Jasad Anak Ku

Jasad Anak Ku
"BONGKAR MAKAM"


__ADS_3

DIMANA JASAD ANAKKU ?


Part 9


Pak Raden menghela nafas panjang. "Kalau begitu kuburan anak itu harus dibongkar dan mayatnya harus dikeluarkan karena keluarga anak itu juga sedang mencarinya!"


Sulis terhenyak. 'Bongkar makam? Hal itu tidak pernah dilakukan di desa ini. Bisa-bisa dia dan polisi ini diprotes oleh warga desa. Bagaimana ini?' batin Sulis bingung.


"Tapi pak, di desa ini tidak pernah ada makam dibongkar. Saya takut kalau ada makam yang dibongkar, akan menimbulkan pro dan kontra. Lagipula, belum tentu anak yang hilang itu adalah anak dari tetangga sebelah kan?" tanya Sulis ragu. Pak Raden menatap Sulis dengan serius.


"Bu Sulis, ibu sudah memastikan sendiri kan kalau anak yang ditemukan di rumah ini adalah anak yang sama dengan yang ada di galeri ponsel saya, hal itu bisa menjadi alasan kuat bagi kepolisian untuk membongkar makam anak itu.


Saya akan pulang ke polres dan kembali ke desa ini segera. Saya akan berusaha membantu bu Sulis dan orang-orang yang anaknya hilang. Saya curiga ada sesuatu yang lebih besar terjadi di balik kasus ini."


Sulis terdiam dan pak Eko beserta saudara sepupu nya pun berpamitan.


***


"Apa membongkar makam? Itu tidak mungkin, Pak. Di desa ini tidak pernah ada kasus yang sampai mengharuskan pembongkaran makam," sahut pak Slamet.


Saat ini pak Raden dengan membawa surat perintah penyidikan menghadap pak Slamet, kepala desa dengan ditemani pak Eko.


Pak Raden menatap pak Slamet dengan sungguh-sungguh, lalu mengeluarkan sepucuk amplop berwarna coklat dari dalam saku bajunya.


"Saya membawa surat perintah penyidikan kasus penculikan anak di bawah umur. Dan kalau bapak tetap bersikeras tidak mengijinkan kepolisian melakukan pembongkaran, berarti bapak bisa berurusan dengan polisi.


Lagipula diijinkan atau tidak, pihak kepolisian akan tetap membongkar paksa makam anak itu."


Pak Slamet terdiam menatap pak Eko dan pak Raden secara bergantian.


"Saya pernah bertemu dengan bu Sulis. Dan Bu Sulis mengatakan pada saya bahwa bapak juga menjanjikan untuk membantu mencari anaknya sampai ketemu. Bahkan pak Slamet juga mengatakan akan memanggil pihak kepolisian untuk menyelidiki nya kan?


Sekarang pihak kepolisian sudah di kantor balai desa dan akan membantu mencari kasus salah satu warga pak Slamet yang menghilang, kenapa sepertinya mencoba menghalang-halangi penyelidikan kami?" tanya Pak Eko.


"Saya tidak bermaksud menghalang-halangi penyelidikan, saya hanya mengantisipasi jika warga desa tidak terima dengan pembongkaran makam karena selama ini, di desa ini tidak pernah ada kasus seperti ini.


Tapi kalau polisi sudah turun tangan menyelidiki kasus ini, saya persilakan bapak melakukan tugasnya. Saya dan pada warga desa tidak akan menghalanginya."


"Baiklah. Terima kasih atas kerjasamanya. Saya dan anggota kepolisian yang lain akan segera membongkar makam anak itu. Bapak bisa ikut kami untuk mengantisipasi warga yang tidak terima dengan pembongkaran makam."


"Yah, memang masyarakat desa di sini masih percaya kalau pembongkaran makam akan membuat arwah dari jasad yang dimakamkan akan marah dan berakibat buruk untuk warga desa."

__ADS_1


"Pak Slamet, sebagai orang yang beriman, kita tahu bahwa orang yang sudah meninggal, arwahnya akan kembali pada Tuhan. Sedangkan yang dikubur adalah jasad yang kasar."


"Benar, Pak Eko. Tapi kita juga tahu bukan kalau di alam ini ada jin dan makhluk halus lainnya. Siapa yang akan tahu mereka bisa terima jika makam orang yang sudah meninggal dibongkar?"


Suasana mendadak memanas. "Pak Slamet, kami akan menanggung semua resiko nya demi penyelidikan. Insyallah tidak akan ada huru hara makhluk halus jika salah satu makan dibongkar. Lagi pula, makhluk halus yang bapak khawatir kan itu tidak ada kaitannya dengan penyelidikan ini.


Dan saya kira bapak juga aneh. Bapak ini selaku kepala desa kenapa seperti nya terlalu percaya takhayul dan seolah-olah sok tahu tentang makhluk ghaib?"


"Hm, ya sudah. Kalau begitu, ayo kita bongkar saja makam anak itu dan kita kembalikan kepada keluarga nya," sahut pak Slamet mengalah.


**


Beberapa laki-laki tampak berkerumun di makam bocah yang ditemukan berseragam Pramuka dengan nama Damar itu. Tampak dua lelaki sedang mengayunkan cangkul dengan hati-hati di dalam makam.


"Tinggal mengangkat kayunya saja, Pak," lapor salah satu anggota Pak Raden.


"Baiklah. Kalau begitu angkat saja balok kayunya lalu naikkan jenazah nya."


Kerumunan warga tampak kasak kusuk saat melihat jasad anak yang dikira Damar itu mulai di angkat dari lubang makam.


Beberapa orang yang memakai masker dengan sigap membawa jasad itu ke dalam mobil jenazah yang telah dipanggil dari rumah sakit dan membawanya pergi.


***


"Huhuhu, Rio! Kenapa kamu meninggalkan ibu secepat ini?!"


Mayat anak kecil yang baru saja ditemukan itu belum mengalami pembusukan. Tapi masih mengalami pembengkakan tubuh dengan aroma yang kurang sedap.


"Apa bapak sudah yakin bahwa anak ini adalah anak bapak?"


Kedua orang di hadapan polisi itu mengangguk lemah.


"Benar. Walaupun wajah dan tubuh nya sudah mulai membengkak, kami yakin kalau dia adalah anak kami," sahut perempuan setengah baya di hadapan jasad itu dengan tersedu.


"Jadi, tidak perlu dilakukan tes DNA ya?"


"Tidak usah, Pak polisi. Terima kasih atas bantuannya menemukan anak kami."


"Sudah menjadi kewajiban kami untuk menolong warga yang membutuhkan, Pak. Bu. Oh ya, apakah bapak dan ibu setuju untuk dilakukan autopsi pada jenazah anak bapak ibu?" tanya Pak Raden.


"Kami setuju. Walaupun kami tidak kaya, tapi kami ingin mengetahui penyebab anak kami meninggal dunia. Dan apabila hasil otopsi menyatakan jika anak kami dibu nuh, kami ingin pihak kepolisian mencari dan menangkap pelakunya," sahut orang tua dari anak yang meninggal itu.

__ADS_1


"Pak, anak kita sudah pasti dibunuh! Bapak tidak ingat cerita pak polisi saat anak kita ditemukan? Dia memakai seragam anak lain.


Itu jelas-jelas perbuatan manusia, Pak. Ada orang yang memang menginginkan kematian anak kita lalu menipu orang lain yang kehilangan anaknya dengan memakaikan baju anak itu pada anak kita! Huhuhu!"


Pak Raden menghela nafas panjang. "Bapak dan ibu sabar dulu. Jasad anak bapak dan ibu pasti akan kami autopsi hari ini juga. Proses autopsi akan memakan waktu satu sampai dua jam. Tapi untuk penyebab meninggalnya anak bapak dan ibu berdasarkan hasil autopsi, biasanya siap satu sampai dua Minggu," ujar pak Raden.


"Tolong lakukan sesuai prosedur asal pembunuh anak saya tertangkap, Pak. Saya tidak ikhlas dunia dan akhirat jika anak saya meninggal dengan cara tragis seperti ini."


Pak Raden mengangguk. "Kami akan berusaha mencari pelaku pembunuhannya sebaik-baiknya."


**


Pak Raden mulai memanggil satu persatu warga desa yang menemukan mayat anak dari desa sebelah. Termasuk pak Slamet, pak Broto, Udin, sopir pak Slamet dan beberapa warga desa lain yang membawa anak itu pulang ke rumah Sulis.


Awalnya anak itu ditemukan oleh seorang warga yang hendak mencari ikan di sungai. Tapi dia terkejut karena melihat sesosok tubuh yang mengambang di sungai. Dan segera memanggil warga desa lain. Warga desa lain pun langsung menghubungi pak Slamet, selaku kepala desa.


Bahkan Sulis pun tak luput dari pemeriksaan. Janda berumur tiga puluh dua tahun itu datang ke kantor polisi sebagai korban sekaligus sebagai saksi.


Meskipun ragu, Sulis pun juga menceritakan tentang arwah Damar yang masih menampakkan diri di hadapannya setelah Rio ditemukan. Namun pak Raden hanya terdiam saat mendengarkan keterangan dari Sulis. Tapi Sulis tetap menceritakan semua yang diketahui nya termasuk mimpi saat anaknya dibawa ke ruangan dengan manusia kepala anjing.


***


Sulis menyusuri jalan raya untuk kembali pulang ke rumahnya dengan mengendarai motor Mio bekas peninggalan sang suami.


Di tengah jalan dia selalu kepikiran Adinda yang dititipkan nya kepada mbok Darmi.


"Duh, polisi percaya nggak ya tentang hal-hal mistis yang terjadi setelah Damar hilang? Ah, biarlah yang penting aku sudah cerita semuanya pada polisi," gumam Sulis. "Duh, Dinda rewel nggak ya ditinggal ke Polres? Walaupun sudah kuberikan asi di botol, aku kok nggak bisa tenang. Apalagi sudah tiga jam aku meninggalkan Dinda karena menunggu antrian diperiksa," sambung Sulis lagi.


Akhirnya Sulis menghela nafas lega saat dia memasuki halaman rumah mbok Darmi dengan maksud ingin meminta Dinda kembali.


Sulis mengetuk pintu depan rumah mbok Darmi yang tertutup rapat.


"Mbok! Mbok Darmi! Ini Sulis, Mbok! Saya sudah pulang dari polres. Saya ingin mengambil Dinda lagi."


Sepi tidak ada sahutan. Sulis memutari rumah mbok Darmi dan mengetuk pintu samping rumah mbok Darmi yang terhubung dengan sumur di luar rumah.


Diketuk nya pintu rumah mbok Darmi beberapa saat, tapi tetap tidak ada respon. Akhirnya Sulis nekat, untuk melongok di jendela kamar yang tidak terkunci. Barangkali mbok Darmi dan Surti tertidur.


Sulis mencari batu bata di halaman rumah mbok Darmi lalu menaiki nya dan mengintip dari jendela kamar.


Tapi alangkah terkejutnya Sulis, saat dia melihat bunga tujuh rupa dalam nampan yang telah layu, dua botol kendi dari tanah liat, dan kemenyan dalam sebuah tempayan kecil dari tanah liat yang apinya telah padam.

__ADS_1


Next?


__ADS_2