Jasad Anak Ku

Jasad Anak Ku
"AMARAH ARWAH PENASARAN"


__ADS_3

PART 20 ( Amarah arwah penasaran )


Udin mendekati Parman dengan menyanyi, "Satu s


Parman menatap Udin dengan bingung. "Din, kamu kenapa sih? Jangan aneh-aneh lah! Serem tahu!" seru Parman dengan cemas tapi ditutupi nya ekspresi cemasnya dengan memaksakan tawa sumbang. 


Sementara itu Udin terus maju mendekati Parman yang melangkah mundur. 


Tangan Parman terulur ke depan Udin, mencoba menghalangi badan Udin yang terus maju. 


"Heh, stop! Jangan mendekat! Kamu kenapa sih? Apa kamu mabok bensin? Mabok lem aibon? Dasar aneh! Ayo bukakan pintu gudang nya!" seru Parman semakin panik. 


Udin tidak mengindahkan seruan Parman. Dia bahkan tetap menyanyikan lagu kesukaan nya. 


"Dua dua juga sayang ayah, tiga tiga sayang adik kakak ..."


"Heh, wong edan! Kowe stres apa gendeng kok ngunci aku di gudang? Kamu lagi ngeprank aku? Tapi aku nggak sedang ulang tahun!" seru Parman berusaha mencari-cari saklar lampu. 


Klik! 


Saklar lampu berhasil ditekan. Dan dalam sekejap gudang menjadi menyala dan terang. 


"Arrrrgh!"


Parman berteriak kaget melihat wajah Udin yang berdarah dengan kedua bola mata yang hilang. 


"Din, kamu kenapa? Kamu jangan main-main sama aku, Din? Bercandaannya nggak lucu!" seru Parman. 


Udin memiringkan kepalanya dan menyeringai pada Parman. Tangannya meraih cangkul yang terletak di sebelah Parman, tergeletak begitu saja di lantai. 


"Satu, dua, tiga, sayang semuanya!"


Klang!


Cangkulan Udin menyambar angin saat Parman berhasil menghindar. Baru saat Parman selamat dari tebasan cangkul Udin, Parman menyadari ada yang tak beres pada Udin. 


"Om, main sama aku yok! Dulu kan aku yang lari dan om yang ngejar aku. Sekarang dibalik, aku yang mengejar Om, om yang lari dan sembunyi ya?! Om sembunyi baik-baik karena kalau aku menemukan Om, om akan tamat!"


Udin sekali lagi mengibaskan mata cangkul ke arah Parman. 


Kraakkk!


Meleset! Parman sekali lagi bisa menghindari tebasan cangkul Udin. Tapi saking takut nya, Parman sampai jatuh terduduk di lantai gudang. 


"Si-siapa? Siapa kamu? Kamu bukan Udin kan?"


"Hahaha, Om lupa siapa aku? Padahal kita pernah bermain kejar-kejaran di dalam hutan. Dan saat aku kalah, om bukan nya melepaskan dan memaafkan aku, om justru membawaku untuk jadi tumbal. Huhuhu! Aku salah apa, Om!" seru Damar dalam tubuh Udin seraya menangis sambil menyeret cangkul ke arah Parman yang terkencing-kencing di celana. 


Parman seketika mendelik. "Ka-kamu, Damar?" tanya Parman dengan panik. 


"Hahaha, akhirnya paman ingat ya?!" seru Damar seraya mengangkat gagang cangkul tinggi-tinggi di atas kepalanya. 

__ADS_1


"Ayo pergi sama aku, Om!"


Klaaakkk! 


"Aaarrgghhhh!"


Parman berteriak keras saat mata cangkul tajam dari besi itu merobek bahunya, membuat tangan kirinya hampir putus. 


Dengan menatap Damar penuh rasa takut, Parman merengek-rengek meminta dikasihani. 


"Ampun, ampun! Ampuni aku, Damar! Aku dulu disuruh oleh Pak Slamet. Aku sungguh tidak ingin membu nuh mu!" seru Parman menghiba. 


"Apa? Om minta maaf sama aku? Apa dulu Om juga memaafkan aku saat aku minta dilepaskan? Apa Om sadar apa yang kalian lakukan adalah sebuah kejahatan besar?! Kalian menghancurkan kebahagiaan keluarga ku!"


Sekali lagi Damar mengayunkan cangkul nya tanpa ampun. Lampu gudang menjadi hidup dan menyala sendiri, membuat suasana semakin kelam dan mengerikan. 


"Tidak!"


Parman masih bisa mengesot dan menghindari cangkulan Damar. Entah mendapat kan kekuatan darimana mendadak Parman bangun dengan menahan rasa sakit di tangannya, dia berlari bersembunyi di antara tong-tong besar bekas cat. 


"Oh, Om masih ingin sembunyi ya? Baiklah, om sembunyi ya, biar aku yang mencari!"


'Duh, ma ti aku! Ini benar-benar gawat! Jadi rupanya Udin sudah ma ti dan sekarang arwah Damar menyerupai Udin dan akan membalas dendam padaku. Aku harus minta bantuan pada siapa ini? 


Kalau aku minta tolong pada Tukiman, mungkin saja Tukiman tidak langsung mendengar nya. Gudang ini letaknya jauh dari kamar Tukiman. Duh, apa yang harus kulakukan? Aku nggak bawa hp dan tangan ku sakit sekali!' keluh Parman meringis menahan rasa sakit yang tidak terperi. 


Tangan kiri Parman yang masih utuh merab* kabel oloran listrik. Mendadak sebuah ide tercipta di pikiran Parman. Bahwa dia akan menyetrum Damar menggunakan kabel itu. 


Kabel pun putus dan Parman segera memungut nya dengan hati - hati. Diarahkan nya ujung kabel yang terkelupas itu ke depan. Lalu Parman berdiri dan hendak memanggil Udin untuk menyetrumnya. 


"Ci Luk Ba!"


Tapi alangkah kagetnya Parman saat Damar yang ada di dalam diri Udin lebih dulu mengagetkan nya dengan kemunculan nya secara tiba-tiba di hadapan Parman. 


Parman segera berusaha untuk menguasai diri dan menghambur ke arah Udin. 


"Ma ti kau, Setan!"


Parman menempel kan ujung kabel yang terkelupas ke perut Udin, berharap Damar segera menghilang dari gudang itu. 


"Hahaha! Om lucu sekali! Om mau main dengan kabel sama aku? Baiklah, sekarang giliran Om ya?!"


Udin lalu mencengkeram pergelangan tangan Parman dan membelokkan tangan Parman untuk gantian menyentuhkan ujung kabel yang terkelupas itu ke perut Parman. 


"Aaarrgghhhh! Aarrrghh!"


"Hahahaha! Hahahahaha!"


Parman berkelojotan seraya berdiri saat aliran listrik itu menyetrum tubuhnya. Kedua rongga mata Udin yang kosong tanpa bola mata menyala seakan ada lampu mungil terpasang di sana. 


Parman sudah tidak menjerit kesakitan lagi karena tubuh nya sudah gosong. Dan saat tubuh Parman menjadi kaku, Udin melepaskan kabel itu dari tangannya dan mendorong tubuh Parman hingga jatuh berdebum ke lantai gudang. 

__ADS_1


Brakkk!


Udin pun berjongkok dan 'menatap' wajah Parman dengan rongga matanya yang kosong. 


"Selamat tidur, Om!" seru Udin sambil mencakar dan mengambil kedua bola mata Parman lalu menghilang. 


***


Slamet yang baru saja sarapan dengan bantuan Surti, terkejut saat beberapa orang polisi mendatangi kamar ruang rawat inapnya. 


Dalam hatinya merasa takut, khawatir bahwa perbuatan nya membu nuh dan menumbalkan anak-anak tak berdosa selama ini akan ketahuan polisi. 


Namun dugaan nya salah, karena dua orang polisi itu justru membawa kabar yang tidak menyenangkan bahkan mengerikan untuk nya. 


"Saya sungguh tidak tahu menahu kondisi rumah mulai lusa kemarin, Pak. Karena saya mengalami cedera tangan dan harus dioperasi," ucap Slamet mengakhiri keterangan nya. Sebenarnya dalam hati, dia juga heran dan bingung karena istrinya menghilang, mobil dan jasad Udin ditemukan di hutan, dan kondisi Parman sangat mengenaskan saat Tukiman menemukan nya di dalam gudang. 


Raden, yang sedang menangani kasus Slamet menatap wajah kepala desa di hadapannya dengan mengerut kan kening. 


"Apa pak Slamet tidak ada dugaan atau sangkaan siapa yang melakukan kejahatan seperti ini? Ini seperti perpaduan kejahatan yang dilakukan oleh seorang psikopat dengan hewan buas," ujar Raden, berusaha memancing jawaban dari Slamet. Raden sebenarnya sudah tahu tentang pesugihan yang dilakukan oleh Slamet dari laporan Eko. Tapi sebagai seorang polisi, dia pasti butuh bukti dan pengakuan saja dari pelaku. 


Slamet tampak berpikir sejenak. 'Aku tidak boleh terpancing untuk mengatakan hal-hal aneh. Bisa saja ada orang jahat yang mempunyai dendam padaku. Setelah aku keluar dari rumah sakit ini, aku akan menemui bapak dan meminta bantuan bapak untuk menyantet pelakunya,' batin Slamet. 


Maka dengan tegas, Slamet menggeleng kan kepalanya. "Tidak. Saya tidak tahu apa-apa. Saya juga merasa tidak punya musuh. Saya serahkan semuanya pada pak polisi saja," jawab Slamet dengan wajah polos. Dan Raden pun lalu pamit meninggalkan rumah sakit. 


"Mas Slamet, seharusnya kamu mengakui kesalahan mu dan meminta maaf pada para korban, termasuk keluarga Damar, Bu Sulis," ujar Surti saat Raden sudah pergi dari hadapan Slamet. 


Slamet mendelik melihat Surti. 


"Apa kamu sudah gila? Aku nggak mau lah kalau aku ditangkap polisi! Enak saja! Aku sudah susah-susah mendapatkan kekayaan ini kok seenaknya saja mau ngaku. 


Lagipula kalau aku ngaku, bukan hanya aku saja yang akan ditangkap polisi. Kamu dan ibu pun juga akan ditangkap polisi. Apa kamu mau jika kamu menghabiskan sisa hidup di dalam penjara?" tanya Slamet dengan ekspresi wajah kejam. 


Surti hanya menunduk. "Tapi aku lelah kalau ibu mulai bercerita tentang para korban kalian. Lagipula aku juga menjadi suruhan ibu untuk mencari bunga tujuh rupa dan ayam cemani setiap enam bulan sekali!" ujar Surti emosi, lalu dengan menghentakkan kakinya, gadis itu keluar dari kamar Slamet, kembali ke kamar mbok Darmi. 


"Untung saja kamu masih berguna untuk aku dan ibu, Sur. Kalau tidak, mungkin aku akan memilih melenyapkan kamu," ujar Slamet dingin menatap ke arah punggung Surti yang tak terlihat lagi. 


***


"Sudah kuduga, anak terakhir tahg kamu bawa sebagai tumbal bukan anak biasa. Energi yang dia punya bahkan lebih besar daripada energi milik bapaknya yang telah kutangkap. Mungkin rasa dendam nya yang sangat besarlah yang membuat energi nya juga besar," ujar Surya, seraya memilin kumisnya. 


Hari ini Slamet sudah boleh keluar dari rumah sakit, dan dia langsung menuju ke rumah bapak nya dengan diantar Tukiman.


"Dan satu hal lagi, ibumu akan susah disembuhkan. Santet yang kukirimkan pada ibu anak itu, adalah santet terberat. Tapi ibu mu juga tidak akan ma ti dengan mudah, karena ibumu mempunyai ajian rawa rontek."


"Tapi, Pak. Bagaimana dengan aku? Aku tidak mau jadi sasaran balas arwah anak itu! Tolong aku, Pak!" seru Slamet dengan nada menghiba. 


"Bisa. Kita akan pancing arwah anak itu agar kesini. Dan aku akan menangkap nya."


Mata Slamet tampak berbinar. "Benarkah, Pak? Bagaimana caranya?"


"Culik ibu dan adiknya. Lalu bawa kesini hidup-hidup!" seru Surya seraya tertawa terkekeh.

__ADS_1


Next?


__ADS_2