak yang sangat tampan, sehat, dan gemuk. Saat Darmi sedang tidur karena kelelahan setelah melahirkan, orang tua Darmi membuang bayi tak berdosa itu di depan panti asuhan dengan memberikan sejumlah uang di dalam amplop dan juga secarik surat yang isinya meminta pihak panti menamai bayi itu Slamet.
Sedangkan orang tua Darmi, mengatakan pada anaknya bahwa Slamet telah meninggal dunia.
__ADS_1
**
Sementara itu Surya yang dendam pada keluarga Darmi mendalami ilmu hitam dengan bantuan seorang dukun sakti di tengah hutan. Dia juga berkenalan dengan beberapa jin sakti.
Dengan kemahiran nya, Surya mulai mencari Darmi dan saat sudah bertemu lagi, Surya mencoba melamar Darmi sekali lagi dan sayangnya lamaran nya ditolak.
Surya yang telah memprediksi penolakan lamaran itu akhirnya membuat Darmi terlihat jelek di hadapan lelaki lain, sehingga beberapa kali orang tua Darmi mencoba menjodohkan anaknya, semua laki-laki itu menolak nya.
Surya pun menyantet orang tua Darmi hingga sakit parah dengan kulit yang melepuh dan gatal - gatal. Hingga akhirnya orang tua Darmi jatuh miskin karena hartanya habis untuk berobat.
Stres karena memikirkan penyakit mereka dan memikirkan nasib Darmi yang tidak kunjung menikah padahal sudah menjadi perawan tua, membuat orang tua Darmi jatuh sakit. Saat hendak meninggal, orang tua Darmi pun meminta maaf pada anaknya dan menunjukkan panti asuhan dimana mereka membuang Slamet.
Darmi pun segera mencari Slamet setelah kematian orang tuanya ke panti asuhan dengan membawa bukti foto kelahiran Slamet, foto saat Slamet 'dibuang', dan surat pengakuan kedua orang tua Darmi.
Namun betapa kecewanya Darmi saat mendapati kenyataan bahwa Slamet telah diangkat anak oleh sebuah keluarga berada. Pihak panti asuhan pun memberikan alamat rumah orang tua Slamet yang baru.
Darmi mengusap air matanya saat melihat Slamet yang tampak bahagia dengan keluarga barunya. Akhirnya Darmi memutuskan untuk tidak menampakkan diri di hadapan Slamet.
Sepulang dari rumah keluarga Slamet yang baru, Darmi terperanjat karena melihat Surya yang berada di depan rumahnya, seolah menunggu kedatangannya.
**
Beberapa hari, Surya mendekati Darmi lagi dan akhirnya keduanya menikah. Pada awalnya Darmi hanya mengetahui bahwa pekerjaan Surya adalah tabib non medis yang mendirikan pengobatan alternatif. Tapi lama-kelamaan, Darmi jadi tahu bahwa sang suami adalah dukun ilmu hitam dan menemukan foto orang tuanya serta rambut di dalam sepotong kain kafan di dalam kotak kayu kecil di lemari.
Alangkah kecewanya Darmi dan saat itu juga dia memutuskan berpisah dengan sang suami. Tapi Surya memohon agar Darmi memaafkannya, karena Surya memberikan ilmu pelet pada Darmi, Surya juga menjanjikan akan mengajar kan ilmu perdukunan dan pengobatan dengan metode jin pada Darmi.
Darmi setuju dan dia pun mempelajari rawa rontek. Dia ingin juga mempelajari santet dan ilmu pesugihan, tapi sayangnya praktek perdukunan Surya digerebek warga.
Surya dan Darmi sepakat melarikan diri secara terpisah dan Surya menuju ke kaki gunung Salak untuk memperdalam ilmunya. Sedangkan Darmi memulai hidup baru di desa yang sama dengan Slamet, dan mengangkat Surti sebagai anaknya.
Beberapa tahun kemudian setelah Slamet menikah, orang tua Slamet mengalami kebangkrutan, isteri nya hampir menggugat cerai Slamet, saat mbok Darmi muncul di hadapan Slamet dengan diam-diam dan mengakui bahwa dia adalah ibu kandung Slamet.
Awalnya Slamet tidak percaya dan marah-marah pada Darmi yang mendadak muncul, tapi Darmi menunjukkan bukti bahwa dia adalah anaknya dan akan menjadikan Slamet kaya raya dengan menemui ayah kandung nya.
Surya menatap Slamet penuh rindu dan memeluk anaknya erat.
"Apa kamu siap menjadi kaya, Met? Aku akan memberitahumu syarat-syarat nya."
**
Slamet menggigil saat bertemu dengan jin lelaki berkepala anjing saat dia berhasil menculik anak laki-laki pertama sebagai tumbal.
Dia dan Darmi telah membawa secara paksa salah satu gelandangan ke meja persembahan yang telah disediakan oleh Surya di tengah hutan.
Dan tak lama kemudian saat tengah malam, jin Anjing itu datang dan mengambil nyawa sekaligus bola mata anak itu. Dan setelah itu Slamet menemukan gepokan-gepokan uang di bawah bantal. Slamet menggunakan nya untuk membangun toko sembako, membeli sawah, dan pernikahan nya dapat diselamatkan.
Tiga tahun setelahnya, Slamet berhasil menjadi kepala desa dan banyak memberikan sumbangan dan santunan pada para warga. Sehingga para warga banyak yang mendukung dan menyukai Slamet.
Sedangkan mbok Darmi tetap pura-pura miskin meskipun sebenarnya dia tidak mengalami kesulitan keuangan karena Slamet selalu membantunya.
**
Abdi sedang dalam perjalanan ke desa sebelah untuk bertemu dengan ustadz yang bisa menutup mata batinnya saat mendadak dia melihat Slamet dan Udin, sopir yang sudah direkrut Slamet sedang 'mengajak' seorang anak laki-laki yang sedang mengemis malam- malam untuk masuk ke dalam mobil mereka.
Firasat Abdi mengatakan ada yang tidak beres. Maka dia pun mengikuti mobil Slamet dengan motor maticnya.
Next?
__ADS_1