
DIMANA JASAD ANAKKU ?
Part 12
Sulis menangis tergugu. Hatinya sesak. Mendadak dia mendengar suara jeritan yang menyayat dari rumah mbok Darmi.
"Aarghhh, tolong!!!"
Sulis yang tadinya duduk bersimpuh di lantai dengan memegang buku harian Damar, sekarang mencoba berdiri dengan susah payah karena kaki dan lututnya masih terasa gemetaran. Pikiran Sulis masih mencerna cerita yang baru saja dibacanya.
Akhirnya setelah menstabilkan nafas, dengan perlahan Sulis mengembalikan buku Damar ke tempat nya semula. Baru saja Sulis hendak menengok rumah mbok Darmi dari jendelanya yang terbuka, Sulis mendengar suara tangis yang begitu kencang. Setengah berlari, Sulis menuju ke kamar Adinda dan mencari penyebab Adinda menangis.
Segera digantinya popok Adinda yang basah terkena buang air besarnya, dengan popok baru yang bersih. Lalu Sulis segera mengambil jarik dan menggendong Dinda sambil membawanya keluar rumah menuju rumah mbok Darmi, asal suara teriakan itu.
"Tolong! Tolong ibu saya!"
Baru saja Sulis menutup dan mengunci pintu rumahnya, mendadak terdengar suara Surti meminta tolong dari rumahnya. Dengan bergegas, beberapa tetangga di sekitar rumah Mbok Darmi segera keluar dari rumah nya masing-masing dan menuju rumah Surti.
Desa itu baru saja terang tanah, saat beberapa penduduk desa berkerumun dan heboh dengan kondisi Mbok Darmi. Dari ujung rambut sampai ujung kakinya, Mbok Darmi tampak dipenuhi koreng yang berdarah dan juga bernanah dalam keadaan pingsan di ranjang kamarnya. Membuat beberapa warga desa mual dan nyaris muntah.
Melihat hal itu, Sulis terperangah. Mendadak dia teringat tentang kamar di rumah mbok Darmi yang kondisi nya seperti kondisi kamar dukun.
Sebenarnya Sulis sangat ingin menanyakan nya pada Surti atau mbok Darmi mumpung ada warga di sekitar mereka, tapi dia takut jika pertanyaan nya berbalik menjadi tuduhan terhadap dirinya.
"Apa kemarin mbok Darmi sudah mengalami hal seperti ini?" tanya salah seorang warga.
Surti menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Kemarin ibu baik-baik saja."
"Mulai kapan ibu kamu dalam kondisi seperti ini?"
"Saya tidak tahu tepatnya sejak kapan ibu menjadi seperti ini, tapi saya menemukan ibu dengan penyakit ini baru saja. Saat saya mau menyapu rumah. Tahu-tahu saya melihat ibu sudah pingsan seperti ini, Pak," sahut Surti. Air mata berderai dari di pipinya.
Warga desa berpandangan. Ada mimik ketakutan tergambar di wajah mereka.
"Ini jelas santet yang dikirim oleh dukun. Tidak mungkin seseorang menderita penyakit parah, terutama penyakit kulit dalam waktu semalam jika tidak terkena santet," sahut warga lain.
Semua warga terdiam.
__ADS_1
"Atau jangan-jangan penunggu di desa ini marah karena kemarin ada yang membongkar makam di desa. Masa mayat yang sudah dikubur, dibongkar lagi. Kan bisa saja membuat penunggu desa marah?!"
Gumaman-gumaman samar kembali terdengar.
"Kita bawa saja dulu ke rumah sakit. Kita harus tahu penyakit pastinya. Tentang penyebab nya nanti kita usut. Kalau memang ada orang di desa sini yang menganut ilmu hitam dan bisa mengirim kan santet, kita akan bakar hidup-hidup!" seru seorang warga penuh amarah.
"Setuju, sebelum santet dalam bentuk berbeda meneror warga desa lain!" sambut penduduk lain.
"Tapi kalau memang penyebab mbok Darmi menjadi seperti ini adalah karena kemarahan penghuni desa akibat makam yang dibongkar, kita akan meminta pertanggungjawaban polisi itu!"
"Setuju, sekarang kita bawa mbok Darmi dulu ke rumah sakit. Saya akan melaporkan hal ini kepada pak Slamet. Pak Slamet harus tahu bahwa kondisi desanya sedang tidak aman dan tidak baik-baik saja," sahut warga lain.
Sulis menelan ludah. Dia langsung teringat dengan banaspati yang tadi melayang-layang di sekitar kamarnya. Bola santet yang berhasil diusir oleh Damar. Sulis memang bukan seorang indigo atau pemilik indera keenam. Tapi Sulis pernah membaca dan mendengar tentang desas desus jika seseorang gagal mengirimkan santet pada orang lain, maka santet itu akan berbalik menyerang kepada pengirimnya.
Sekali lagi Sulis menatap ke arah mbok Darmi yang masih tidak sadarkan diri dengan sejuta pikiran. 'Mungkinkah mbok Darmi berniat mengirimkan santet padaku tapi karena gagal makanya santet kembali padanya?'
Sulis duduk seraya menggendong anaknya di kursi ruang tamu. Melihat kehebohan dan kebingungan orang-orang di rumah mbok Darmi. Ada yang usul untuk menelepon ambulance tapi ada yang bersikeras membawa langsung mbok Darmi ke rumah sakit terdekat.
Sulis berdiri dari duduk dan sejenak ragu untuk mengatakan informasi tentang banaspati itu. Masalahnya selama ini desa tempat suami Sulis masih baik-baik saja. Dan tentu saja Sulis bingung kenapa menjadi geger apalagi setelah kasus Damar yang menghilang.
Tapi jujur saja, Sulis masih belum bisa percaya pada warga desa ini. Dia juga harus waspada karena salah bicara tentang hal sensitif seperti santet bisa membuat warga desa mengamuk dan terprovokasi.
Sulis menghela nafas lega setelah menemukan ide seperti itu. Dia segera meraih ponselnya dan mengirimkan pesan pada guru Damar.
[Assalamualaikum, Pak Eko. Saya ingin menceritakan tentang hal mengerikan yang baru saja terjadi di desa. Memang tidak berkaitan dengan Damar, tapi siapa tahu hal ini merupakan tidak kriminal. Apa kita bisa bertemu setelah bapak mengajar?]
Pesan terkirim dan masih centang satu. 'Hm, mungkin saja pak Eko masih sibuk dengan persiapan belajar mengajar,' batin Sulis seraya memasukkan ponsel nya kembali ke dalam saku daster.
Mendadak terdengar suara sirine ambulance yang datang meraung-raung dari arah halaman di luar rumah mbok Darmi. Dan begitu ambulance berhenti, para warga segera keluar dari rumah mbok Darmi begitu juga Sulis.
Pandangan Sulis bersirobok dengan pak Slamet yang ternyata mengikuti ambulance dengan mobilnya. Pak Slamet segera berlari ke dalam rumah mbok Darmi bersama dengan dua orang perawat laki-laki berseragam putih dengan mendorong brangkard.
Para warga desa menahan napas saat tubuh gempal mbok Darmi dibawa keluar rumah untuk menaiki ambulance oleh dua perawat itu. Sedangkan pak Slamet tampak berbicara dengan Surti.
"Apa yang terjadi pada mbok Darmi, Sur?" tanya pak Slamet dengan nada khawatir.
Surti menatap kepala desa itu dengan ragu dan kemudian menceritakan apa yang terjadi sesuai dengan keterangan yang tadi dijelaskan kepada warga desa.
Pak Slamet menghela nafas. Dua orang warga desa mendekati mereka. "Pak, kata perawat rumah sakit harus ada satu orang yang mengantar mbok Darmi dan naik ambulance untuk pemeriksaan di UGD nanti," lapor salah seorang warga desa itu.
__ADS_1
Pak Slamet menatap ke arah kedua warga desa itu dan Surti bergantian. "Sur, kamu ikut saja dengan mbok Darmi ke rumah sakit ya biar aku yang mengikuti dari belakang," ucap pak Slamet.
Surti mengangguk. "Tapi Pak, saya tidak punya uang untuk mengobati ibu."
"Jangan khawatir, Sur. Aku ada uangnya," sahut pak Slamet.
Surti mengangguk. "Pak, tapi saya belum mempersiap baju dan keperluan ibu yang lain. Bagaimana? Apa ambulance nya bersedia untuk menunggu lebih lama karena saya akan mempersiapkan keperluan dan baju-baju ibu di rumah sakit?"
Pak Slamet berpikir sejenak. "Tidak usah, Sur. Kamu segera berangkat sekarang saja. Mbok Darmi lebih cepat untuk ditolong akan lebih baik. Kalau ternyata nanti mbok Darmi harus rawat inap, biar aku yang memberi kan uang dan santunan pada kalian. Kamu bisa beli kebutuhan mu dan ibumu di koperasi rumah sakit," ujar Pak Slamet tegas.
Para warga desa menatap kagum ke arah pak Slamet.
"Wah, kita beruntung sekali ya mempunyai kepala desa yang baik dan perhatian, ganteng pula. Masih muda sudah jadi kepala desa. Beruntung sekali istrinya. Sayangnya belum punya anak walaupun sudah menikah cukup lama ya," bisik salah seorang warga desa.
Warga desa yang berdiri di sebelah nya menyikut perut temannya.
"Sst, jangan keras-keras kalau ngomong. Nggak enak kalau kedengaran pak Slamet. Kamu itu juga aneh. Kalau mau muji ya muji saja. Jangan diikuti kalimat 'tapi sayang nya'," tukas salah seorang warga desa dengan mendelik ke arah temannya. Membuat temannya menutup mulut dengan telapak tangan dan ekspresi wajah yang bersalah.
Tak lama kemudian Surti pun naik ke mobil ambulance, dan mobil berwarna putih itu pun dengan menyalakan sirine yang meraung-raung meninggalkan rumah mbok Darmi menuju rumah sakit.
***
Setelah mobil ambulance itu tiba di rumah sakit, para perawat dengan cekatan dan hati-hati membuka pintu belakang mobil dan mendorong brangkard menuju ruang UGD.
Seorang dokter jaga yang melihat kondisi mbok Darmi mengerut kan dahinya. Dengan cepat, dokter laki-laki berkacamata itu mengenakan sarung tangan dan meraih stetoskop lalu mendekat ke arah mbok Darmi.
Dokter itu memeriksa dengan hati-hati denyut jantung dan menekan kulit perempuan berusia lima puluh lima tahun itu dengan perlahan. Dia kemudian berkata pada perawat, "pasang oksigen 2 lpm, periksa tensinya dan pasang infus RL."
Para perawat mengangguk dan dengan sigap memakai sarung tangan juga untuk melakukan instruksi dokter jaga itu.
Dokter itu lalu keluar dari bilik periksa pasien UGD lalu kembali ke balik meja kayu.
"Keluarga pasien yang baru datang, silakan kemari. Ada beberapa pertanyaan yang akan saya berikan dan untuk pengisian formulir tindakan medis," ujar dokter jaga itu.
"Saya anaknya, Dok!"
Pak Slamet memberikan kode pada Surti untuk maju menemui sang dokter dan mengisi formulir pasien, sementara itu pak Slamet mengintip kondisi mbok Darmi dari tirai yang terbentang di UGD.
'Ibu, apa yang harus aku lakukan sekarang?' batin pak Slamet galau bercampur bingung seraya melihat dengan sedih ke arah mbok Darmi yang masih pingsan.
__ADS_1
Next?